
...Tentang kita...
...Yang tak bisa bersama.....
...Tak perlu menyalahkan takdir....
...Takdir akan tetap demikian....
...Dan kita yang salah, sebab ...
...Tak berusaha untuk mengubahnya. ...
...-Yusuf Hamdhani- ...
...*** ...
09.00 AM. Netherland
Setelah acara ulang tahun ku yang tak terduga itu akhirnya aku bisa meninggalkan mereka sementara tanpa ada beban. Tapi tetap saja rasa sedih masih memelukku erat sejak mereka mengantarkan ku ke bandara Soekarno Hatta, dimana kedua orangtua ku juga Kirana sudah menungguku. Kalau saja hanya pergi keluar kota atau daerah mungkin aku akan benar-benar menikmati liburanku.
Ku seret koperku dengan langkah malas. Di sini matahari tampak sombong memperlihatkan sinarnya. Ku rasa sedang musim gugur disini. Lihat saja, angin sepoi membawa daun-daun mapel yang rapuh jatuh di atas rambut ku yang sengaja ku biarkan terurai.
"Goedemorgen mevrouw, kan ik u helpen?" (Selamat pagi nona, bisa saya bantu?) kata petugas bandara yang melihat ku seperti orang linglung.
"Ah, nee. Bedankt meneer" (Ah, tidak. Terimakasih pak) kata ku sambil tersenyum dan buru-buru mempercepat langkahku menyusul orangtua ku. Kalau terus tertinggal aku bisa gila. Aku hanya sedikit tau bahasa Belanda. Mengerikan.
Sebuah mini cooper yang sedikit termodifikasi berhenti tepat didepan kami dan satu persatu penghuninya keluar dari dalam mobil itu. Great. Mijn neef (saudara sepupu ku) dan juga Mijn Grootmoeder (nenek ku). Sebenarnya sih mereka keluarga jauh.
"Hi. Hoe gaat het met je? Het is lang niet geweest om elkaar te ontmoeten" (Hai. Apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu) sapa Ayah ku sembari memeluk nenek dan sepupu ku Albert Felix Vrij.
Setelah basa basi berlalu akhirnya kami sampai dirumah My Grandma. Sekejap aku takjub pada rumah ini. Tidak ada yang berubah sejak aku berusia 5 tahun, bangunan rumah yang kokoh seperti film insidious kurasa. Bagaimana tidak, lihat saja banyak lorong yang kurang pencahayaan. Membuatnya nyaris seperti rumah hantu di malam hari.
Rasa tidak sabarku menarikku buru-buru menaiki tangga menuju lonteng rumah. Aku terperangah di buatnya. Kamar masa kecilku masih terawat disana. Sedikit perubahan dengan mengganti ranjangnya juga menyingkirkan mainanku, harta karun masa kecilku.
Ku hempaskan diriku diatas ranjang yang nyaman. Mata ku berpendar ke segala penjuru sudut-sudut kamar dan berhenti tepat di sudut jendela. Melihat benda penglihat jarak jauh itu aku pun langsung duduk diatas kasur tanpa berpikir panjang langsung bergerak menuju jendela untuk membuka jendela kamarku dan mengarahkan teleskop tua ku. Semoga masih bisa berfungsi.
Setelah hampir sejam mengamati sudut-sudut jalan kompleks perumahan, mata ku menangkap sosok yang sangat amat familiar tapi aku belum yakin akan hal itu. Kemudian ku putar pengaturan teleskop ini agar apa yang ku lihat sangat dekat dan jelas. Aku pun menegang saat ku tau siapa sosok yang melintas di depan trotoar rumah Grandma.
Frans..
Gumamku pelan. Fransiskus Frederick. Cowok yang membuatku rela bertengkar dengan mantan pacarku waktu awal masuk sekolah menengah atas. Jujur saja aku lebih memilih Frans saat itu di dalam hati tapi melihat mantan pacarku yang brengsek itu mengancam akan mencelakakan Frans jika aku memilih dirinya. Saat itulah ku putuskan pergi dari hidupnya sejauh mungkin supaya dia aman.
Kurasakan debar tak biasa saat melihat dirinya. Sungguh aku tak mengerti mengapa semesta mempertemukan ku dengan dirinya kembali. Dan kenapa dia ada di negara ini? Apa dia pindah ke luar negeri? Sekolah? Atau ada sesuatu yang harus dia urus?
Pikiranku di penuhi pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya yang sekarang ada di negara yang sama juga denganku.
Jika di negara lain saja kita dipertemukan, kenapa di negara yang sama kita sulit bertemu? Frans..
__ADS_1
Saat makan malam kami semua hanyut dalam nostalgia sewaktu aku, Albert, Kirana, Emily, Lauren, jessie masih kecil. Begitupun orangtua kami juga nenek kami. Sampai keusilan kami pun kembali saat jessie melemparkan kacang-kacang Almond kepada kami dan perang kacang pun terjadi. Walaupun kami sudah dipastikan mendapat hukuman dari Grandma besok kami tetap tidak peduli. Kami bersenang-senang sepanjang malam.
Sebelum tidur Grandma sempat memberitahukan bahwa besok pagi kami harus ikut ke pemakaman cucu sahabat Grandma. Jadi kami tidak bisa begadang sampai pagi. Yaampun destinasi pertama liburanku adalah pergi ke pemakaman seseorang yang jelas-jelas tidak ku kenal.
05.00 AM. Netherland.
Mentari menyambutku dengan sinarnya yang hangat ditambah secangkir greentea khas negeri kincir angin ini. Sayang mentari kalah cepat denganku yang sudah sibuk dengan laptopku. Lihat aku sedang skype dengan Agas, Aldira, Ivanna, Jihan, Anggia, Axel, juga Diana.
Baru hari kedua setelah aku meninggalkan Indonesia, rasa Rinduku benar-benar menyengatku saat ini. Tanpa kusadari seseorang mengendap-endap ke dalam kamarku dan mengagetkan ku. Sontak langsung ku matikan laptopku dan Buuu. Lauren tengah memperlihatkan muka idiotnya ke padaku. Pikirnya aku akan lari ketakutan atau jantungan. Tidak Lauren.
"Are you crazy? BOY" Cibirku menegaskan kata Cowok. Ku harap dia waras. Tapi tidak dia malah menertawakan wajahku yang kesal. Langsung saja ku lempar pakaian kotorku di wajahnya. Dia pun masih tertawa.
"I'm so sorry Vrij" (Vrij \= Cantik) katanya sembari menaik turunkan kedua alisnya. Jail.
"Edan" kataku pasrah kemudian merapikan laptopku. Akhirnya Lauren berhenti tertawa dan menyuruhku bersiap-siap, sambil tersenyum manis. Seandainya saja dia bukan saudara jauh ku sudah ku jadikan teman. Teman hidup maksudnya. Tapi dia terlalu konyol untuk menjadi teman hidup.
Di dalam mobil aku hanya terdiam mengamati aktivitas di kota ini yang tidak terlalu sibuk mengingat ini adalah musim gugur. Atau mungkin tidak juga. Kebanyakan dari warga membersihkan halaman mereka karena daun-daun yang berguguran. Mereka merapihkannya dengan garpu tanah dan sapu, dikumpulkan dalam satu tempat dan memasukkannya ke dalam kantong sampah. Mungkin akan mereka olah menjadi pupuk organik.
Aku, Kirana dan juga kedua orangtua ku satu mobil bersama Grandma dan Albert sepupuku. Dia cukup menarik tapi sayang cukup pendiam juga, mungkin dia bingung bagaimana caranya mengobrol dengan Ku dan Kirana. Jangan lupa kami terbatas dalam berbicara bahasa Belanda. Khususnya aku.
Tiba-tiba seseorang yang ku amati kemarin melintas di samping mobil kami dengan Volvo hitam mengkilapnya saat terkena terpaan mentari. Fransiskus Frederick. Dengan tuksedo hitamnya dan kemeja putih didalamnya dengan dasi kupu-kupu hitam sebagai pemanisnya sedang fokus memperhatikan jalan. Kurasa dia juga sedang bersama keluarganya. Saat berpapasan kami tak sengaja bertatapan, mata hitam kopinya yang teduh mencair seperti es dalam mata cokelat terangku.
Kurasakan tatapan terluka yang dalam dari sorot matanya yang sehitam kopi itu. Oh Tuhan. Ada apa dengan dirinya? Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya. Debar itu kembali saat kami tanpa sengaja bertatapan. Ku paling kan wajahku sebelum kepanikan mengguncang jiwaku. Aku sudah menguburnya dalam sekali disudut hatiku. Tapi semesta memaksaku mengeluarkannya dan membiarkan dirinya berkeliaran lagi dalam hidupku.
"Ini Gila" kataku yang mulai panik, membuat semua orang mau tidak mau menatapku. Dan tanpa sadar kami sudah tiba di pemakaman kota.
"Yaudah ayuk turun. Grandma udah nunggu kita" kata ibuku lagi. Aku pun hanya mengangguk dan turun dari mobil mengikuti ibuku.
Acara pemakaman berjalan membosankan. Semua orang dirundung kesedihan yang mendalam. Bisa ku lihat derai airmata dari para pelayat terlebih keluarga yang ditinggalkan. Ku amati satu persatu para pelayat. Oh tidak. Dia..
Mataku rasanya ingin menggelinding keluar saat ku dapati sosok yang membuatku berdebar aneh setiap melihat dirinya. Frans.. Dia disini, di pemakaman yang sama denganku. Tapi tunggu ada yang aneh, dia terlihat sangat terpukul dan terpuruk. Itu terlihat jelas di matanya. Kemudian seseorang memeluknya dari samping, sosok seperti ibuku. Mungkin ibu nya.
Jadi ini pemakaman siapa? Keluargannya? Atau pacarnya?
Batinku penasaran. Ingat kata pacar, hatiku sedikit tersentil. Ku amati batu nisan itu dan membaca namanya. Tertulis nama yang cantik Caramel Jesseline. Ku pandangi pemakaman itu kemudian Frans, kembali ke pemakaman itu dan Frans ku ulangi sekali lagi. Tapi tetap aku tidak menemukan jawabannya. Sadar sedang ku amati iris kopi itu menemukan ku dan aku membeku ditempat merasa malu karena ketahuan memperhatikannya sedari tadi.
Selesai acara pemakaman. Aku diperkenalkan kepada keluarga yang sedang berduka oleh Grandma. Lebih tepatnya keluarga Caramel Jesseline. Ku perhatikan dirinya masih disana, memandangi nissan itu tanpa sedikitpun ingin beranjak.
"Oma, kan ik daarheen gaan?" (Grandma, boleh aku kesana?) Kataku sembari menunjuk seseorang.
"Ik betwijfel of je me hier met rust laat" (Aku ragu kalau kau akan meninggalkanku sendiri disini) jawab Grandma yang tak rela sama sekali aku beranjak darinya.
"Ik wil mijn vriend ontmoeten" (Aku ingin menemui temanku) kataku lagi, kulihat kerutan dikeningnya dalam. Aku pun memutar bola mataku.
"Slechts een minuut" (sebentar saja) tambahku. Berharap diijinkan oleh Grandma.
"Nou ja, goed. Blijf niet bij mij vandaan, liefje" ( Well, baiklah. Jangan jauh-jauh dariku sayang) kata Grandma mengiringi langkahku yang ingin menghampiri dirinya.
__ADS_1
Ku beranikan diri melangkah menghampirinya. Walau sulit rasanya aku melangkah seakan ada berton-ton batu yang menahan kedua kaki ku dan panik pun mulai menyerangku. Ku hentikan langkahku sebentar dan meneguk saliva ku sebelum semakin melangkah lebih dekat kearahnya.
"Frans.." kataku yang hampir menyerupai bisikan. Dengan tangan lemah aku menyentuh pundaknya yang kokoh tapi terasa dingin. Ia pun menoleh kearah ku.
Mata hitam kopinya yang sendu kini jatuh tepat pada iris mataku. Aku kalah, aku menyerah membiarkan dirinya berkeliaran lagi dalam hidupku. Aku tidak yakin apa namanya.. Ku rasa ini jatuh cinta. Tapi bukan cinta yang baru. Sebab hadirnya adalah bayang masa lalu.
3 Hari setelahnya..
Tatapannya meneduhkan. Aku ingin berada disana, di sepasang matanya yang indah itu. Aku ingin hidup disepasang matanya, mengikuti setiap detik dirinya melihat, memastikan tak ada air jatuh dari kedua matanya yang teduh.
Aku takkan rela bila tangis membasahi wajahnya. Biarlah aku yang menjadi sapu tangannya meski bukan bahu ku yang menjadi tempat bersandarnya. Jika tangisnya adalah karena bahagia dan air matanya merupakan lautan, aku rela untuk ditenggelamkan.
Lamunan ku berubah menjadi shock saat sebuah bayangan menyadarkanku. Tepat didepan ku sosoknya begitu jelas dengan senyum manis yang masih sama. Sama seperti dulu. Dengan sabar menunggu kata-kata yang keluar dari bibirku.
Kami sedang pergi keluar bersama. Entahlah semacam kencan, meet up atau reuni. Aku tidak peduli. Di coffee shop sebelah barat jalan kota Netherland ini aku dan Frans bertemu. Oh tidak, tentu saja sebuah pertemuan yang disengaja. Sejak kejadian di pemakaman itu, dia membutuhkan teman untuk berbicara.
"Jadi bagaimana kabar lo.. Kak?" Mengulangi pertanyaannya dengan ragu dan canggung.
"Hm.. Gue.. Gue baik" jawabku terbata. Sungguh memalukan. Dimana keberanianmu Calista?
"Sepertinya memang baik" katanya masih tersenyum kepadaku. Dan dirinya terus membuatku ikut larut dalam obrolan ringan kami. Mulai dari kenapa aku bisa disini sampai kapan aku Graduation.
Selamat datang kembali rindu yang menyesakkan dada. Terimakasih sudah kembali bertamu..
Batinku ngilu. Aku sering mengucapkan kalimat itu setiap kali teringat tentang dirinya. Semacam kata sambutan untuk rindu yang datang tanpa sebuah undangan. Ku akui caranya bertamu cukup baik, tapi seringkali membawakan ku sebuah hadiah yang selalu membuatku ingin menikmatinya sendiri.
"Jadi lo mau jelasin kenapa lo bisa ada disini?" Tanyaku penasaran. Dengan sabar aku menunggu sebuah jawaban darinya. Namun aku harus kecewa karena dia hanya diam mematung.
Mungkin dia belum bisa cerita Lis. Sabar.
Batinku menenangkan. Ku perhatikan mimik wajahnya yang berubah menjadi sendu, seketika itu juga rasa bersalah melingkupi ku.
"Sorry. Pertanyaan gue ada yang salah ya?" Kataku penuh sesal.
Ku dengar tarikan nafas dan hembusan nafasnya yang berat. Sebelum menjawab pertanyaanku tadi.
"Gue disini mau ketemu seseorang. Seseorang yang membawa warna dalam hidup gue" ucapnya dengan suara bergetar tapi ditahannya.
"Frans.. Maaf gue gak mak-" ucapanku terpotong oleh ceritanya lagi.
"Tapi hari itu gak pernah ada lagi buat gue kak. Gue kehilangan dia. Untuk kedua kalinya, gue kehilangan orang yang membuat gue hidup" sambungnya dengan suara parau.
Aku mematung dikursiku, mendengar cerita yang dibeberkan olehnya. Sungguh, Hatiku pedih melihatnya rapuh seperti ini.
"Seseorang itu yang beberapa hari lalu lo kunjungi kak. Tepat dimana takdir mempertemukan kita lagi" ucapannya seperti lonceng dilorong yang sepi dan gelap dengan pencahayaan yang kurang.
Jadi pemakaman itu..
__ADS_1
...Happy Reading guys 😆 ...