THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Sempurna Itu Bukan Aku


__ADS_3

...Pilih mana? ...


...Menanti dalam kesepian, ...


...Atau ...


...Berdua dalam ketidakpastian? ...


...*** ...


Sempurna itu bukan aku, sanjungan tak memuaskanku. Karena yang mereka tau hanya putihku saja ketika hitamku terus membayang.


Merah jambu tak pernah kurasa, anggap saja aku bodoh tapi itu kenyataannya. Karena aku dan hati tidak pernah merajut asa.


Ketika warna itu mewarnai hidupku, aku hanya tau; mencintai secara sederhana itu perlu karena memperhatikannya dan membuatnya tersenyum, sudah anugerah terindah yang Tuhan berikan untukku.


-End-


Ku tutup lembar terakhir novelku yang berkisar 300 lebih halaman ini. Menghembuskan nafas tak biasa dan membenamkan wajahku diatas buku tersebut. Persis orang yang menyesal telah melakukan tindakan kriminalitas.


"Apa?" Tanyaku pada saat aku mendongakkan kembali wajahku. Aku sadar sekarang aku dimana, melihat wajah-wajah cemas di hadapanku, aku pun menghembuskan nafas lelah sekali lagi.


"Lo tuh serem Lis, ga marah aja jutek. Apalagi sekarang?" Cibir Jihan padaku, bentuk protes darinya melihatku uring-uringan. Kemudian ia melahap sepiring siomay dengan gerakan anggun.


"Ada yang mau lo bagi dengan kita Calista Hartawan? Mungkin bisa mengurangi beban dihati lo" timpal Ivanna sembari meletakkan ponselnya diatas meja kantin dengan kedua lengan terlipat juga diatas meja.


Akupun mengedarkan pandangan ke segala arah kemudian ku perhatikan wajah mereka satu persatu dan akhirnya menyerah. Beginilah kalau kita mempunyai sahabat. Kita tidak akan bisa merahasiakan apapun lebih lama. Ku lirik Aldira sebentar..


"Oh, bukan gue yang harus cerita" katanya mengangkat kedua tangannya menjawab lirikanku.


"Oke fine. Gue stress banget, gatau apa yang sedang nasib mainkan dalam alur hidup gue. Mungkin kedengarannya Lebay atau semacamnya. But.." belum selesai, Jihan menginterupsi penjelasanku.


"Langsung intinya" katanya dengan mulut yang dipenuhi siomay. Aku pun memutar bola mata. Malas.


"Pagi ini gue berdebat sama Ibu gue, dia mau gue pisah sama Agas. Itu yang pertama dan yang kedua, Frans mantan gue yang waktu itu gue ceritain ke kalian minta kesempatan kedua" kalau diingat kembali rasanya beberapa tulang rusukku patah dan mengenai jantungku. Sakit rasanya.


"Ini rumit Lis, masalah kalian tuh bukan masalah yang umum tapi jarang terjadi, mungkin terjadi juga pada sebagian orang" kata Ivanna yang menopangkan dagu dengan kedua tangannya.


"Benar. Apalagi masalahnya beda keyakinan, lo harus pilih mau ganti pacarnya atau Tuhannya" tambah Jihan seraya meneguk lemon tea nya.


"Di beberapa kasus biasanya jarang sekali ada yang awet. Soal mantan, lebih baik berteman aja, jangan mengulang kisah lama Lis, rasanya pasti sudah gak sama lagi" kata Aldira nampak berpikir dengan kerutan di dahinya yang menjadi tanda.


"Entahlah. Rasanya gue mau teriak; Kenapa sih gue sama Agas terlahir beda keyakinan? Kenapa harus dia kalau memang kita tidak ditakdirkan menua bersama? Kenapa hati gue kembali terus saat beberapa orang yang singgah berlomba-lomba mencuri hati gue? Berusaha membuat gue nyaman untuk berpaling. Ini konyol benar-benar konyol, sungguh semesta sedang mempermainkan takdir gue saat ini. Dan banyak sekali pertanyaan 'Kenapa' dalam benak gue yang tak berhasil terjawab" keluhku panjang lebar sembari memijit pelipisku yang sama sekali tidak pusing.


Tidak terasa waktu terus berjalan tanpa menunggu kami. Jam pergantian mata kuliah pun berganti, kami kembali ke ruang kelas kami dan mengikuti beberapa mata kuliah sampai akhir sebelum kami membantu Ivanna juga Jihan menata kosan mereka yang baru sepulang kuliah hari ini.


Beberapa jam pun berlalu dengan lambat akupun duduk mendengarkan dengan gelisah. Tiba-tiba pandanganku bertabrakan dengan pandangan Luke, dia pun membuang wajah dengan gerakan pelan kembali ke dosen. Ada rasa penasaran yang menyengat diriku. Aku nampak berpikir keras mengenai kejadian beberapa hari ke belakang lebih tepatnya apakah ada sesuatu seperti gosip misalnya yang terlewatkan olehku? Ah. Sudahlah aku lelah berpikir keras.


"Eh, apa ada gosip yang gue lewatkan beberapa hari ini?" Tanyaku to the point. Kamipun tiba dilapangan parkir kendaraan, kuliah telah selesai beberapa menit yang lalu.


"Hmmm kayaknya ga ada deh" jawab Jihan ragu.


"Masa sih? Gosip tentang seseorang misalnya? Anak perawat" pancingku dengan senyum terbaik yang dipaksakan.


Aldira dan Ivanna pun menyipitkan kedua matanya siap menghunusku dengan cara pandang mereka seperti itu.


"Oke. Mari kita beri kejutan pada nona yang juteknya bisa membunuh semua laki-laki disini" cibir Ivanna sarkastik. Dan diangguki oleh Aldira. Apa Aldira sudah tau? Kenapa tidak memberi tahu? Menjengkelkan sekali mereka.


"Jadi, Luke jadian sama anak perawat dan gue denger-denger udah sebulan mereka pacaran" tambah Ivanna yang menutup pintu bagasi mobil Aldira kemudian kamipun meninggalkan area kampus menuju kosan baru mereka.


"Akhirnya gue terbebas dari manusia Kamvret itu, Yeeeeiiiii" kataku girang bukan main karena cerita Ivanna tadi. Serempak mereka pun menyuruhku diam.


Sesampainya dikosan baru mereka, kamipun menurunkan barang-barang yang akan ditata didalam rumah tersebut. Mereka tidak lagi tinggal bersama Fellicia, ceritanya panjang dan mereka tidak mau terkena hipertensi berlama-lama tinggal disana. Sungguh aku mengira awalnya sulit saat kami terbiasa berlima, tapi seiring berjalannya waktu kami terbiasa berempat dan masih saling menguatkan.


****


Senjapun berlari menuju naungannya. Berganti kanvas hitam pekat menyelimuti semesta. Kali ini bintang enggan menampakkan dirinya berpendar seperti malam-malam sebelumnya.


"Gue mau bilang kalau kita pasti bisa saling melupakan. Melupakan semua yang terjadi kemarin dan kembali menjalani hidup normal. Tapi gue rasa, gue gak bisa. Karena gue juga gak tahu lagi apa yang normal" semilir angin malam berhembus menerpa wajahku, dinginnya kalah dengan suara seseorang disebrang sana.


"Andai saja dari awal kita bisa bertemu dengan cara yang lain, bukan dengan cara seperti ini, Frans" kataku yang menjawab pernyataannya. Dengan ponsel yang menempel ditelingaku berusaha tidak goyah dan luluh. Rasanya sulit, seperti membohongi diri sendiri.


Mungkin aku harus mulai membiasakan diri kehilangan sesuatu.


"Yah.. memang benar. Mungkin kita hanya terjebak dalam lingkaran masa lalu" katanya dengan hembusan nafas lelah.


"Seandainya dunia berhenti berputar, apa yang akan lo lakukan?" Kataku melempar sebuah pertanyaan konyol.


"Gue juga akan berhenti pada titik yang sama. Tapi entahlah apa sesuatu didalam gue juga ingin berhenti? Berhenti mencintai seseorang misalnya?" Jawabnya dingin. Akupun tertegun dan menggigit kuku jariku.


"Tapi bukan dengan kesempatan kedua, Frans" geraman rendah terdengar ditelingaku. Apa aku menyakiti hatinya? Atau menyinggung egonya?


"Gue laki-laki kak, barangkali yang terbodoh yang pernah lo temui. Tapi saat seorang laki-laki menyerahkan hatinya untuk perempuan, dia bukan hanya menjadi bodoh, tapi juga menjadi penakut." Dan sambungan pun terputus.


Hujan pun turun dengan anggun menghiasi langit pekat tak berbintang. Menutup hari yang lelah. Aku pun menarikan jemariku pada keyboard laptop.

__ADS_1


Malam ini aku memesan hujan beraroma kenangan, jika kamu dapati sosokku lalu lalang di kamarmu, kamu tidak usah heran. Kamu tidak sedang bermimpi ! Itu aku yang diam-diam masih kamu simpan di dalam hati. 


Denting ponselku memberitahu bahwa ada pesan masuk. Segera ku raih ponselku yang tergeletak diatas kasur dan membaca pesan dari seseorang. Tanpa disadari bulir-bulir kristal bening luruh pada pipiku, menimbulkan isak kecil yang menyumbat dadaku.


Hanya ingin mengingatkan lo kak bahwa besok mungkin gak akan sama dengan hari ini atau kemarin. Tapi hari-hari yang gue lalui dengan lo adalah hari-hari terbaik yang pernah ada dalam hidup gue. Dulu atau sekarang, bagi gue lo tetap sama kak dan gue tetap cinta sama lo, meskipun lo minta gue untuk menunggu lebih lama, dengan senang hati gue lakukan. Tapi sayangnya untuk saat ini gue gak bisa mencuri apa yang sudah menjadi milik orang lain..


Kamu tidak pernah tahu tentang hal ini, dua hal yang aku sukai dari waktu adalah; dia tidak mampu membawaku kembali ke masa lalu, tapi dia mampu menyembuhkan luka ku karena masa lalu.


Isakku mereda saat aku berhenti memikirkannya. Lebih tepatnya aku telah menghabiskan banyak tenaga untuk mengeluarkan semua isi hatiku. Kata orang menangis adalah cara ampuh disaat kita tak lagi bisa mengungkapkan kata-kata. Ku rasakan rembesan air di bantal dan gulingku. Hanya karena cinta seseorang, kita bisa menjadi lemah seketika.


Ku seka dengan kasar jejak-jejak basah di kedua pipiku yang chubby. Biar ku tebak pasti wajahku jelek sekali sehabis menangis. Buru-buru aku bangkit dari tempat tidurku menuju meja rias dan melihat bayangan sesosok wanita dengan rambut berantakan mencuat tak jelas, wajah sendu, terlihat lingkaran hitam disekitar mata seperti mata panda dan mataku yang masih merah disertai jejak basah dikedua pipiku. Menyeramkan. Kalau aku tidak sadar pada bayangan diriku sendiri mungkin saja aku sudah berteriak histeris.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Sudah sejam berlalu saat dia memutuskan sambungan telpon secara sepihak dengan ucapan perpisahan yang tanpa diduga. Ku hela nafas panjang dan kembali ketempat tidurku. Mataku menerawang langit-langit kamar jauh ke dalam sebuah ingatan. Memori tentangnya, tentang kita dan awal aku bertemu dengan dirinya. Fransiskus Frederick, samar terputar. Gambaran itu berubah-ubah berganti dengan memoriku dan Agas.


Ku usap kasar wajahku frustasi. Ini lebih rumit dari sekedar cinta segitiga, agak lebay kalau dibilang seperti itu. Karena hatiku sepenuhnya milik Agas tapi rasa nyaman yang ditimbulkan kembali oleh Frans membuatku merasa seperti pulang kembali, meskipun rumah itu sudah lama ku tinggalkan.


"..." cibir suara disebrang sana berserta umpatan yang malah membuatku terbahak.


"Sorry deh.. gue cuma mau bilang I Love youuu" candaku yang membuatnya tambah kesal serta membuatku semakin terpingkal-pingkal.


"...." ancamnya di puncak kekesalannya.


"Oke gue serius. Besok gue gak masuk, mau nemenin Agas ke toko buku" kataku dengan wajah serius.


"...." jawabnya sarkastik masih dengan umpatan yang membuatku terkekeh tanpa suara. Kemudian sambungan pun terputus secara sepihak.


Hatiku memang terketuk oleh rasa nyaman yang kamu berikan, tetapi perasaanku menolak mematahkan hati seseorang. Aku tak ingin menyakitinya dan menyakitimu. Aku sadar pada perasaanku. Tapi.. tak bisa membiarkan diriku sendiri berbagi hati dan kemudian aku menyakiti sebuah hati.


Lama setelah itu, kurasakan mataku yang berat sekali sejurus kemudian rasa kantuk menyerang hebat. Kali ini aku tidak menolak, membiarkan segala beban dihati terlupa sesaat, berharap menguap di udara berganti dengan kedamaian yang terlihat dari wajahku yang terlelap.


****


Mentari telah bertengger di atas langit sejak beberapa jam yang lalu. Kurasakan sekujur tubuhku yang kaku. Ku gerakkan tubuhku ke kanan dan ke kiri sebelum bangkit dari tempat tidurku terdengar beberapa tulang yang berderak bergeser, berasal dari tubuhku. Alhasil aku pun mengaduh kesakitan.


Hari ini kuputuskan untuk tidak masuk kuliah karena Agas ingin aku menemaninya ke toko buku. Ada sebuah buku yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Kira-kira sudah sebulan lamanya. Soal ijin aku sudah memberitahu Aldira bahwa aku tidak masuk hari ini. Aku yakin Aldira pasti mengumpat ku seharian ini. Aku pun terkekeh membayangkan kejadian semalam. Dimana aku membangunkannya tengah malam.


Setelah merasa tubuhku yang ringan aku pun bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selang beberapa menit aku pun keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono membungkus tubuhku. Berjalan menuju arah meja rias untuk menata rambutku dan mempoleskan sedikit make up pada wajahku. Beruntung aku selesai sebelum Agas menelpon.


Selesainya berurusan dengan hal-hal feminim aku buru-buru meraih tas ku dan melangkah keluar kamar menuruni beberapa anak tangga. Dering ponsel membuatku menghentikan langkah di anak tangga terakhir. Melihat sebuah nama yang tertera pada layar tanpa berpikir, jempol tanganku langsung menyentuh dan menggeser panah pada layar ponsel untuk menjawabnya.


"...." Terdengar bariton suara yang berat tapi seksi ditelingaku.


"Iya Gas, aku udah siap nih. Jemput aku dirumah aja ya?" Jawabku tanpa babibu.


Raung kasar dan berat suara kendaraan memasuki halaman rumahku. Dengan motor gedenya Agas berhenti tepat ke arahku. Ia pun membuka kaca helmnya.


"Ayuuuk" katanya sembari menelengkan kepala kearah jok yang ada dibelakang tubuhnya. Akupun menurut dan memakai helm yang dia berikan diatas motor. Kemudian Agas mengemudikannya meninggalkan pekarangan rumahku.


Mesin motornya kini meraung-raung di jalanan ibukota. Akupun hanya diam tanpa suara dengan memeluk erat pinggangnya kalau-kalau dia tidak waras dengan menambah laju kecepatan pada spidometernya.


"Tumben pakai motor?" Tanyaku dengan suara agak keras disamping kiri kepalanya. Derit kaca helm yang terbuka menoleh kearah ku memperlihatkan wajah manisnya. Wajah yang beberapa tahun ini menemani hari-hariku.


"Mobil aku lagi dibengkel, sayang" katanya dengan nada lembut. Begitulah Agas. Sebentar-sebentar, jutek, cuek, marah-marah gak jelas. Sebentar-sebentar senyum-senyum gemas melihat tingkahku, bisa mendadak romantis juga.


"Oh.." hanya itu yang bisa ku ucapkan. Berhubung fokusku sekarang adalah berpegangan erat dengannya.


Tak butuh waktu lama, kamipun sampai disalah satu pusat perbelanjaan. Kata orang buku-buku disini sangat lengkap. Setelah memarkirkan motor, Aku dan Agas melangkah menuju pintu masuk yang ada dibasement kemudian berjalan menuju eskalator dan mulai menjelajah mencari toko buku.


Akhirnya kami menemukannya, segera kami memasuki toko tersebut. Aku dan Agas sama-sama mencari di rak deretan novel, kusapukan pandanganku satu persatu deretan novel-novel yang tersusun rapi. Pandanganku berhenti pada sebuah buku yang judulnya sangat menyentil hati. Ku balik cover buku tersebut untuk menemukan sinopsisnya. Kemudian membaliknya kembali.


...Mengikhlaskanmu, Aku Bisa. ...


...Jatuh Cinta adalah Siap ...


...Kehilanganmu kapan saja. ...


...- Yusuf Hamdhani - ...


Tapi sayangnya aku harus menahan diri untuk membelinya. Karena aku ingin memberikan kejutan Anniversary yang ke 7 tahun dan semoga Agas menyukainya. Sadar aku hanya disini sendirian, kuputuskan untuk mencari Agas. Menelusuri setiap rak buku tapi aku tidak menemukan seseorang yang ku cari. Aku kembali ketempat semula tidak juga ku temukan dirinya.


Ck. Gini nih kalo udah sibuk, gue dilupain.


Disela kekesalanku aku kembali menyapukan pandanganku pada jajaran buku-buku yang ku lihat tadi. Tiba-tiba pandanganku perlahan kabur dan berubah gelap. Kurasakan hembusan nafas seseorang dibelakang telingaku.


"Mencariku?" Aroma madu berbalut mint menyeruak dalam indra penciumanku. Refleks kuraba tangan kekar yang menutupi kedua mataku erat.


"Agas. Gelap tau, lepasin!!!" Sungutku kesal. Hampir saja dia membuatku ingin berlari keluar dari toko buku ini.


"Yah.. ketahuan deh. Gak asik nih" katanya lagi seraya melepaskan kedua tangannya dari mataku. Ku dapati dirinya terkekeh melihatku kesal padanya.


"Udah cari bukunya? Udah dapet?" Kataku mengalihkan pembicaraan. Dia pun mengangkat sebuah buku dan memperlihatkannya padaku.


"Yaudah cepet bayar. Aku laper" Cibirku masih kesal, kemudian berjalan mendahuluinya ke kasir. Samar ku dengar dia masih saja terkekeh, aku pun hanya memutar bola mata. Malas.


Setelah selesai kamipun berjalan keluar dari toko buku tersebut kemudian menjelajah kembali mencari tempat makan. Agas masih saja menyebalkan seperti di toko buku tadi. Bertingkah konyol supaya aku memaafkannya. Akupun hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa geli melihat tingkahnya.

__ADS_1


Akhirnya kami memutuskan untuk makan disalah satu resto. Setelah mencari tempat duduk yang dirasa nyaman kamipun memesan makanan kami masing-masing. Tanpa di rencanakan makanan yang kami pesan sama. Nasi goreng seafood. Kami pun tertawa saat mengucapkan dengan kompak pesanan kami pada salah satu waiters dan waiters itu tersenyum malu-malu melihat tingkah kami. Kemudian aku memesan greentea latte sebagai minumannya dan Agas ice chocolate sebagai minumannya.


Setelah kepergian waiters tersebut Agas masih bertanya padaku, apakah aku masih kesal padanya. Melihat ekspresi ku tadi Agas pun percaya diri kalau ia sudah di maafkan.


"Jadi aku belum di maafin nih?" Tes nya padaku yang melihat ekspresi wajahku seperti semula. Kesal.


"Hmmm gimana ya?" Kataku pura-pura masih kesal dan beberapa detik kemudian tawakupun akhirnya meledak. Kemudian pesanan kami pun datang juga dengan tawa yang sudah mereda dariku. Setelah kepergian waiters aku menaikkan kedua alisku menatap Agas was was.


"Awas ya? Tunggu pembalasan aku" bisiknya sembari mencondongkan tubuhnya ke wajahku tak lupa seringaian yang tercetak pada bibirnya.


Oh. GOD. Damn it!!!


Aku pun meneguk saliva ku susah payah dan buru-buru menghisap greentea latte ku dari sedotannya karena tiba-tiba saja tenggorokanku terasa kering. Ia pun terkekeh melihat ekspresi ku.


"Aku Bercanda kok" katanya kembali tertawa. Menyebalkan.


Di tempat lain..


"Temenin gue cari sepatu, buru" ucap seorang laki-laki berusaha membangunkan seseorang.


"Gue lagi males ngapa-ngapain" jawab seseorang yang masih terbaring dengan selimut yang ia tarik lebih keatas menutupi wajahnya.


"Ck. Kan udah gue bilang dia masih pacaran sama cowok itu. Tapi kalau gue pikir awet juga ya? Walaupun mereka beda keyakinan" ucap Thomas frederick bersidekap menyender pada pintu sembari berpikir.


"Tapi kenapa lo sama kak Olivia bisa putus dan benar-benar berakhir?" Tanyanya dengan menyibak selimut yang menutupi wajahnya.


"Setiap orang itu berbeda-beda pikiran maupun egonya. Jadi gue sama dia dulu belum terlalu dewasa dalam hal komitmen" jelasnya pada adik tersayangnya.


Setelah selesai berdebat dan pastinya dimenangkan oleh sang kakak, akhirnya Frans pun terpaksa menemani kakaknya mencari sepatu.


"Kenapa sih dia masih bertahan dengan orang yang salah? Udah tau beda keyakinan, masih aja nunda-nunda untuk putus" gerutu Frans kesal dengan kenyataan yang ada.


"Bukankah semua orang punya pilihan masing-masing? Jangan salahkan seseorang dengan apa yang dia pilih, pasti dia punya alasan sendiri. Dan lo harus menghargai itu" jelasnya pada adiknya, dengan mata fokus pada jalanan. Ya, mereka sudah di mobil sejam yang lalu dan sedang dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan.


Frans mengumpat pada saluran radio yang diputar oleh Thomas, kakaknya itu. Betapa tidak liriknya seolah menjelaskan keadaan dan isi hatinya saat ini.


Kau ungkapkan kepadaku


Kan ada saatnya nanti


Engkau milikku satu..


Ku menunggu dalam bimbang


Adakah sungguh nya aku


Kasih yang kau inginkan.


Ia pun semakin larut dalam lirik lagu tersebut. Dihembuskannya nafas lelah dan menyandarkan kepalanya ke jendela matanya menengadah melihat ke langit, gumpalan-gumpalan sehalus kapas itu mengingatkan dirinya tentang sebuah memori.


Biar aku yang pergi


Bila tak juga pasti


Adakah selama ini


Aku cinta sendiri..


Sesampainya di salah satu pusat perbelanjaan mereka pun mencari tempat parkir setelah itu turun dari mobil dan berjalan kearah pintu basement lalu menaiki eskalator. Mata sendu nya berpendar ke segala penjuru, tidak ada hal yang menarik baginya.


Tiba di depan outlet sepatu sport matanya tak sengaja menangkap sosok perempuan yang selalu membuatnya uring-uringan sejak ia kembali ke Indonesia. Pandangannya bertemu beberapa detik dengannya hanya beberapa detik saja. Hal itu justru membuat pandangannya menjadi nanar.


Semoga bahagia.. Calista.


Bisiknya parau pada udara hampa. Thomas yang melihat adiknya itu tidak bisa menyembunyikan rasa ibanya. Ia tidak bisa melakukan apapun karena ia merasa tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Dia ingin adiknya itu menjadi laki-laki yang dewasa dalam hal apapun.


Biar aku menepi


Bukan lelah menanti


Namun apalah artinya


Cinta pada bayangan..


Frans pun menoleh ke arah kakaknya berusaha tersenyum sebelum melangkah masuk kedalam toko sepatu diikuti oleh Thomas di belakangnya.


Pedih.. Aku rasakan


Kenyataannya


Cinta tak harus


Saling miliki.


Happy Reading guys 😄

__ADS_1


__ADS_2