THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Kamu Harus Bisa Memaafkannya


__ADS_3

...Aku pernah bangkit dan pulih dengan kuatku sendiri. Aku tak ingin merasakan jatuh yang berulang pada segala hal yang bernama kan 'Persahabatan'. Kau tau? Butuh waktu lama untuk bangkit dan pulih. Memaafkan, semua orang bisa melakukannya. Tapi melupakan? Aku rasa hanya orang-orang tangguh yang mampu melakukannya. Luka bisa sembuh tapi tindakan? Membekas dan melebur dalam...


...sebuah ingatan....


...*** ...


Awan kelabu menggantung di langit-langit ibukota. Hiruk pikuk kota selalu menjadi hiburan tersendiri bagi penikmatnya. Bisa dilihat orang-orang yang menjajakan koran pagi juga tak lupa orang-orang yang menjajakan dagangannya ditengah-tengah kemacetan setiap paginya. Bunyi-bunyi klakson yang bersahutan dan makian orang-orang yang tidak sabar menunggu.


Puas dengan hiburan yang sedang terpampang di depan mata aku pun tak luput juga menikmati alunan musik ringan bergenre jazz didalam mobilku. Tau tidak? Kadang kita perlu sedikit menikmati hidup, bisa juga dibilang bersantai sedikit mengendurkan otot-otot yang tegang akibat terlalu serius dalam menjalaninya.


Lihat saja kota ini pagi harinya banyak orang sibuk yang dikejar waktu dan apa yang mereka kejar? Tidak lain, tidak bukan adalah 'Materi' dan jika mereka sudah mendapatkan? Apakah mereka punya waktu untuk dirinya sendiri? Kenapa mereka selalu mengejar waktu untuk mengumpulkan materi? Apakah mereka tidak takut justru mereka memperbudak dirinya sendiri untuk terus mengumpulkan materi?


Entahlah, menurutku semua orang butuh materi. Itu memang benar, tapi apakah setelah mendapatkan materi hidup kita akan selalu bahagia? Damai? Aku rasa tidak. Bahagia tidak selalu berbicara tentang materi. Memang dengan materi semua hal di dunia ini bisa kita miliki, apa itu cukup? Manusia tidak akan pernah puas, ingat. Bahagia juga tak bisa diukur dengan seberapa banyak materi yang kamu miliki. Apalagi merasa 'Damai'.


Kau tau tidak? Banyak orang yang sibuk mengumpulkan materi sampai lupa memperhatikan hal kecil, yaitu kesehatannya sendiri sehingga percuma saja kalau kita bekerja keras mengumpulkan materi dan pada akhirnya hanya untuk membuangnya kerumah sakit karena ulah kita sendiri. Untuk apa semua itu?


Setelah cukup lama berpacu dengan waktu dijalan raya akhirnya aku tiba dikampus. Hari ini aku tidak bersama Aldira karena semalam aku menginap dirumah Anggia jadi aku dan Aldira pergi masing-masing ke kampus, beruntungnya Aldira mengerti.


Ku seret kakiku lemas berjalan melewati lorong yang agak sepi dengan sesekali menguap. Dan sialnya aku berpapasan dengan Axel. Aku sedang tidak ingin berdebat dengannya.


"Calista? Gue minta maaf.." ucapnya tulus. Sayangnya aku masih kecewa dengannya, karena apa? Karena dia mempermainkan perasaan seseorang.


"Lis, gue sungguh-sungguh minta ma-" belum sempat ia melanjutkan permintaan maaf nya langsung ku potong.


"Xel, lo tau kan ada kata-kata 'Kesempatan kedua' itu ada? Tapi buat gue percuma aja ada kesempatan kedua kalau lo akan ngelakuin hal yang sama suatu hari nanti" Kataku sembari berjalan melewatinya dan berhenti sebentar sebelum masuk ke dalam kelas dan menoleh kearah Axel.


"Jangan minta maaf sama gue. Gue emang kecewa sama lo tapi bukan hati gue yang lo patahin. Jadi maaf lo ga berlaku" tambahku lalu menghilang masuk ke kelas.


Berhadapan dengan Axel membuat moodku hancur hari ini. Ku perhatikan keempat sahabatku sudah berkumpul dipojokkan. Sepertinya ada hal serius yang mereka bicarakan. Well, aku menaruh tas ku di kursi tidak jauh dari meja dosen dan menarik bangku dekat mereka dan masuk dalam pembicaraan mereka.


"Berhubung kita udah lengkap, kita mulai aja ya jujur-jujurannya" Kata Fellicia memulai. Beruntung aku datang tepat waktu. Kemudian Fellicia memutar sebuah pensil dan pencil itu berhenti pada Aldira dan itu tandanya Aldira duluan yang harus siap menerima saat kami mencurahkan unek-unek kami. Apa yang tidak kami sukai dari masing-masing kami.


"Yang gak gue suka dari lo Dir, lo tuh terlalu baik sama orang" ucap Fellicia yang memulai menumpahkan unek-uneknya.


"Bener. Jangan terlalu baik sama orang, bisa-bisa lo di manfaatkan Dir" tegas Ivanna.


"Menurut gue, baik itu boleh-boleh aja Dir tapi jangan mau di bodoh-bodohin sama orang. Terlalu baik membuat orang semena-mena sama lo" sahutku yang berapi-api.


"Nah, bener tuh Dir. Lo juga harus belajar bilang 'Enggak' sama orang yang menurut lo memanfaatkan lo" tambah Jihan. Dan begitulah satu hari ini dihabiskan dengan saling terbuka.


Tapi sayangnya setelah terbuka dan mengetahui kelemahan serta kekurangan masing-masing, hal itu tak cukup untuk mempertahankan bahkan memperbaiki persahabatan kami berlima. Tetap saja ada retak yang tanpa kami sadari dan pastinya retak itu tak terlihat bila hanya dilihat dengan begitu saja. Aku cukup paham dan mengerti dengan alasan mengapa Fellicia memutuskan untuk tidak berhubungan lebih dekat lagi dengan kami.


Hal seperti ini yang paling ku benci. Aku pernah bangkit dan pulih dengan kuatku sendiri. Aku tak ingin merasakan jatuh yang berulang pada segala hal yang bernama kan 'Persahabatan'. Kau tau? Butuh waktu lama untuk bangkit dan pulih. Memaafkan, semua orang bisa melakukannya. Tapi melupakan? Aku rasa hanya orang-orang tangguh yang mampu melakukannya. Luka bisa sembuh tapi tindakan? Membekas dan melebur dalam sebuah ingatan.


Pernah sesekali aku bergerak maju tanpa sebuah ingatan. Bodoh rasanya berjalan tanpa mengingat, rasanya seperti berjalan di awang-awang tak tau arah tujuan. Bagaimana aku bisa bangkit setelah tau rasanya jatuh? Tidak ada yang akan baik-baik saja pada saat terluka. Aku butuh waktu lama menahan sesak dan perih yang menggerogoti secara bersamaan sehingga membuatku meraung seperti orang sinting.


Setelahnya aku memasang topeng munafik seolah-olah aku adalah orang yang tak punya beban hidup didunia ini. Aku tertawa lepas, aku tersenyum ceria, bercerita sesuatu hal dengan nada bersemangat seperti biasanya hanya untuk menyembunyikan sebuah luka.


Hari demi hari berganti, minggu bertemu dengan minggu selama empat kali dalam sebulan. Kami berlima semakin retak, tapi masih ada hal yang patut di syukuri masih ada aku, Aldira, Jihan juga Ivanna yang masih bersama saling menguatkan satu sama lain. Dan hubunganku dengan Axel masih renggang. Bagian terbaiknya adalah aku tidak benar-benar kehilangan sahabatku yang lainnya. Anggia Yunifa.


Aku hanya tak habis pikir pada takdir. Untuk kesekian kalinya aku tersandung hingga jatuh dan lagi-lagi batu itu adalah 'Persahabatan' dimana seharusnya ia menjadi tempat bersandar bukan sesuatu yang bisa mengecewakan. Lalu bagaimana caranya aku bangkit kembali setelah butuh waktu lama untuk benar-benar pulih.

__ADS_1


"Aldira?" Suaraku memecah keheningan di dalam mobil. Beberapa minggu setelah kejadian yang tak ada penyebabnya aku dan Aldira lebih sering menghabiskan waktu bersama.


"Kenapa Lis?" Jawabnya yang masih fokus pada jalan.


"Kenapa ya lebih sakit sahabat sendiri dibanding orang lain?" Ucapku dengan kata-kata ambigu. Aldira hanya menaikkan sebelah alisnya yang rapi sembari melirikku yang sedari tadi memperhatikan jalan.


"Karena orang yang lebih tau kita itu juga tau kelemahan kita" jawab Aldira setahunya.


"Lo salah Dir. Orang yang kayak gitu gak pernah tau bentuk syukur itu seperti apa" jawabku yang masih memandangi luar jendela.


"Lis? Dia lagi masuk rumah sakit, udah hampir 3 minggu dirawat dan temen-temen kita yang lebih dekat sama dia belum ada satupun yang jenguk.." sebelum Aldira melanjutkan dia pun melirikku.


"Lo mau, kita jenguk.. Daisy sama-sama?" Kata-kata itu pun lolos dari bibir Aldira. Aku pun menoleh dengan gerakan lambat, berusaha mencerna satu persatu ucapan Aldira.


"Dari mana lo tau dia dirawat?" Tanyaku dengan nada gerah sembari mengutuk Aldira yang menyebutkan nama seseorang yang pernah seperti dirinya dalam hidupku. Sayangnya dia melukaiku tanpa sadar.


"Dari sosmednya" jawab Aldira dan kembali fokus pada jalanan. Hari ini kami ingin menghabiskan waktu bersama, begitu banyak hal yang terjadi dalam hari-hari kami.


Selang beberapa menit kami tiba disalah satu cafe dan resto didaerah tebet. Bisa dibilang kami hobi berwisata kuliner seperti ini dibandingkan mengelilingi pusat perbelanjaan selama berjam-jam untuk membandingkan harga atau hanya sekedar memanjakan mata.


Aldira dan aku punya taste yang sama saat memilih tempat. Jadi disinilah kami didalam ruangan bernuansa klasik dengan ruangan berwarna putih pucat di tambah perabotan-perabotan cantik terbuat dari kayu jati dan pohon ek yang tentunya kokoh sampai berabad-abad dan harum.


Aku dan Aldira duduk di salah satu sudut ruangan yang terdapat disebelah jendela yang kacanya transparan sehingga langsung mengeksplore ruangan out door imitasi yang nampak asli dan segar dibalik kaca ini.


Setelah memesan pada menu dan memberikan pesanan kami pada pramusaji yang ada didalam cafe ini, kami pun saling berdiam diri sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah, apa ini ide konyol atau memang nasib sialku yang kesekian kalinya sedang menunggu.


Aku yang resah dan gemas tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, akhirnya diriku sudah membulatkan tekad untuk bertanya. Ku gigit perlahan bibir bawahku karena gugup sebelum bertanya pada Aldira. Tapi kedatangan pramusaji dengan pesanan kami membuatku mengurungkan niat.


"Makasih ya Dir?" kataku disela-sela kami menyantap makanan kami.


"Untuk ?" Tanyanya sembari menatapku dengan wajah polosnya.


"Selalu disamping gue meskipun lo tau keburukan gue, lo juga gak pernah ngambil keuntungan apapun dari gue, lo tau semua tentang gue bahkan sampai hal yang seharusnya gak gue share. Disaat banyak orang diluar sana ngomongin hal yang gak mereka tau kebenarannya tentang gue, lo dengan repot-repot datang ngulurin tangan lo dan percaya sama gue.." kataku sembari menahan sesuatu dipeluk mata.


Aldira membeku ditempatnya menatap nanar kearah ku. Aku tau ini hal memalukan yang seharusnya tidak perlu dibahas, aku juga orang yang menolak keras untuk dikasihani tapi bukan berarti aku terlalu kuat untuk memikul kesedihan seorang diri. Tidak. Aku juga manusia biasa, butuh seseorang untuk berbagi, butuh tempat untuk bersandar.


"Lo tau kenapa Tuhan kasih lo ujian-ujian yang sulit? Itu karena Tuhan tau lo bukan manusia lemah List. Gue juga gak tau kenapa Tuhan memberikan lo dalam hidup gue sebagai seorang sahabat. Tapi gue percaya Tuhan gak pernah salah memberikan orang-orang terbaik dalam hidup kita. Lo juga tau kan semua orang dalam hidup kita bisa datang dan pergi sesuka hati, bahkan perginya ada yang sampai meninggalkan bekas luka. Tapi beberapa orang akan menetap List, entah itu sebagai sahabat atau teman hidup" Tutur Aldira lembut sembari tersenyum manis.


Ah, bersama Aldira aku merasa persahabatan kami banyak bertumbuh dalam hal apapun. Bahkan kami tidak menyadari bahwa kami semakin bertumbuh dewasa dalam segi pemikiran. Aku sangat bersyukur mempunyai Aldira sebagai sahabat, dia selalu keras jika ada hal-hal yang salah dalam persahabatan kami, membuat kami juga saling belajar menginstrospeksi diri.


Selesai menghabiskan pesanan kami dalam diam dengan pikiran kami masing-masing kami pun berusaha mencari topik ringan untuk dibicarakan. Demi mencairnya suasana disekitar kami.


"Jadi lo udah tau siapa Mr. X yang selama ini neror lo?" Tanya Aldira seraya menyesap cappucino nya.


"Udah. Lo tau mantan gue, adiknya kak Thomas kakak kelas kita gak?" Ucapku seraya mengingatkan Aldira tentang seseorang.


"Kak Thomas siapa?" Tanyanya dengan kerutan dalam didahinya.


"Kak Thomas pacarnya Kak Olivia Xander, kakak kelas kita yang mungil dan cantiknya full itu loh" kataku geregetan. Dan Aldira hanya membeo.


"Terus kenapa?" Tanyanya lagi dengan wajah polos. Ingin rasanya mengetuk dahinya dengan sendok es krim.

__ADS_1


"Ya, lo tau gak? Adiknya itu namanya Fransiskus Frederick, yang biasanya gue panggil 'Frans' inget gak lo?" Kataku kesal sembari mencebikan bibirku.


"Oh.. Iyaaa sekarang gue baru inget. Yang waktu lo kelas X doi kelas VIII" Jawab Aldira dibarengi dengan tawa geli pada hal yang baru saja dia ucapkan.


"Gak usah kenceng-kenceng kali. Berasa tua banget gue kalo inget masa lalu" Cibirku menjawab pernyataannya.


"Terus kok lo bisa berhubungan lagi? Agas tau?" Tanya Aldira penasaran.


"Hmmm ini rumit. Gue sendiri gak pernah tau kenapa dia hadir lagi dalam hidup gue, seperti 'Ketidaksengajaan yang Disengajakan' seperti itu mungkin teorinya. Kalau soal Agas, entahlah dia gak akan pernah mau membagi. Maksudnya lihat saja saat gue menghabiskan waktu bersama kalian ada saja hal yang diributkan, seolah dia tidak mau membagi perhatian gue sekalipun mungkin orang tua gue.." kataku menjeda ucapanku sebentar menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Bagian terparahnya mungkin nyawa gue yang akan jadi jaminannya kalau Agas tau, Dir" tambahku tersenyum miris.


"Semua akan baik-baik aja Lis" kata Aldira menggenggam tanganku meyakinkan.


"Jadi kapan kita jenguk Daisy?" Kataku akhirnya, Aldira membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ku ucapkan. Betapa tidak sedari tadi kami menghindari topik yang sensitif itu.


****


Bau obat-obatan menguar diudara menusuk indra penciumanku. Aku dan Aldira sedang duduk diruang tunggu rumah sakit. Seharusnya aku tidak mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu beberapa jam yang lalu membuat kami sudah berada ditempat ini.


"Dir? Pulang aja yuk? Gue gak yakin gue bisa" kataku merengek padanya seperti anak kecil.


"Lis? Sekarang atau enggak sama sekali" jawab Aldira tegas.


"Tapi gue takut gak bisa ngendaliin diri kalau berhadapan sama dia" kataku lagi dengan gelisah.


"Lis, mau sampai kapan lo tunda? Gue tau kata maaf nanti gak bisa balikin semuanya ke keadaan semula tapi seenggaknya lo jangan nyakitin diri lo sendiri dengan benci sama dia. Terus menerus" cuap Aldira yang menggenggam tanganku untuk menyalurkan energi positif yang menenangkan.


Diiringi suara derap langkah kami memasuki kamar pasien saat jam besuk dibuka kembali. Di kamar Flamboyan ini seorang gadis tengah dicek keadaannya oleh pasien. Mataku berpendar ke segala arah sampai pada selang infus yang terpasang, sebelum mata kami saling bertemu.


Mata itu sendu sekaligus lemah saat ini. Aku sangat mengenalinya. Beberapa tahun menjadi teman berbaginya, tidak sulit untuk memahaminya. Aku hanya tak habis pikir saja, apa dia tidak tau kalau bahagia itu juga punya batasan? Seperti, jangan merebut kebahagian orang lain misalnya. Dan saat mata kami bertemu binar mata itu redup seketika. Berganti sorot penyesalan yang dalam tapi tertutupi dengan ego.


"Hai. Aldira, Calista" Sapanya dengan senyum lemah dalam posisi duduk bersandar pada bantal yang melapisi kepala ranjang.


"Hai, sy" jawab Aldira tersenyum sembari menaruh buah diatas nakas.


Aku hanya tersenyum dan berjalan perlahan kearahnya mengikuti Aldira. Rasanya aku ingin pulang. Seperti terjebak disaat hujan badai kau tau? Dulu aku akan sangat senang bisa menghabiskan waktu bersamanya seperti bersama Aldira. Dia teman kedua ku setelah Angelina waktu kami duduk disekolah menengah pertama. Aku suka saat dia menyuruhku menginap bila orangtuanya ke luar kota. Kami punya banyak hal yang bisa dinikmati saat aku menginap di rumahnya. Orangtuanya juga sangat dekat denganku, bahkan saat mereka pergi bersama tak jarang Daisy akan merengek agar aku ikut pergi bersamanya.


Lo bisa Lis. Minta maaf duluan itu lebih baik, walaupun mungkin itu memang pure bukan salah lo.


Batinku berperang dengan ego ku saat ini. Mana yang seharusnya ku lakukan. Ku paksa otakku berpikir, saat ini yang ku butuhkan lebih dulu, logika atau perasaan? Kalau aku memilih logika, untuk apa aku memaafkan orang seperti dirinya yang jelas-jelas mengecewakan. Sangat. Tapi jika aku menggunakan perasaan? Aku seperti seseorang yang lemah, hatiku yang sekeras batu hancur melihat keadaannya selemah ini.


"Maafin gue ya? Buat hal-hal yang mungkin bikin lo stress" kataku yang refleks membuat kami saling berpelukan. Entah berapa lama kami seperti ini, sampai air mata kami tak bisa di bendung lagi.


"Gue juga minta maaf atas sikap gue yang ngebuat lo ngejauh dan tanpa sadar hubungan kita retak seperti cermin. Bahkan cermin itu udah pecah" katanya lagi yang terisak dalam pelukanku. Aldira yang hanya melihat kami seperti ini juga meneteskan airmata dengan senyum merekah dibibirnya.


Pada saat kita memilih untuk memaafkan, suatu prinsip yang mengagumkan langsung bekerja. Kalau kita berubah, orang lain pun sudah pasti juga berubah. Begitu kita mengubah sikap kita terhadap orang lain, mereka pun merubah sikap mereka. Bagaimana pun juga, pada saat kita mengubah cara pandang kita, orang lain menanggapi berubahnya harapan-harapan kita.


Kamu harus bisa memaafkannya walaupun sulit. Karena kalau tidak, kamu sendiri yang akan menderita..


Happy Reading..

__ADS_1


__ADS_2