
...Sahabat terbaik tidak hanya ...
...menerima dirimu apa adanya, ...
...Tetapi juga mendukung kamu ...
...untuk menjadi yang seharusnya. ...
...*** ...
Sudah seminggu ini Ivanna tidak masuk kuliah. Ku dengar waktu aku tidak masuk dia juga tidak ada di kelas bahkan tidak terlihat dikampus. Jihan sangat mengkhawatirkan keadaannya, meskipun mereka satu kosan tapi kamar mereka terpisah. Ini yang membuat Jihan khawatir.
Katanya setiap Ivanna keluar kamar, matanya sembab dan sayu. Terlihat lingkaran hitam di sekitar area matanya. Siapa yang tidak panik melihat keadaan sahabat yang satunya ini sangat kacau. Rambutnya terkadang dibiarkan berantakan dan pandangannya pun nampak kosong saat di ajak bicara.
"Bisa gak sepulang kuliah nanti kita ke kosan gue dulu? Buat liat keadaan Ivanna. Gue takut dia stress atau kenapa-napa" rasa khawatir berlebih mendominasi pada auranya saat ini. Terlihat sekali dia tidak berbohong dan tulus. Sungguh mengkhawatirkan Ivanna.
"Emang bener, pas gue gak masuk dua hari lalu dia juga gak masuk?" Tanyaku penasaran pada berita yang ku dengar itu.
"Iyaaa" jawab mereka serempak. Akupun nampak berpikir, sebenarnya apa yang sedang dialami atau dihadapi oleh sahabat kami ini.
"Tapi sebelum itu gue mau nemuin dosen dulu ya? Kaprodi nanyain kabarnya Ivanna" terdengar hembusan nafas gugup saat Jihan mengatakannya.
"Sekalian aja cari tau sesuatu" kata Aldira menimpali. Aku dan Jihan saling pandang, apakah pikiran kami sama dengan Aldira?
Hari ini jadwal kuliah kami sangat padat selain pemberian materi. Ada diskusi kelompok, praktek, presentasi dan di lanjutkan dengan penambahan tugas individu. Lelah? Pasti. Namun mau bagaimana lagi? Itu semua memang harus dikerjakan tanpa mengeluh sebagai seorang mahasiswa. Apalagi satu setengah tahun lagi kami akan lebih sibuk dengan yang namanya skripsi sebagai tugas akhir Mahasiswa.
Setelah kuliah berakhir aku, Aldira, juga Jihan berjalan di lorong fakultas menuju ruang dosen untuk menemui bu Sari. Tapi berhubung hanya Jihan yang diperlukan akhirnya kami berdua menunggu Jihan diluar dengan rasa ingin tahu dan gelisah.
Selang beberapa menit Jihan pun keluar dari ruang dosen dengan raut wajah yang sulit dibaca. Membuatku frustasi, begitu besar rasa ingin tahu ku. Tapi semua itu ku telan kembali sebelum kami sampai ketempat parkiran. Kami berjalan dalam diam, tak ada satupun yang ingin membuka percakapan begitu juga aku.
"Kita bicaranya jangan disini ya?" Pinta Jihan, menginterupsi keheningan kami tadi.
"Yaudah ayuk masuk mobil gue" kataku menyalakan alarm mobil untuk membuka kunci pengaman otomatis. Kami pun bergerak menuju mobil brio putih.
Aroma cherry berbalut mint menguar saat pintu mobil terbuka dan kami duduk dengan nyaman. Kemudian aku menyalakan mesin mobil agar pendinginnya berfungsi. Beruntung aroma cherry berbalut mint ini membuat kami rileks.
"Jadi gimana Han? Nemu sesuatu?" Desak Aldira tak sabar. Membuat Jihan nampak berpikir sebelum membuka suaranya.
"Iya tadi bu Sari nanya, kenapa Ivanna gak masuk selama seminggu tanpa keterangan?" Jelas Jihan dengan kerutan di dahinya. Kami pun mendengarkan dengan seksama.
"Dia juga belum bayaran semester ini" tambah Jihan yang membuat kami membulatkan mata mendengar ucapannya barusan.
"Serius?" Pertanyaan macam apa yang ku lontarkan. Sudah jelas-jelas tadi Jihan bilang begitu.
"Terus? Kurang berapa?" Tanya Aldira masih penasaran.
"Sebenarnya gue kurang tau, tapi kalau gak salah dengar sekitar satu juta" aku dan Aldira lagi-lagi terkejut dengan ucapan Jihan.
"Kok bisa?" Tanyaku setengah berteriak tidak percaya.
"Lis, di dunia ini gak ada yang abadi. Roda kehidupan selalu berputar, kadang kita ada diatas besok belum tentu kita masih diatas. Sama halnya saat ini kita masih sehat, besok? Belum tau kan?" Benar. Ucapan Jihan memang benar. Manusia tidak pernah tau skenario apa yang sedang dirancang oleh sang pencipta untuk segala umatnya.
Kami pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan kami dan mulai melajukan kendaraan ku keluar dari area kampus menuju kosan Jihan dan Ivanna. Sesampainya di kosan mereka kami pun keluar dari dalam mobil, berjalan menuju gerbang kosan dan masuk ke dalam rumah itu. Jihan berhenti pada salah satu daun pintu yang memiliki hiasan nama dari papan kayu dengan tulisan Ivanna. Ya, kamar ini adalah kamarnya.
Kami pun mengetuk pintu kamar berulang kali tapi tak ada jawaban sama sekali. Saat kami mencoba membuka pintu tersebut, kami terkejut karena pintu dibiarkan tidak terkunci. Kami pun langsung masuk begitu saja, mengedarkan pandangan ke segala arah. Aroma nikotin dan tar merebak ditempat ini, barang-barang berantakan disana-sini seperti baru saja terkena gempa dahsyat. Akhirnya kami pun menemukan apa yang kami cari.
"Ivanna" beo kami serempak yang membuat tidur nyenyak gadis itu pun terusik. Ivanna pun membulatkan mata saat menyadari keberadaan kami. Dengan pandangan nanar ia pun tersenyum, senyum yang berbalut rasa putus asa. Aku bisa melihatnya.
Kami pun berlari menerjang kearahnya dan memeluk erat dirinya. Kami tau apa yang dia butuhkan saat ini, dia sedang terjatuh dan membutuhkan tangan-tangan yang siap membantunya untuk bangkit. Sekarang kami tau hal-hal terburuk dalam hidupnya. Dia bagaikan Dandelion yang bisa lebur seketika saat ini. Disela pelukan kami terdengar isak kecil yang kemudian berubah menjadi tangisan nyaring.
Hari itu Ivanna menceritakan semuanya pada kami apa yang sebenarnya terjadi. Tentang keluarganya yang sedang mengalami krisis ekonomi. Juga tentang Ayahnya yang sangat menentang keras dirinya berhubungan dengan pacarnya. Semua itu membuatnya merasa terpuruk.
Hal-hal terburuk bisa saja terjadi dalam hidup seseorang. Itu adalah bagian dari ujian, bagaimana kamu membuat kekurangan kamu bekerja. Karena manusia itu tidak diciptakan sempurna oleh-Nya, agar kita bisa terus belajar dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Jatuhlah untuk membuatmu lebih kuat disaat bangkit..
****
Teman-temanku telah mengajarkan sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari buku manapun. Mereka memberitahuku tentang hidup, cinta dan persahabatan. Sesuatu yang lama sekali hilang dariku sejak kejadian masa lalu yang tidak bisa ku lupakan. Melihat kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat, membuatku belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
"Lis? Tulisan lo bagus banget. Gak ada niatan untuk bikin buku gitu? Siapa tau kan lo bisa jadi penulis terkenal. Kayak siapa tuh? Boy Candra, Dwita Sari, Dee Lestari, sama siapa tuh satu lagi.. Teri? Tera? Te-"
"Tere Liye" kataku memotong ucapannya.
"Nah.. itu Tere Liye" jawab Anggia dengan kekehan, membuatku menggeleng kepala takjub karena tingkahnya yang ajaib. Aku penasaran seperti apa ya nanti laki-laki yang akan menjadi jodohnya?
"Mau nya sih gitu Gi, tapi masa sih? Tulisan sampah kayak gini bisa di jadiin buku?" Akupun tertawa pesimis pada ucapannya.
"Atau gak lo bikin novel tentang kisah hidup lo aja Lis. Itung-itung bisa jadi barang memori lo di masa depan nanti, kalau sampai diterbitin dan jadi bestseller, gue gak mau tau pokoknya lo harus tanda tanganin buku gue dulu" aku pun nampak berpikir kemudian melihat kembali tulisan-tulisanku pada layar laptopku.
"Lo yakin gue bisa jadi seorang penulis? Gue bingung harus mulai darimana, karena gue sendiri aja masih ragu apakah gue bisa?" Keluhku yang membuat Anggia cemberut.
"Hei. Ingat gak siapa yang selalu ada ketika gue atau temen-temen lo yang lain jatuh? Itu elo. Menggenggam tangan mereka supaya gak jatuh lagi? Dan lo selalu bilang 'gapapa lo ngerasain jatuh biar lo tau arti bangkit' juga ini 'Kalau mimpi itu jangan pas tidur tapi pas kita bangun supaya kita tau harus bagaimana untuk meraihnya' siapa yang selalu memotivasi kita? Semua itu elo, Calista" teng.. teng.. teng ucapan Anggia seperti lonceng yang berdentang keras memacu adrenalin ku dan membakar jiwaku.
Mimpi itu dikejar bukan dipendam seperti perasaan.
Suara kepala dalam otakku menambah semangat diriku untuk memutuskan sesuatu. Mungkin ini akan jadi awal yang bagus dan semoga bisa menjadi akhir yang indah suatu hari nanti.
Bu. Semoga Ibu bisa bangga padaku suatu hari nanti. Aku Calista bukan Kirana. Aku belum bisa membuat kalian bangga padaku tapi suatu hari nanti.. Aku janji akan melihat senyum kalian seperti kalian tersenyum bangga pada Kirana.
"Boleh dicoba tuh.. tap-"
"Belum juga dicoba udah tapi-tapi aja lo. Sejak kapan lo banyak ngeluh Calistaaaa?" Cibir Anggia menginterupsi. Aku pun hanya berdecak dan kembali menarikan jemariku pada laptop.
Anggia sedang menikmati snack sembari menonton film dikamarku, hari ini ia menginap karena dirinya hanya sendirian dirumah. Kedua orangtua serta kakak dan adiknya sedang tidak ada dirumah menghadiri acara resmi, katanya. Anggia bukan tipe cewek yang suka hingar bingar kemeriahan pesta sama seperti diriku.
"Oh My God. Kissing action" aku pun terbahak saat melihat Anggia yang menahan nafasnya saat adegan tersebut. Seketika sebuah bantal mendarat diwajahku namun tak membuatku berhenti menertawakan tingkahnya.
Dan meskipun aku tidak pernah memikirkannya, aku sadar bahwa apa yang mereka katakan benar. Maksudku, aku memang selalu menulis buku harian ini. Aku juga menulis banyak puisi, catatan, email dan sebagainya. Semacam, aku merasa seperti selalu menulis. Aku begitu sering melakukannya, sehingga tidak pernah menganggapnya bakat. Menulis hanya sesuatu yang selalu kulakukan, seperti bernapas.
Tapi sekarang aku tau apa bakatku, kau boleh bertaruh aku akan mulai mengasahnya. Dan yang pertama kali akan aku tulis adalah kisah hidupku, perihal tentang dirinya yang membuatku mengenal arti patah hingga merasakan jatuh dan cinta secara bersamaan. Aku tidak punya banyak kisah menarik untuk dijadikan dongeng pengantar tidur, tapi mungkin kisah hidupku membuat kalian sadar bahwa banyak sekali cara manusia meraih kebahagiaannya.
"Hei, Calista? Tulisan lo bagus di blog. Gak ada niat untuk bikin versi cetaknya?" Tepukan tangannya pada pundak ku membuatku menoleh kearahnya. Namanya Melda Sabrianti, teman satu sekolahku waktu SMA. Oh tidak, bukan. Dia bukan salah satu komplotanku, Diandra, Aldira ataupun Agas.
"Melda" kataku tersenyum sembari memeluknya "Terimakasih ya? Jadi malu aku" kataku dengan melirik keadaan sekitar kami yang di padati orang-orang seusia kami.
"Calista!!!" Seru suara nyaring dengan lambaian tangan seseorang. Adalah Rieska dan Diandra. Mereka pun menuju kearah ku.
"Kangeeeen ih" kataku sembari memeluk mereka histeris. Kemudian Aldira menuju tempat kami setelah memarkirkan mobil.
"Samaaa" kata mereka serempak. "Aldira!!!" Kemudian mereka juga memeluk Aldira histeris. Kemudian tawa kami pun pecah.
Gedung sekolah menengah atas negeri 02 Gunung Putri Bogor pun hampir sesak dikarenakan acara pensi sekolah yang diadakan di lapangan sekolah. Tidak hanya itu satu angkatan kami pun di undang untuk mengisi kemeriahan pensi sederhana adik-adik kelas kami. Tidak, bukan. Bukan reuni akbar tapi seperti acara reuni kecil-kecilan satu angkatan kami saja. Mungkin tahun berikutnya entah kapan akan diadakan reuni akbar seluruh angkatan.
"Test 1 2 3.. cek mic. Test.. Hallo semua teman-teman dan seluruh kakak kelas Alumni kedua SMAN 02 Gunung Putri, silahkan merapat ke panggung karena acara akan kami mulai. Semoga kalian semua menikmatinya, oke? Buat kakak-kakak kelas selamat datang dan selamat reunian" Gema suara yang berasal dari pembawa acara, menginterupsi segala kegiatan disekitar panggung dan di segala penjuru sekolah ini. Kemudian tepuk tangan dan sorakan pun bergemuruh menambah euforia suasana pensi.
Kamipun berjalan perlahan menuju tangga untuk turun kebawah diselingi obrolan ringan.
"Jadi gue punya temen seorang penulis nih? Cieee" ucap seorang perempuan mungil berhijab dengan menyenggol lenganku, membuatku malu. Dia adalah Rieska Fronella.
"Aldira? Kok lo gak kaget sih kalau Calista bikin buku?" Tanya Diandra bingung sembari menoleh kearah Aldira.
"Eh bentar bentar pap dulu ya? Buat pacar gue, gak percaya dia gue sama kalian" dengan sabar Diandra mengiyakan.
"Ngapain kaget? Hobinya dia kan bikin drama, kebanyakan ngayal dan doyan banget nulis diary. Jadi gue gak kaget lagi kalau dia bikin buku. Apalagi buku nya ini kisah hidupnya dia, dimana ada kita juga lagi" jelas Aldira panjang lebar. Mendengar penjelasan Aldira membuatku mendengus kesal.
"Ya tapi gak di bocorin juga kali, nanti gak surprise lagi dong kalau diterbitin" Cibirku yang mendapat kekehan dari mereka semua.
__ADS_1
"Kalau jadi di terbitin pokoknya kita harus dapet tanda tangan lo duluan" cecar Diandra sembari menjulurkan lidah. Akhirnya kamipun tiba ditengah kerumunan yang menikmati acara musik RnB dan pop.
"Iyaaa" kataku padanya sembari terkekeh diikuti dengan Rieska dan Aldira.
"Hai, semua" sapa seseorang yang berada dekat kami. Dia adalah Daisy. By the way kalau kalian lupa dia adalah sumber kekacauan yang membuat hubunganku dengan Agas tidak sehat, juga persahabatan kami yang terancam retak.
Bukan retak lagi tapi udah pecah Calista, lo lupa?
Batinku mengingatkan. Sekuat tenaga aku berusaha melawan batinku dan bersikap seolah semua sudah berlalu. Dia ternyata tidak sendiri ada Azizah, Maria, Faizhatul, Biyanka, Vera dan Juga Nurul. Masih ingat kalau kami bersepuluh? Ternyata setelah tidak berhubungan lagi selama kurang lebih dua tahun, mereka telah mendapat pengganti untuk melengkapi yang hilang.
"Hai juga semuanya. Akhirnya kita lengkap juga" Diantara aku, Aldira dan Diandra. Rieska yang berada di pihak netral tapi harus ku akui dirinya lebih dekat dengan mereka semua. Aku, Aldira dan juga Diandra hanya tersenyum kepada mereka semua.
Dengan canggung kami berusaha memecah keheningan dengan saling berpelukan dan berusaha membaur di tengah hiruk pikuk kemeriahan pensi. Seberapa besar pun usaha kami untuk memperbaiki persahabatan kami, tetap saja tidak bisa seperti dulu. Atmosfer konflik masa lalu itu masih terasa di sekitar ku dan dirinya walaupun tidak sekuat dulu. Bahkan kata maaf pun tak mampu mengembalikan keadaan seperti dulu, retak itu masih ada. Di tutupi dengan apapun tanpa direkatkan kembali bisa saja memperbaiki keadaan dari luar tapi bagaimana dengan retakan didalamnya?
Bukankah aku sudah pernah mengatakan? Bahwa persahabatan itu seperti sebuah cermin. Dimana masing-masing dari kita bisa saling mengoreksi kesalahan satu sama lain. Cermin itu bisa retak jika jatuh bahkan pecah bila tidak di letakkan pada tempat yang seharusnya. Bukannya aku tidak ikhlas, tapi hey salahkan takdir yang membuat kami dekat dan bersahabat sejak kami duduk di sekolah menengah pertama.
Selama satu tahun aku menjauhinya, membawa bercak-bercak luka dihatiku. Entahlah apa aku begitu membencinya? Aku hanya tidak ingin terluka lagi bersamanya. Sudah lama aku mengenal baik siapa dirinya, bukan hanya satu atau dua hari saja. Tapi waktu itu situasinya rumit. Keadaan memaksaku untuk kalah dan mengalah, dengan semua judgement yang mereka berikan padaku bahwa yang bersalah adalah diriku dan bahwa aku dipaksa untuk mengakui kesalahan yang sama sekali tidak ku ketahui.
Mereka semua hanya mendengar apa yang bisa mereka dengar tanpa pernah bisa memahami. Bagaimana bila posisi ku ditukar dengan mereka? Bagaimana rasanya berteman sejak SMP bahkan sangat dekat dan menjadi sahabat, kemudian dianggap seperti keluarga sendiri tapi ternyata suatu hari orang yang kalian anggap seperti keluarga sendiri itu dekat sekali dengan gebetan kalian yang notabene sekarang adalah pacar kalian. Seringkali chat, bercanda bersama sampai foto berdua. Hanya berdua. Kebetulan sekali kalian dan gebetan kalian sudah resmi jadian kurang lebih setengah tahun waktu itu? Padahal sahabat kalian sendiri tahu bahwa statusnya adalah hanya "Teman" bagi gebetan kalian dan cowok itu adalah "Pacar" kalian.
Bagaimana perasaanmu? Masih bisa dibilang bahwa aku tidak waras? Dengan marah-marah tidak jelas. Lalu bagaimana perasaan kalian jika kalian tahu waktu kalian ber Konflik itu Sahabat kalian menuliskan sesuatu pada sosmednya dengan versinya sendiri kemudian banyak orang-orang yang kalian kenal begitu pun guru-guru SMP kalian menjudge diri kalian salah dan sangat ke kanak-kanakan. Parahnya lagi sangat membela versi cerita dia, bagaimana? Dan kalian hanya bisa menahan rasa sakit yang entah sudah sedalam apa.
Tapi sekarang aku bersyukur.. dirinya membuatku menemukan alasan aku untuk bertumbuh, menjadi seseorang yang tangguh, pribadi yang lebih baik lagi dan yang pasti aku menemukan bakatku, bakat yang tidak pernah ku sadari. Ini konyol sekali, rasanya aku ingin mengucapkan Terimakasih yang tak terhingga untuk sebuah pelajaran hidup darinya mengenai arti persahabatan.
Jika Kegagalan bagaikan Hujan dan Keberhasilan bagaikan Matahari, maka kamu butuh keduanya untuk dapat melihat Pelangi.. Saat ini mungkin warna-warna itu sedang terlukis satu persatu dalam hidupku.
****
Semburat senja menggantung di langit-langit. Ku tengadahkan kepalaku menatap hamparan luas bercak jingga dengan menumpukan lipatan kedua lengan tanganku pada pembatas balkon lorong kelas. Diriku sedang menikmati senja dari lantai dua gedung ini. Orang-orang masih menikmati musik yang menyentak-nyentak dibawah sana.
Kurasakan sebuah lengan kekar melingkar posesif pada pinggangku. Aku tersentak langsung menoleh kebelakang. Ku dapati sosok laki-laki tengah tersenyum manis padaku dengan aroma yang sangat ku hafal sekali. Aroma madu berbalut mint. Dia adalah Agas.
"Aku mencarimu dari tadi" katanya sembari menempelkan keningnya pada keningku.
"Aku dari tadi disini Gas, gak kemana-mana kok" kataku sembari tersenyum menatapnya. Tanpa sadar tanganku membelai lembut pipi sampai ke rahangnya. Membuat Agas memejamkan mata menikmati sentuhanku.
Lama kami terdiam dalam posisi seperti ini kemudian musik pun berganti dengan Alunan musik jazz lembut membuat para pasangan di bawah sana melakukan dansa massal. Tidak terkecuali aku dan Agas.
"Will you take my hand, my princess?" Sembari membungkuk setengah badan ala para bangsawan dan mengulurkan tangan, Agas menawarkan dirinya sambil tersenyum.
"With pleasure, my lord" jawabku sembari membungkuk setengah badan sebelum meraih tangannya sembari tersenyum. Kemudian kami menggerakkan tubuh kami mengikuti alunan musik.
Kami hanya bergerak ringan ke kanan dan ke kiri. Tanpa disadari tanganku sudah melingkar manis pada leher Agas begitupun Agas yang semangkin mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggangku. Yang kami lakukan hanya bergerak sesuai musik tanpa berbicara hanya saling memandang dan tersenyum.
Jika ini adalah mimpi, tolong jangan bangunkan aku.
Cukup. Hanya seperti ini saja rasanya sudah cukup melengkapi semuanya. Bahagia mana lagi yang masih ingin ku kejar? Karena ketika aku meminta bahagia, Tuhan sudah menjawabnya lewat kamu. Agas Cokrodinoto.
"Jangan pergi Lis" katanya tiba-tiba masih memandangku intens.
"Aku disini, Gas" kataku lagi sembari memeluknya dan tetap bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan musik.
"Jangan pernah bilang 'Selamat tinggal' padaku, jangan pernah" katanya lagi yang semakin mengeratkan pelukannya pada pinggangku dan menenggelamkan kepalanya pada leherku dan menciumnya lembut.
"Gas? Bukan aku yang akan bilang seperti itu nanti tapi waktu yang akan bertindak. Kita gak pernah tahu kedepannya. Jangan pernah katakan itu lagi" kataku sembari mengeratkan pelukanku dan menghirup rakus aroma Agas.
"Ijinkan aku menjadi alasan kamu sedih, marah, kecewa dan bahagia Lis. Karena aku gak mau orang lain yang bisa melakukan itu semua dalam hidup kamu" bisiknya dan kemudian mencium puncak kepalaku lama.
Entah kebaikan apa yang ku lakukan di masa lalu sehingga aku mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ku sangka. Aku sangat amat bahagia dia terlahir untuk ada disampingku, menemani hari-hariku sampai saat ini.
"Terimakasih sudah lahir ke dunia ini, Gas" Bisiku. Kemudian Agas menarik tubuhnya dariku mengurangi pelukan kami serta meraih daguku dan mulai ******* bibirku dengan sangat lembut seakan gerakan kecil bisa menghancurkanku. Entah mengapa senja dan Agas adalah hal terindah yang pernah ku miliki.
Happy Reading guys 😄
__ADS_1