
TOK.. TOK.. TOK..
Ketukan pintu menarik atensi Calista dari masa lalunya. Kira-kira siapa yang mengetuk pintu apakah mungkin Adrian sudah lelah berdiri di balkon? Siapa yang tahu akan hal itu.
Calista berjalan mendekati pintu dan ternyata sosok yang berdiri dihadapannya saat pintu terbuka adalah "Iqbal ?!"
"Hai, umm bisa bicara sebentar?" tutur Iqbal mengisyaratkan sesuatu dan Calista pun mengangguk setuju kemudian mengikutinya.
Setelah kejadian yang baru saja terjadi terbesit sedikit keraguan pada sepupu dari Adrian ini. Mengingat dia juga teman dekat dari Agas semasa kuliah. Entah, siapakah sosok dihadapannya sekarang atau Iqbal yang manakah dirinya saat ini? Teman lama Agas, Sepupu dari Adrian atau justru malah menjadi penghianat.
Mereka tiba diruang baca keluarga atau terlihat seperti perpustakaan kecil "Jadi apa?" tanya Calista to the point
"Ini soal Adrian" jawab Iqbal sembari berkeliling mengamati ruangan yang sudah lama tak terjamah manusia.
Calista melirik Iqbal yang sibuk mengamati deretan rak buku "Ada apa dengannya?" tanya Calista lagi. Ia sangat antusias sekali dengan hal-hal berbau Adrian, menurutnya ia harus mengetahui semua masa lalu Adrian, untuk menghindari konflik-konflik yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Iqbal membawa buku tua tebal dan usang lalu mengajak Calista pergi ke taman belakang. Calista memutar bola matanya malas tapi tetap saja mengekori laki-laki tersebut seperti anak ayam.
"Ini album foto keluarga Saseno. Ini Alm. Bokap kita berdua. Ayah gue dan Adrian mengalami kecelakaan di area pertambangan Minyak bumi di tengah laut.. "
Calista memperhatikan setiap foto sembari mendengarkan cerita Iqbal dengan seksama. Di lembar-lembar berikutnya ia menemukan foto masa kecil Adrian yang menggemaskan. Hatinya menjerit tak karuan melihat kegemasan yang dibuat oleh Adrian kecil.
Iqbal melirik Calista ia menepuk jidatnya melihat Calista cekikikan melihat album foto tersebut "Dasar payah" cibirnya sambil melipat kedua tangan di dadanya sembari menyandarkan punggungnya pada kursi taman.
Calista tidak mempedulikan cibiran Iqbal si bocah penghianat tersebut, apa yang ada dihadapannya saat ini jauh lebih penting. Calista merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel lalu memotret foto-foto tersebut "Astagaaaa gemessshhh banget sumpah" tuturnya kegirangan.
Iqbal yang melihat Adrian menghampiri mereka hendak memberitahu Calista, namun dicegah oleh Adrian dari kejauhan. Adrian mengambil tempat duduk Iqbal karena Iqbal tidak ingin melihat kebucinan mereka seorang diri, maka dari itu Iqbal memutuskan untuk masuk kedalam.
Calista yang belum menyadari tampak masih cekikikan geli. Alhasil Adrian mencolek lengan Calista "Iishh apaan sih Bal, ganggu aja" tutur Calista.
Adrian nampak terkejut namun mengangkat sebelah sudut bibirnya keatas. Lagi Adrian mencolek pipi Calista "Apaan sih Bal, jangan macem-macem deh gue cewek sepupu lo" tuturnya dengan nada ancaman yang membuat Adrian memerah dengan kata-kata Calista barusan.
"Sayang masuk yuk?" bisik Adrian ditelinga Calista.
Calista menegang kemudian menelan ludahnya dengan perasaan gugup, menutup album foto tersebut dengan cepat dan keras. Menoleh kearah Adrian dan "Aaaaaaaaa" terkejut.
__ADS_1
Refleks dirinya ingin lari karena ketakutan. Pasalnya sedari tadi ia bersama Iqbal bukan Adrian. Adrian menangkap Calista yang hampir saja ingin kabur "Kamu kenapa sih, ngeliat aku kayak ngeliat hantu aja" tutur Adrian dengan wajah cemberut.
"Iqbal kaaaamppreett. I hate you!!!" maki Calista kearah dalam
"Your welcome" jawab Iqbal dengan kekehan sembari membawa secangkir kopi ditangannya.
Calista terus menggerutu, membuat Adrian gemas dan langsung menggendongnya masuk ke dalam. Dan disaat yang bersamaan pula, Calista langsung terdiam kemudian melihat wajah Adrian dari samping tanpa berkedip.
Jika diperhatikan dari samping dan lebih dekat seperti ini, ternyata Adrian mempunyai garis wajah yang tegas, kumis tipis yang baru Calista sadari. Mata Calista turun kebawah kearah dagu hingga jakun Adrian. Rasanya ingin sekali menyentilnya disana, jika Adrian berani menyakiti dirinya.
Adrian mendorong pintu kamarnya dengan salah satu kakinya. Dahi Calista mengkerut ternyata mereka telah sampai di kamar Adrian. Adrian melirik Calista, begitupun dengan Calista. Dengan hati-hati Adrian meletakkan Calista diranjangnya tanpa melepas tatapan mereka
"Eh.. ini bukan kamar aku" cicit Calista yang membuat Adrian tersenyum penuh arti.
Adrian berjalan menutup pintu dan menguncinya "Yaaaa!!! Opaaa" teriak Calista panik.
Adrian menyeringai sembari menaik turunkan kedua alisnya menggoda Calista. Hal itu membuat Calista diserang rasa panik, kerongkongannya terasa kering seketika disaat Adrian semakin maju mendekatinya.
Calista melirik kanan-kirinya kemudian melemparkan bantal-bantal dan guling yang ada disekitarnya "Adrian!! Stop" tutur Calista dengan tegas.
Calista mengangkat bed cover lalu masuk ke dalamnya "Aaaaaaaaa tolooooong!!!"
***
Calista terbangun dan terduduk dengan rambut yang berantakan, matanya masih terpejam. Ia bangkit dari ranjang dengan rambut panjangnya yang awut-awutan hingga menutupi setengah wajahnya, mencoba berjalan menuju kamar mandi.
Memasuki kamar mandi Calista berhenti kemudian menghadap ke cermin "Aaaaa" dirinya terkejut dengan pantulannya sendiri
"Siaaaal" cicitnya.
Adrian yang melihat tampilan Calista seperti itu, menahan lututnya yang lemas. Ia akui Calista seperti hantu jika di lihat dari cermin.
"Aaaaaaaaaaa" teriak Calista melihat Adrian tanpa sehelai kain pun, Adrian pun juga ikut berteriak dan berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya
"Kamu ngapain di kamar aku?!" tanya Calista panik sembari menutupi matanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Adrian segera berpakaian "Ini kamar aku, kita tidur bareng disini semalem" tutur Adrian di sela-sela dirinya berpakaian.
Dan hal itu membuat ekspresinya berubah "Gak mungkin" mata Calista melotot kemudian melirik bagian tubuhnya yang terbungkus 'Piama'
Calista nampak berpikir keras "Sejak kapan gue pake piama?" tanyanya pada Adrian yang selesai berpakaian
"Kamu gak inget semalam?" tutur Adrian dengan senyum menggoda dan menaik-turunkan kedua alisnya.
Calista mengerutkan dahinya "Semalam? Di taman sama Iqbal terus- " Calista memberi jeda pada ucapannya lalu menatap Adrian dengan tajam.
"Semalem kita ngapain?" tanya Calista dengan hati-hati.
Adrian menghampiri Calista, mendekatkan wajahnya "Olahraga" jawab Adrian enteng dan hal itu benar-benar membuat Calista kesal
"Aawww" dengan sengaja Calista menginjak kaki Adrian dan membuang mukanya kemudian berjalan dengan cepat keluar dari kamar Adrian. Sebelum benar-benar keluar Calista mengacungkan jari tengahnya lalu menutup pintu kamar dengan kencang.
Adrian mendengus namun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kalau di pikir-pikir sudah lama ia tak merasakan momen-momen lucu bersama Calista, dan kira-kira kapan terakhir kali momen seperti ini datang?
Sementara itu di kamar Calista..
Calista bwrjalan gontai setelah menutup pintu kamarnya "Ck. Sial" dirinya berhenti di depan kaca seraya memandangi pantulannya dengan perasaan tak terbaca.
Matanya melotot seketika melihat bercak merah kebiruan di bawah telinganya "Astagaaa Nagaaaa. Aaaaaaaaaa" teriaknya panik. Jari-jari tangannya menggosok kulit lehernya tersebut dengan kasar, berharap tanda yang ada disana menghilang dengan cepat.
BRAAAKK!!
Adrian yang sedang fokus dengan layar laptopnya untuk mengecek kerjaan yang dilimpahkan pada asistennya, terkejut. Ia melepaskan kacamatanya saat melihat penampilan Calista yang masih berantakan
"Adriiiaaannn huuuaaaaa" Adrian panik saat Calista menangis histeris.
Dengan cepat ia mendekati Calista dan menyuruhnya untuk tenang. Namun, percuma saja "Lo jahat tau gak!!" tutur Calista masih dengan tangisan.
Adrian mengkerutkan dahi dan Alisnya, ia masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Calista. Jahat? Kejahatan apa yang telah ia lakukan?
"Huuuaaaaaaa" tangis Calista makin keras dan membuat kening Adrian berkedut.
__ADS_1
Happy Reading..