THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Hatimu Berhak Memutuskan Siapa Yang Kamu Cintai


__ADS_3

...Hatimu memutuskan siapa ...


...Yang kamu cintai. ...


...Tapi.. ...


...Sifat mu lah yang menentukan ...


...Lamanya dia bisa mencintaimu. ...


...*** ...


Wanita diciptakan bukanlah dari kepala untuk dijadikan pemimpin, wanita tidak diciptakan dari kaki untuk dijadikan sebagai alas. Tapi wanita diciptakan dari tulang rusuk untuk dijadikan pendamping. Dekat dengan tangan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk dicintai.


Cinta yang baik juga harus bisa membuatmu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bila cintamu membuat hidupmu lebih buruk, maka jangan takut untuk melepaskannya pergi.


Apakah selama ini aku telah menyia-nyiakan waktuku? Seharusnya perbedaan itu indah. Hal yang paling ku sesali adalah pertemuan kita, dimana saat itu kamu tiba-tiba saja menjadi poros dalam rotasiku. Sulit rasanya saat kita tidak bisa keluar bahkan berhenti, karena kamu belum juga berhenti.


Tuhan.. kalau memang bukan dia, maka buatlah ikatan kami putus. Kalau memang dia orangnya maka mudah kan lah semuanya.


Bisikku pada udara malam. Kini aku dan Agas sudah berada didalam mobilnya, sebelumnya aku sudah memberitahu Aldira dan Diandra bahwa aku tidak bisa ikut pulang bersama mereka karena Agas memaksaku untuk pulang bersamanya. Maklumlah Dia sedang dalam mode posesifnya yang membuatku mau tidak mau harus mengiyakan permintaannya.


"Boleh nanya sesuatu?" Tanyanya yang masih fokus pada jalan dengan ekspresi yang sulit terbaca beruntung sekali jalanan lenggang. Entah perasaan saja atau memang seketika saja suasana di dalam mobil ini mencekam sekali.


"Mau nanya apa Gas?" Jawabku was was.


"Fransiskus Frederick siapa?" Bagai suara lonceng kematian. Ucapan Agas membuat jantungku berhenti seketika.


"Dia.. dia mantan aku" jawabku setenang mungkin. Ku perhatikan Agas tersenyum smirk dan meremehkan penjelasanku.


Ciiitttt..


Decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal akibat di rem mendadak, membuatku menjerit histeris dengan nafas tersengal-sengal.


"AGAS KAMU UDAH GILA YA??? KITA BISA MATI" Teriakku panik diselimuti rasa takut. Ku lirik Agas yang mencengkeram kuat stir mobil, membuatku bergidik ngeri melihatnya. Tiba-tiba Agas melepas seatbeltnya dan langsung mencengkeram kuat lenganku, membuatku mengaduh kesakitan.


"Mana ponsel kamu?" Katanya dengan aura membunuh, membuatku meneguk saliva ku. Panik.


"Enggak!!!" Tegasku membela diri. Aku tau saat ini aku bisa saja mati ditangannya, Agas adalah tipe orang yang tidak segan-segan melukai jika perintahnya ditolak. Dan adalah sebuah tindakan yang bodoh saat ini dengan berkata seperti itu.


"Jadi begitu" kemudian Agas melepaskan seatbelt ku dan mulai menancapkan gas mobilnya di batas normal, membuatku tidak punya waktu memasangnya kembali.


Bagaimana bisa orang yang aku anggap seperti malaikat kini berubah menjadi iblis dalam waktu tertentu, dan sekarang dia adalah Iblis. Aku yang telah membangunkan iblis dalam dirinya. Melihat Agas masih menjalankan mobil melampaui batas normal membuatku menjerit histeris sambil menangis.


"Agas!!! Maaf.. Maafin aku" ucapku memohon sambil terisak memegangi lengannya. Kemudian decit mobil terdengar kembali bersamaan dengan mobil Agas yang berhenti mendadak. Membuatku terpental kedepan.


Bugh!!!


Kurasakan sesuatu yang basah dan berbau anyir mengalir dari pelipis sebelah kiriku. Ku raba cairan lengket yang mengalir itu dan saat ku tau apa itu, seketika saja rasa mual melandaku perlahan semuanya redup dan gelap. Kesadaranku menipis dan semuanya berakhir.


The other night dear


As i lay sleeping


I dreamed I held you

__ADS_1


In my arms


When I awoke dear


I was mistaken


So, I hung my head


And I cried..


Selang beberapa menit kegelapan yang menyelimutiku memudar, ku kerjapkan kedua mataku untuk mengembalikan kesadaranku. Rasa sakit melanda pelipis kiriku, membuatku meringis menahan perih. Setelah sadar sepenuhnya ternyata aku masih berada didalam mobil Agas. Kejadian beberapa jam yang lalu membuatku panik dan ketakutan.


Tapi saat ini kebingungan melandaku saat ku dapati mobil Agas berhenti di sebuah apotik 24 jam, ku lirik kursi kemudi yang kosong menjawab kebingungan yang melandaku. Beberapa saat kemudian Agas keluar dari apotik dan berjalan menuju mobil, saat Agas masuk ku lemparkan pandanganku kearah jendela mobil tak ingin melihat wajahnya.


"Hei, maafin aku ya? Aku emosi banget tadi" ucapnya tulus sarat dengan permohonan maaf. Aku masih saja mengacuhkan ucapannya masih juga tidak menoleh kearahnya.


Helaan napas berat darinya memecahkan kebekuan diantara kami. Lalu tanpa seijinku Agas berusaha meraih daguku refleks langsung ku jauhkan diriku darinya lebih merapatkan diri pada jendela mobil. Agas pun menggeram frustasi.


"Please, Lis" katanya lagi dengan nada memohon. Ku biarkan dirinya meraih daguku dan membawa wajahku lebih dekat dengannnya. Masih dengan rasa takut dan sesak aku memejamkan mata enggan menatapnya.


Dengan hati-hati Agas membersihkan luka ku beruntung lukanya tidak terlalu dalam jadi tidak perlu harus di jahit. Rasa perih yang melanda kembali membuatku meringis dan mencengkeram baju Agas, sadar akan tindakanku Agas pun lebih memelankan gerakannya agar aku tidak kesakitan.


"Maafin aku ya? Aku udah jadi cowok brengsek. Aku hampir aja celakain kamu tadi" Bisiknya frustasi kemudian setelah selesai menutup luka ku dengan kain kasa dan plester ia pun membawa diriku kedalam pelukannya. Rasa hangat kini tak lagi membuatku nyaman, justru kehangatan ini semakin membuatku takut dan sakit.


You are my sunshine


My only sunshine


You make me happy


You'll never know dear


How much I Love you


Please don't take


My sunshine away


***


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Ku lirik jam yang menempel cantik dinding kamarku menujukkan pukul 7 tepat. Awan hitam pekat telah menyapa dari balik jendela kamarku. Sesekali aku meringis merasakan perih yang melanda keningku. Luka ini belum juga mengering, membuatku tersenyum kecut. Kejadian malam kemarin membuatku bergidik ngeri. Memaksaku mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam.


Dimana Agas yang terlihat emosi karena di landa cemburu nyaris menghilangkan nyawanya sendiri dengan menambahkan kecepatan kendaraan roda duanya di atas batas normal. Aku yang saat itu menyaksikannya sendiri nyaris berteriak histeris saat kendaraannya berhadapan dengan truk yang mengangkut bahan bakar minyak tersebut.


Usahaku untuk menjelaskan padanya sungguh sia-sia karena saat itu aku tengah bersama seseorang dari masa lalu ku untuk membawa pulang salah satu teman ku dan dirinya yang pingsan disekolah. Saat itulah aku tau sisi tergelapnya. Agas Cokrodinoto.


Sadar akan diriku yang masih terduduk diatas ranjang, ku putuskan untuk membersihkan diri. Aku memilih merendamkan tubuh pada bathtub dengan air dingin juga cairan sabun beraroma cherry bllosom untuk menyegarkan tubuh serta otakku. Ku tenggelamkan diriku dengan memejamkan mata sampai wajahku juga terlelap air, membiarkan pasokan oksigen yang ku tahan habis, barulah aku mengangkat kepalaku ke luar dari air. Setelah itu aku benar-benar membersihkan diriku.


Selang beberapa menit aku telah berganti pakaian dengan kaos oblong bertuliskan 'Shut Up' berwarna putih sampai atas lututku tidak lupa dengan hot pants belel yang menjadi penghalang pahaku. Dengan rambut yang ku biarkan berantakan sehabis keramas aku mendudukan diriku pada kursi portabelku dan mulai menghidupkan laptopku. Seperti biasanya aku menumpahkan segala rasa yang tak bisa menjadi nyata.


Aku ingin menghentikan rotasi bumi, menjeda waktu untuk tidak buru-buru pergi darimu. Sebab aku belum ingin berhenti berjuang, aku tak pernah ingin menjadikanmu orang yang hanya bisa ku kenang saja suatu hari nanti.


Hatiku sarat akan kepedihan membuat airmata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mataku kini lolos tanpa bisa di cegah lagi. Aku ingin mengeluarkan segalanya. Kepedihan yang berulang serta takdir yang membuatnya semakin rumit.


Kau tau satu hal? Kita bersama seolah kita sedang mengucapkan 'Selamat Tinggal' setiap detiknya.

__ADS_1


Isakku semakin jadi dengan akhir jari-jariku yang berhenti mengetik. Ku angkat kedua kakiku ke atas kursi kemudian aku memeluk lututku, menenggelamkan wajahku ke dalamnya. Aku tahu ini akan terjadi, cepat atau lambat ini pasti terjadi. Aku benci kata perpisahan dan selalu merutuki setiap pertemuan. Tapi aku belum siap, aku belum siap bila harus pindah meninggalkan dirinya. Seseorang yang aku anggap seperti rumah bagiku dan tempat ternyaman yang membuatmu selalu ingin pulang.


"Agaaas.." lirihku di sela isakan ku.


Ting.


Denting ponselku membuatku menoleh ke arah ranjangku. Refleks aku menurunkan kedua kakiku untuk berdiri kemudian melangkah menuju ranjang mengambil ponselku untuk melihat sebuah pesan.


From: Agas


To : Calista


Temui aku di taman kompleks malam ini. Bisakah kita membicarakan sesuatu? Ku mohon datanglah. Jika kamu tetap keras kepala tidak datang, aku akan tetap di sini.


Aku menghela nafas berat. Sekeras kepalanya diriku, Agas adalah Agas yang tidak akan pernah mengalah.


Udara malam ini sangat dingin. Aku mengeratkan mantel yang telah memelukku agar semakin rapat. Ku lirik langit hitam pekat yang terbentang luas di angkasa, lagi-lagi tak ku jumpai taburan bintang yang selalu terpampang di atas sana. Langkah kakiku semakin dekat dengan taman membuat degub jantungku pun tidak normal.


Mataku berpendar menelisik setiap sudut-sudut taman ini. Sunyi. Hanya kesunyian yang terasa. Aku pun berjalan menuju sebuah ayunan besi dan mendaratkan pantatku di sana. Sekali lagi aku menghembuskan nafasku. Tak lama setelah itu sosok yang ku cari sedari tadi pun muncul dengan wajah yang.. kacau.


"Hai" Sapanya dengan suara parau. Aku bergeming di tempatku masih saja menatapnya seolah aku bisa membaca rasa sakit dan frustasi dirinya yang sama sepertiku.


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan Gas?" Tanyaku to the point tidak menjawab sapaannya.


"Aku minta maaf Lis, tolong jangan hukum aku seperti ini" jawabnya dengan posisi berlutut didepanku serta menggenggam kedua tanganku.


Ku hembuskan napas sekali lagi sebelum menjawabnya "Gas? Aku tetaplah aku, sebelum kamu menemukanku dan Kamu tetaplah kamu sebelum aku masuk dalam hidupmu. Jangan pernah berubah karena Cinta Gas, kamu gak akan pernah sama lagi seperti dulu nantinya"


"Tapi sayangnya masa lalu telah merubahku Lis. Wanita itu telah mengubahku menjadi Iblis dan bodohnya aku percaya bahwa dia tidak akan pernah mengkhianatiku" jawabnya dengan rahang yang mengeras.


"Gas? Apakah masa lalu telah merubahmu seutuhnya? Aku rasa masih ada bagian dirimu yang dulu, hanya saja ia bersembunyi Gas. Tolong kembalilah menjadi yang seharusnya" Pintaku padanya sebelum aku bangkit berdiri untuk meninggalkannya.


"Jangan pergi Lis" katanya lagi dengan mata sendu.


"Gas, mau sampai kapan kita saling menyakiti? Siapa lagi yang mau kita bohongi? Kita bukan hidup di negeri dongeng Gas, dimana happy ending selalu jadi akhir ceritanya"


"Jadi ini yang kamu mau? Apa selama ini aku gak pernah berjuang Lis? Aku berjuang melawan masa lalu aku demi kamu, aku ngelupain perasaan aku sama sahabat kamu, Aldira. Aku pertahanin kamu yang kadang suka lupa kalau kamu punya aku. Aku juga pertahin kita" suara Agas yang meninggi membuatku terenyuh dan merasa kalau selama ini aku telah menyakitinya.


Pertahananku pun runtuh seketika saja isakku terdengar. Aku tidak tahan lagi dengan semua ini. Kurasakan lengan kokoh memelukku erat menyalurkan rasa nyaman untuk membuatku merasa lebih baik.


"Gas? Cepat atau lambat memang seharusnya kita pi-"


"Sssshhh. Jangan katakan itu lagi, aku mohon" bisiknya sembari mengelus surai hitamku yang ku biarkan tergerai.


"Gak Gas, kita udah sering membicarakan ini. Kita pacaran udah lama Gas, mau di bawa kemana hubungan kita? Kamu ngerasa gak kalau kita gak pernah mundur bahkan maju"


Terdengar tarikan napas lelah darinya "Baik, tunggu aku sampai wisuda setelah itu aku akan datang untuk melamar kamu" ucapannya membuatku membeku di tempat.


"Gas? Sadar Gas, kita beda keyakinan bukan beda suku. Benteng kita terlalu tinggi dan kokoh. Enggak. Jangan Gas. Jangan menunggu hal yang tidak pasti dan jangan berjanji dengan hal yang belum tentu bisa kamu tepati nanti" Kataku frustasi sembari menjambak rambutku.


"Oke. Oke. Aku setuju! Berhenti menyakiti dirimu sendiri. Sampai wisuda dan kita akan saling melepaskan dengan baik" mendengar ucapannya membuatku dapat bernapas lega walaupun rasanya beribu ton batu menyumbat pernapasanku.


"Tapi.. saat itu ijinkan aku menjadi teman mu yang selalu ada untuk mu seperti saat ini walau status kita akan berubah nantinya. Meskipun aku tidak bisa menjadi teman hidupmu karena takdir" kedua sudut bibirku seketika melengkungkan bulan sabit sempurna. Akupun menganggukkan kepala dan memeluk erat dirinya.


Segala tentangnya akan membuatku rindu suatu hari nanti..

__ADS_1


Happy Reading Guys 😄


__ADS_2