THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Berdamai Dengan Masa Lalu


__ADS_3

"Sshhhh, aku kangen banget sama kamu" ucap Adrian sembari mengelus lembut rambut Calista.


Calista memberontak dari pelukan Adrian "A.. Aku gak bisa n.. Napas" tutur Calista terbata-bata.


Adrian terkejut mendengar suara Calisra yang terbata "Eh maapin aku Lis" tutur Adrian ketika melepaskan pelukannya pada Calista.


Dengan terbatuk-batuk Calista berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin sebelum "Gila ya kamu, kamu mau aku beneran mati?!" meledakan emosinya.


Adrian mengangkat salah satu bibirnya dan tersenyum mendengar umpatan Calista kembali, sebelum mendaratkan bibirnya dan ******* lembut bibir Calista. Ia sangat merindukan wanita tersebut beserta tingkah lakunya yang membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Adrian dan Calista telah tiba ke dalam bangunan villa tua dimana teman-teman mereka sudah lebih dulu sampai. Semua orang tengah berkumpul di meja makan, banyak sekali hidangan yang sudah tertata seakan seseorang telah mengetahui kedatangan mereka hari ini.


Sejujurnya saat ini, semua orang terlihat masih sangat tegang dan waspada terhadap satu sama lain. Dan apalagi, ditambah apa yang dilakukan oleh Iqbal terhadap Adrian beserta rombongannya. Kini satu sosok tanpa di duga masuk kedalam hidup keluarga besar Saseno. Adrian dan Iqbal


"Katakan apa yang anda rencanakan?" mata Adrian nyalang menatap sosok yang tengah menjamu mereka semua. Aryo Rahardja.


Calista menggenggam tangan Adrian erat, mengelus dadanya lembut mencoba menenangkannya. Saat ini Adrian bak singa yang merasa terusik. Aryo menoleh kearah Pria muda tersebut yang wajahnya mirip sekali dengan sosok yang sangat akrab dengannya.


Pandangan Aryo beralih kepada para pengawalnya dan mengisyaratkan mereka untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut dan hal tersebut membuat orang-orang di meja makan menghela napas lega


"Kedatangan saya ke dalam hidup keluarga Saseno bukanlah ada apa-apa, saya datang ke Indonesia karena rindu dengan kampung halaman saya dan juga Alm. Ayah kamu"


Semua orang memelankan aktivitas berusaha mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Adrian dan Iqbal. Dan ternyata Ayah Adrian telah tiada, lama sekali.


Wajah Adrian kaku mendengar cerita atau hal apapun mengenai Ayahnya bahkan keluarganya. Bisa di bilang sejak kecil Adrian tidak terlalu mengenal Ayahnya sendiri bahkan merasakan kasih sayang dari sosok tersebut

__ADS_1


"Aarrrhhmm.. Om!!" Iqbal menginterupsi percakapan keduanya. Dalam hal ini Iqbal cukup peduli akan perasaan sepupunya ini, melihat kesedihan dari sorot mata Adrian membuat Iqbal turut merasakan pilu.


Adrian meletakan garpu dan sendoknya secara bersamaan. Napsu makannya pun sudah hilang entah kemana "Maaf saya duluan, saya sudah selesai. Silahkan lanjutkan saja" Adrian berdiri dari kursi kemudian meninggalkan mereka semua yang termenung dengan tindakannya barusan.


Calista yang melihat itu pun dengan sigap ikut berpamitan sebelum meninggalkan mereka semua mengikuti Adrian. Ia sangat tahu bahwa Adrian sangat membutuhkannya saat ini


*****


"Hey! Are you ok?" Calista berjalan mendekati Adrian.


Kini mereka berada di balkon kamar Adrian. Angin dingin yang menusuk kulit, tak dihiraukan Calista. Adrian menatap pemandangan malam hari dengan perasaan sendu. Calista membuang napas tenang, ia tahu bahwa kini laki-laki disampingnya sedang tidak baik-baik saja dan mungkin saja ia juga membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri.


Calista menghadap kearah Adrian yang masih menatap pemandangan di hadapannya "Aku ada di kamar sebelah, kalau kamu butuh sesuatu" tutur Calista sebelum pergi meninggalkan Adrian sendiri dan kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Calista melemparkan dirinya keatas ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan tak menentu. Bagaimana bisa hidupnya sampai dititik ini? Bagaimana bisa ia terjebak dalam cerita yang melebihi roller coaster?


Melihat perjalanan hidupnya ke belakang, Calista masih tidak tahu bagaimana ia harus menjalani hidup di setiap harinya, bahkan ia masih tidak tahu bagaimana menjalani hari esok. Sungguh, jika boleh ia ingin sekali melihat bagaimana skenario hidupnya berjalan saat ini dan hari-hari berikutnya.


Ketukan pintu menarik atensi Calista dari masa lalunya. Kira-kira siapa yang mengetuk pintu apakah mungkin Adrian sudah lelah berdiri di balkon? Siapa yang tahu akan hal itu.


Calista berjalan mendekati pintu dan ternyata sosok yang berdiri dihadapannya saat pintu terbuka adalah "Iqbal ?!"


"Hai, umm bisa bicara sebentar?" tutur Iqbal mengisyaratkan sesuatu dan Calista pun mengangguk setuju kemudian mengikutinya.


Setelah kejadian yang baru saja terjadi terbesit sedikit keraguan pada sepupu dari Adrian ini. Mengingat dia juga teman dekat dari Agas semasa kuliah. Entah, siapakah sosok dihadapannya sekarang atau Iqbal yang manakah dirinya saat ini? Teman lama Agas, Sepupu dari Adrian atau justru malah menjadi penghianat.


Mereka tiba diruang baca keluarga atau terlihat seperti perpustakaan kecil "Jadi apa?" tanya Calista to the point

__ADS_1


"Ini soal Adrian" jawab Iqbal sembari berkeliling mengamati ruangan yang sudah lama tak terjamah manusia.


Calista melirik Iqbal yang sibuk mengamati deretan rak buku "Ada apa dengannya?" tanya Calista lagi. Ia sangat antusias sekali dengan hal-hal berbau Adrian, menurutnya ia harus mengetahui semua masa lalu Adrian, untuk menghindari konflik-konflik yang tidak diinginkan di kemudian hari.


Iqbal membawa buku tua tebal dan usang lalu mengajak Calista pergi ke taman belakang. Calista memutar bola matanya malas tapi tetap saja mengekori laki-laki tersebut seperti anak ayam.


"Ini album foto keluarga Saseno. Ini Alm. Bokap kita berdua. Ayah gue dan Adrian mengalami kecelakaan di area pertambangan Minyak bumi di tengah laut.. "


Calista memperhatikan setiap foto sembari mendengarkan cerita Iqbal dengan seksama. Di lembar-lembar berikutnya ia menemukan foto masa kecil Adrian yang menggemaskan. Hatinya menjerit tak karuan melihat kegemasan yang dibuat oleh Adrian kecil.


Iqbal melirik Calista ia menepuk jidatnya melihat Calista cekikikan melihat album foto tersebut "Dasar payah" cibirnya sambil melipat kedua tangan di dadanya sembari menyandarkan punggungnya pada kursi taman.


Calista tidak mempedulikan cibiran Iqbal si bocah penghianat tersebut, apa yang ada dihadapannya saat ini jauh lebih penting. Calista merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel lalu memotret foto-foto tersebut "Astagaaaa gemessshhh banget sumpah" tuturnya kegirangan.


Iqbal yang melihat Adrian menghampiri mereka hendak memberitahu Calista, namun dicegah oleh Adrian dari kejauhan. Adrian mengambil tempat duduk Iqbal karena Iqbal tidak ingin melihat kebucinan mereka seorang diri, maka dari itu Iqbal memutuskan untuk masuk kedalam.


Calista yang belum menyadari tampak masih cekikikan geli. Alhasil Adrian mencolek lengan Calista "Iishh apaan sih Bal, ganggu aja" tutur Calista.


Adrian nampak terkejut namun mengangkat sebelah sudut bibirnya keatas. Lagi Adrian mencolek pipi Calista "Apaan sih Bal, jangan macem-macem deh gue cewek sepupu lo" tuturnya dengan nada ancaman yang membuat Adrian memerah dengan kata-kata Calista barusan.


"Sayang masuk yuk?" bisik Adrian ditelinga Calista.


Calista menegang kemudian menelan ludahnya dengan perasaan gugup, menutup album foto tersebut dengan cepat dan keras. Menoleh kearah Adrian dan "Aaaaaaaaa" terkejut.


Refleks dirinya ingin lari karena ketakutan. Pasalnya sedari tadi ia bersama Iqbal bukan Adrian. Adrian menangkap Calista yang hampir saja ingin kabur "Kamu kenapa sih, ngeliat aku kayak ngeliat hantu aja" tutur Adrian dengan wajah cemberut.


"Iqbal kaaaamppreett. I hate you!!!" maki Calista kearah dalam

__ADS_1


"Your welcome" jawab Iqbal dengan kekehan sembari membawa secangkir kopi ditangannya.


Happy Reading..


__ADS_2