
"Here we go" seru Axel, bergaya layaknya superhero
"Wait" Adrian bangkit dari sofa, membuat semua orang nampak kebingungan
Agas menghela napas lelah "Apa lagi, Adrian?!"
Adrian berjalan melewati Agas dan yang lain, ia mengarah ke meja kerjanya. Entah apa yang dilakukan olehnya, meja kerja bergerak seolah akan muncul ruang rahasia atau semacamnya, seperti yang mereka lihat di film-film
"Kita perlu perbekalan senjata. Well, tuan-tuan silahkan pilih yang kalian suka" tutur Adrian dengan senyuman penuh arti.
Bima menginterupsi kesenangan yang baru saja dimulai "Darimana kau mendapatkan semua ijin senjata-senjata ini, bapak Adrian"
Adrian melipat kedua tangannya di depan dada "Tentu saja darimu, sekarang" tegas Adrian dengan senyumannya yang semakin lebar. Membuat kepala Bima pening saat ini
"Calista pasti gak akan suka ngeliat ini. But its cool !!" mendengar kata-kata Aldira, kepala Bima semakin pening dibuatnya. Hal itu membuat semua orang tertawa.
Axel menghampiri Bima dengan raut wajah prihatin "Sorry, Bim gue setuju sama cewek lo. Let's go guys!!"
***
"Dri, ini bener lokasi yang Calista share loc?" gerutu Agas.
Adrian mengecek maps yang dikirimkan oleh Calista "Bener kok, lo gimana Dir?" tanya Adrian pada Aldira, yang kebetulan mereka satu kendaraan.
Aldira mengecek kembali posisi Calista "Bener kok. Makanya besok-besok pasangin cip ke Calista biar tahu dia kemana aja" cibir Aldira.
Adrian menghela napas kasar "Dri, gak boleh kasar sama cewek" cegah Axel dan Agas yang dibalas dengan cengiran Bima saat Adrian meliriknya
"She is My fionce and just, Women" tutur Bima masih dengan senyuman lebarnya.
Sekali lagi helaan napas kasar terdengar darinya "Yaudah ayo cepet turun" tukasnya kesal.
Mereka pun terkekeh sebelum akhirnya keluar satu persatu dari mobil Adrian dan dibelakangnya menyusul detektif beserta rombongan yang sudah Adrian percaya. Bagaimana tidak, detektif tersebut telah bekerja kurang lebih dua puluh tahun pada keluarga Saseno.
"Ini fila punya siapa Dri?" tutur Axel sembari mengamati bangunan yang ada dihadapan mereka saat ini.
Agas menerima kode SOS dari Iqbal, pertanda mereka sedang dalam bahaya. Tunggu, jika Iqbal dalam bahaya itu berarti "Calista!!"
Semua orang sontak terkejut melihat Agas yang panik setelah menerima pesan dalam ponselnya.
__ADS_1
"Gaaasss!!"
"Tunggu!! Mau kemana lo"
"Jangan gegabah, goblog!!"
"Aaarrghhh. Dasar kepala batu"
***
Agas berjalan sesuai arahan Iqbal, pandangannya tak lepas dari layar ponselnya yang membuat mereka semua geregatan dengannya
"Heh, kuyuk!! Main pergi-pergi aja lo" sarkas Axel yang kesal dengan gerakan mendadak Agas tadi.
Adrian berdiri dihadapan Agas lalu merampas ponselnya "Kita kesini barengan, Gas. Kita gak boleh kerja sendirian, apalagi gegabah kayak tadi"
Tindakan Adrian mampu memancing emosi Agas secara perlahan "Denger ya. Gara-gara lo Calista kayak gini dan tanpa sadar, lo menyeret lebih banyak orang lagi ke dalam bahaya"
Adrian mengarahkan telunjuknya kearah Agas "Ya, bener! Gue yang membuat Calista dalam bahaya dan gak hanya itu aja, gue buat pita suaranya lumpuh. Puas lo !!" tutur Adrian frustasi, membuat semua orang terdiam dibuatnya.
Mereka semua terus memperhatikan Agas dan Adrian yang tengah berdebat hebat. Tidak ada yang berani memisahkan mereka, karena ternyata mereka pun tengah bergulat dengan pikiran masing-masing.
Bima memberi kode kepada Aldira untuk mendekat padanya, Bima tidak tega jika Aldira harus melihat keributan yang pada akhirnya, akan membuat Aldira kepikiran berhari-hari.
"Ssshhh, its ok beb" Bima berusaha menenangkan Aldira. Sejujurnya ia juga ingin menumpahkan emosinya, namun ia memilih untuk menyimpannya, karena Aldira sedang bersamanya
"Udah kayak bocahnya? Puas?!" cibir Bima kearah Adrian dan juga Agas, seraya mengelus lembut pucuk kepala Aldira, sayang.
Axel menelan ludahnya mendengar suara Bima mulai meninggi, ia bergerak mendekati rombongan detektif yang berada tepat di belakang Bima. Terlibat dalam drama ini? No, Thanks, pikir Axel.
Ditengah emosi mereka yang meletup-letup, Iqbal dan Calista datang tanpa di duga. Membuat semua orang tercengang. Apalagi dengan penampilan mereka saat ini
"Ca- " ucapan Agas terpotong ketika Aldira terkejut dan lari dengan kecepatan penuh menghampiri Calista
"Lo gapapa kan, Lis?" tutur Aldira sangat khawatir dan cepat
"She's ok, Dir" sela Iqbal. Mendengar suara Iqbal yang berdiri disebelah Calista, tanpa pikir panjang Aldira mengeluarkan pistol kecil pemberian Adrian.
Semua orang yang melihat mereka terkejut dan panik "DIIIRRRR, JANGAN!!"
__ADS_1
"Biarin orang ini penghianat!!" geram Aldira, mengingat ia sendiri yang melihat Iqbal membawa kabur Calista tanpa seijin mereka semua, terutama dirinya dan Adrian.
Calista yang melihat pistol digenggaman Aldira, berusaha menenangkannya dengan menurunkan kedua lengan Aldira "Dir.. " tutur Calista dengan menggelengkan kepalanya.
Aldira yang mendengar suara Calista kembali, menjatuhkan pistol digenggaman tangannya. Semua orang disana ikut terkejut kecuali Iqbal. Ya, karena dia adalah satu-satunya orang yang tau bagaimana pita suara Calista bisa cepat pulih.
"Holly **** !!" tutur Aldira dengan nada suara yang benar-benar terkejut.
Dirasa aman, Adrian dan yang lainnya mendekat "How?!" beo Axel pada Calista.
BUGH!!!
"Aaaaaaa!!!" teriak Calista terkejut saat Adrian dan Agas menerjang Iqbal dan memberi sedikit pelajaran padanya
"Sini lo, Bal !!" geram Agas
"Brengsek lo!!" tambah Adrian
Ditengah keributan dan kegaduhan yang terjadi diseputaran area villa, beberapa rombongan orang datang menghampiri mereka. Itu adalah Aryo Rahardja beserta rombongan.
"Guys" tutur Axel memberi kode pada Adrian dan Agas. Namun, mereka menghiraukan sampai sebuah suara rendah dan sedikit ngebass, menginterupsi mereka
"Akhirnya keponakan tercinta datang" tutur Aryo merentangkan kedua tangannya.
Hal itu pun tak luput dari pandangan orang-orang disekitar mereka. Adrian mengangkat kedua alis matanya, heran. Kemudian melirik Iqbal yang menahan sakit pada tubuhnya untuk meminta penjelasan darinya
"Lebih baik kita bicarakan di dalam, om sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan kalian"
Semua rombongan Adrian terdiam, nampak was-was meragukan kebaikan dari orang yang bernama Aryo itu dan apa tadi katanya, Adrian adalah keponakannya?
Ketika tidak mendapati orang-orang Adrian dan Iqbal mengikuti mereka, Aryo memberi perintah untuk berhenti. Kemudian menoleh kembali pada Adrian dan Iqbal
"Loh le, kok diem aja. Ayo masuk, udah jangan takut sama saya. Buktinya teman-teman kamu baik-baik aja kan?" tutur Aryo dengan gaya logat jawanya bercampur aksen belanda, sembari tersenyum tulus pada mereka.
Iqbal bergerak lebih dulu mengikuti Aryo dan rombongan ke dalam villa, kemudian Bima mempersilahkan detektif dan rombongannya terlebih dulu, baru dirinya dan Aldira menyusul mereka. Adrian bergerak mendekati Calista yang sebenarnya ingin mengekor di belakang Aldira.
Axel yang mengerti, lantas memaksa Agas untuk menyusul rombongan yamg lain bersamanya dan pergi lebih dulu meninggalkan Adrian dan Calista
"Gas? Ayo" Axel melihat Agas yang terus menoleh kearah Calista. Pandangannya tak lepas dari sosok wanita yang mereka kenal lama dan Axel sangat paham akan perasaan Agas.
__ADS_1
Hubungan yang di bangun selama bertahun-tahun lamanya, memang sulit untuk di pangkas begitu saja. Apalagi jika hal tersebut sudah tumbuh mengakar dalam sanubari..
Happy Reading..