
...I Love you.. Without knowing...
...How, Why, or even from Where....
...- Patch Adams (1998) -...
...***...
Segurat fajar membelah langit di pagi hari yang berembun, angin bertiup membawa aroma yang ku suka. Rumput dan pepohonan basah yang menguar di udara, hujan telah meninggalkan jejaknya semalam saat lelap menyelimuti. Kuregangkan otot-ototku saat berada di balkon kamar, menghirup rakus udara pagi ini seakan tak ingin menyia-nyiakannya.
Teringat jadwal hari ini yang akan aku habiskan berlibur bersama Agas. Setidaknya ada minggu tenang sebelum kami benar-benar sibuk dan mungkin sama sekali tidak punya waktu luang yang bisa kami gunakan untuk pergi bersama.
Pantai. Hal yang selalu ku ingat dari kemarin sepulang Agas menjemputku. Membayangkan kaki ku menyentuh butiran halus pasir krem kecoklatan, suara deburan ombak yang bergulung-gulung dan menabrak batu karang, merasakan sejuknya air laut yang menyapu pasir saat mengenai kaki ku, semilir angin pantai yang membelai wajahku dan memainkan rambutku tak lupa dengan semburat senjanya yang sempurna menjadi hal yang sangat indah bahkan takkan terlupakan.
Selesai mengemasi barang-barangku, aku pun bergegas mandi sebelum Agas mengoceh dan menggeram marah. Hal yang selalu Agas lakukan saat ia tidak suka dibuat menunggu. Tak butuh waktu lama untuk membersihkan diri aku pun mengganti pakaianku dengan pakaian santai pastinya sudah ku sesuaikan untuk di pakai ke pantai.
Saking bersemangatnya aku sampai lupa mengabari Agas jika aku sudah siap. Rencana ku ke pantai bersama Agas sudah mendapatkan izin dari kedua orangtua kami tapi sayangnya kami harus berbohong dengan siapa kami pergi. Kami tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Ayah, Ibu.. Maafin Calista
Bisikku sebelum menutup pintu rumah dan menitipkan rumah kepada mbok Surti. Kemudian aku menghubungi Agas untuk segera menjemputku. Tak butuh waktu lama sebuah pajero hitam memasuki pekarangan rumahku. Aku yakin sekali sang empunya adalah sosok laki-laki yang selalu membuat jantungku tidak pada normalnya.
Ia pun turun dari pajeronya dan berjalan ke arahku sembari melemparkan senyuman bak mentari di pagi hari. Hangat.
Cup
"Kiss morning" aku pun terkejut dibuatnya yang tiba-tiba saja mendaratkan bibirnya pada bibirku. Beruntung aku bisa menguasai diriku kembali sebelum wajahku seperti tomat.
"Agas!!!" Kesalku dengan tindakannya barusan. Pagi-pagi sudah mesum. Ingin sekali rasanya mengumpati dirinya.
__ADS_1
Ia pun hanya terkekeh melihat ekspresi ku yang salah tingkah seperti ini "Sudah siap? Ayo berangkat" katanya lagi saat melirik tas ranselku dan sebuah topi bulat lebar berwarna kuning pucat yang ku genggam.
Aku pun hanya menganggukkan kepala. Agas mengambil alih ranselku dan membawanya ke dalam bagasi kemudian menutupnya dan menyusulku memasuki mobilnya.
"Kita sama siapa aja ke pantainya?" Tanyaku ke arahnya yang sedang menghidupkan mesin mobil.
"Sama teman-teman aku, kamu udah kenal mereka semua kan? Aku harap kamu nyaman dengan mereka" aku hanya membeo membentuk huruf O pada bibirku bersamaan dengan mobilnya yang meninggalkan pekarangan rumahku.
Hal yang tidak bisa aku terima adalah bahwa Agas tidak pernah bisa mencoba akrab dengan teman-temanku, mengenal satu saja pun tidak karena ia tidak ada keinginan untuk berteman dengan teman-temanku. Padahal aku bisa membaur dengan teman-temannya. Samar ku hembuskan napas kecewa.
Mobil Agas melaju membelah kota jakarta. Kami bergerak menuju rumah temannya Agas, disana sudah ada beberapa orang yang akan ikut pergi berlibur bersama kami dan kalian tahu? Mereka semua membawa pasangan. Kebayangkan momen apa yang akan tercipta di pantai nanti, apalagi saat sunset tiba aku merinding membayangkannya.
"Hey. Lagi mikirin apa sih kamu? Kok melamun?" Lambaian tangan membuyarkan lamunanku.
"Eh.. enggak kok, cuma gak sabar aja mau liat sunset Gas" jawabku menyembunyikan ketidakwarasan otakku. Agas pun hanya tersenyum.
Satu setengah jam kemudian kami pun tiba di rumah salah satu teman Agas dekat dari terminal kampung rambutan. Yah hanya beberapa kilometer saja dari sana. Kami pun turun dan disambut dengan seorang gadis sepertiku dengan hijab yang melekat sempurna dengan wajah polos tanpa sapuan make up apapun. Sangat natural dan sederhana. Ia pun tersenyum dan mengajak kami masuk untuk ikut bergabung dengan yang lainnya.
Setelah berunding yang mengalami perdebatan kecil akhirnya kami sudah memutuskan siapa-siapa saja yang akan ikut bersama ku dan Agas juga Iqbal dan pasangannya Fauziah Elva. Aku suka memanggilnya Zeze, menurutku cukup simpel. Ada dua buah mobil beserta dua belas orang. Itu berarti satu mobil dihuni tiga pasangan, cukup lega dan efisien.
****
Selang beberapa jam, kami berhenti di sebuah masjid untuk sekedar beristirahat dulu sekaligus mengisi perut kami yang sudah meronta-ronta minta di isi. Kami sudah tiba di perbatasan jakarta dan tanggerang. Melihat bentangan halus pasir krem kecoklatan sampai berwarna putih di pinggiran jalan menandakan bahwa kami sudah tiba di tempat tujuan kami.
Awalnya kami berencana untuk ke anyer namun melihat kondisi yang ada kami membatalkan tujuan kami dan disinilah kami di pantai carita berpasir putih. Setelah selesai beristirahat, sholat dan mengisi perut kami. Kami melanjutkan kembali perjalanan kami menentukan tempat lokasi untuk memarkirkan kendaraan kami dan mengambil barang bawaan kami menuju bibir pantai.
Setelah dapat, kami pun dengan segera turun menuju bagasi mobil dan mempersiapkan barang bawaan kami. Aku mengoleskan sunblock keseluruh tangan dan kaki ku serta wajahku sebelum benar-benar bermain di pantai. Yang lain pun melakukan hal yang sama sepertiku. Pakaian yang ku kenakan membuatku cukup nyaman bergerak. Dengan kaos oblong longgar, celana pantai yang pendek serta sandal jepit yang menjadi penghias kaki ku.
Tanpa ba bi bu aku pun berlari menuju hamparan padang pasir yang tersapu air laut membuat Agas merengut kesal padaku yang mengabaikan teriakannya untuk berhati-hati.
__ADS_1
Ck. Memangnya aku anak kecil yang masih harus diawasi.
Sungutku kesal sembari menenteng sandal dan memegangi topiku agar tidak tertiup angin. Deburan ombak yang menggulung-gulung bertabrakan dengan batu karang menyapa kami saat tiba ditempat ini. Ku hirup rakus aroma basah bercampur garam yang terbawa oleh angin laut. Menenangkan. Hari ini tidak banyak pengunjung yang datang membuat kami tidak perlu cemas akan berdesakan dengan pengunjung lain untuk menikmati surga dunia ini.
Akupun mendaratkan pantatku di hamparan halus pasir berwarna krem kecoklatan. Membiarkan air laut yang terhempas ke bibir pantai menggelitik kaki ku. Senyum bahagia selalu terukir padaku sejak saat mentari menyapa. Kurasakan pergerakan seseorang dibelakangku.
"Kamu senang di sini Lis?" Bariton suara seseorang berbisik di telingaku membuat jantungku berdegub kencang.
Agas pun meluruskan kakinya mengapitku yang duduk ditengah kakinya yang terbuka lebar. Akupun memejamkan mataku saat Agas memeluk tubuhku dari belakang. Terpaan mentari sore tergantikan dengan hangat pelukannya, sepoi angin membuatku tak merasakan panas yang menyengat. Sejuk, itulah yang kurasakan.
Beberapa menit berdiam menikmati suasana di sekitar pantai Agas beranjak dari tempatnya mengajakku berjalan menyusuri sepanjang bibir pantai. Beberapa teman-teman Agas sudah asik dengan dunia mereka sendiri, begitupun kami. Ada juga yang berjalan-jalan menyusuri bibir pantai seperti kami.
Tapak kaki yang tercetak di atas butiran pasir membuat jejak kami terlihat sebelum air laut datang untuk menghapusnya. Jemari kami yang saling terpaut entah sejak kapan membuat kami merasakan perasaan yang meluap. Seperti jatuh cinta kembali, masih dengan perasaan yang sama dan untuk orang yang sama.
Shall I stay? Would it be a sin?
"Aku harap di waktu ini waktu berhenti berputar, Gas" ucapku seraya mengedarkan pandangan ke segala penjuru laut yang terbentang luas di depan mata.
Setelah lelah berjalan kami memilih berhenti dan duduk bersisian di hamparan pasir krem kecoklatan yang tersapu air laut.
"Aku harap kita adalah kata selamanya untuk kamu dan aku, Lis" kata Agas yang menatap hamparan air berwarna biru di depan mata.
Ku hembuskan napas lelah sebelum mengatakan sesuatu. "Setiap pertemuan pasti ada perpisahan Gas, entah berpisah karena menikah, entah berpisah hanya untuk menjadi pelajaran hidup" ucapku sembari tersenyum tulus masih menatap hamparan laut.
Agas pun menoleh padaku "Aku akan berhenti kalau kamu minta aku untuk berhenti" refleks aku pun menoleh padanya, ucapannya membuatku seperti tertusuk sebatang anak panah. Sakit.
"Sesayang itu kamu sama aku?"
"Seberharga itu kamu bagiku"
__ADS_1
Senjapun mulai menyapa menghapus guratan mentari di angkasa. Menutup hari ini dengan sempurna. Menikmati senja bersama orang yang sangat berarti dalam hidupmu adalah sebentuk rasa syukur yang tak dapat ditukar dengan apapun.
Happy Reading..