
Mendengar perkataan yang ada disekitar, Axel nampak berpikir keras "CCTV, dapatkah menolong kita lebih banyak?"
Semua orang menatap Axel dengan penuh rasa tercerahkan. "Apa?" tanya Axel sarkas.
Adrian menyunggingkan senyum tipisnya kemudian berjalan menuju pintu rahasia dimana ruangan tersebut dipakainya untuk memantau kamera cctv seluruh gedung. Bisa dibilang, gedung kantor ini sangat amat aman.
Semua orang terperangah dibuatnya "Waaawww" cicit Axel
"Benar-benar Saseno" Agas ikut terperangah dan mengangguk menyetujuinya.
Begitupun orang-orang yang ada disana tanpa terkecuali. Adrian bergerak memberi perintah untuk mengikutinya keruangan tersebut. Dan dengan patuhnya mereka semua bergerak memenuhi ruang rahasia Adrian yang sama luasnya dengan ruang kerjanya.
Melihat ada satu ruangan mencurigakan membuat Axel menggodanya "Hmm, jadi berapa banyak cewek yang udah masuk ruangan itu?" Goda Axel mengarahkan telunjuknya kearah pintu besar dengan ukiran rumit, sembari tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Adrian melirik Axel dengan wajah datar, semua orang disana menahan senyum geli untuk Adrian, mendengar ucapan Axel yang cukup frontal.
Agas mengkerutkan keningnya "Jangan bilang Calista udah tau ruangan ini" pikiran Agas melayang entah kemana, memikirkan kemungkinan jika Adrian sudah membawa Calista keruangan privat miliknya.
Adrian menatap Agas kemudian menyunggingkan senyum smirk khasnya "Kenapa? Its not your business" Agas melipat tangan di depan dadanya.
Melihat Adrian menggodanya seperti memancing rasa cemburu atau mengetesnya, Agas menanggapinya dengan senang hati. Ia maju selangkah ke hadapan Adrian "Memang bukan urusan gue lagi, tapi cuma mau kasih tau aja nih, ******* Calista bakalan buat lo hilang kendali" tutur Agas sembari menepuk pundak Adrian dan tersenyum geli melihat ekspresi kesalnya.
Axel tak sanggup menahan tawanya dan hal itu membuat Adrian semakin kesal, di tambah Bima yang berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara tawanya.
Namun, kesenangan mereka harus terhenti karena suara notifikasi beruntun dari ponsel mereka. Agas, Axel, Adrian dan Bima nampak terkejut dengan kiriman video yang dikirimkan oleh Aldira.
"Guys. Ini serius?" cicit Axel
Bima menatap serius rekaman video yang Aldira kirim "Ini memang Iqbal"
Agas merosotkan pundaknya tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan "Enggak. Gak mungkin Iqbal ngelakuin ini"
Adrian memijit keningnya setelah melihat video yang sama, ia juga tidak percaya bahkan tidak mau mempercayainya. Tapi kenapa? Kenapa Iqbal tega melakukan ini dan untuk apa? Hati Adrian hancur mengetahui apa yang telah Iqbal lakukan.
__ADS_1
BRAAAKK!!
Suara bising diluar ruang rahasia Adrian, membuat mereka berbondong-bondong berlari menuju sumber suara dan mereka dikejutkan oleh kedatangan Aldira yang sedikit kelelahan. Melihat kekasihnya datang dengan pebampilan yang sedikit berantakan, membuat Bima sangat khawatir
"Sayang, kamu kenapa?" Bima menghampiri Aldira dan membantunya duduk di sofa.
Agas yang tak tega melihat Aldira sedikit kacau, bergegas mengambilkan minuman kaleng dari lemari pendingin Adrian "Bim, tangkep Bim"
Mendengar namanya dipanggil dengan sigap Bima menangkap kaleng minuman yang dilemparkan Agas tanpa aba-aba, beruntung kaleng tersebut tepat sasaran
"Thanks, Gas" tutur Bima
"Ur well" balas Agas
Bima membuka penutup kaleng tersebut dengan telaten sebelum memberikannya kepada Aldira "Sayang, minum dulu ya" titah Bima lembut pada Aldira. Aldira mengangguk mengiyakan, kemudian menenggak minuman kaleng tersebut hingga tandas.
Hal itu pun tak luput dari Adrian dan Axel yang terus mengamati kegiatan mereka dan menyuruh yang lainnya untuk duduk mendekat kearah Aldira dan Bima
"Adrian, jawab gue dengan jujur, lo kan yang bawa Calista pergi? Lo yang nyuruh Iqbal?" Aldira menahan amarahnya, terdengar dari suaranya yang meninggi dan bergetar. Bima berusaha menenangkannya dengan mengelus punggung tanggan Aldira
Bima memeluk Aldira kemudian mengusap kepalanya dengan lembut "Sayang, tenang dulu. Ini semua gak ada hubungannya sama Adrian" sekali lagi, Bima berusaha menenangkan Aldira
"Kamu kok belain dia sih Bim? Aku tunangan kamu, bukan dia"
Aldira semakin menjadi-jadi emosinya dengan nada yang tak ramah diikuti jari telunjuknya yang selalu mengarah kearah Adrian.
Adrian menghela napas lelah "Bim, gapapa. Biar gue aja yang jelasin"
"Yaudah ngomong lo sekarang!!" tuntut Aldira dengan menatap Adrian nyalang.
Adrian dengan hati-hati menjelaskan semuanya pada Aldira, meskipun Aldira masih belum bisa meredakan amarahnya. Namun, perlahan nada bicaranya kembali menurun setelah bukti-bukti yang hampir sempurna mengarah kepada Iqbal seorang. Bukan Adrian, seperti yang Aldira pikir dan tuduhkan beberapa menit lalu
"Jadi gitu, ceritanya. Tau gitu tadi langsung gue telpon polisi atau teriakin maling aja" cibir Aldira yang kembali kesal, bukan karena Adrian lagi melainkan sepupunya, yaitu Iqbal.
__ADS_1
Agas mengusap dagunya, memperhatikan sekali lagi gerak-gerik Iqbal seperti orang yang tertekan "Apa mungkin Iqbal hanya sebagai alat pancingan, untuk menghancurkan lo" tutur Agas yang kemudian mengalihkan pandangannya kearah Adrian.
Adrian menatap Agas dan mencerna apa yang Agas ucapkan. "Hal itu sangat masuk akal, coba kita perhatikan bahasa tubuh atau gerak tubuh Pak Iqbal, seperti orang yang tertekan" jawaban lain dari salah satu FBI kepercayaan Adrian, menyetujui opini yang Agas lemparkan.
"Terus sekarang gimana? Calista pasti ketakutan, apalagi suaranya belum balik" tutur Aldira kembali terisak.
Selain kelelahan berlari dari basement parkiran hingga keruangan Adrian, Calista juga kelelahan karena menangis sepeninggalannya dari rumah sakit.
Sementara ditempat lain..
"Iqbal Dwi Saseno" ucap seorang pria bersetelan jas mahal, dengan tepuk tangan seperti meledek.
Iqbal berdiri dengan tenang, sementara di belakangnya terdapat dua orang dokter, tiga orang bodyguard dan juga Calista yang sepertinya tengah terbius
"Saya tidak percaya anda melakukan ini semua" tuturnya lagi sembari berjalan menghampirinya
"Tidak perlu basa-basi, Aryo Rahardja" sarkas Iqbal, masih dengan sikap tenang.
Sosok pria blasteran itu tengah berdiri dihadapannya "Kau penghianat keluarga Saseno, nak"
Iqbal tersenyum culas "Jangan bicara seolah-olah kau seorang malaikat dan jangan pernah panggil gue 'Nak' mengganggu sekali" sarkas Iqbal.
Pria tersebut tertawa mendengar perkataan Iqbal barusan "Lelucon anak kemarin sore"
"Anda membuang waktu saya yang berharga" sergah Iqbal menginterupsi tawa sosok tersebut.
Sosok tersebut merubah sikap ramahnya kepada Iqbal "Saya tidak menyangka Anda tidak bisa diajak bercanda sama sekali"
Tanpa disadari, Calista mendengar semuanya. Beruntungnya, ia menyembunyikan ponselnya di dalam bra. Calista mengintip situasi disekitarnya sebelum ia mengeluarkan ponselnya. Dengan tenang Calista mengirimkan lokasinya kepada Adrian dan Aldira, berharap mereka segera membawanya keluar dari sini.
Aryo memberikan kode pada anak buahnya untuk membawakan dua buah koper ke hadapan mereka dan menyuruh anak buahnya untuk membuka koper-koper tersebut. Sejumlah uang senilai ratusan ribu dolar amerika, memenuhi koper-koper itu
"Waaaww, ternyata seorang Rahardja, menilai semuanya dari lembaran kertas?" tawa Iqbal terdengar nyaring memenuhi atmosfer tempat ini.
__ADS_1
Aryo mengarahkan pistolnya kearah Iqbal, membuat semua orang terkejut dibuatnya..
Happy Reading..