
Calista ikut menghangat, tersenyum bahagia dan sedikit berkaca melihat Aldira mentap Bima dengan penuh cinta. Ia berharap dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang Aldira rasakan saat ini dan hal tersebut tidak luput dari pandangan Adrian.
"Jadi kapan kalian akan kembali ke jakarta?" pertanyaan Aryo membuat semua pasang mata menatap Adrian, kecuali Calista.
Adrian menghela napas "Besok" dengusnya karena kesal ditatap seperti itu dan hal itu membuat tawa semua orang pecah, sekali lagi kecuali Calista dan Adrian menyadarinya.
Pagi yang indah dengan suasana hati yang mendung begitulah yang terjadi antara Adrian dan Calista.
***
Malam hari pun tiba, semua orang nampak berkemas walaupun barang-barang yang mereka bawa tidak banyak, mengingat mereka ke sini bukan untuk berlibur.
Adrian menghampiri Agas dan yang lainnya di ruang tengah, disana Aryo sedang menceritakan pengalaman masa mudanya bersama Ayah Adrian. Walaupun sempat terjadi cekcok diantara keduanya beberapa hari lalu, Adrian mulai nampak biasa dan berusaha menunjukan kedewasaannya, meskipun itu harus bertarung dengan egonya sendiri
"Jadi bagaimana denganmu, nak?" tanya Aryo menatap Adrian.
Adrian yang mengerutkan dahinya nampak berpikir, kemana arah pembicaraan lawan bicaranya ini "Soal apa?"
"Pernikahan?" tanya Aryo dengan hati-hati.
"Tidak tahu" jawaban tersebut membuat semua orang disana menjadi diam seribu bahasa. Mereka nampak tidak percaya dengan jawaban yang Adrian lontarkan barusan.
Axel yang baru saja ingin melontarkan kata-kata, dibuat diam dengan makanan yang dimasukan paksa oleh Iqbal dan Agas dan hal itu membuat Axel kesal namun mengurungkan niatnya untuk berbicara.
Sementara itu dikamar Calista..
"Leher lo kenapa tuh?" tanya Aldira meledek. Muka Calista berubah menjadi cemberut
"Ck. Gapapa" jawab Calista cemberut.
Tawa Aldira meledak melihat tingkah Calista seperti anak kecil yang baru saja disukai oleh teman sebayanya
"Yee, malah ketawa sih"
"Eh, sorry beb. Abisnya lucu sih, bukannya lo udah pernah ya sama Agas dulu?" tutur Aldira mengingatkan.
Calista menunduk dengan muka memerah "Tapi kali ini beda rasanya, lo tau sendiri setelah Agas gue gak pernah deket sama cowok lain apa lagi sentuhan yang lebih jauh"
Aldira menyeringai mendengar perkataan Calista "Tapi lo menikmatinya kan? Hebatan mana Agas atau Adrian?"
Calista mengangkat wajahnya dan menyipitkan matanya kearah Aldira "Diiiirrraaaaaa, udah ah geli tau!!"
__ADS_1
"Ih, Lis jawab dong penasaran, siapa yang jago"
Tanpa disadari oleh mereka, seseorang berada di balik pintu mendengarkan percakapan mereka sedari tadi.
***
"Bisa bicara sebentar?" dua sosok pria dewasa itu berjalan kearah taman belakang villa tersebut
"Ada apa? Gak biasanya lo ajak gue ngomong secara privat begini" tutur salah satu sosok tersebut.
Lawan bicaranya nampak frustasi terlihat dari raut wajahnya dan sesekali menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jari tangannya.
"Mengenai masa lalu lo sama dia" jawab lawan bicara pria tersebut. Pria itu duduk berhadapan sekarang, dengan lawan bicaranya.
Matanya menerawang sebelum mengatakan sesuatu "Apa yang lo mau tau tentang masa lalu kita?"
Pertanyaan itu seperti bongkahan kecil es batu yang dilemparkan lawan bicaranya padanya "Tapi gue harap lo siap dengan pertanyaan gue dan gue harap lo bisa jujur sejujur-jujurnya"
Kini pria dihadapannya tersenyum tipis "Gue selalu siap untuk segala kemungkinan terburuknya. Sekalipun lo merencanakan hal buruk sama gue disini"
Lawan bicaranya nampak mengepalkan tangannya, namun berusaha mengendalikan diri "Udah deh tinggal jawab 'Iya' pake berlagak kayak sinetron-sinetron"
Pria tersebut memutar bola matanya keatas "Ck. Iyeeee, buruan mau nanya apa?!"
Pertanyaan pria dihadapannya ini membuat dirinya menyemburkan tawa keras. Pasalnya pertanyaan itu seharusnya sudah tidak lagi dilemparkan di usia mereka saat ini dan hari ini dirinya mendengarkan hal yang sama seperti beberapa tahun lalu
"Sialan lo Gas. Gue serius!!" Geram lawan bicaranya itu. Yah, dua pria yang sedang berbincang ini adalah Adrian dan Agas.
Agas meredakan tawanya sebelum melanjutkan perkataannya dengan serius "Jadi lo juga se-serius itu ya.." Agas merubah posisi duduknya dengan raut wajah tanpa ekspresi "Well.. Kita udah melakukan semuanya" jawab Agas.
Mendengar perkataan Agas yang masih rancu dibenaknya membuat Adrian melepaskan emosinya "Melakukan semuanya apa maksud lo, ngomong yang jelas!!" tegas Adrian tidak sabaran.
Agas menghela napas kasar "Ya masa kudu gue perjelas sih?, Masa lo gak tau kata-kata gue tadi"
Adrian hanya terdiam nampak berpikir keras, tiba-tiba alisnya mengerut, tatapannya menajam kearah Agas "Jangan bilang lo sama dia udah.. " Adrian kehilangan kata-kata melihat Agas terdiam dan hanya menatap Adrian seakan meng-iyakan perkataan Adrian barusan.
***
Keesokan Harinya..
"Calista pergi sama gue" tutur Adrian tegas sembari menatap tajam sosok wanita muda dihadapannya.
__ADS_1
Calista maju selangkah "Aku gak mau, aku mau sama Aldira" balas Calista tak mau kalah.
Adrian mencoba menahan emosinya "Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu ke kamu, disini" lalu tanpa babibu, Calista berteriak saat tubuhnya terasa ringan.
Adrian memanggul Calista seperti karung beras. Calista terus meronta dan berteriak "Brengsek!! Turunin gue sekarang!! Aaaaaaaa!!!!"
Semua orang yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya dan menatap iba kearah Calista. Mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, berhadapan dengan Adrian saja sudah melelahkan di tambah Calista. Kemungkinan kepala mereka bisa meledak dan berhamburan kemana-mana.
Rombongan Adrian satu-persatu meninggalkan pekarangan villa tersebut. Menyisakan mobil yang dikendarai Adrian dan mobil Aryo beserta anak buahnya. Walaupun sulit untuk mempercayai siapapun, Adrian sedikit memberi kepercayaannya kepada sahabat Ayahnya itu. Mungkin dengan cara ini bisa membalas kebaikan Aryo selama mereka berada di tempat ini.
Percakapan mereka di tutup dengan pelukan hangat. Oh iya, kita melupakan manusia satu lagi, Calista.Ya!! Bagaimana keadaannya di mobil? Adrian sengaja mengunci mobilnya dan sialnya mobilnya hanya bisa di buka dengan kunci mobil yang Adrian bawa. Calista mulai tenang, meski masih merasa dongkol pada Adrian.
Sejujurnya ia bukannya marah pada Adrian tapi lebih kepada shock dan.. 'Malu' Adrian berjalan menuju mobil, Calista berpura-pura tidur saat Adrian semakin mendekat kearah mobilnya.
'Ck. Sial. Liat aja gue kerjain lu baru tau rasa' batin Calista kesal.
Di dalam mobil.. Adrian melihat Calista tertidur pulas. Niat hati ingin berbicara dengannya, namun Adrian tidak tega untuk membangunkannya. Adrian tersenyum sembari mengelus kepala Calista dengan sayang sebelum ia melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan villa tersebut.
"Ngapain senyum-senyum dasar mesum!!" Calista mengumpat. Namun Adrian hanya terdiam.
Calista terus menggerutu dan mengomel di kursi penumpang, sesekali Adrian terlihat melirik Calista di sampingnya yang nampak tidur lelap. Namun, hal itu sangat mencurigakan baginya.
"Lo denger gak omongan gue barusan? Gue kesel banget sama lo. Pengen nyakar muka lo, pengen ninju perut, pengen jambak ram-"
Adrian menghentikan mobilnya mendadak. Hal itu membuat Calista bertambah kesal "Lo gila ya?! Mau buat gue mati?!" maki Calista di depan muka Adrian.
Adrian memejamkan matanya sembari menghela napas, Calista masi melanjutkan makiannya "Udah ngedumelnya?" tutur Adrian tiba-tiba.
Calista terdiam dan membeku mendengar tutur kata Adrian barusan, apakah..?
"Lo bisa liat gue?" cicit Calista panik.
Adrian membuka matanya menatap Calista dengan senyum jumawa dan hal itu membuat Calista sangat kesal.
"Balik ke tubuh lo sekarang" perintah Adrian
"Gak mau !!" balas Calista
"Oke !!" setelah mengucapkan itu Adrian melajukan mobilnya dengan cepat menuju sebuah hotel ternama dan hal itu membuat Calista kebinguan
"Ngapain kita ke sini?" tanya Calista panik
__ADS_1
Happy Reading..