THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Titik Terang


__ADS_3

Iqbal tersenyum lebar tanpa rasa bersalah, dengan memperlihatkan deretan giginya yang rapi "Hai, bos"


Adrian bangkit dengan merapihkan kemejanya yang mulai lusuh, lalu berjalan perlahan kearah dimana Iqbal berdiri sembari menggulung lengan kemejanya sampai kesiku


"Yeah" jawab Adrian santai. Namun, dengan sekejap tanpa aba-aba dan tanpa disadari oleh Iqbal, Adrian mulai melancarkan aksinya untuk membalaskan rasa kesalnya.


Aldira yang melihat kesempatan yang menghibur di depan matanya, mulai mengambil ponselnya lalu merekam aksi Adrian dan Iqbal yang menunjukkan rasa sayang mereka dengan cara yang sangat unik sekali.


"Aldira, lo ngapain?!"


"Aldira, lo ngapain?!"


Tanya kedua pria dewasa itu serempak ditengah pergulatan keduanya, saat sadar apa yang dilakukan oleh Aldira. Aldira yang merasa tindakannya diketahui oleh mereka, mulai menghentikan tawanya. Kedua laki-laki itu menatapnya kesal, kini kerongkongannya mendadak tandus seperti telah menghianatinya


"O.. o.. Don't kill me, please" cicit Aldira sambil berlari kearah Calista meminta perlindungan darinya.


Sebelum Adrian dan Iqbal melancarkan aksinya pada Aldira, ponsel Adrian menginterupsi kegiatan mereka. Adrian melirik Iqbal seperti mengisyaratkan sesuatu yang begitu penting, yang harus mereka bereskan secepatnya.


Aldira dan Calista yang melihat gelagat mereka yang tidak asing lagi, menyuruh mereka untuk segera pergi membereskan masalah yang sedang menimpa mereka, entah apa itu.


Adrian mengetikkan sesuatu diponselnya dan mengirimkan text tersebut kepada seseorang. Ponsel Calista berbunyi tanda notifikasi masuk dan ternyata Adrian lah pelakunya.


From Adrian


To Calista:


Aku pergi dulu, nanti sore aku pulang cepat. Kita lanjutkan yang tadi. See you dear..


Calista membaca text tersebut sambil tersenyum lalu melirik Adrian yang ternyata sedang meliriknya juga, menunggu jawaban darinya.


Aldira yang curiga pada kedua sejoli dihadapannya ini yang saling melirik dengan meleparkan senyuman, kemudian mencuri pandang pada ponsel Calista lalu menatap mereka secara bergantian


"Oh Maigat!! Are you seriously guys?!" tanya Aldira terkejut bercampur bingung.


Adrian dan Iqbal membeo serempak "What?!"


nampak kebingungan menyelimuti wajah mereka


"Are you both dating?" tanya Aldira penasaran.


Iqbal yang tampak kebingungan mendadak tersedak salivanya sendiri, mendengar perkataan Aldira barusan "What? Gue Normal, Dir"

__ADS_1


Aldira menepuk jidatnya "Bukan lo" tunjuk Aldira pada Iqbal, hal itu pun membuat Iqbal merasa lega. "Tapi mereka berdua" lanjut Aldira menunjuk Adrian dan Calista, sontak Iqbal tersedak kembali oleh salivanya sendiri.


Iqbal dan Aldira menatap keduanya meminta penjelasan mengenai apa yang sedang terjadi selama mereka tidak ada, apakah ciuman beberapa menit yang lalu mengartikan sesuatu?


"Bagaimana Bapak Adrian dan Ibu Calista?" tanya Aldira menegaskan bahwa ia sedang menunggu jawaban


Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Sorry nih Dir, gue sama Iqbal harus benar-benar pergi. Ada perkembangan baru dari kasus yang menimpa Calista"


Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Adrian, sontak saja membuat semua orang di dalam ruangan tersebut membeku. Terutama Calista. Bagaimana tidak, ia hampir melupakan seluruh kejadian yang telah menimpanya tapi saat ini, mendengar pernyataan Adrian barusan membuat kepalanya mendadak sakit.


"O..okey, Go on" hanya itu yang keluar dari mulut Aldira dan dengan hati-hati melirik Calista yang menegang di sampingnya.


Hal itu pun disadari oleh Adrian dan Iqbal. Sekali lagi, Adrian mendekati Calista yang ternyata pikirannya sedang berkelana hingga membuatnya seperti melamun.


Adrian mengusap lembut kepala Calista "its okay, ada aku, kamu aman" tutur nya berusaha menenangkan wanita yang telah menggedor jiwanya. Calista Hartawan.


Calista menatap Adrian, mengangguk lemah dengan senyuman lemahnya. Namun, ada kecemasan yang kentara menyelimuti dirinya saat ini.


***


Di kantor Adrian..


Axel mengerutkan dahinya "Abis ngapain lo? Jalan dari rumah sakit ke kantor?" tanya Axel penasaran, melihat napas Iqbal terengah-engah.


Iqbal tak menggubris ucapan Axel, matanya berpendar ke seluruh ruang kerja Adrian. Kini pandangan matanya berhenti tepat pada lemari pendingin milik Adrian. Dengan tenaga yang tersisa ia berlari secepat kilat menuju lemari pendingin tersebut, lalu mengambil sekaleng soda dan meneguknya hingga tandas.


"Aaaaahh, tadi lo ngomong apa Xel?" tanya Iqbal kembali.


Axel menatap Iqbal datar "Udah lah, kagak penting. Yang penting kita fokus ke masalah insiden, Calista"


Iqbal berjalan menghampiri Axel dengan dua kaleng soda ditangannya "Eh iya, itu yang mau gue tanyain tadi. Si Adrian kemana sama calon suaminya Aldira?"


"Jadi, mereka menemukan beberapa bukti kuat siapa pelaku yang mengacaukan acara Aldira beberapa hari lalu?" tutur Axel.


Iqbal menyemburkan soda yang ada dimulutnya "Gila, secepet itu Xel?" tanya Iqbal sembari meneguk salivanya.


Axel mengehala napas lega, selama beberapa hari ini jangankan tersenyum, untuk makan dan tidur saja ia jadi moodyan. Layaknya orang yang sedang patah hati.


"Yaaaa begitulah, syukur deh kalo gitu. Gue jadi bisa tidur nyenyak bro" jawab Axel dengan riang, membayangkan rutinitas normalnya kembali seperti semula.


Iqbal terlihat gugup, dengan berusaha mengendurkan dasi serta kerah kemejanya. Axel yang melihat gelagat aneh Iqbal menjadi merubah sikapnya, yang tadinya riang menjadi agak diam dan hal itu dirasakan oleh Iqbal

__ADS_1


"Kenapa lo, Bal?" tanya Axel hati-hati


"Hah?" jawab Iqbal seperti orang linglung


Axel menepuk jidatnya "Bal, mending lo pulang dulu gih, istirahat. Gue rasa lo lagi kelelahan"


Iqbal memijit keningnya "Sorry ya Xel, gue lagi banyak pikiran soalnya"


Axel membuka kaleng soda untuk Iqbal dan dirinya "Yaudah nih minum lagi"


Iqbal melirik kaleng soda yang ditawarkan Axel, kemudian menenggaknya dengan cepat hingga tandas. Sekali lagi Axel keheranan melihat tingkah laku Iqbal hari ini.


Axel melirik Iqbal diam-diam, memperhatikan gerak-gerik Iqbal yang membuat kecurigaan timbul di hatinya


"Xel?"


"Hm?"


"Beneran pelakunya udah ke lacak?" tanya Iqbal sekali lagi, seperti memastikan sesuatu.


Axel sempat terdiam, mendengar pertanyaan Iqbal yang sudah ia ketahui sebelumnya. Hal itu semakin menimbulkan tanda tanya dihati serta pikirannya.


Axel menghela napas "Iya, lo kenapa sih?" kini Axel harus berhati-hati terhadap orang yang sedang menjadi lawan bicaranya.


Sebenarnya ada apa dengan Iqbal, aneh banget..


Iqbal bangkit dari sofa, merapihkan jasnya dan dasinya "Gue pergi dulu, ada urusan yang harus gue urus. Kalo Adrian nyariin gue, dia tau kemana gue pergi"


Axel yang masih di penuhi tanda tanya di kepala hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya


"Hati-hati, Bal" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya


Iqbal sempat berhenti dan menoleh kearah Axel dengan senyum yang agak aneh "Pasti"


Setelah itu Iqbal benar-benar pergi meninggalkan ruangan Adrian. Tapi tak berapa lama Adrian serta tim penyidik nampak terburu-buru masuk ke dalam ruangan miliknya.


Ia mengusap wajahnya frustasi karena yang dilihatnya hanya Axel "Kemana Iqbal?"


Sekali lagi Axel dibuat keheranan dengan orang-orang hari ini "Udah pergi tadi"


Happy Reading..

__ADS_1


__ADS_2