THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
H E A L I N G


__ADS_3

Sejujurnya, pada kondisi Calista saat ini sangat kecil kemungkinan untuk ia sadar secepat itu, jika dilihat dari luka yang ada pada tengkorak kepalanya. Namun beruntungnya ia, organ vital seperti otak dan syaraf lainnya tidak mengalami cedera apapun. Maka dari itu, kondisi Calista saat ini bisa di bilang sangat langka dan ajaib, kemungkinan sepuluh persen kasus langka yang dialami oleh orang-orang seperti Calista.


Hanya saja kemungkinan kecil dari luka ini adalah..


"Apa dok? Gak mungkin Calista.. "


"Maaf tapi memang akibat cedera yang dialami nona Calista ini, adalah redamnya pita suara. Tapi, kabar baiknya cedera ini hanya sementara saja" tutur Dokter menjelaskan kondisi Calista saat ini, setelah sebelumnya melakukan pengecekan seluruhnya.


Beberapa orang yang mendengar kabar tersebut sangat terpukul terutama Calista sendiri, yang tanpa sengaja sudah dapat mendengar suara-suara disekitarnya dengan jelas. Meskipun ia belum dapat membuka kelopak matanya


"Dok, dokter lagi gak bercanda kan dok?"


"Calista pasti sembuh kan dok? Ini gak bakalan permanen kan dok?"


Berondongan pertanyaan yang menyerang salah satu Dokter yang menyampaikan berita tersebut membuat Calista mulai memahami secara perlahan apa yang sedang terjadi padanya, lebih tepatnya keadaannya saat ini.


Calista sangat bersyukur, ia bisa selamat tanpa kehilangan apapun yang ada pada tubuhnya dan juga ingatannya baik-baik saja. Perlahan tapi pasti Calista mulai membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit ruangan dan beberapa orang yang sedang berdebat tidak jauh dari tempatnya berbaring


"Calista!!" mendengar namanya di sebut seseorang, membuat dirinya menjadi pusat perhatian saat ini.


Seorang petugas medis menghampirinya dan mengeceknya sekali lagi, mulai dari penglihatan, detak jantung dan bagian lainnya yang patut di cek


"She's ok, maaf sebelumnya siapa yang bertanggung jawab sebagai wali dari nona Calista?" tanya dokter yang menangani Calista


Seseorang yang berusaha Calista ingat-ingat maju dan mengajukan diri sebagai wali untuknya "Saya Dok" tutur sosok tersebut.


Calista mencoba menggerakan matanya perlahan untuk melihat lebih jelas siapa yang berbicara dan ternyata sosok tersebut adalah


"Adrian" Calista berusaha menggerakan bibirnya meskipun ia mengalami kelumpuhan pita suaranya, namun ia dapat menggerakan bibirnya secara perlahan.

__ADS_1


Dengan debar jantung tak menentu Adrian melangkah mendekati Calista, menggenggam lembut tangan Calista dan menciuminya dengan lembut "Iya, Calista. Ini aku"


Derai airmata turun secara perlahan di pelupuk mata Calista dan hal itu pun turut mengundang haru semua orang disana termasuk para petugas medis, yang merasakan atmosfer drama percintaan mereka.


Agas yang mengerti situasi seperti ini mengisyaratkan semua orang untuk mengikutinya keluar dan memberikan mereka berdua privasi. Aldira pun meminta ijin untuk pulang sebentar, ia merasa sangat lega melihat Calista sudah kembali siuman.


Jujur, meskipun ia sangat kelelahan menjaga sahabatnya ini, Aldira tidak sedikitpun memperlihatkan rasa lelahnya. Namun, manusia tetaplah manusia, tubuh fisiknya sudah mulai meronta akibat sering diabaikan beberapa hari ini


"Lis, gue pulang sebentar ya? Nanti gue kesini lagi. Kalo butuh apa-apa kasih tau mereka, okey" pamit aldira pada Calista, Calista hanya tersenyum lemah sebagai jawaban.


Aldira melirik Adrian "Thanks ya Dir, tanpa lo-" mendengar ucapan Adrian yang bisa membuat Calista memiliki beban pikiran, Aldira segera memotongnya


"She's my sister and tanpa lo minta atau berterimakasih pun, gue akan tetap melakukan apa yang seharusnya gue lakukan" Aldira mengakhiri ucapannya seraya menepuk bahu Adrian, sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut.


Dan tinggal lah mereka berdua di dalam ruangan ini. Adrian tak hentinya menatap Calista begitupun sebaliknya, mereka terlihat bodoh memang. Namun, siapa yang dapat menyangka, adanya komunikasi tak kasat mata yang sedang terjadi diantara keduanya saat ini. Dimana mata saling menatap, disitulah kata tak lagi memiliki arti. Itulah Cinta.


"Kamu haus ya?" tanya Adrian penuh sayang dan Calista tersenyum dengan mengedipkan matanya secara perlahan sebagai tanda setuju.


Adrian mengambil botol mineral yang ada diatas nakas, tak lupa ia juga menambahkan sedotan ke dalam botol mineral tersebut agar Calista dapat dengan mudah meminumnya


"Kamu butuh apa lagi, Lis? Bilang sama aku ya" tanya Adrian setelah Calista minum.


***


Sementara diluar ruangan, Agas menyaksikan semua hal yang dilakukan oleh Adrian kepada Calista. Anggaplah Agas sengaja mengintip mereka, hanya untuk benar-benar memastikan bahwa Calista sudah aman dan tidak akan mengalami hal-hal menyakitkan lainnya. Alasan utama baginya adalah, agar hatinya benar-benar tenang.


Iqbal dan Axel yang melihat kelakuan Agas pun hanya bisa mengehala napas memaklumi dan berusaha menghiburnya


"Gas, lo pulang dulu gih. Kasian kan anak lo, Calista udah ada yang jagain kok disini"

__ADS_1


Seperti pencuri yang tertangkap basah, Agas pun hanya menghela napas kearah Axel dan Iqbal. Dengan mengangguk seraya mengusap wajah frustasi, Agas pun pamit pada mereka untuk pulang. Ia merasa seperti Ayah yang tidak bertanggung jawab sama sekali saat ini, mengingat putrinya sendirian tanpa pengawasan dan perlindungan langsung darinya.


Dering ponsel menjeda langkah Agas menuju parkiran mobil "Hallo sayang" ucap Agas lembut pada sosok disebrang sana


"Pa, papa kemana sih dari kemarin gak pulang" rengekkan gadis kecil yang lama tak terdengar, kini memenuhi gendang telinganya.


Agas tersenyum tanpa sadar airmata lolos satu persatu darinya "Iya sayang, hari ini Papa pulang, kita makan ramen mau?"


"Kyaaa!! Mau banget kak" Agas mengerutkan dahinya tatkala mendengar suara lain yang tak asing menggantikan suara putri kecilnya


"Hellen!! Ngapain kamu? Kapan dan.. Aldira" terdengar tawa renyah dari sosok yang baru diketahui bernama Hellen


"Udah deh cepet pulang, gue males banget berdua doang sama setan kecil ini" sunggut Hellen kesal namun tetap terdengar seperti cekikan riang ditelinga Agas.


Agas tertawa heran, bisa-bisanya ia memiliki DNA yang sama dengan sosok yang bernama Hellena Cokrodinoto ini. Wanita barbar yang suka keliling dunia dan belum pernah kembali lagi ke tanah air, kini sedang singgah seenaknya dirumah pribadi miliknya


"Hei! Jaga ucapanmu, dia masih keponakanmu" tegur Agas membalas akting Hellena yang payah


"Pa, cepet pulang Pa. Onty Hell bawa hadiah buat kita" ucap Cally, putri semata wayangnya


"What? Are you hear that? 'Hell' great. She called me 'Hell' dia memang putri mu" mendengar ocehan Hellena membuat tawa Agas pecah, jujur Agas tidak pernah mengajari putrinya menggunakan kata-kata atau kalimat yang tidak baik.


Tapi untuk kali ini ia sangat bangga pada putrinya..


"Kok lo ketawa sih psycho dasar!!" cibir Hellena kesal


"Hey, hey. Jangan bersenang-senang tanpa aku!! Aku segera pulang" tegas Agas kemudian buru-buru menuju mobilnya dan langsung menancap gas meninggalkan rumah sakit dengan perasaan ringan.


Happy Reading..

__ADS_1


__ADS_2