
...Seorang pria sejati itu yang dapat ...
...dipegang ucapannya ...
...Dan ...
...Seorang laki-laki yang baik dapat dilihat dari cara dia memperlakukan wanitanya....
...*** ...
Beberapa hari ini Axel dan Anggia semakin akrab bahkan bisa berjam-jam telponan. Ssssttt ini rahasia ya.. jadi waktu itu Anggia memutuskan membuka hatinya untuk Axel dan Axel pun juga berusaha untuk move on. Axel berharap Anggia bisa membuatnya move on dari masa lalu.
Senang rasanya jika semuanya berjalan sesuai dengan takdir. Masing-masing orang dipertemukan dengan bahagianya, biasanya sih datang dari peristiwa tak terduga dan siapa yang menyangka. Bumi ini bulat, ingat. Kemanapun kamu pergi kamu tidak akan pernah benar-benar pergi.
Hari ini tanggal 6 september. Sabtu yang teduh dikota Jakarta. Aku baru saja selesai mengemasi barang-barangku sebelum berangkat, jam satu dini hari ke negeri kincir angin. Entah hanya perasaan atau firasat, aku merasa hari ini semua orang yang ku kirimi pesan sedang sibuk. Entah itu Agas, Aldira, Diandra, Diana, Fellicia, Ivanna, Jihan, Anggia, Axel dan yang lainnya kenapa tak ada satupun pesan balasan dari mereka sih.
Buset dah ini pada terdampar di pulau semua atau di goa sih.
Gerutu ku kesal sendiri. Coba bayangkan beberapa jam lagi aku akan meninggalkan Jakarta, bukan untuk satu atau dua hari tapi seminggu. Dan mereka malah menghilang tanpa jejak. Daebak.
Kuputuskan untuk tidur beberapa jam agar tak kelelahan di bandara nanti. Berharap saja menghilangnya mereka semua pertanda sesuatu yang baik. Sebenarnya sih berharap sekali mereka terdampar di pulau yang tidak ada sinyal sama sekali, dimana lautannya di penuhi bermacam jenis hiu. Sayang sekali aku terlalu baik untuk berharap itu benar-benar terjadi.
5.00 PM.
"Sore tante!!!" Seru Fellicia, Aldira, Jihan juga Ivanna.
"Sore juga anak-anak. Ayuk masuk dulu" jawab Sonya, seraya menggiring mereka masuk ke dalam rumah.
"Calista, ada tante?" Aldira langsung bertanya tanpa ba bi bu.
"Ada tuh di kamarnya, lagi tidur. Kayaknya kecapean dari tadi tante perhatiin gelisah terus" jawab Sonya dengan raut wajah yang sulit terbaca.
Mereka berempat pun saling pandang seraya mendiskusikan sesuatu sebelum menjalankan rencana mereka. Kemudian fokus lagi kepada Sonya.
"Tante, besok kan ulang tahun Calista. Berhubung besok dia tidak ada di Indonesia, jadi kami mau memberikan kejutan nanti malam sebelum Calista berangkat tante." Jelas Fellicia yang mulai membeberkan rencana-rencana mereka kepada Sonya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mendiskusikan semua tahap-tahap rencana mereka, akhirnya Sonya pun ikut membantu mereka. Dan sore ini mereka akan membawa Calista mempersiapkan semuanya. Tentu saja mereka tidak sendiri menjalankan rencana.
Ditempat lain Agas sudah membooking satu teater dibioskop di daerah jakarta barat hanya untuk mempersembahkan sesuatu kepada orang yang sudah hampir 7 tahun bersamanya. Agas tidak sendirian tentunya, ada teman-teman kuliahnya, teman SMA mereka berdua juga teman-teman Calista walaupun tidak semuanya terlibat.
"Gimana? Udah siap semua belum? Eh jangan lupa buket bunga gue. Udah siap belum? Pokoknya nanti malem gue mau semuanya perfect" celoteh Agas bersemangat. Berharap usahanya tidak sia-sia.
"Weitsss. Santai bro. Tegang ya? Sampai lupa napas gitu lo." Ledek Sasena Iqbal Abimanyu. Salah satu teman dekat Agas di kampus.
"Gue berlebihan gak sih? Kok kayak berasa mau lamar anak orang yaaa?" Keluh Agas yang bernada khawatir. Khawatir rencananya tidak memuaskan. Maklumlah Agas bukan tipe cowok yang romantis.
"Gas? Yang namanya sayang itu gak harus ditunjukkan dengan kata-kata doang. Butuh usaha, perjuangan dan doa" ucapan Iqbal pun mampu membuat Agas kembali rileks dan melanjutkan persiapan mereka.
"Lo tau sendiri gue bukan tipe cowok romantis. Bahkan Calista sendiri sering ngeluh, makanya gue bingung harus bagaimana ngasih surprise yang gak akan pernah dia lupain, Bal." Keluh Agas lagi seraya menghembuskan napas hampa.
"Emang sih cowok itu yang di pegang kata-katanya Gas. Tapi menurut gue, cowok yang bener-bener cowok tuh di lihat dari cara dia memperlakukan wanitanya Gas. Sama seperti lo memperlakukan nyokap lo" kali ini Agas merasa terenyuh dengan ucapan Iqbal. Ya, seorang laki-laki yang baik dilihat dari cara dia memperlakukan wanitanya.
Malam pun tiba dengan senja yang mulai memudar. Langit pun tak sepekat sebelumnya dengan taburan cahaya yang berpendar dari ribuan bintang memenuhi angkasa. Angin pun berhembus membelai kulitku. Malam ini sebelum berangkat aku dan keempat sahabatku sedang mengantri tiket bioskop.
"Harus banget apa nonton disini?" Keluh ku yang kesal karena kelakuan mereka. Bagaimana tidak, jauh-jauh ke bioskop cuma buat nonton film yang banyak dramanya. Kalo gak mati endingnya ceweknya nikah sama orang lain dan sebagainya. Membosankan.
"Yaelah Lis timbang nonton, duduk, diem. Udah jangan berisik" cibir Aldira yang membuatku tambah kesal.
"Masalahnya kalo nonton doang kenapa tampilan kita kayak orang mau kondangan sih?" Gerutuku sembari mencebikan bibir.
"DIAAAMMM!!!" Teriak mereka bertiga serempak menyuruhku diam.
"Nih tiketnya, pegang satu-satu ya?" Kata Fellicia yang beberapa menit lalu mengantri tiket untuk kami.
"Loh. Kenapa ga sekalian aja nanti pas masuknya, kasih ke mbak nya" kata-kata ku dibalas oleh pelototan mereka berempat.
"Oke. Fine. I'm Shut up now." Cibirku sudah mulai menipis kesabarannya.
"Calista?" Panggil Ivanna gelisah.
"Apalagi sekarang?" Kataku yang sudah kesal tapi masih bisa ku tahan.
__ADS_1
"Temenin ke toilet dong. Udah kebelet banget sumpah" sembari menarik tanganku berlari menuju toilet wanita.
"Calista udah dibawa Ivanna ayook buruan kita masuk terus siap di posisi masing-masing." Aldira memerintah.
"Mbak, nanti kalo ada dua cewek yang salah satu namanya Calista. Langsung antar aja ya mbak ke bangkunya yang kemarin sudah dibooking teman saya. Atas nama Agas Cokrodinoto." Jelas Jihan kepada mbak penerima tiket bioskop. Setelah mereka memberikan arahan mereka pun masuk kedalam sesuai intruksi dari Agas tadi siang.
Di dalam teater dipadati oleh teman-teman, sahabat juga kerabat dekat Calista dan Agas. Semua yang ada didalam harap-harap cemas. Agas pun duduk paling pojok di seat A sayap paling kanan. Dengan rasa deg-degan, cemas, khawatir sampai keringat dingin ditempatnya.
Tak lama lampu bioskop pun mulai redup dan perlahan gelap gulita. Disaat layar belum di nyalakan, tepat sekali Calista dan Ivanna masuk diantar oleh petugas tiket dengan senter ke tempat duduk yang sudah ditentukan. Beruntung Calista tidak merasa curiga bahwa satu teater itu adalah orang-orang yang ada dalam hidupnya. Agas pun dapat bernafas sedikit lega karena hal itu.
Selama film diputar beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba saja layarnya mati kemudian hidup kembali tapi kali ini bukan film yang tadi mereka tonton melainkan film ucapan selamat ulang tahun yang kreatif juga gokil dari kerabat, sahabat dan semua teman-teman Calista.
Calista hanya mematung ditempatnya sembari menutup mulut dan tiba-tiba saja meneteskan air mata melihat video-video itu. Kemudian tersenyum dan tertawa dan kembali meneteskan airmata saat video ulang tahunnya yang ke 16 bersama Agas sampai ulang tahun mereka yang ke 21.
Lalu suara backsound itu berganti dengan suara Agas yang membacakan sebuah kata-kata manis untuknya.
Dia hadir ketika hatiku lelah dalam pencarian tempat yang tepat untuk aku singgahi. Dia hadir ketika aku butuh tempat untuk bersandar, merebahkan sisa kecewa oleh masa lalu. Dia hadir saat aku kehilangan kendali diri untuk berani memulai membentuk bahagiaku kembali.
Video itu berubah menjadi film pendek yang mengisahkan awal hubungan mereka. Calista pun masih terpaku pada layar dan semua orang yang ada ditempat itu.
Hadirnya membawa kesejukan beserta pelukan hangat. Berada di dekatnya aku merasa tenang. Aku tak pernah lagi merasa takut untuk terjatuh meski hal itu mungkin akan terjadi.
Diam-diam Agas berjalan menghampiri Calista yang masih mematung dikursinya. Dengan sebuket bunga mawar merah terselip dibelakang baju kemejanya yang digulung diatas siku.
Mencintainya adalah usaha mengikhlaskan masa lalu, memang takkan ada yang berjalan dengan sangat baik tanpa sedikit pun masalah.
Kemudian lampu pun menyala..
Tapi bersamanya, aku takkan pernah mudah untuk menyerah.
Sorak gembira bergemuruh begitu kata-kata Agas pada layar berakhir. Kemudian Agas berjalan menuju depan layar dan menghadap Calista. Sontak airmata pun pecah begitu saja dari calista. Dengan langkah gemetar Calista berjalan menuju Agas dan memeluk erat Agas seolah-olah dia sedang bermimpi.
"Selamat Ulang tahun Calista" bisik Agas sembari mengecup rambutnya.
Happy Reading guys 😄                              Â
__ADS_1