THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Ampun Pak Bos


__ADS_3

Adrian bersidekap memperhatikan bawahannya dan berhenti pada salah satunya


"Kamu" tunjuknya pada Calista.


Calista masih diam, namun kali ini ia sampai lupa untuk bernapas ketika Adrian melangkah perlahan ke arah mereka, khususnya menghampiri Calista


"Keruangan saya" katanya tepat di depan wajah Calista yang sedang mematung.


Calista hanya bisa mengedipkan matanya sesaat, dirinya baru saja menyadari bahwa, wajah atasannya memang sangat tampan jika diperhatikan lebih jelas.


Di rasa Calista hanya diam saja seperti patung, Adrian semakin memajukan wajahnya sedikit ke arah Calista


"Sekarang !" tuturnya penuh penekanan.


Calista buru-buru menyadarkan dirinya dan menganggukan kepalanya, kemudian secepat kilat meninggalkan ruang tersebut, yang membuat Adrian keheranan dibuatnya. Memey tersenyum penuh rasa bahagia untuk teman dan atasannya itu.


Sebelum beranjak dari ruangan itu, Adrian meminta membatalkan jadwal Calista hari ini, dikarenakan ada beberapa hal yang harus ia bahas dengan Calista. Seketika saja Memey mengiyakan dengan sumringah dan lagi hal itu membuat Adrian keheranan. Heran dengan tingkah mereka berdua.


Calista lebih dulu sampai diruangan Adrian. Dirinya terpana dengan ruangan yang di dominasi warna monokrom dan sangat rapi, untuk ukuran seorang pria yang bisa dibilang cuek juga arogan, ternyata atasannya ini memiliki jiwa seni yang tidak bisa diremehkan.


Buku-buku yang berjajar rapi disudut ruangan yang lumayan luas dan disamping meja kantor, terdapat pintu kaca yang mengarah langsung ke balkon


"Hhmm"


Deheman seseorang membuyarkannya. Calista terkejut dengan sosok laki-laki yang berdiri dihadapannya


"Iqbal ?!" tanya Calista dengan nada terkejut.


Sosok yang bernama Iqbal itu pun tersenyum "Hey, Lis apa kabar?"


Adrian sempat terkejut melihat dua orang yang saling tatap dalam ruangannya, dia pun tertarik mendengarkan dari balik pintu yang terbuka


Calista membalas dengan senyum yang belum pernah Adrian lihat sebelumnya "Hey Bal, aku baik kok, kamu gimana?"


Percakapan mereka pun berlanjut hingga topik yang sudah lama Calista hindari. Perihal tentang dirinya. Seketika Calista terdiam saat Iqbal tidak sengaja menyebutkan namanya.


Melihat Calista yang terdiam, Iqbal merutuki dirinya dan mulut sialnya itu "Sorry Lis, gue gak maksud"


Calista berjalan menghadap pemandangan dari atas gedung, menatap nanar saat sekelebat memori hadir

__ADS_1


"Gapapa kok bal, jangan merasa bersalah ya, semua itu hanya masa lalu


Calista memberi jeda (Yang membekas) sambungnya dalam hati


Tidak hanya momen pada saat itu tapi juga dia" selesainya.


Adrian melangkah masuk dengan ragu tanpa diketahui keduanya. Masih tenang mendengarkan mereka dengan memasukan kedua tangannya kedalam saku celana dan bersandar pada dinding.


Entah sejak kapan dirinya mulai tertarik dengan kehidupan patner bisnisnya itu, disamping Adrian yang terkenal tidak peduli dengan hubungan apapun yang menyangkut wanita, kini ia mulai menelan ludahnya sendiri tanpa disadari.


Tembok kokoh tak kasatmata yang dirinya bangun setelah kematian calon istrinya, kini terkikis perlahan dengan hadirnya Calista Hartawan.


Calista menghadap Iqbal kembali, lalu terkejut melihat sosok yang ada di belakang Iqbal, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hal itu tak luput dari Iqbal yang langsung mengetahui siapa yang ada dibelakangnya


"Astagfiiiirrr !!!" teriak Iqbal semabari mengelus dadanya.


Adrian hanya mengerutkan kedua alis matanya, ia sudah hafal dengan tingkah sepupunya ini yang sering meledek dan mengeluarkan jokes receh padanya.


"Ngapain lo disini?" tanya Adrian pada Iqbal.


Calista membeo "Loh kalian saling kenal?" mereka berdua beralih menatap Calista yang masih terkejut ditempatnya.


*****


"Kenapa?"


"Enggak ikhlas?"


"Ikhlas banget pak" tutur Calista sembari memanyunkan bibirnya.


Tanpa sepengetahuan Calista, Adrian tersenyum geli melihat tingkah laku bawahannya itu, sangat menggemaskan dan menyenangkan melihat Calista kesal seperti ini, mungkin Calista akan menghiburnya dalam beberapa waktu kedepan.


Tepukan tangan Iqbal pada pundak Adrian membuyarkan kesenangannya "Apa?" jawabnya ketus.


"Aw, galak banget sih pak bos" ledek Iqbal padanya. Namun Adrian tetap tidak peduli dan masih memasang wajah datarnya.


Iqbal pun menyerah "Oke, gue balik dulu ke kantor pusat. Kita makan malam dirumah, kakek lo kangen katanya"


Setelah menyampaikan pesan dari ketua LÓCO Group Company, Iqbal melangkah keluar meninggalkan ruangan sepupu tersayangnya itu. Tapi sebelumnya..

__ADS_1


"Sampai nanti Lis, hati-hati sama sepupu gue. Dia galak banget kayak Guguk" Calista pun melotot dan tawanya pecah bersamaan dengan Iqbal yang lari keluar ruangan.


Adrian memasang wajah garangnya, yang membuat tawa Calista perlahan surut


"Udah?" celetuk Adrian menahan malu dan kesal secara bersamaan.


Calista terdiam, namun masih bisa dilihat Adrian tersenyum menahan tawa. Adrian gemas dibuatnya. Betapa tidak, dirinya jarang sekali melihat bawahannya ini tersenyum lebar sepanjang hari, semenjak awal kedatangan Calista di kantor ini.


"Nih udah kelar" sungut Calista yang membuat Adrian mau tidak mau buru-buru merubah mimik wajahnya kembali datar.


Adrian melangkah ke mejanya untuk melihat tugas yang ia berikan pada Calista "Kerjain lagi masih ada yang kurang bagian ini"


Calista memicingkan matanya "Pak ini sudah saya kerjakan sesuai intruksi Bapak loh"


"Saya bilang kerjain lagi" tegas Adrian.


Calista merengut kesal "Adrian !! Gue laper dan lo udah motong jam makan siang gue"


Adrian yang terkejut dengan ucapan Calista perlahan mendekati Calista yang baru menyadari ucapannya.


Adrian semakin mendekat "Maaf pak saya ga- "


Adrian menarik kursi kerjanya yang Calista tempati saat ini, kearahnya "Coba ucapin yang tadi sekali lagi, saya gak dengar"


Calista menunduk takut, tidak berani menatap Adrian secara langsung "Maafin say- "


Adrian semakin mencondongkan tubuhnya pada Calista "Adrian, panggil saya Adrian seperti tadi"


Mendengar hal itu, Calista sontak menegakkan kepalanya dan mata mereka pun tidak sengaja bertemu. Udara disekitar mereka semakin sesak dan menipis, entah sejak kapan kerongkongan Calista menjadi kering.


"Hhmm, pak saya boleh minta minum? Saya haus" Adrian pun mendengus kesal, pasalnya sudah lama dirinya menahan hasrat pada wanita dan berhasil. Kemudian menjauhkan dirinya dari Calista.


Tapi untuk kali ini entah mengapa, Calista adalah godaan terberatnya.


Adrian mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Calista. Calista pun buru-buru meneguk air tersebut dengan rakus dan tanpa sadar ada air yang melewati celah bibirnya hingga turun menuju lehernya.


Melihat hal tersebut Adrian tergoda untuk membersihkan air yang mengalir pada leher Calista. Calista terkejut sekaligus meremang. Sudah lama sekali dirinya tidak pernah merasakan gelora yang panas ini bersama siapapun.


Calista menahan diri untuk tidak terlalu hanyut dalam permainan Adrian, namun akal sehatnya menghianati. Satu lenguhan lolos dari bibirnya yang mungil. Adrian semakin merambatkan ciuman pada leher Calista hingga bibirnya, lenguhan Calista mampu menyulut libidonya dan mulai menyesap bibir Calista dengan kasar.

__ADS_1


"Ah ! Adrian !!!"


Bersambung..


__ADS_2