
Gadis kecil itu melihat Papa nya tersenyum dengan wanita yang baru saja ia temui "Pah, tante ini siapanya papah?" tanya gadis kecil itu, sembari menarik ujung jaket Papanya.
Agas tersenyum lalu berjongkok mensejajarkan dirinya dengan gadis kecilnya "Namanya tante Calista, teman lama Papa semasa sekolah dulu" tutur Agas mencoba menjelaskan.
Calista masih mematung ditempatnya, sejujurnya ia ingin lari dari tempat ini, apa daya tubuhnya berkhianat dan rasanya seperti di paku ditempat ini. Sembari memperhatikan percakapan kedua orang didepannya yang terpaut usia sangat berbeda, Calista menelisik anatomi kedua sosok di depan matanya.
Secara fisik memang mirip, namun secara sifat dan tingkah lakunya bukan Agas banget
Batin Calista masih memperhatikan dua orang didepannya yang masih bercengkrama, sesekali gadis kecil itu tersenyum dan tertawa. Ada rasa gelenyar aneh merasuk dalam hatinya, bayangan akan masa depan mulai berdatangan, padahal hatinya telah ia bekukan, bukan tanpa alasan.
Calista berdehem, membuat sosok-sosok tersebut beralih kearahnya "Maaf, saya harus pergi"
Agas berdiri dan berusaha menghentikan Calista namun dengan sangat tenang, menutupi rasa rindu yang mulai tak terbendung. Sudah bertahun-tahun lamanya Agas berusaha menghubungi Calista, bertanya dari satu orang ke orang lainnya tentang wanita yang ada dihadapannya ini, namun usahanya pun nihil.
Kepulangannya ke Indonesia kali ini bukan tanpa alasan, selain karena ada pekerjaan dan proyek yang harus ia tangani, Agas masih berharap bisa bertemu kembali dengan masa lalunya, meskipun tidak berharap apapun. Mengetahui bagaimana keadaannyalah yang menurutnya sangat amat penting.
Dan sekarang sosok tersebut ada dihadapannya tanpa ia bersusah payah mencarinya seperti beberapa tahun belakangan.
"Bisa kita makan siang bareng?"
Calista berhenti dan menoleh ke arahnya, kemudian ke arah anaknya dan kembali lagi padanya
"Sebagai permintaan maaf anak saya dan terimakasih telah menemukan anak saya" tutur Agas tulus.
Calista bimbang, untuk situasi saat ini Calista benar-benar ingin mengubur dirinya hidup-hidup
"Hmm.. Okay" kata-kata itu yang lolos dari bibirnya dan ia merutuki kebodohannya karena menyetujui peemintaan Agas.
Mereka pun keluar bersamaan dari gedung bioskop, menuju tempat resto makanan yang terletak di lantai lain, pusat perbelanjaan gedung ini. Agas pun membawa Calista beserta anaknya ke salah satu resto makanan cepat saji kesukaan anaknya, Calista hanya mengekor di belakang mereka.
"Nah, Chilla sayang, Chilla mau apa?" tanya Agas pada gadis kecilnya itu.
Chilla belum terlalu lancar membaca kata-kata yang masih agak sulit diucapkannya, Alhasil ucapannya pun membuat Calista tersenyum menggelengkan kepalanya, gemas melihat tingkah bocah kecil dihadapannya ini.
__ADS_1
"Oke deh, sebentar ya Papa pesenin" tutur Agas, kemudian melirik Calista yang sedari tadi diam saja.
"Kamu mau pesan apa Lis? Atau aku aja yang pesanin buat kamu, biar sekalian?" tanya Agas meletup-letup. Hal itu membuat Calista merasa tidak nyaman dan Agas pun menyadarinya.
Agas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Maaf ya Lis, kalo aku berlebihan"
Melihat hal itu Calista mengangguk kikuk "Gapapa"
Agas melihat gadis kecilnya yang bediri dan berjongkok berulang kali "Sayang kamu mau duduk?" tanya Agas pada gadis kecilnya.
Calista yang melihat itu langsung menawarkan diri mengajak Chilla mencari tempat duduk dan membiarkan Agas memesan makanan untuk dirinya dan Chilla
"Kamu tahu apa yang aku suka, ummm kalo bisa porsinya dikit aja" Agas mengangguk paham, membuat Calista tersenyum tipis
"Chilla sayang, kita cari bangku yuk"
"Ayuk ante"
*****
Terlintas dalam memori kecilnya, sosok wanita itu buru-buru menarik paksa dirinya keluar dari mobil, Chilla tersentak kaget, takut dan merasakan perih di pergelangan tangannya. Melihat wajah ibunya yang cantik namun terlihat menyeramkan secara bersamaan, membuat Chilla menangis dengan kerasnya.
Hujan deras membasahi seluruh tubuh mungilnya, tangisannya pun menyatu dengan derasnya hujan. Wanita itu memakinya membabi buta di tepi jalan, dekat dengan jembatan gantung Brooklyn, London.
Chilla yang tidak mengerti apa yang telah terjadi pada ibunya, hanya bisa pasrah dalam tangisnya, hatinya hancur saat wanita itu menyeretnya menuju besi-besi kekar pembatas jembatan gantung.
Jeritan dan tangisan Chila semakin menjadi saat sang ibu mulai mengangkat tubuhnya. Orang-orang yang melihat dan mendengar suara Chilla berdatangan dengan panik dan marah, namun enggan mendekati mereka karena ancaman wanita tersebut.
Di sela teriakan dan tangisannya Chilla berusaha keras untuk bicara "Mommy, salah Chilla apa?" Wanita itu berteriak menyuruh Chilla untuk diam.
Chilla meronta-ronta dan berteriak-teriak meminta tolong, matanya nanar, wajahnya pias, memandangi wajah wanita itu dengan sedih dan terluka. Namun, hal itu tidak dihiraukannya.
Tubuh Chilla kelelahan akibat meronta-ronta, paru-parunya sesak, perlahan tubuh Chilla melemah.
__ADS_1
"Chilla udah gak kuat My"
Wanita itu tersenyum licik "Harusnya sejak dulu, kamu mati"
Kerumunan orang-orang semakin banyak dan berusaha bernegosiasi pada wanita tersebut. Namun, wanita itu tidak mempedulikannya dan malah tertawa licik.
"Bye, sweety pie" ucap Wanita iblis itu, melepaskan tubuh Chilla dari atas jembatan Brooklyn, tanpa rasa bersalah.
Gelap. Hanya itu yang Chilla ingat selanjutnya..
"Sayang? Are you ok?" tanya Agas panik, pasalnya mata Chilla terus mengeluarkan airmata.
Melihat hal itu Calista merentangkan kedua tangannya dan menyuruh Chilla duduk dengannya. Chilla berjalan lesu kearah Calista dan duduk dipangkuan Calista, membenamkan wajahnya ke dada Calista sambil terisak.
"Mommy, Chilla kangen"
Calista menuntut penjelasan dari Agas, Agas menghela napasnya dan hanya diam menatapnya. Mereka saling bertatapan, sementara itu, Calista menepuk lembut punggung Chilla, berusaha meredakan isak tangisnya sekaligus menenangkannya.
Agas termenung melihat Calista yang dengan sabar juga lembut, berusaha menenangkan Chilla. Kasih sayang Calista memang sangat tulus pada siapapun, entah itu hewan atau tumbuhan yang menarik perhatiaanya. Apa yang dilakukan Calista pada gadis kecilnya itu membuat Agas tersentuh dan membuatnya jatuh cinta kembali pada masa lalunya itu.
Sementara itu dikantor Calista..
"Saya kan sudah bilang jangan sampai ada kesalahan, kenapa masih diulangi?! Kamu sudah bosan kerja disini"
Suara menggelegar Adrian membuat karyawan dihadapannya ciut, seperti berhadapan dengan malaikat kematiannya.
"Maaf pak akan saya perbaiki" cicit karyawatinya.
Adrian mendengus "Saya tidak butuh ucapan kamu, keluar dari ruangan saya!" tegas Adrian. Karyawati tersebut mengangguk kikuk, lalu buru-buru keluar dari ruangan bak neraka itu.
Yah, hari ini Adrian mengomeli karyawan-karyawannya sepanjang hari, membuat para karyawannya merinding, pasalnya ia tidak melihat Calista seharian ini. Ia sangat membutuhkan wanita tersebut. Namun, hal yang memicu emosinya hari ini adalah saat Adrian mencoba menghubungi Calista berkali-kali, sambungannya selalu dialihkan.
"Kamu kemana Calista !!"
__ADS_1
Bersambung..