
Seorang pria berwajah tegas memberi salam hormat pada Adrian, Agas sontak menoleh pada Adrian dengan heran
"Kita bicarakan dimansion saya" Adrian memberi kalimat penegasan untuk semua orang yang menatapnya, tanpa terkecuali
"Tolong tambahkan penjagaan untuk Calista dan juga nona Aldira di dalam, jika ada kesalahan sekecil apapun, penjara seumur hidup saja tidak cukup" tegas Adrian sekali lagi, pada orang kepercayaannya.
Hal itu pun disanggupi oleh para bodyguardnya dengan menganggukkan kepala mereka dan salah satunya menelpon rekannya untuk menjaga wanita bosnya dan juga teman dari wanita bosnya tersebut.
Sebelum mereka meninggalkan rumah sakit, langkah mereka pun terhenti karena dua sosok yang ada dihadapan mereka, berjalan mendekati mereka
"Iqbal" cicit Adrian dan Agas hampir bersamaan. Agas menatap kearah Adrian, lalu kearah Iqbal bergantian dan meminta penjelasan.
Tidak sampai di situ saja, Agas menatap tajam sosok laki-laki yang di bawa oleh Iqbal "Axel Atmaja, ngapain lo di sini?" tanya Agas sarkas.
Axel menegang melihat sosok yang dulu hanya ia dengar dari namanya saja. Agas Cokrodinoto. Axel menelan salivanya, namun buru-buru ia menutupi mimik wajahnya dan menyembunyikan rasa gentarnya.
Agas melirik temannya semasa kuliah "Lo siapanya, laki tua ini Bal?" tanya Agas sembari mengacungkan teluncuk ke Adrian.
Adrian mendengus "Ck. Gue masih muda, Agas Cokrodinoto" Adrian menepis jari telunjuk Agas.
Agas hanya mencibir dan mengekori Adrian, diikuti oleh Axel, Iqbal dan orang-orang kepercayaan Adrian. Beruntungnya suasana disekitar rumah sakit, terlihat sedang tidak ramai dan kehadiran mereka semua tidak begitu mencolok bagi orang-orang yang ada di sana. Bayangkan jika keadaan rumah sakit ini ramai, dapat dipastikan mereka akan dikira sebagai komplotan mafia atau sejenisnya.
Agas mensejajarkan langkahnya dengan Iqbal "Bal, lo belum jam pertanyaan gue di rumah sakit tadi" Iqbal melirik Agas sekilas dan menghela napas
"Nanti gue jelasin sama lo, Gas" Agas yang hanya dijawab seperti itu masih merasa belum puas
"Terus apa hubungan lo sama Adrian, Bal?" Iqbal menghentikan langkahnya diikuti oleh Agas
"Simpen dulu rasa penasaran lo, Gas. Semuanya akan lo tau nanti, setelah kita sampai ke tempat Adrian" tutur Iqbal tegas pada Agas dan menginstruksi untuk kembali berjalan mengikuti Adrian menuju parkiran rumah sakit.
Mobil mereka satu-persatu meninggalkan halaman rumah sakit, mengikuti kemana mobil Adrian mengarahkan tujuan mereka. Tak satupun dari mereka yang membuka suaranya, selama dalam perjalanan. Masing-masing dari mereka memilih bergeming dalam pikiran mereka masing-masing hingga sampai tempat tujuan.
__ADS_1
Sesampainya di Mansion Keluarga Saseno..
Mobil-mobil mewah yang beriringan sepanjang jalan, kini satu persatu memasuki wilayah mansion keluarga Saseno. Konon, keluarga Saseno pada masanya adalah keluarga trah bangsawan, yang tersebar di daerah Jawa dan Bali. Dimana para leluhur mereka adalah seorang raja dan ratu yang membantu bangsa ini mengusir para kolonial.
Jadi, baik Adrian maupun Iqbal, mereka masih di garis keturunan yang sama. Mereka masih memiliki DNA dari para leluhur mereka, hanya saja di zaman modern ini, mereka tidak ingin mencari tau lebih dalam latar belakang keluarga mereka.
Memasuki halaman rumah yang sangat luas, mereka disuguhkan oleh pemandangan arsitektur dan tata taman yang apik. Bernuansa vintage eropa dengan budaya jepang modern, sungguh konsep yang cukup berani di era saat ini.
Satu persatu mereka turun dari mobil, Agas tertegun melihat arsitektur bangunan dihadapannya, ternyata orang yang tidak disukai tersebut berasal dari keluarga yang berpengaruh di tanah air ini
"Bal, ini mansion siapa?" cicit Agas, Iqbal yang jengah dengan kebawelan Agas hari ini, hanya memutar bola matanya, malas.
"Cuma nanya doang gue, Bal" dengus Agas dengan perasaan kesal. Pasalnya sepanjang hari ini Iqbal enggan menjawab pertanyaannya to the poin.
Agas dan Axel menatap sekeliling bangunan mansion dengan decak kagum, kedatangan mereka disambut dengan para pelayan wanita dan laki-laki yang jumlahnya tidak sedikit. Bisa Agas perkirakan
"Gila ini sih istana fix" cicit Axel yang diangguki Agas tanpa sadar. Mereka mengagumi mansion Adrian seperti bocah kecil, Adrian menatap ekspresi wajah mereka dengan datar.
*****
Perut Aldira tidak bisa diajak kompromi, kenapa disaat seperti ini dirinya tidak bisa diandalkan. Aldira tidak dapat menahan gejolak lambung dan ususnya tapi Aldira juga tidak tega harus meninggalkan sahabatnya ini sendirian.
Ia tidak mau kejadiaan semalam yang hampir saja merenggut nyawa sahabatnya ini kembali terulang. Aldira merogoh tasnya untuk mencari ponselnya, kemudian mencari kontak nama seseorang dan berjalan keluar ruangan
"Hallo, mas" Aldira berbicara agak menjauh dari bangsal ruangan Calista berada
" ... "
"Aku kayaknya nginep dirumah sakit deh, boleh minta tolong kirimin makanan gak mas, selama aku disini?" tutur Aldira pada seseorang disebrang sana.
Tanpa disadari Aldira, ada sosok asing yang dengan tenangnya berjalan masuk kedalam ruangan dimana Calista berada
__ADS_1
"Mas, sebentar ya, jangan dimatiin. Aku kayak liat ada orang masuk ke kamar Calista" bisik Aldira sembari berjalan kembali keruangan sahabatnya.
Aldira melihat sosok tersebut berpakaian layaknya dokter tapi agak mencurigakan. Aldira mengubah mode telpon menjadi video call dengan calon suaminya
"Mas, tolong selidiki orang ini ya, aku ragu kalau dia dokter disini" perintah Aldira sembari mengarahkan kameranya ke sosok yang sedang melakukan hal mencurigakan.
Aldira melotot melihat apa yang dilakukan oleh sosok yang berpakaian dokter tersebut
"Heh !! Ngapain lo !!!" teriak Aldira menghentikan aksi sosok tersebut yang ingin mencabut paksa alat-alat medis yang melekat pada tubuh Calista.
Sosok tersebut panik, lalu buru-buru keluar dengan mondorong Aldira dan melukai dirinya, beberapa dokter dan suster melihat kejadian tersebut lalu berlari menghampiri Aldira yang terbaring dilantai dengan menahan perih luka sayatan di lengannya.
Beruntung sekali, luka sayatan yang diterima Aldira tidak dalam dan parah. Buru-buru Aldira dibawa keruang rawat untuk segera diberi tindakan
"Aldira, its ok. Luka lo gak parah" tutur salah satu dari dokter yang membantu Aldira tadi.
Aldira mengerutkan keningnya "Lo tau nama gue?" tanya Aldira menahan perih luka sayatan dilengannya sehabis dijahit.
"Raja Dirgantara" sosok yang berprofesi dokter tersebut mengulurkan tangannya, Aldira hanya menaikkan kedua alisnya
"Gue temen kecilnya Adrian, btw" sambungnya lagi, ia menatap Aldira yang membentuk huruf 'O' pada mulutnya.
Sedetik kemudian Aldira melotot "Calista!!! Awww" ucap Aldira dilanda rasa panik, rasa bersalah pun turut menyelimuti dirinya.
Jika terjadi hal buruk lagi menimpa sahabatnya, ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Raja dengan sigap memegangi kedua pundak Aldira "Hati-hati jahitan lo masih basah, Dir"
"Gak bisa, gue harus ke ruangan Calista, Ja" Aldira kesal karena dokter tersebut menghalanginya menemui Calista
"Iya gue tau, tenang ya she's ok, dia di jaga dokter dan para perawat juga ada orang kepercayaan Adrian" Aldira mengerutkan keningnya
__ADS_1
Jika Adrian memberi penjagaan, kenapa bisa disusupi orang asing ruangan Calista? Dan dari sepanjang keberadaan Aldira disana, ia tak melihat adanya orang-orang suruhan Adrian atau ia tidak tahu, mana kawan dan yang mana lawan.
Happy Reading..