
Ditengah emosi mereka yang meletup-letup, Iqbal dan Calista datang tanpa di duga. Membuat semua orang tercengang. Apalagi dengan penampilan mereka saat ini
"Ca- " ucapan Agas terpotong ketika Aldira terkejut dan lari dengan kecepatan penuh menghampiri Calista
"Lo gapapa kan, Lis?" tutur Aldira sangat khawatir dan cepat
"She's ok, Dir" sela Iqbal. Mendengar suara Iqbal yang berdiri disebelah Calista, tanpa pikir panjang Aldira mengeluarkan pistol kecil pemberian Adrian.
Semua orang yang melihat mereka terkejut dan panik "DIIIRRRR, JANGAN!!"
"Biarin orang ini penghianat!!" geram Aldira, mengingat ia sendiri yang melihat Iqbal membawa kabur Calista tanpa seijin mereka semua, terutama dirinya dan Adrian.
Calista yang melihat pistol digenggaman Aldira, berusaha menenangkannya dengan menurunkan kedua lengan Aldira "Dir.. " tutur Calista dengan menggelengkan kepalanya.
Aldira yang mendengar suara Calista kembali, menjatuhkan pistol digenggaman tangannya. Semua orang disana ikut terkejut kecuali Iqbal. Ya, karena dia adalah satu-satunya orang yang tau bagaimana pita suara Calista bisa cepat pulih.
"Holly **** !!" tutur Aldira dengan nada suara yang benar-benar terkejut.
Dirasa aman, Adrian dan yang lainnya mendekat "How?!" beo Axel pada Calista.
BUGH!!!
"Aaaaaaa!!!" teriak Calista terkejut saat Adrian dan Agas menerjang Iqbal dan memberi sedikit pelajaran padanya
"Sini lo, Bal !!" geram Agas
"Brengsek lo!!" tambah Adrian
Ditengah keributan dan kegaduhan yang terjadi diseputaran area villa, beberapa rombongan orang datang menghampiri mereka. Itu adalah Aryo Rahardja beserta rombongan.
"Guys" tutur Axel memberi kode pada Adrian dan Agas. Namun, mereka menghiraukan sampai sebuah suara rendah dan sedikit ngebass, menginterupsi mereka
__ADS_1
"Akhirnya keponakan tercinta datang" tutur Aryo merentangkan kedua tangannya.
Hal itu pun tak luput dari pandangan orang-orang disekitar mereka. Adrian mengangkat kedua alis matanya, heran. Kemudian melirik Iqbal yang menahan sakit pada tubuhnya untuk meminta penjelasan darinya
"Lebih baik kita bicarakan di dalam, om sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan kalian"
Semua rombongan Adrian terdiam, nampak was-was meragukan kebaikan dari orang yang bernama Aryo itu dan apa tadi katanya, Adrian adalah keponakannya?
Ketika tidak mendapati orang-orang Adrian dan Iqbal mengikuti mereka, Aryo memberi perintah untuk berhenti. Kemudian menoleh kembali pada Adrian dan Iqbal
"Loh le, kok diem aja. Ayo masuk, udah jangan takut sama saya. Buktinya teman-teman kamu baik-baik aja kan?" tutur Aryo dengan gaya logat jawanya bercampur aksen belanda, sembari tersenyum tulus pada mereka.
Iqbal bergerak lebih dulu mengikuti Aryo dan rombongan ke dalam villa, kemudian Bima mempersilahkan detektif dan rombongannya terlebih dulu, baru dirinya dan Aldira menyusul mereka. Adrian bergerak mendekati Calista yang sebenarnya ingin mengekor di belakang Aldira.
Axel yang mengerti, lantas memaksa Agas untuk menyusul rombongan yamg lain bersamanya dan pergi lebih dulu meninggalkan Adrian dan Calista
"Gas? Ayo" Axel melihat Agas yang terus menoleh kearah Calista. Pandangannya tak lepas dari sosok wanita yang mereka kenal lama dan Axel sangat paham akan perasaan Agas.
Sekali lagi Axel memaksa Agas bergerak dengan menepuk bahunya "Gas, ayo!" Agas menghela napas berat sebelum benar-benar pergi bersama Axel menyusul rombongan yang lain.
Calista menatap Adrian tanpa berkedip, begitupun Adrian. Penampilannya terlihat lusuh dan wajahnya terlihat sangat lelah. Adrian makin menipiskan jaraknya dengan Calista, hingga bibirnya hampir menyentuh kening Calista.
Tanpa babibu, Adrian membawa Calista ke dalam pelukannya. Adrian menangis tanpa suara, sekali lagi ia takut akan kehilangan terutama hal itu berhubungan kepada seseorang. Calista membalas pelukan Adrian dengan erat, hatinya menghangat. Entah sejak kapan tembok yang ia pasang setelah kepergian Agas, runtuh begitu saja
"A.. Aku- "
Pelukan Adrian makin mengencang karena suara Calista yang kini bisa ia dengar kembali
"Sshhhh, aku kangen banget sama kamu" ucap Adrian sembari mengelus lembut rambut Calista.
Calista memberontak dari pelukan Adrian "A.. Aku gak bisa n.. Napas" tutur Calista terbata-bata.
__ADS_1
Adrian terkejut mendengar suara Calisra yang terbata "Eh maapin aku Lis" tutur Adrian ketika melepaskan pelukannya pada Calista.
Dengan terbatuk-batuk Calista berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin sebelum "Gila ya kamu, kamu mau aku beneran mati?!" meledakan emosinya.
Adrian mengangkat salah satu bibirnya dan tersenyum mendengar umpatan Calista kembali, sebelum mendaratkan bibirnya dan ******* lembut bibir Calista. Ia sangat merindukan wanita tersebut beserta tingkah lakunya yang membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Adrian dan Calista telah tiba ke dalam bangunan villa tua dimana teman-teman mereka sudah lebih dulu sampai. Semua orang tengah berkumpul di meja makan, banyak sekali hidangan yang sudah tertata seakan seseorang telah mengetahui kedatangan mereka hari ini.
Sejujurnya saat ini, semua orang terlihat masih sangat tegang dan waspada terhadap satu sama lain. Dan apalagi, ditambah apa yang dilakukan oleh Iqbal terhadap Adrian beserta rombongannya. Kini satu sosok tanpa di duga masuk kedalam hidup keluarga besar Saseno. Adrian dan Iqbal
"Katakan apa yang anda rencanakan?" mata Adrian nyalang menatap sosok yang tengah menjamu mereka semua. Aryo Rahardja.
Calista menggenggam tangan Adrian erat, mengelus dadanya lembut mencoba menenangkannya. Saat ini Adrian bak singa yang merasa terusik. Aryo menoleh kearah Pria muda tersebut yang wajahnya mirip sekali dengan sosok yang sangat akrab dengannya.
Pandangan Aryo beralih kepada para pengawalnya dan mengisyaratkan mereka untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut dan hal tersebut membuat orang-orang di meja makan menghela napas lega
"Kedatangan saya ke dalam hidup keluarga Saseno bukanlah ada apa-apa, saya datang ke Indonesia karena rindu dengan kampung halaman saya dan juga Alm. Ayah kamu"
Semua orang memelankan aktivitas berusaha mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Adrian dan Iqbal. Dan ternyata Ayah Adrian telah tiada, lama sekali.
Wajah Adrian kaku mendengar cerita atau hal apapun mengenai Ayahnya bahkan keluarganya. Bisa di bilang sejak kecil Adrian tidak terlalu mengenal Ayahnya sendiri bahkan merasakan kasih sayang dari sosok tersebut
"Aarrrhhmm.. Om!!" Iqbal menginterupsi percakapan keduanya. Dalam hal ini Iqbal cukup peduli akan perasaan sepupunya ini, melihat kesedihan dari sorot mata Adrian membuat Iqbal turut merasakan pilu.
Adrian meletakan garpu dan sendoknya secara bersamaan. Napsu makannya pun sudah hilang entah kemana "Maaf saya duluan, saya sudah selesai. Silahkan lanjutkan saja" Adrian berdiri dari kursi kemudian meninggalkan mereka semua yang termenung dengan tindakannya barusan.
Calista yang melihat itu pun dengan sigap ikut berpamitan sebelum meninggalkan mereka semua mengikuti Adrian. Ia sangat tahu bahwa Adrian sangat membutuhkannya saat ini.
Happy Reading..
__ADS_1