
Bima membuka penutup kaleng tersebut dengan telaten sebelum memberikannya kepada Aldira "Sayang, minum dulu ya" titah Bima lembut pada Aldira. Aldira mengangguk mengiyakan, kemudian menenggak minuman kaleng tersebut hingga tandas.
Hal itu pun tak luput dari Adrian dan Axel yang terus mengamati kegiatan mereka dan menyuruh yang lainnya untuk duduk mendekat kearah Aldira dan Bima
"Adrian, jawab gue dengan jujur, lo kan yang bawa Calista pergi? Lo yang nyuruh Iqbal?" Aldira menahan amarahnya, terdengar dari suaranya yang meninggi dan bergetar. Bima berusaha menenangkannya dengan mengelus punggung tanggan Aldira
"JAWAB ADRIAN!!"
Bima memeluk Aldira kemudian mengusap kepalanya dengan lembut "Sayang, tenang dulu. Ini semua gak ada hubungannya sama Adrian" sekali lagi, Bima berusaha menenangkan Aldira
"Kamu kok belain dia sih Bim? Aku tunangan kamu, bukan dia"
Aldira semakin menjadi-jadi emosinya dengan nada yang tak ramah diikuti jari telunjuknya yang selalu mengarah kearah Adrian.
Adrian menghela napas lelah "Bim, gapapa. Biar gue aja yang jelasin"
"Yaudah ngomong lo sekarang!!" tuntut Aldira dengan menatap Adrian nyalang.
Adrian dengan hati-hati menjelaskan semuanya pada Aldira, meskipun Aldira masih belum bisa meredakan amarahnya. Namun, perlahan nada bicaranya kembali menurun setelah bukti-bukti yang hampir sempurna mengarah kepada Iqbal seorang. Bukan Adrian, seperti yang Aldira pikir dan tuduhkan beberapa menit lalu
"Jadi gitu, ceritanya. Tau gitu tadi langsung gue telpon polisi atau teriakin maling aja" cibir Aldira yang kembali kesal, bukan karena Adrian lagi melainkan sepupunya, yaitu Iqbal.
Agas mengusap dagunya, memperhatikan sekali lagi gerak-gerik Iqbal seperti orang yang tertekan "Apa mungkin Iqbal hanya sebagai alat pancingan, untuk menghancurkan lo" tutur Agas yang kemudian mengalihkan pandangannya kearah Adrian.
Adrian menatap Agas dan mencerna apa yang Agas ucapkan. "Hal itu sangat masuk akal, coba kita perhatikan bahasa tubuh atau gerak tubuh Pak Iqbal, seperti orang yang tertekan" jawaban lain dari salah satu FBI kepercayaan Adrian, menyetujui opini yang Agas lemparkan.
"Terus sekarang gimana? Calista pasti ketakutan, apalagi suaranya belum balik" tutur Aldira kembali terisak.
Selain kelelahan berlari dari basement parkiran hingga keruangan Adrian, Calista juga kelelahan karena menangis sepeninggalannya dari rumah sakit.
Sementara ditempat lain..
"Iqbal Dwi Saseno" ucap seorang pria bersetelan jas mahal, dengan tepuk tangan seperti meledek.
Iqbal berdiri dengan tenang, sementara di belakangnya terdapat dua orang dokter, tiga orang bodyguard dan juga Calista yang sepertinya tengah terbius
"Saya tidak percaya anda melakukan ini semua" tuturnya lagi sembari berjalan menghampirinya
__ADS_1
"Tidak perlu basa-basi, Aryo Rahardja" sarkas Iqbal, masih dengan sikap tenang.
Sosok pria blasteran itu tengah berdiri dihadapannya "Kau penghianat keluarga Saseno, nak"
Iqbal tersenyum culas "Jangan bicara seolah-olah kau seorang malaikat dan jangan pernah panggil gue 'Nak' mengganggu sekali" sarkas Iqbal.
Pria tersebut tertawa mendengar perkataan Iqbal barusan "Lelucon anak kemarin sore"
"Anda membuang waktu saya yang berharga" sergah Iqbal menginterupsi tawa sosok tersebut.
Sosok tersebut merubah sikap ramahnya kepada Iqbal "Saya tidak menyangka Anda tidak bisa diajak bercanda sama sekali"
Tanpa disadari, Calista mendengar semuanya. Beruntungnya, ia menyembunyikan ponselnya di dalam bra. Calista mengintip situasi disekitarnya sebelum ia mengeluarkan ponselnya. Dengan tenang Calista mengirimkan lokasinya kepada Adrian dan Aldira, berharap mereka segera membawanya keluar dari sini.
Aryo memberikan kode pada anak buahnya untuk membawakan dua buah koper ke hadapan mereka dan menyuruh anak buahnya untuk membuka koper-koper tersebut. Sejumlah uang senilai ratusan ribu dolar amerika, memenuhi koper-koper itu
"Waaaww, ternyata seorang Rahardja, menilai semuanya dari lembaran kertas?" tawa Iqbal terdengar nyaring memenuhi atmosfer tempat ini.
Aryo mengarahkan pistolnya kearah Iqbal, membuat semua orang terkejut dibuatnya..
***
"Ini Calista. Mengirim lokasi tempat dia dan Iqbal berada" tutur Aldira sembari menatap kearah Adrian yang sama-sama menerima pesan tersebut.
Agas tersenyum dengan penuh semangat "Yeah, She's My gir" kata-katanya menarik atensi sosok disebelahnya, Adrian
"Not more" sarkas Adrian, yang membuat Agas memutar bola matanya keatas "Fine!"
Axel meregangkan tubuhnya, ia merasa sangat lelah ditambah adegan serial drama yang ia lihat dikantor Adrian hari ini. Lebih tepatnya diruangan Adrian
"Here we go" seru Axel, bergaya layaknya superhero
"Wait" Adrian bangkit dari sofa, membuat semua orang nampak kebingungan
Agas menghela napas lelah "Apa lagi, Adrian?!"
Adrian berjalan melewati Agas dan yang lain, ia mengarah ke meja kerjanya. Entah apa yang dilakukan olehnya, meja kerja bergerak seolah akan muncul ruang rahasia atau semacamnya, seperti yang mereka lihat di film-film
__ADS_1
"Kita perlu perbekalan senjata. Well, tuan-tuan silahkan pilih yang kalian suka" tutur Adrian dengan senyuman penuh arti.
Bima menginterupsi kesenangan yang baru saja dimulai "Darimana kau mendapatkan semua ijin senjata-senjata ini, bapak Adrian"
Adrian melipat kedua tangannya di depan dada "Tentu saja darimu, sekarang" tegas Adrian dengan senyumannya yang semakin lebar. Membuat kepala Bima pening saat ini
"Calista pasti gak akan suka ngeliat ini. But its cool !!" mendengar kata-kata Aldira, kepala Bima semakin pening dibuatnya. Hal itu membuat semua orang tertawa.
Axel menghampiri Bima dengan raut wajah prihatin "Sorry, Bim gue setuju sama cewek lo. Let's go guys!!"
***
"Dri, ini bener lokasi yang Calista share loc?" gerutu Agas.
Adrian mengecek maps yang dikirimkan oleh Calista "Bener kok, lo gimana Dir?" tanya Adrian pada Aldira, yang kebetulan mereka satu kendaraan.
Aldira mengecek kembali posisi Calista "Bener kok. Makanya besok-besok pasangin cip ke Calista biar tahu dia kemana aja" cibir Aldira.
Adrian menghela napas kasar "Dri, gak boleh kasar sama cewek" cegah Axel dan Agas yang dibalas dengan cengiran Bima saat Adrian meliriknya
"She is My fionce and just, Women" tutur Bima masih dengan senyuman lebarnya.
Sekali lagi helaan napas kasar terdengar darinya "Yaudah ayo cepet turun" tukasnya kesal.
Mereka pun terkekeh sebelum akhirnya keluar satu persatu dari mobil Adrian dan dibelakangnya menyusul detektif beserta rombongan yang sudah Adrian percaya. Bagaimana tidak, detektif tersebut telah bekerja kurang lebih dua puluh tahun pada keluarga Saseno.
"Ini fila punya siapa Dri?" tutur Axel sembari mengamati bangunan yang ada dihadapan mereka saat ini.
Agas menerima kode SOS dari Iqbal, pertanda mereka sedang dalam bahaya. Tunggu, jika Iqbal dalam bahaya itu berarti "Calista!!"
Semua orang sontak terkejut melihat Agas yang panik setelah menerima pesan dalam ponselnya.
"Gaaasss!!"
"Tunggu!! Mau kemana lo"
"Jangan gegabah, goblog!!"
__ADS_1
"Aaarrghhh. Dasar kepala batu"
Happy Reading..