
1 Tahun setelah kepergiannya..
Bukan hanya mencintainya yang butuh perjuangan, setelah berpisah pun aku masih harus berjuang. Berjuang memindahkan dirinya dari hati, ketempat yang bernama kenangan.
Hatiku berkata bahwa pilihanku melepaskannya adalah keputusan yang tepat. Sedangkan kenyataan hari ini membuktikan bahwa dia masih saja seringkali diam-diam aku rindu kan.
Karena melepaskannya bukan sesuatu yang mudah dan bukan juga sesuatu yang sulit. Aku hanya perlu mempersiapkan diri memulainya dengan 'Ingin' dan melakukannya dengan 'Akan' aku sudah bersiap untuk mengikhlaskannya. Melepaskan diri dari genggamannya untuk perasaan yang akan aku bunuh pelan-pelan.
"Apa benar buku yang anda tulis mengisahkan kehidupan pribadi anda?"
"Apa anda tidak merasa malu jika kehidupan anda atau masa lalu anda diketahui khalayak?"
Sebuah senyum menawan seorang wanita yang sedang beranjak dewasa pada wajahku, membuatku yakin "Benar. Jujur awalnya saya malu tapi saya tau apa yang saya lakukan"
"Lalu bagaimana dengan hubungan anda, apakah dia kembali?" Pertanyaan dari salah satu pers membuatku tertegun dan membeku ditempat.
Mataku berpendar menatap mereka satu persatu, baru ku sadari bahwa aku sedang on air bisa saja saat aku berbicara seperti ini mereka dapat melihatku di layar kaca. Apa yang harus ku jawab, ku lirik salah satu penerbitku dan ia pun menganggukkan kepala meyakinkanku.
"Dia..." ku tarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Mereka pun menunggu jawabanku penuh harap.
"Dia... Saya belum tau tentang dirinya lagi setelah kami berpisah" mereka pun hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Perpisahan waktu itu benar-benar menciptakan sebuah jarak yang diselimuti rindu. Tidak ada kabar tentang keadaan dan keberadaan dirinya, yang pernah membuat hatiku seperti kehilangan setengah sadar.
"Lalu bagaimana hubungan anda dengan para sahabat anda, masih adakah rasa kecewa yang menyebabkan anda trauma?"
"Apakah setelah ini anda akan melanjutkan lanjutan novel ini atau menulis novel baru seperti para penulis lainnya?"
Akupun menarik sudut-sudut bibirku keatas "Jujur, trauma itu masih ada mas. Tapi saya bukan Tuhan yang berhak untuk menghakimi. Biarkan saja berjalan sebagaimana mestinya. Setidaknya kita tau seseorang itu bagaimana dilihat dari kejadian-kejadian yang memiliki rentang waktu yang berdekatan, namun efeknya kronik (menahun).
Untuk menulis buku baru lagi, sedang dalam proses" Jawabku.
"Lalu apakah anda berencana untuk menjalin hubungan kembali atau memutuskan untuk sendiri?" semua khalayak menatap satu-satunya orang yang menanyakan hal itu, termasuk aku.
__ADS_1
Aku pun termenung sejenak dan kemudian berdehem.
"Ah maaf pertanyaan itu bersifat pribadi jadi jika anda tidak berkenan untuk menjawab, tidak masalah. Kita bisa la-"
"Tidak masalah mas mari kita lihat apa yang bisa saya jawab" tuturku
"Dari sepanjang perjalananku di kehidupan cinta, aku banyak sekali menghabiskan jatah gagalku. Bertemu dengan banyak pria dan dengan karakter mereka masing-masing, membuatku banyak belajar dan paham tentang makhluk berjenis laki-laki ini.
Jika wanita sulit untuk di mengerti, tapi bagi saya pria lah yang rumit. Karena sebagian dari mereka banyak yang tidak mampu menjabarkan apa yang mereka yakini keberadaannya. Cinta, itu sendiri"
Karena pernah ada kamu dan aku yang bercerita tentang banyak hal tanpa pernah berpikir waktu akan membawanya pergi.
*****
"Hati-hati ya Jihan? Kalau udah sampai di jambi kabarin ya?" Ucap Ivanna yang terisak dalam pelukan Jihan.
Aku dan Aldira juga terisak melihat mereka berdua seperti ini
"Gue pasti bakalan kangen banget sama lo Han" Ucap Aldira parau memeluk Jihan bergantian dengan Ivanna yang memundurkan langkahnya kebelakang.
Jihan pun mengendurkan pelukannya dan menoleh ke arahku "Jihaaaan" aku pun melangkahkan kaki lebar-lebar untuk meraihnya dan memeluk dirinya.
"Jangan banyak-banyak makan sambal ya? Kurang-kurangin minum air dingin, batasin makanan fast food sama yang manis-manis-"
"Iyaaaa, Lis" Katanya sembari memutar bola mata malas
"Berhenti nunggu yang gak pasti Lis, dia gak akan pernah kembali. Kalau pun kembali, perasaannya gak akan pernah sama lagi" bisiknya di pelukanku. Ia pun mengendurkan pelukannya dan aku pun menganggukkan kepala dengan senyuman berhias airmata.
Waktu tidak pernah menunggu siapapun dan disaat seperti apapun. Ia tetap berjalan maju tanpa pernah menoleh kebelakang apalagi berhenti. Ketika semuanya kembali seperti yang seharusnya, aku percaya bahwa ini semua adalah rancangannya.
Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan diakhir cerita. Entah akan seperti apa setelahnya, kita tidak akan pernah tau.
Setiap kesalahan pasti akan bertemu pada kata penyesalan di akhirnya. Menunggu tanpa pernah mau berusaha memperbaikinya takkan pernah bertemu pada kata baik-baik saja di akhirnya.
__ADS_1
Belajar dari setiap kesalahan yang orang lain lakukan itu harus, sebab manusia tidak di lahirkan untuk menjadi sempurna. Menjadi tangguh dari masa lalu adalah hasil dari proses-proses yang telah dilalui, menjadi hebat di masa depan adalah hasil dari bekal di masa lalu.
"Kita gak di peluk juga?" Celetuk Axel dengan raut wajah sedih yang di buat-buat.
"BUKAN MUHRIM" Celetuk kami serempak dengan suara nyaring. Membuat suasana di bandara menjadi hening karena tingkah kami yang membuat mereka menoleh kearah kami dengan tatapan intimidasi. Kemudian tawa kamipun pecah mengiringi kepergian Jihan yang sebentar lagi membawa segalanya bersama dirinya.
Han, gue janji lo akan liat usaha gue untuk baik-baik aja setelah kepergiannya. Gue janji Han, gue akan membuka lembaran baru meskipun gue akan jatuh bangun pada prosesnya but its ok, gue akan coba. Batinku tersenyum pias.
"Guys !! Kita foto dulu yuk, semoga moment ini akan selalu ngingetin kita kalau kita pernah ada dan pernah se-gokil ini" cecer Bang Ami yang tiba-tiba datang membawa petugas untuk meminta tolong.
"Ck. Dasar Abg tua" gerutu ku yang disabut kekehan mereka.
Jadwal pesawat Jihan sudah tiba dan kami hanya bisa mengantarnya sampai disini. Entah mengapa lagu yang terputar di bandara ini menjadi lagu yang akan selalu mengingatkan kita tentang banyak hal ketika bersama. (Endank Soekamti - Sampai Jumpa).
Sehari setelah wisuda aku telah memutuskan melangkah meninggalkan rumah yang selama ini menyekapku untuk tetap tinggal, padahal salah satu penghuninya telah lama pergi dan tidak tau apakah akan kembali atau sudah menemukan rumah lain di luar sana untuk ia tinggali bersama bahagianya yang baru.
Merelakanmu.. Akan aku upayakan sebisaku, membiasakan diri tanpa hadirmu lagi. Memang, akan memberatkan hidup tetapi bukan akan memberatkan langkah.
Tidak salah merelakan tanpa harus melupakan. Sama seperti daun yang terjatuh meski tanah tak pernah berkata akan menerimanya.
...Teruntuk Agas Cokrodinoto:...
..."Aku pergi... Kita tetap menjadi teman baik di lain waktu, di lain perasaan. Terimakasih karena pernah mencintaiku"...
.
.
.
.
.
__ADS_1
🌸 T. A. M. A. T 🌸