THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
WANTED IQBAL


__ADS_3

"Kenapa lo biarin Iqbal pergi Xel?" ketus Adrian yang membuat Axel, lagi dan lagi melongo, masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini


"Hah?" hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirnya.


Adrian sekali lagi lagi mengusap wajah dan rambutnya frustasi, ia terlihat kelelahan sekali dan juga terlihat seperti orang yang sangat kecewa. Seakan ada seseorang yang telah mengecewakannya.


Axel membuka suaranya dengan hati-hati "Sebenernya ada apa sih?"


Adrian menatapnya datar, lalu masuk dan duduk diikuti oleh beberapa orang terutama calon suami Aldira


"Iqbal, ada sangkut pautnya dengan kejadian Calista" tutur Calon Suami dari Aldira.


Axel melotot tak percaya, kemudian melirik Adrian menuntut penjelasan "Kok bisa? Tapi kenapa?"


"Ceritanya panjang, yang pasti kita harus segera menangkap Iqbal untuk proses penyelidikan" jawab Adrian, nampak menahan emosi


Axel nampak terdiam, iya mengingat-ingat lagi keanehan yang ia rasakan saat bersama Iqbal tadi. Jujur ia masih sulit mempercayainya, karena Iqbal yang selama ini ia kenal, meskipun baru beberapa bulan adalah Iqbal yang kecil kemungkinan melakukan tindak kriminal.


Tapi.. mengapa?


Kenapa harus Calista, sasarannya?


Apa mungkin.. ?


Hening ruangan, menjadikan suasana di tempat ini mengalami tingkat tekanan paling tinggi, dari gas kecemasan dan kekhawatiran orang-orang di dalamnya.


"Lo kenapa Xel? Kok tiba-tiba diem?" Axel terperanjat, menggelengkan kepalanya.


"Ah, gue lagi mikir aja, apa maksudnya Iqbal melakukan semua ini?" mendengar pertanyaan Axel barusan, membuat orang-orang disekitarnya ikut berpikir keras


"Apa Agas tau sesuatu?" semua orang menatap Axel terkejut dan nampak berpikir.


Di tengah-tengah tanda tanya mereka, sosok yang mereka pikirkan muncul dengan tergesa-gesa "Guuysss" tutur Agas dengan nafas tersengal.


Semua orang tercengang melihat kedatangan Agas yang tiba-tiba dan sedikit berantakan "Agaaas!!" cicit Axel dan Adrian yang mengalihkan atensi semua orang di tempat itu


Adrian menghampiri Agas dengan raut wajah panik "Lo kenapa, Gas?" melihat tampilan Agas yang berantakan, sepertinya Agas baru saja mengalami sesuatu yang buruk


"Cal.." ucapan Agas terbata-bata akibat napasnya yang tersengal. Ia kelelahan karena tergesa-gesa untuk menemui Adrian

__ADS_1


Axel menghampiri mereka dengan sebotol air yang ia berikan untuk Agas "Nih, minum dulu"


"Thanks" Agas menenggak air mineral dengan begitu cepat.


Adrian menunggu dengan "Kenapa tadi? Lo ngomong apa?"


Agas mengatur napasnya sebelum mengatakan sesuatu "Calista.. " tunjuk Agas ke sembarang arah


"Calista kenapa?" tutur Adrian panik sembari mengguncang tubuh Agas karena rasa panik yang menjadi-jadi.


Axel mencengkram tangan Adrian dan berusaha menenangkannya "Dri, sabar. Dengerin dulu, kasian Agas ngos-ngosan"


Adrian menghela napas lelah "Sorry, Gas. Gue lagi banyak pikiran"


Agas menganggukkan kepalanya "Gue abis dari rumah sakit sama anak gue, dia kangen sama Calista. Tapi tiba-tiba gue liat Iqbal kayak buru-buru ngurus sesuatu dibagian admin, dia gak liat gue keluar sama anak gue"


Mendengar hal itu Axel membawa Agas masuk agar hal ini bisa dibahas bersama. Adrian mengepalkan tangannya kuat setelah mendengar apa yang Agas bicarakan barusan.


"Jadi Iqbal target penyelidikan selanjutnya?" tanya Agas tak percaya.


"Belum dapat dipastikan"


Mendengar perkataan yang ada disekitar, Axel nampak berpikir keras "CCTV, dapatkah menolong kita lebih banyak?"


Semua orang menatap Axel dengan penuh rasa tercerahkan. "Apa?" tanya Axel sarkas.


Adrian menyunggingkan senyum tipisnya kemudian berjalan menuju pintu rahasia dimana ruangan tersebut dipakainya untuk memantau kamera cctv seluruh gedung. Bisa dibilang, gedung kantor ini sangat amat aman.


Semua orang terperangah dibuatnya "Waaawww" cicit Axel


"Benar-benar Saseno" Agas ikut terperangah dan mengangguk menyetujuinya.


Begitupun orang-orang yang ada disana tanpa terkecuali. Adrian bergerak memberi perintah untuk mengikutinya keruangan tersebut. Dan dengan patuhnya mereka semua bergerak memenuhi ruang rahasia Adrian yang sama luasnya dengan ruang kerjanya.


Melihat ada satu ruangan mencurigakan membuat Axel menggodanya "Hmm, jadi berapa banyak cewek yang udah masuk ruangan itu?" Goda Axel mengarahkan telunjuknya kearah pintu besar dengan ukiran rumit, sembari tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


Adrian melirik Axel dengan wajah datar, semua orang disana menahan senyum geli untuk Adrian, mendengar ucapan Axel yang cukup frontal.


Agas mengkerutkan keningnya "Jangan bilang Calista udah tau ruangan ini" pikiran Agas melayang entah kemana, memikirkan kemungkinan jika Adrian sudah membawa Calista keruangan privat miliknya.

__ADS_1


Adrian menatap Agas kemudian menyunggingkan senyum smirk khasnya "Kenapa? Its not your business" Agas melipat tangan di depan dadanya.


Melihat Adrian menggodanya seperti memancing rasa cemburu atau mengetesnya, Agas menanggapinya dengan senang hati. Ia maju selangkah ke hadapan Adrian "Memang bukan urusan gue lagi, tapi cuma mau kasih tau aja nih, ******* Calista bakalan buat lo hilang kendali" tutur Agas sembari menepuk pundak Adrian dan tersenyum geli melihat ekspresi kesalnya.


Axel tak sanggup menahan tawanya dan hal itu membuat Adrian semakin kesal, di tambah Bima yang berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara tawanya.


Namun, kesenangan mereka harus terhenti karena suara notifikasi beruntun dari ponsel mereka. Agas, Axel, Adrian dan Bima nampak terkejut dengan kiriman video yang dikirimkan oleh Aldira.


"Guys. Ini serius?" cicit Axel


Bima menatap serius rekaman video yang Aldira kirim "Ini memang Iqbal"


Agas merosotkan pundaknya tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan "Enggak. Gak mungkin Iqbal ngelakuin ini"


Adrian memijit keningnya setelah melihat video yang sama, ia juga tidak percaya bahkan tidak mau mempercayainya. Tapi kenapa? Kenapa Iqbal tega melakukan ini dan untuk apa? Hati Adrian hancur mengetahui apa yang telah Iqbal lakukan.


BRAAAKK!!


Suara bising diluar ruang rahasia Adrian, membuat mereka berbondong-bondong berlari menuju sumber suara dan mereka dikejutkan oleh kedatangan Aldira yang sedikit kelelahan. Melihat kekasihnya datang dengan pebampilan yang sedikit berantakan, membuat Bima sangat khawatir


"Sayang, kamu kenapa?" Bima menghampiri Aldira dan membantunya duduk di sofa.


Agas yang tak tega melihat Aldira sedikit kacau, bergegas mengambilkan minuman kaleng dari lemari pendingin Adrian "Bim, tangkep Bim"


Mendengar namanya dipanggil dengan sigap Bima menangkap kaleng minuman yang dilemparkan Agas tanpa aba-aba, beruntung kaleng tersebut tepat sasaran


"Thanks, Gas" tutur Bima


"Ur well" balas Agas


Bima membuka penutup kaleng tersebut dengan telaten sebelum memberikannya kepada Aldira "Sayang, minum dulu ya" titah Bima lembut pada Aldira. Aldira mengangguk mengiyakan, kemudian menenggak minuman kaleng tersebut hingga tandas.


Hal itu pun tak luput dari Adrian dan Axel yang terus mengamati kegiatan mereka dan menyuruh yang lainnya untuk duduk mendekat kearah Aldira dan Bima


"Adrian, jawab gue dengan jujur, lo kan yang bawa Calista pergi? Lo yang nyuruh Iqbal?" Aldira menahan amarahnya, terdengar dari suaranya yang meninggi dan bergetar. Bima berusaha menenangkannya dengan mengelus punggung tanggan Aldira


"JAWAB ADRIAN!!"


Happy Reading..

__ADS_1


__ADS_2