
Adrian memutuskan untuk pulang lebih awal dan segera ingin bertemu dengan Calista. Konyol, ini sangat konyol sekali. Ia tidak pernah dan bahkan melakukan hal merepotkan seperti ini, apalagi menyangkut wanita.
"Calista Hartawan" gumam Adrian, sembari menyandarkan dirinya di kursi kerjanya.
Menghela napas, Adrian termenung apa yang dia lakukan sampai sejauh ini, untuk seorang Calista ia mampu membendung hasratnya dan rasa kepemilikannya yang tertahan selama bertahun-tahun
Flashback ON
Ibukota Jakarta malam itu di guyur hujan deras, Adrian baru saja keluar dari kantor pusat milik keluarganya, kebetulan sekali hari itu tidak ada jadwal yang padat seperti biasanya sehingga ia bisa pulang cepat.
Adrian menghubungi sopirnya untuk menjemputnya di lobi utama, suasana hatinya sedang ringan walau cuaca malam ini sangat tidak bersahabat
Kira-kira Michelle lagi ngapain ya..
Batin Adrian sembari menscroll sosial media tunangannya.
"Cantik" gumamnya tanpa sadar.
"Maaf pak Adrian, mobil bapak sudah menunggu di depan"
Mobilnya pun sudah ada di depan loby utama, satpam kantor membuyarkan imajinasinya sesaat. Jika saja hari itu suasana hatinya sedang kacau mungkin satpam itu akan menanggung akibatnya.
Sementara itu di apartemen mewah milik Adrian, terdengar ******* bersahutan dari kamar berukuran 5 x 4 persegi dimana Michelle Putri Ariana sedang memadu kasih dengan mantan kekasihnya, yang di sinyalir sebagai musuh dari perusahaan dan bahkan musuh pribadi Adrian. Dimas Sakthi Bagaskara.
"Kau iblis sayang" Dimas, menghentak Michelle dengan keras dan dalam, membuat Michelle melenguh hebat dan meracau tidak karuan.
Michelle tak menghiraukan ucapan Dimas, dirinya tengah mabuk kepayang dengan tubuh dan kejantanan Dimas yang pandai memuaskannya dibandingkan Adrian.
"Jika kau mencintaiku, kenapa kau bersedia menikahi Adrian?" tanya Dimas kesal karena merasa diabaikan oleh Michelle.
"Orang tuaku yang menyetujui pernikahan ini tanpa meminta pendapatku lebih dulu" jawab Michelle sekenanya, tanpa menghentikan aksi erotisnya, yang memicu birahi Dimas berkali-kali lipat.
Michelle yang sudah lama berpacaran dengan Adrian, pada awalanya sangat mencintai laki-laki tersebut. Apapun akan Michelle lakukan, bahkan jika harus menyerahkan dirinya sebelum adanya ikatan suci yang sah. Namun, hadirnya Dimas si badboy brengsek mampu meluluh-lantakkan perasaannya.
Adrian sangat baik, sopan, hangat, pengertian dan penyayang tipe laki-laki idaman. Namun Michelle menemukan titik jenuh di balik kesempurnaan yang Adrian tawarkan. Michelle membutuhkan sesuatu yang membuat dirinya merasa diinginkan sangat dan merasakan pacuan adrenalin gairahnya meningkat.
__ADS_1
Ia butuh tempat untuk melampiaskan keliaran jiwanya dan hal itu ia temukan pada sosok Dimas Sakhti Bagaskara.
Keringat mulai bercucuran di wajah Dimas dan perut abs nya "Tapi kamu kan bisa nolak sayang ! Kalau kamu jadi menikah, bagaimana denganku? Apa kau akan menjadikanku simpananmu? Hah?!"
Napas Dimas memburu setelah mengucapkan kalimat tanya tersebut dengan sedikit emosi dan gairah yang menyelimuti, ia mendesah frustasi, cintanya kepada Michelle sangat besar bahkan melebihi rasa cinta Michelle pada Adrian. Bisa di bilang Dimas terobsesi padanya.
Tapi sayangnya Adrian lah laki-laki yang Michelle cintai. Hingga suatu hari Dimas berani melakukan hal gila, ia mengundurkan diri dari kantor yang dipimpin oleh Adrian dengan alasan pribadi dan hal itu cukup memukul Adrian dan membangkitkan kepribadiaan lain dari Adrian.
Awalnya Adrian selaku teman dekat Dimas, tidak tahu sama sekali mengenai perselingkuhan keduanya, karena mereka berdua sangat licin dan bermain sangat cantik. Tidak tanggung-tanggung mereka menyembunyikannya selama dua tahun lebih dari Adrian.
***
Mobil Xpander hitam mengkilap telah terparkir di halaman loby utama apartemen mewah di bilangan Jakarta, yang di huni oleh Adrian dan Michelle. Adrian turun dengan menenteng paper bag ditangannya dan sebuket bunga untuk calon istrinya itu.
"Kenapa tiba-tiba jantungku seperti di tusuk jarum kecil" Gumam Adrian saat memasuki lift yang akan mengantarnya ke lantai dua puluh.
Adrian nampak menahan rasa sakit seperti di suntik disekitaran dada kirinya, sebelum bel lift berbunyi menandakan lantai yang ia tuju sudah ia tapaki.
Ting..
Adrian melangkahkan kakinya menuju suit room bernomorkan 111. Adrian mengetikan kode nomor yang hanya diketahui oleh mereka berdua dan tak lupa menempelkan jari telunjuknya pada sensor pintu.
Pengaman ribet dan ketat ini, Adrian pilih hanya untu keselamatan dan keamanan calon istrinya kelak juga demi keselamatan dirinya sendiri. Beruntungnya pengamanan itu dapat di rubah sewaktu-waktu.
Setelah akses diterima, Adrian mendorong pintu apartemen mereka dengan senyum merkah di bibirnya.
Suasana di sekitar nampak gelap "Apa Michelle sedang keluar?" gumam Adrian.
Melepas alas kakinya dan menggantinya dengan sandal rumah, Adrian berjalan menuju kamarnya dan Michelle. Saat Adrian hampir mendekati pintu, ia mendengar suara ******* wanita dari balik pintu tersebut.
Adrian mendekati suara tersebut dan mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit. Napas Adrian tercekat, lidahnya beku, dadanya bergemuruh hebat namun ia hanya membeku tanpa suara. Menatap pemandangan yang sangat menyakiti hatinya.
Tadinya Adrian pikir Michelle sedang menonton film panas tanpa sensor, namun saat melihat laki-laki yang berada diatas Michelle, sesuatu di dadanya bergemuruh hebat.
Adrian mengepalkan tangannya, mendorong dengan kasar pintu kamarnya dan menatap dengan nyalang dua orang menjijikan di depan matanya.
__ADS_1
Michelle mendorong Dimas dengan kasar "Sayang, kamu kok gak bilang kalo pulang cepet"
Adrian tidak menghiraukan ucapan Michelle, ia justru menatap dingin padanya dan menatap nyalang padang laki-laki yang tengah merapikan pakaiannya. Dimas menatap Adrian dengan tenang, nampak senyum tipisnya terbit, menyulut emosinya dan
BUGH !!!
"Adriaaaann!!" teriak Michelle tampak terkejut dengan aksi Adrian yang diluar dugaan.
Adrian lepas kendali, Dimas yang tidak siap pun harus menerima dengan ikhlas luapan emosi teman dekatnya itu ditubuhnya
"Dasar Pengkhianat ! Abis lo hari ini" Dimas pun tersungkur dilantai menahan rasa sakit pada tubuhnya.
Sedangkan Michelle meringkuk ketakutan melihat perubahan drastis Adrian di depan matanya. Adrian yang melihat itu tersenyum tipis, menarik paksa selimut yang Michelle kenakan. Michelle menelan ludahnya, nyalinya ciut saat Adrian naik keatas ranjang, bukan hal seperti ini yang ia inginkan meskipun sikap Adrian saat ini yanh dia harapkan.
"Adrian akh aaahh" ucapan Michelle berganti menjadi ******* saat Adrian menarik rambut Michelle kebelakang dan mulai menciumi Michelle dengan ganas.
Flasback Off
*****
Adrian mengusap wajah frustasi, buru-buru ia mencuci wajahnya di kamar mandi, mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju tempat dimana naluri menuntunnya.
Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya dengan rapi di basement apartemen, dirinya melangkah menaiki lift menuju lantai sebelas, mencari nomor unit yang sudah dihafalnya. Dari luar, Adrian mendengar suara bising, ada rasa penasaran bercampur khawatir saat pintu tidak terbuka.
Adrian menelpon seseorang untuk meminta kunci cadangan, awalnya petugas tersebut menolak. Namun ketika Adrian menunjukkan kartu identitasnya, ia pun tidak hanya menerima kunci cadangan tapi juga kartu akses cadangan khusus unit tersebut.
"Terimakasih ya pak, istri saya sepertinya sedang mengurus sesuatu jadi tidak mendengar suara ketukan pintu. Ponselnya pun mati"
Petugas itu pun hanya menganggukkan kepalanya, tidak berani menanyai lebih jauh, takut jika terjadi sesuatu pada dirinya kelak. Ia masih butuh pekerjaan ini.
Sepeninggalan petugas tersebut, Adrian disambut musik keras bercampur suara seseorang yang membuatnya menggelengkan kepalanya.
Melihat sosok heboh di depan matanya, hatinya menghangat, semua kegundahan hatinya luruh dan menguap begitu saja. Tanpa sadar Adrian tersenyum lepas melihat tingkah Calista Hartawan.
"Aaaaaaa" teriak Calista dengan wajah pucatnya, seperti sedang melihat hantu.
__ADS_1
Bersambung..