THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Siuman


__ADS_3

Waktu tidak pernah menunggu siapapun dan disaat seperti apapun. Ia tetap berjalan maju tanpa pernah menoleh kebelakang apalagi berhenti. Ketika semuanya kembali seperti yang seharusnya, aku percaya bahwa ini semua adalah rancangannya.


Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan diakhir cerita. Entah akan seperti apa setelahnya, kita tidak akan pernah tau.


Setiap kesalahan pasti akan bertemu pada kata penyesalan di akhirnya. Menunggu tanpa pernah mau berusaha memperbaikinya takkan pernah bertemu pada kata baik-baik saja di akhirnya.


Belajar dari setiap kesalahan yang orang lain lakukan itu harus, sebab manusia tidak di lahirkan untuk menjadi sempurna. Menjadi tangguh dari masa lalu adalah hasil dari proses-proses yang telah dilalui, menjadi hebat di masa depan adalah hasil dari bekal di masa lalu.


Melihat para wanita barbar ini berpelukan, iseng aku mendekati mereka dengan Bang Ami dan Ahdan "Kita gak di peluk juga?" Celetukku dengan raut wajah sedih yang seperti di buat-buat


"BUKAN MUHRIM" Celetuk kami serempak dengan suara nyaring.


Membuat suasana di bandara menjadi hening karena tingkah kami yang membuat mereka menoleh kearah kami dengan tatapan intimidasi. Kemudian tawa kami pun pecah mengiringi kepergian Jihan yang sebentar lagi membawa segalanya bersama dirinya.


Datang akan pergi


Lewat 'kan berlalu


Ada 'kan tiada


Bertemu akan berpisah


Awal 'kan berakhir


Terbit 'kan tenggelam


Pasang akan surut


Bertemu akan berpisah


Hey, sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu

__ADS_1


Ku tak siap tanpa dirimu


Kuharap terbaik untukmu


***


Tepukan pada pundak Axel membawanya kembali ke masa kini "Are you ok?" ternyata sosok itu adalah Agas Cokrodinoto.


Axel tersenyum lemah dan berkata "Cuma memori yang numpang lewat aja kok, sorry Gas" tutur Axel berusaha menyembunyikan apa yang baru saja ia pikirkan, hanya untuk menghargai seorang Agas.


Hari itu adalah hari dimana semua hal terjadi diluar kendali mereka. Sesuatu yang telah menimpa Calista, bukanlah kejadian yang biasa, Calista juga tidak memiliki musuh sejauh ini


"Ternyata kalian disini" ucap seseorang yang mengejutkan keduanya dengan wajah lelah dan khawatir


"Ada apa?" ucap keduanya serempak, Agas dan Axel


"Calista.. " kata sosok itu lagi. Membuat Agas dan Axel saling tatap. Mendengar hal tersebut mereka bergegas menuju ruangan dimana Calista tengah terbaring.


Secercah senyum merona dan haru timbul diantara mereka, melihat Calista yang sudah mulai siuman. Terlihat Adrian yang menggenggam lembut tangan Calista, entah mengapa Agas ikut tersenyum melihatnya, ada kelegaan di dalam hatinya yang selama ini belum pernah ia rasakan.


***


Diruangan bernuansa minimalis, namun membawa dayu sendu di dalamnya, terdengar nyaring layar kecil yang menguntai garis takdir. Layaknya benang takdir yang di pegang oleh ketiga dewi dari yunani di lambangkan oleh; Kelahiran, Kehidupan dan Kematian.


Perlahan, Calista mulai menggerakkan jemari tangannya, hal itu pun disadari oleh Aldira yang terus menjaga Calista di dalam ruangan tersebut. Tanpa pikir panjang Aldira menekan tombol darurat di dekat brangkar, dimana Calista terbaring, agar dokter dan perawat segera tiba menghampiri mereka.


Tak lupa Aldira juga memberitahukan semua orang yang ada disana bahwa Calista sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan kembali


"Calista !!!" kata Aldira meletup-letup yang menimbulkan kepanikan masal diantara laki-laki yang berjaga di luar ruangan.


Adrian yang ikut panik menyela "Apa? Kenapa?!" tanya Adrian seraya menenangkan Aldira untuk tenang, walau sejujurnya ia sendiri ikut tersulut ekspresi Aldira


"Beb, tenang ya, tarik napas terus buang" tutur calon suami Aldira dan Aldira pun mengangguk lalu melakukannya sesuai perkataan calon suaminya tersebut


"Oke, tadi gue gak sengaja liat jari tangan Calista bergerak. Awalnya gue gak percaya, gue pikir mungkin gue terlalu capek..


Sampai mata gue, gue kucek berkali-kali sambil nampar pelan pipi gue dan ternyata gue gak halu, Calista udah mau siuman" tutur Aldira tanpa jeda dengan nada yang meletup-letup dan juga airmata bahagia yang mengalir deras.

__ADS_1


Tak berapa lama Dokter-Dokter dan para perawat yang menangani Calista pun mulai berdatangan untuk melihat bagaimana perkembangan kondisi Calista, pasca koma kecil.


Sejujurnya, pada kondisi Calista saat ini sangat kecil kemungkinan untuk ia sadar secepat itu, jika dilihat dari luka yang ada pada tengkorak kepalanya. Namun beruntungnya ia, organ vital seperti otak dan syaraf lainnya tidak mengalami cedera apapun. Maka dari itu, kondisi Calista saat ini bisa di bilang sangat langka dan ajaib, kemungkinan sepuluh persen kasus langka yang dialami oleh orang-orang seperti Calista.


Hanya saja kemungkinan kecil dari luka ini adalah..


"Apa dok? Gak mungkin Calista.. "


"Maaf tapi memang akibat cedera yang dialami nona Calista ini, adalah redamnya pita suara. Tapi, kabar baiknya cedera ini hanya sementara saja" tutur Dokter menjelaskan kondisi Calista saat ini, setelah sebelumnya melakukan pengecekan seluruhnya.


Beberapa orang yang mendengar kabar tersebut sangat terpukul terutama Calista sendiri, yang tanpa sengaja sudah dapat mendengar suara-suara disekitarnya dengan jelas. Meskipun ia belum dapat membuka kelopak matanya


"Dok, dokter lagi gak bercanda kan dok?"


"Calista pasti sembuh kan dok? Ini gak bakalan permanen kan dok?"


Berondongan pertanyaan yang menyerang salah satu Dokter yang menyampaikan berita tersebut membuat Calista mulai memahami secara perlahan apa yang sedang terjadi padanya, lebih tepatnya keadaannya saat ini.


Calista sangat bersyukur, ia bisa selamat tanpa kehilangan apapun yang ada pada tubuhnya dan juga ingatannya baik-baik saja. Perlahan tapi pasti Calista mulai membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit ruangan dan beberapa orang yang sedang berdebat tidak jauh dari tempatnya berbaring


"Calista!!" mendengar namanya di sebut seseorang, membuat dirinya menjadi pusat perhatian saat ini.


Seorang petugas medis menghampirinya dan mengeceknya sekali lagi, mulai dari penglihatan, detak jantung dan bagian lainnya yang patut di cek


"She's ok, maaf sebelumnya siapa yang bertanggung jawab sebagai wali dari nona Calista?" tanya dokter yang menangani Calista


Seseorang yang berusaha Calista ingat-ingat maju dan mengajukan diri sebagai wali untuknya "Saya Dok" tutur sosok tersebut.


Calista mencoba menggerakan matanya perlahan untuk melihat lebih jelas siapa yang berbicara dan ternyata sosok tersebut adalah


"Adrian" Calista berusaha menggerakan bibirnya meskipun ia mengalami kelumpuhan pita suaranya, namun ia dapat menggerakan bibirnya secara perlahan.


Dengan debar jantung tak menentu Adrian melangkah mendekati Calista, menggenggam lembut tangan Calista dan menciuminya dengan lembut "Iya, Calista. Ini aku"


Derai airmata turun secara perlahan di pelupuk mata Calista dan hal itu pun turut mengundang haru semua orang disana termasuk para petugas medis, yang merasakan atmosfer drama percintaan mereka.


Happy Reading..

__ADS_1


__ADS_2