
Di kantor Adrian..
"Xel, gimana perkembangannya?" tanya Iqbal dengan napas terengah akibat mengikuti langkah Adrian yang lebih cepat dibanding dirinya. Sepertinya ia harus kembali berolahraga.
Axel mengerutkan dahinya "Abis ngapain lo? Jalan dari rumah sakit ke kantor?" tanya Axel penasaran, melihat napas Iqbal terengah-engah.
Iqbal tak menggubris ucapan Axel, matanya berpendar ke seluruh ruang kerja Adrian. Kini pandangan matanya berhenti tepat pada lemari pendingin milik Adrian. Dengan tenaga yang tersisa ia berlari secepat kilat menuju lemari pendingin tersebut, lalu mengambil sekaleng soda dan meneguknya hingga tandas.
"Aaaaahh, tadi lo ngomong apa Xel?" tanya Iqbal kembali.
Axel menatap Iqbal datar "Udah lah, kagak penting. Yang penting kita fokus ke masalah insiden, Calista"
Iqbal berjalan menghampiri Axel dengan dua kaleng soda ditangannya "Eh iya, itu yang mau gue tanyain tadi. Si Adrian kemana sama calon suaminya Aldira?"
"Jadi, mereka menemukan beberapa bukti kuat siapa pelaku yang mengacaukan acara Aldira beberapa hari lalu?" tutur Axel.
Iqbal menyemburkan soda yang ada dimulutnya "Gila, secepet itu Xel?" tanya Iqbal sembari meneguk salivanya.
Axel mengehala napas lega, selama beberapa hari ini jangankan tersenyum, untuk makan dan tidur saja ia jadi moodyan. Layaknya orang yang sedang patah hati.
"Yaaaa begitulah, syukur deh kalo gitu. Gue jadi bisa tidur nyenyak bro" jawab Axel dengan riang, membayangkan rutinitas normalnya kembali seperti semula.
Iqbal terlihat gugup, dengan berusaha mengendurkan dasi serta kerah kemejanya. Axel yang melihat gelagat aneh Iqbal menjadi merubah sikapnya, yang tadinya riang menjadi agak diam dan hal itu dirasakan oleh Iqbal
"Kenapa lo, Bal?" tanya Axel hati-hati
"Hah?" jawab Iqbal seperti orang linglung
Axel menepuk jidatnya "Bal, mending lo pulang dulu gih, istirahat. Gue rasa lo lagi kelelahan"
Iqbal memijit keningnya "Sorry ya Xel, gue lagi banyak pikiran soalnya"
Axel membuka kaleng soda untuk Iqbal dan dirinya "Yaudah nih minum lagi"
Iqbal melirik kaleng soda yang ditawarkan Axel, kemudian menenggaknya dengan cepat hingga tandas. Sekali lagi Axel keheranan melihat tingkah laku Iqbal hari ini.
Axel melirik Iqbal diam-diam, memperhatikan gerak-gerik Iqbal yang membuat kecurigaan timbul di hatinya
"Xel?"
"Hm?"
"Beneran pelakunya udah ke lacak?" tanya Iqbal sekali lagi, seperti memastikan sesuatu.
__ADS_1
Axel sempat terdiam, mendengar pertanyaan Iqbal yang sudah ia ketahui sebelumnya. Hal itu semakin menimbulkan tanda tanya dihati serta pikirannya.
Axel menghela napas "Iya, lo kenapa sih?" kini Axel harus berhati-hati terhadap orang yang sedang menjadi lawan bicaranya.
Sebenarnya ada apa dengan Iqbal, aneh banget..
Iqbal bangkit dari sofa, merapihkan jasnya dan dasinya "Gue pergi dulu, ada urusan yang harus gue urus. Kalo Adrian nyariin gue, dia tau kemana gue pergi"
Axel yang masih di penuhi tanda tanya di kepala hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya
"Hati-hati, Bal" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya
Iqbal sempat berhenti dan menoleh kearah Axel dengan senyum yang agak aneh "Pasti"
Setelah itu Iqbal benar-benar pergi meninggalkan ruangan Adrian. Tapi tak berapa lama Adrian serta tim penyidik nampak terburu-buru masuk ke dalam ruangan miliknya.
Ia mengusap wajahnya frustasi karena yang dilihatnya hanya Axel "Kemana Iqbal?"
Sekali lagi Axel dibuat keheranan dengan orang-orang hari ini "Udah pergi tadi"
***
"Kenapa lo biarin Iqbal pergi Xel?" ketus Adrian yang membuat Axel, lagi dan lagi melongo, masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini
Adrian sekali lagi lagi mengusap wajah dan rambutnya frustasi, ia terlihat kelelahan sekali dan juga terlihat seperti orang yang sangat kecewa. Seakan ada seseorang yang telah mengecewakannya.
Axel membuka suaranya dengan hati-hati "Sebenernya ada apa sih?"
Adrian menatapnya datar, lalu masuk dan duduk diikuti oleh beberapa orang terutama calon suami Aldira
"Iqbal, ada sangkut pautnya dengan kejadian Calista" tutur Calon Suami dari Aldira.
Axel melotot tak percaya, kemudian melirik Adrian menuntut penjelasan "Kok bisa? Tapi kenapa?"
"Ceritanya panjang, yang pasti kita harus segera menangkap Iqbal untuk proses penyelidikan" jawab Adrian, nampak menahan emosi
Axel nampak terdiam, iya mengingat-ingat lagi keanehan yang ia rasakan saat bersama Iqbal tadi. Jujur ia masih sulit mempercayainya, karena Iqbal yang selama ini ia kenal, meskipun baru beberapa bulan adalah Iqbal yang kecil kemungkinan melakukan tindak kriminal.
Tapi.. mengapa?
Kenapa harus Calista, sasarannya?
Apa mungkin.. ?
__ADS_1
Hening ruangan, menjadikan suasana di tempat ini mengalami tingkat tekanan paling tinggi, dari gas kecemasan dan kekhawatiran orang-orang di dalamnya.
"Lo kenapa Xel? Kok tiba-tiba diem?" Axel terperanjat, menggelengkan kepalanya.
"Ah, gue lagi mikir aja, apa maksudnya Iqbal melakukan semua ini?" mendengar pertanyaan Axel barusan, membuat orang-orang disekitarnya ikut berpikir keras
"Apa Agas tau sesuatu?" semua orang menatap Axel terkejut dan nampak berpikir.
Di tengah-tengah tanda tanya mereka, sosok yang mereka pikirkan muncul dengan tergesa-gesa "Guuysss" tutur Agas dengan nafas tersengal.
Semua orang tercengang melihat kedatangan Agas yang tiba-tiba dan sedikit berantakan "Agaaas!!" cicit Axel dan Adrian yang mengalihkan atensi semua orang di tempat itu
Adrian menghampiri Agas dengan raut wajah panik "Lo kenapa, Gas?" melihat tampilan Agas yang berantakan, sepertinya Agas baru saja mengalami sesuatu yang buruk
"Cal.." ucapan Agas terbata-bata akibat napasnya yang tersengal. Ia kelelahan karena tergesa-gesa untuk menemui Adrian
Axel menghampiri mereka dengan sebotol air yang ia berikan untuk Agas "Nih, minum dulu"
"Thanks" Agas menenggak air mineral dengan begitu cepat.
Adrian menunggu dengan "Kenapa tadi? Lo ngomong apa?"
Agas mengatur napasnya sebelum mengatakan sesuatu "Calista.. " tunjuk Agas ke sembarang arah
"Calista kenapa?" tutur Adrian panik sembari mengguncang tubuh Agas karena rasa panik yang menjadi-jadi.
Axel mencengkram tangan Adrian dan berusaha menenangkannya "Dri, sabar. Dengerin dulu, kasian Agas ngos-ngosan"
Adrian menghela napas lelah "Sorry, Gas. Gue lagi banyak pikiran"
Agas menganggukkan kepalanya "Gue abis dari rumah sakit sama anak gue, dia kangen sama Calista. Tapi tiba-tiba gue liat Iqbal kayak buru-buru ngurus sesuatu dibagian admin, dia gak liat gue keluar sama anak gue"
Mendengar hal itu Axel membawa Agas masuk agar hal ini bisa dibahas bersama. Adrian mengepalkan tangannya kuat setelah mendengar apa yang Agas bicarakan barusan.
"Jadi Iqbal target penyelidikan selanjutnya?" tanya Agas tak percaya.
"Belum dapat dipastikan"
"Tapi ada kemungkinan dia terlibat"
Mendengar perkataan yang ada disekitar, Axel nampak berpikir keras "CCTV, dapatkah menolong kita lebih banyak?"
Semua orang menatap Axel dengan penuh rasa tercerahkan.
__ADS_1
Happy Reading..