THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
In Agas Memories II


__ADS_3

Shall I stay? Would it be a sin?


"Aku harap di waktu ini waktu berhenti berputar, Gas" ucapnya seraya mengedarkan pandangan ke segala penjuru laut yang terbentang luas di depan mata.


Setelah lelah berjalan kami memilih berhenti dan duduk bersisian di hamparan pasir krem kecoklatan yang tersapu air laut


"Aku harap kita adalah kata selamanya untuk kamu dan aku, Lis" kata ku yang ikut menatap hamparan air berwarna biru di depan mata


*Calista menghembuskan napas berat sebelum mengatakan sesuatu


"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan Gas, entah berpisah karena menikah, entah berpisah hanya untuk menjadi pelajaran hidup" ucapnya, sembari tersenyum tulus masih menatap hamparan laut.


Aku pun menoleh pada Calista "Aku akan berhenti kalau kamu minta aku untuk berhenti" refleks Calista pun menoleh padaku, ucapanku membuatnya membeku


"Sesayang itu kamu sama aku?" tanyanya


"Seberharga itu kamu bagiku"


Senjapun mulai menyapa menghapus guratan mentari di angkasa. Menutup hari ini dengan sempurna. Menikmati senja bersama orang yang sangat berarti dalam hidupmu adalah sebentuk rasa syukur yang tak dapat ditukar dengan apapun.


***


Dari sini kami bisa melihat seluruh kota dalam ukuran miniatur. "Bintangnya bagus ya Gas?" Tanya Calista sembari menengadahkan kepalanya ke atas melihat langit yang bertabur bintang


"Iya, jarang banget ya kita bisa liat bintang yang hampir memenuhi langit. Biasanya cuma ada beberapa" ucapku ikut menengadahkan kepala


"Aku mau deh jadi salah satunya" refleks Aku menoleh pada Calista yang masih mengagumi taburan bintang di langit.


"Untuk apa?" Tanyanya ku penasaran, masih menatap Calista.


Calista pun menoleh padaku "Aku mau orang-orang selalu tersenyum bahagia ketika melihatku, seolah-olah beban mereka hilang begitu saja dan mendengarkan harapan-harapan mereka"


Aku pun tersenyum kemudian kembali memandangi langit "Gak harus jadi bintang untuk dapat di lihat dan di kagumi, Lis. Jadi diri kamu dan tunjukkan kelebihan kamu untuk bisa bersinar seperti bintang. Seharusnya begitu"


"Aku salah ya?"


"Enggak kok"


"Terus?"

__ADS_1


"Kamu cuma gak tau aja kalau kamu itu bintang yang sedang berusaha bersinar. Aku yakin bintang-bintang disana akan iri saat sinar kamu lebih terang"


"Agas?" Calista menginterupsi ucapanku. Saat itu pun aku langsung menoleh padanya.


"Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk tetap bersamaku meskipun kamu tau aku jauh dari kata sempurna" Aku pun ingin bersuara namun Calista mencegahnya.


In Agas Memories Off


***


Aroma menenangkan dari apa yang Axel bawa mampu menyadarkan Agas kembali dari lamunnya


"Nih, minum dulu. Calista juga gak akan suka liat lo kayak-"


Axel menelisik penampilan Agas dari atas hingga bawah serta wajahnya yang kuyu terutama pada bagian matanya yang mulai terlihat lingkaran hitam seperti panda.


Agas menajamkan kedua alis matanya "Xel, kalo kehadiran lo cuma buat nambahin beban emosi gue, mending lo balik lagi aja sana!!"


Axel hanya tersenyum kemudian ikut termenung bersama Agas seraya menikmati secangkir kopi hangat yang baru ia beli


"Mungkin gue belum terlalu lama mengenal Calista, tapi.. " Axel membuka percakapan, kali ini ia berusaha serius.


Axel menghirup napas dalam kemudian menghembuskannya "Tapi gue tau dia orang yang seperti apa" tutur Axel sembari menoleh kearah Agas


"Dia rela mengorbankan nyawanya ke dalam bahaya, demi orang-orang yang dia sayang" Axel menatap cangkir kopinya dan memejamkan mata seraya menghirup dalam aroma kopi tersebut.


Agas kembali termenung, hati kecilnya menyetujui perkataan Axel kemudian menyesap cup kopi ditangannya "Itu lah Calista"


Axel mengangguk tatapannya mengawang dan teringat kenangan akan Calista. Saat pertama kali bertemu dengannya sampai terseret permasalahan yang rumit seperti ini


***


In Axel Memories ON..


"Loh kok masih sepi? Senatnya mana sih?" Tanya salah satu dari mereka


"Belom pada dateng Xel" Jawab Dira yang memang sudah membaca name tag cowok itu dan Axel hanya membeo membentuk huruf O pada mulutnya


"Kalian tinggal di deket kampus?" tanyaku pada mereka

__ADS_1


"Ya ga bisa dibilang deket juga Lis, lumayan lah 20 menit kalo ga macet" seraya membetulkan name tag yang bertuliskan Marvel Herdato.


Kemudian hening diantara kami berempat dan Awkward moment pun tercipta. Akhirnya setelah sejam kami menunggu, ospekpun berlangsung.


***


Di kantin..


"Ada apaan sih? Lo tau? Gara-gara lo gue kena semprot nih cewek Arab-lombok" ocehku seraya memasukkan makanan kedalam mulutku. Demi Dewa gara-gara Axel moodku musnah pagi ini


"Iyaaa. Ada apaan sih lo Xel? Ada masalah?" Tanya Aldira penasaran dengan raut wajah Axel yang lelah dan sesekali mengusap wajahnya frustasi.


By the way, kami hanya bertiga saja dikantin. Teman-teman kami yang lain sedang ada kelas


" Janji ya kalo masalah ini jangan sampai nyebar?" Kata Axel serius.


Ku tatap matanya lekat untuk mencari kebohongan tapi tak ku temukan satu pun kebohongan dari matanya. Akhirnya aku dan Aldira pun lebih merapatkan tempat duduk dan menurunkan volume suara kami


"Lo bisa pegang kata-kata kita" jawabku tegas. Setelah itu ku dengar hembusan nafas pasrah dari Axel sebelum dia bicara


"Hmmm.. Sebelumnya kalian udah tau kan kalo gue sama cewek gue itu pacaran udah lama banget. Bahkan dari smp?" Kata Axel memulai percakapan


" Iyaaa, terus terus?" Kata Aldira penasaran dan kami pun mendengarkan dengan seksama apa yang sedang Axel ceritakan


"Dan.. seminggu yang lalu gue tuh hampir tunangan" tanpa disangka Axel pun menundukkan wajahnya. Aku dan Aldira hanya saling diam dan saling pandang


"Maksudnya hampir?" Tanya Aldira tidak sabaran


" Xel. Lo kalo cerita jangan setengah-setengah kenapa" kataku gregetan


"Nanti aja gue lanjut kalo gue udah siap dan perasaan gue udah tenang pasti gue bakal cerita ke kalian. Jadi gue mohon banget jangan sampai kesebar ya? Sebelum gue sendiri yang cerita ke kalian" kata Axel mengakhiri percakapan.


Dia pun mengambil tas seraya bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku dengan Aldira yang dipenuhi tanda tanya serta penasaran


"Xel?" Kataku sembari menepuk pundaknya. Dia pun hanya tersenyum dan menyumbatkan earphone ke telinganya kemudian memejamkan kedua matanya seraya bersandar pada tembok


"Kadang hati itu perlu patah Xel agar lo tau bahwa apa yang lo miliki bukan sepenuhnya milik lo. Mungkin Tuhan tau yang terbaik buat lo, dia gak kasih apa yang lo inginkan tapi dia tau apa yang lo butuhkan" kataku sembari berlalu meninggalkannya.


Ternyata Axel tidak mendengarkan musik apapun dia hanya memejamkan mata dan tanpa diduga mendengarkan apa yang Calista ucapkan. Hal itu sedikit membuatnya tenang.

__ADS_1


Happy Reading..


__ADS_2