THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Sahabat = Teman Berdebat


__ADS_3

...M: "Kenapa mikirin aku?" ...


...D: "Ya, aku cuma mikirin yang ...


...bikin aku seneng". ...


...M: "Kamu seneng mikirin aku?" ...


...D: "Seneng dan bingung. Bingung.....


...Gimana cara berhentinya". ...


...- Dilan 1990 - ...


...*** ...


Fajar pun selalu menepati janjinya, membawa kehangatan yang tak bisa di lakukan oleh senja ketika malam menghampiri. Kejadian kemarin ternyata menimbulkan efek samping sampai terbawa dalam kampus. Aku tidak bisa konsentrasi saat belajar. Ada hawa permusuhan antara aku dan Axel. Mataku nyalang ketika tatapan kami tak sengaja bertabrakan. Ku buang pandanganku ke arah lain dengan tegas saat rahangku mengeras. Ingin rasanya mencakar wajahnya yang sok itu. Tapi aku harus sabar jangan gegabah, menyelesaikan masalah dengan emosi justru akan memperkeruh permasalahan.


Saat jeda ishoma. Aku berjalan menghampiri bangku Axel dan menyuruhnya untuk mengikutiku ke taman sebrang perpustakaan kampus. Axel yang tau dengan perubahan sikapku pun menyetujuinya dan disinilah kami sekarang. Beruntung taman ini tidak sepi.  Well, jika aku sudah habis kesabaran beberapa orang bisa membantu membawa Axel kerumah sakit.


"Whooaa. Jangan buru-buru Witch. Tidak ada yang akan kerumah sakit" kata Axel yang membuatku berhenti bergerak dan menoleh kearahnya.


"Wah, liat ini. Apa tadi? Witch? Rumah sakit..? Hebat" kataku tertawa sembari bertepuk tangan terkejut dengan kemampuannya membaca pikiran.


"Gue bukan peramal, dukun apalagi Witch seperti yang lo bilang barusan. Harusnya itu julukan buat lo karena kemampuan lo yang mengesankan" ucapku sarkastik.


"Bukannya kita sama? Mengejutkan bukan? Bisa peka sama hal tak kasatmata, suka buku-buku tua, pintar membaca aura seseorang, memberi nasehat seakan-akan lo hidup udah lama. Ah satu lagi, bau lo itu menarik banyak orang dan itu membuat mereka nyaman dekat sama lo" Balasnya seraya berjalan mengelilingiku dan berhenti tepat didepan ku.

__ADS_1


"Sakit jiwa ya lo? Gue gak mau basa-basi lagi. Gue ngajak lo ke sini mau menuntut sesuatu dari lo: 1. Berhenti bicara yang aneh-aneh karena gue manusia bukan mahkluk mitologi. 2. Jelasin sama gue kenapa lo menjauh bahkan menghilang gitu aja dari Anggia. 3. Jangan menguji kesabaran gue. 4. Semua yang lo sebutkan tadi gue akui emang benar. 5. Dan seperti yang gue bilang kalo gue B. U. K. A. N W. I. T. C. H jadi stop. Gue manusia bukan mahkluk mitologi" gerutuku kesal sembari mengacungkan telunjukku ke wajahnya.


"Wow oke oke gue cuma bercanda tadi. Jadi lo mau tau sesuatu dari gue? Kenapa?" Jawabnya seraya mengangkat kedua telapak tangannya di depan dadanya berusaha menenangkan ku dan menyuruhku mundur sedikit.


"Gue gak suka dibercandain saat gue lagi serius. Ya iyalah. Karena lo hubungan gue sama Anggia renggang" tembakku yang membuatnya membeku dengan kerutan dalam. Di dahinya.


"Jangan berusaha mencari alasan dalam diam, Axel. Atau ingin menghindari topik pembicaraan setelah mata lo beralih ke arah lain padahal beberapa detik sebelumnya bertatapan sama gue" kataku yang sibuk mengikat rambutku.


"Dasar Witch. Oke fine gue bakalan jujur sama lo apa yang gue rasain sama temen lo itu" jawabnya setelah terdiam beberapa menit. Aku pun menggeram kesal karena dia masih saja menyebutku Witch.


"Yaudah cepet kasih tau. Semuanya" kataku memberikan penekanan pada kata 'Semuanya'


"Gue tau Anggia cewek baik-baik. Sangat baik. Mungkin kalau gue orang yang tepat untuk dia, yang mencintai dia seutuhnya, jujur gue akan jadi orang terbahagia di dunia ini. Karena dari cari dia chat, cara dia perhatian, sampai gue denger suaranya di telpon gue tau dia cewek yang harus butuh imam seperti cerminan dirinya sendiri. Gue bukan cowok baik Lis, dan gue bukan seseorang yang tepat buat Anggia. Karena cowok yang baik gak akan pernah buat cewek ngeluarin airmata. Kecewa." Aku terperangah mendengarkan ucapan yang keluar dari bibirnya. Ada sebersit rasa kesal yang bercampur iba.


"Tapi lo udah buat airmata itu jatuh dari Anggia. Kenapa Xel?" Kataku lemah. Masih shock dengan penjelasannya beberapa saat lalu.


"Jangan berpikir terlalu keras. Lo tau seseorang lebih baik dari orang lain Lis, bahkan orang itu sendiri. Kemampuan lo itu hebat harusnya lo cukup pintar untuk tetap membiarkan gue menjauh dari teman lo itu" katanya lagi yang berhenti beberapa meter dariku tanpa menoleh sebelum akhirnya benar-benar pergi dan menghilang di kejauhan.


Ku pijit keningku yang kebetulan pening karena masalah mereka berdua dan penjelasan Axel yang masih belum bisa ku pahami. Aaaarrrggghhh apa dunia sedang mempermainkanku? Ternyata aku bukan satu-satunya orang aneh yang peka terhadap hal-hal di luar akal sehat. Ini Gila.


"Calista. Woiiii" lambaian tangan menyadarkanku dari mimpi buruk. Ternyata itu hanya Jihan, Ivanna dan juga Aldira. Aku pun mengerutkan dahi ku.


"Mana Fellicia?" Tanyaku yang membuat mereka bertiga saling bertukar pandangan tak menjawab pertanyaanku.


Jangan lagi ya Tuhan...


***

__ADS_1


Tok Tok Tok


Ketukan pintu kamar membuat sosok selembut sutera menampakkan dirinya dibalik pintu. Tak ada kata basa-basi pemilik kamar pun mempersilahkan masuk tamunya.


"Gi. Maafin gu-" belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Anggiapun memotongnya.


"Jangan sekarang gue lagi gak mau bahas apapun" katanya yang kini berbaring ditempat tidur sembari memunggungiku.


"Terus gue harus ngapain Gi, supaya lo mau Maafin gue?" Kataku frustasi masih tetap ditempatku.


"Harusnya lo gak dateng Lis. Waktu lo gak tepat. Gak seharusnya lo liat gue hancur kayak gini" isakan kecil pun terdengar olehku. Ku beranikan diri menuju tempat tidurnya.


"Gak seharusnya lo liat gue lemah kayak gini List. Gue gak percaya ternyata cinta bisa bikin kita lemah tak berdaya seakan kita bisa mati tiap detiknya. Harusnya lo gak liat gue yang selemah ini" katanya lagi sembari tertawa dan terisak membuatku merengkuh tubuhnya dengan sangat hati-hati seakan satu gerakan kecil pun bisa membuatnya lebur berserakan.


Malam itu ku putuskan untuk menemani Anggia. Aku sudah meminta ijin pada orang rumah bahwa aku menginap karena ada urusan yang harus diselesaikan. Setelah Anggia terlelap aku bergerak menuju ranselku mengambil buku catatan ku dan sebuah pena.


Bukan salah waktu yang sudah mempertemukan kita. Perkenalan yang tak direncanakan ini membawa kita pada nyaman. Mencintaimu aku sanggup. Merelakanmu, aku mencoba.


Ku ikhlaskan dirimu dan berbahagialah. Karena mengikhlaskan membuatku berhenti untuk terlalu merasa terus tersakiti. Sebab mencintaimu, aku berani patah hati.


Ku alihkan tatapanku pada Anggia. Semua isi hatinya seakan tercecer di ruangan ini. Aku bisa melihat betapa kecewanya gadis yang ada dihadapan ku ini. Semua tertutupi dengan wajah damai yang terlelap seolah menyembunyikan apa yang terjadi padanya.


Kata seseorang, masa depan itu belum pasti Gi. Ingat, belum.


Bisiku sembari tersenyum tulus kemudian merapikan buku dan penaku ke dalam tas dan kembali berbaring disebelah Anggia.


Happy Reading guys 😄

__ADS_1


__ADS_2