THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Menemukan Dalang di balik Jerami


__ADS_3

Di tempat lain..


BUGH!!!


Sosok kharismatik bersetelan jas mahal yang dipanggil bos, oleh laki-laki yang sekarat dihadapannya tersebut, tersenyum menyeramkan di balik mata yang tertutupi oleh topi di wajahnya.


Rahang tegas dan kokoh, aura mendominasinya menjadi daya tarik pemikat lawan jenis. Jari jemari tangannya yang kuat memainkan sebuah pistol, menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi anak buahnya yang gagal melaksanakan sebuah misi.


Sosok yang dipanggil bos tersebut berdiri dari tempatnya duduk dan bergerak mendekati anak buahnya yang tergelatak dilantai, sosok tersebut merendahkan tubuhnya dan mensejajarkan posisinya


"Sudah berulang kali kamu saya beri kesempatan, dan saya juga sudah mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak untuk kamu" tutur sosok berjas tersebut.


Laki-laki tersebut berusaha menahan rasa sakitnya "Maafin saya bos" katanya terbata-bata seraya menahan rasa sakit pada tubuhnya.


Sosok bersetelan bos tersebut mencengkram kerah baju anak buahnya dan memaksanya berdiri


"Kamu tau apa yang ada di tangan saya?" sosok tersebut berkata seraya menodongkan pistol kearah pelipisnya.


Laki-laki tersebut menelan salivanya, memejamkan matanya dengan rasa takut menyergapnya "Ampuuun bos, beri saya kesempatan" tuturnya memohon ampun.


Sosok berjas tersebut tersenyum picik seraya mengokang senjata apinya "Jaminan apa yang bisa kamu berikan jika kamu mengulangi kesalahan yang sama?" ancamnya bersemangat melihat anak buahnya menangis ketakutan dan terus memohon ampun padanya.


Anak buahnya yang lain masuk keruangan eksekusi dengan membawa ponsel di genggaman tangannya "Bos ada telpon dari bos besar" sosok tersebut menoleh dan menerima ponsel yang disodorkan.


Sedikit kecewa yang dirasakan olehnya, karena telpon masuk tersebut mengganggu kesenangannya. Ingin marah tetapi apa daya, ia tak mampu menolak bahkan menghianati orang yang tengah menghubunginya


"Iya Pak" jawab sosok berjas tersebut pada seseorang disebrang sana


" ... "


"Maaf atas kesalahan anak buah saya pak" jawabnya lagi


" ... "


"Baik pak, saya akan membereskan semua kesalahan saya dan anak buah saya" jawabnya lagi dan sambungan pun terputus.


Sosok berjas tersebut menghela napas lelah, menarik pelatuknya dan menembak bawahannya yang telah menggagalkan rencana bos besarnya tersebut


"Roy !!!" teriaknya memanggil anak buah kepercayaannya.

__ADS_1


Sosok yang dipanggil pun segera datang dan mendekat bersama beberapa anak buahnya yang lain "Ada yang bisa saya bantu, bos?" tanyanya segera.


Sosok berjas tersebut mengangguk "Tolong segera bereskan, saya ada tugas penting dari Bos besar" tuturnya tegas


"Jangan sampai ada orang yang melihat kalian atau mayat ini, jangan sampai kalian terlacak polisi. Kalian bisa membahayakan kita semua" kemudian segera melangkah meninggalkan ruangan eksekusi tersebut.


Mereka pun menunduk hormat "Baik bos"


"Jangan membuat kesalahan lagi atau kalian akan menyusulnya juga" tuturnya di sepanjang lorong yang bergema, namun masih sangat jelas terdengar oleh mereka semua.


"Kalian dengar apa yang dikatakan bos? Cepat bereskan sesuai intruksi yang diberikan" aba-aba kaki tangan sosok berjas tersebut, pada anak buahnya.


Sementara itu, di Mansion Keluarga Saseno..


Adrian dan yang lain duduk saling berhadapan dengan bentuk meja melingkar, yang di khususkan memang untuk meeting atau pertemuan penting


"So.. " Adrian membuka percakapan yang sempat menengang beberapa saat lalu


"Wait" Agas menginterupsi ucapan Adrian


"Ini gue masih gak ngerti, kenapa lo bisa sama si kuyuk ini" lanjut Agas, sembari menatap Axel datar.


Iqbal dan Adrian memijit pelipis mereka secara bersamaan, melihat dua orang di hadapan mereka bertingkah seperti anak kecil


Agas melotot menatap Axel "Jaga ya omongan lo!!"


Iqbal berdehem "Guys" tegurnya


"Denger ya, Agas. Lo itu takut kehilangan Calista tapi lo gak bisa memperlakukan dia dengan baik" tutur Axel yang membuat suasana disekitar kembali menegang.


Axel terdiam ketika tersadar ucapannya sudah kelewat batas "Ups" cicitnya.


Tampak diseberang tempat duduk Axel, nampak Agas mengepalkan tangan dan siap melayangkan bogem mentah kearahnya. Tidak hanya sampai disitu, Adrian pun sempat tersentil oleh kata-kata Axel, jika tidak di tahan oleh Iqbal


"Bro, take your control" cegah Iqbal.


Iqbal yang ikut geregetan mengambil alih untuk menegahi kedua bujangan yang bertingkah layaknya anak kecil, ia menekan tombol otomatis proyektor dan memasukkan hasil rekaman cctv yang diperolehnya.


Sejujurnya Iqbal agak menyesal menyeret Axel untuk ikut dengannya. Jika saja orang yang diseretnya tidak mengenal teman dekatnya semasa mereka kuliah, mungkin sudah sejak tadi pembahasan mereka akan lebih serius dan mendalam

__ADS_1


"Axel, jaga sikap lo!! Lo orang asing disini" tutur Iqbal to the point, yang hanya di bales Axel dengan tanda isyarat menutup mulutnya dengan menggerakan tangannya.


Lalu Iqbal beralih menatap Agas "Lo juga, jangan kayak bocah. Inget kita disini ngapain? Untuk Calista" tutur Iqbal mengingatkan tujuan mereka berkumpul disini.


Agas pun menghela napas lelah dan mengusap rambut frustasi "Oke, sorry" balas Agas berusaha menenangkan suasana hatinya.


Suasana pun kembali hening dikarenakan mata mereka menatap video rekaman cctv kejadian semalam.


Axel bersiul ketika sampai pada bagian Aldira menarik Calista ke dance floor "Gila Calista sexy banget" gumamnya tanpa sadar, melihat gerakan tari nyeleneh Calista.


Adrian mengarahkan pistol kearah mata Axel dan Agas tak mau kalah dengan menarik kerah baju Axel "Diam atau gue gampar"


"Bro-bro. Gila lo ya" tutur Axel ketakutan melihat Adrian mengarahkan pistol kearahnya.


Iqbal yang sedari tadi mengambil mode serius dan bijak, menumpahkan tawanya dengan keras, karena menurutnya hal ini sangat menghibur sekali dan menarik perhatian dari ketiganya


"Sumpah selera humor lo psycho, Bal" ucap mereka kompak.


Setelah puas tertawa Iqbal pun meminta maaf lalu menyuruh mereka untuk kembali fokus pada rekaman cctv dan mereka pun kembali melanjutkan menonton.


Beberapa menit pun berlalu, pandangan mata mereka tak lepas dari rekaman cctv tersebut.


Adrian yang semula serius memperhatikan, berubah menjadi tegang dan merasa tidak nyaman, begitu pun dengan Agas, raut wajahnya mengeras dan Axel terlihat memendam kekesalan. Hanya Iqbal yang terlihat tenang memperhatikan


"Bisa kita ulang waktu Calista duduk sendiri di Bar dan tiba-tiba buaya ini datang" tutur Agas sembari menunjukkan jarinya kearah Axel.


Axel hanya memutarkan bola matanya keatas, ia lelah sekali berhadapan dengam masa lalu sahabatnya ini


"Jangan mulai lagi deh Gas" dengus Iqbal


"Agas benar, kita ulangi dari menit itu dan pasang mata kalian dengan awas" tutur Adrian memberi perintah pada Iqbal seraya mengusap dagunya.


Iqbal, Agas dan juga Axel saling pandang dan menganggukkan kepalanya, ikut menyetujui apa yang dikatakan oleh Adrian


"Peringatan buat lo Axel Atmaja, sekali lagi lo gadaan Calista, hidup lo gak akan tenang" cibir Adrian.


Axel menyemburkan wine dari mulutnya karena cibiran Adrian "Ya, Allah, ya Tuhanku. Gue terdzolimi terus ya disini"


Agas yang memperhatikan interaksi keduanya tersenyum culas. Agas akui, Adrian lebih to the point dan tanpa basa-basi seperti dirinya.

__ADS_1


Happy Reading..


__ADS_2