
Tanpa disadari Aldira, ada sosok asing yang dengan tenangnya berjalan masuk kedalam ruangan dimana Calista berada
"Mas, tolong selidiki orang ini ya, aku ragu kalau dia dokter disini" perintah Aldira sembari mengarahkan kameranya ke sosok yang sedang melakukan hal mencurigakan.
Aldira melotot melihat apa yang dilakukan oleh sosok yang berpakaian dokter tersebut
"Heh !! Ngapain lo !!!" teriak Aldira menghentikan aksi sosok tersebut yang ingin mencabut paksa alat-alat medis yang melekat pada tubuh Calista.
Sosok tersebut panik, lalu buru-buru keluar dengan mondorong Aldira dan melukai dirinya, beberapa dokter dan suster melihat kejadian tersebut lalu berlari menghampiri Aldira yang terbaring dilantai dengan menahan perih luka sayatan di lengannya.
Beruntung sekali, luka sayatan yang diterima Aldira tidak dalam dan parah. Buru-buru Aldira dibawa keruang rawat untuk segera diberi tindakan
"Aldira, its ok. Luka lo gak parah" tutur salah satu dari dokter yang membantu Aldira tadi.
Aldira mengerutkan keningnya "Lo tau nama gue?" tanya Aldira menahan perih luka sayatan dilengannya sehabis dijahit.
"Raja Dirgantara" sosok yang berprofesi dokter tersebut mengulurkan tangannya, Aldira hanya menaikkan kedua alisnya
"Gue temen kecilnya Adrian, btw" sambungnya lagi, ia menatap Aldira yang membentuk huruf 'O' pada mulutnya.
Sedetik kemudian Aldira melotot "Calista!!! Awww" ucap Aldira dilanda rasa panik, rasa bersalah pun turut menyelimuti dirinya.
Jika terjadi hal buruk lagi menimpa sahabatnya, ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Raja dengan sigap memegangi kedua pundak Aldira "Hati-hati jahitan lo masih basah, Dir"
"Gak bisa, gue harus ke ruangan Calista, Ja" Aldira kesal karena dokter tersebut menghalanginya menemui Calista
"Iya gue tau, tenang ya she's ok, dia di jaga dokter dan para perawat, juga ada orang kepercayaan Adrian" Aldira mengerutkan keningnya.
Jika Adrian memberi penjagaan, mengapa penjagaan tersebut bisa disusupi oleh orang asing? Yang dengan mudahnya masuk ke dalam ruangan dimana Calista berada dan dari sepanjang keberadaan Aldira disana, ia tak melihat adanya orang-orang suruhan Adrian atau semacamnya.
Apa mungkin ia tidak tahu, situasi saat ini sangat amat rumit jika dipikir-pikir, dimana kita akan sulit membedakan mana kawan dan yang mana lawan. Seperti posisinya saat ini, ia masih tidak mempercayai dokter yang telah mengobati lukanya beberapa menit yang lalu
"Gue butuh bukti" tegas Aldira.
__ADS_1
Raja menghembuskan napas lelah "Oke, gue temenin kesana. Gue takut jahitan lo robek" tutur Raja berusaha menyabarkan dirinya.
Aldira mengangguk patuh, melirik lukanya sekilas dan tak keberatan jika Raja membantunya memapah tangannya agar tidak banyak gerakan
"Jadi lo beneran temennya si cowok mesum itu?" tanya Aldira memastikan, walaupun hatinya masih belum yakin seratus persen.
Raja mengerutkan dahinya "Cowok mesum?" tanyanya
"Iya, Adrian temen lo, si cowok mesum" jawab Aldira dengan nada datar dan Raja menyemburkan tawanya mendengar nama temannya berubah.
Setelah itu tak ada lagi obrolan atau suara yang terjadi disekitar mereka, keheningan menjadi latar belakang dari perjalanan mereka, hingga mereka pun sampai keruangan Calista berada.
Aldira bernapas lega dan beberapa pihak berwajib juga calon suaminya tiba disana, dan beruntungnya mereka tidak sampai membuat kehebohan dirumah sakit
"Mas?" panggil Aldira pada calon suaminya yang terlihat khawatir sekali.
Sosok laki-laki berperawakan ideal dengan pakaian rapi juga sebuah lencana bergelentung di lehernya, berjalan setengah berlari mendekati Aldira
"Kamu kenapa?" tanya sosok tersebut pada Aldira kemudian beralih menatap Raja yang telah melepas tangannya, yang ia gunakan untuk membantu Aldira tadi
"Mas, aku gapapa, cuma sayatan kecil aja kok gak dalem" jawab Aldira menimpali pertanyaan calon suaminya itu.
Kemudian, Raja mengajak calon suami Aldira bicara empat mata dan Aldira membiarkan para lelaki tersebut berbincang. Dirinya berjalan kembali menuju kamar Calista, terlihat beberapa dokter dan perawat tengah sibuk mengecek keadaan mesin juga Calista yang terbaring layaknya mayat hidup di atas brangkar.
Aldira meneteskan airmatanya "Lis, maafin gue" cicit Aldira.
Sesosok tangan kekar melingkari perut rata Aldira, sontak saja Aldira menoleh dan memeluk sosok tersebut dengan sayang
"Ssstt, udah ya jangan nangis. Calista pasti sembuh, dia pasti baik-baik aja ya" ucap sosok tersebut seraya mengelus lembut pucuk kepala Aldira.
Aldira hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, sembari menghapus jejak airmatanya kemudian menghela napas lelah
"Raja !!" panggil Aldira kearahnya.
Mendengar namanya dipanggil, Raja hanya menaikkan kedua alisnya "Adrian udah lo kasih tau?" tanya Aldira penasaran.
__ADS_1
Raja menganggukan kepalanya, tanda ia sudah melakukan apa yang harus ia lakukan sebelumnya.
Melihat Aldira dan calon suaminya begitu harmonis, ia jadi teringat seseorang yang sangat ia cintai. Ah, Dirga alias Raja jadi merindukan orang tersebut
Seandainya kamu masih disini, Ra..
Batin Raja diiringi senyum rindu melihat kedua sosok yang ada di hadapannya. Dering ponsel Raja, menginterupsi pikirannya yang melayang entah kemana.
Di tatapnya nama yang tertera di ponselnya, Raja tersenyum penuh arti, ia pun meminta ijin pada dua sejoli tersebut untuk mengangkat ponselnya dan buru-buru menjauh mencari tempat sunyi
Di tempat lain..
BUGH!!!
"Ampun bos, saya hampir berhasil melaksanakan tugas yang bos berikan" tutur sosok yang terpelanting ketembok dan jatuh tersungkur di lantai.
Sosok kharismatik bersetelan jas mahal yang dipanggil bos, oleh laki-laki yang sekarat dihadapannya tersebut, tersenyum menyeramkan di balik mata yang tertutupi oleh topi di wajahnya.
Rahang tegas dan kokoh, aura mendominasinya menjadi daya tarik pemikat lawan jenis. Jari jemari tangannya yang kuat memainkan sebuah pistol, menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi anak buahnya yang gagal melaksanakan sebuah misi.
Sosok yang dipanggil bos tersebut berdiri dari tempatnya duduk dan bergerak mendekati anak buahnya yang tergelatak dilantai, sosok tersebut merendahkan tubuhnya dan mensejajarkan posisinya
"Sudah berulang kali kamu saya beri kesempatan, dan saya juga sudah mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak untuk kamu" tutur sosok berjas tersebut.
Laki-laki tersebut berusaha menahan rasa sakitnya "Maafin saya bos" katanya terbata-bata seraya menahan rasa sakit pada tubuhnya.
Sosok bersetelan bos tersebut mencengkram kerah baju anak buahnya dan memaksanya berdiri
"Kamu tau apa yang ada di tangan saya?" sosok tersebut berkata seraya menodongkan pistol kearah pelipisnya.
Laki-laki tersebut menelan salivanya, memejamkan matanya dengan rasa takut menyergapnya "Ampuuun bos, beri saya kesempatan" tuturnya memohon ampun
Sosok berjas tersebut tersenyum picik seraya mengokang senjata apinya "Jaminan apa yang bisa kamu berikan jika kamu mengulangi kesalahan yang sama?" ancamnya bersemangat melihat anak buahnya menangis ketakutan dan terus memohon ampun padanya.
Happy Reading..
__ADS_1