THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Ku Tuliskan Kenangan Caraku Dapatkanmu


__ADS_3

...Satu hal yang aku sadari...


...Kita bersama seolah...


...Sedang menghitung mundur...


...Waktu perpisahan kita....


...***...


Kejadian semalam masih terus membayangiku seperti sebuah film yang terputar dalam otakku. Ku hembuskan napas lelah, frustrasi sembari mengganti kain kasa dan plester yang menghias pelipis kiriku.


Pertemuan kita yang tidak di sengaja membawaku jauh mengenal dirimu. Masa orientasi siswa yang menjadi titik awal cerita kita terangkai. Ada binar ceria ketika aku bersamamu, membicarakan hal yang konyol seperti kapan film Mr. Bean pensiun atau kenapa lukisan monalisa memiliki kening yang lebar? Tanpa sadar kita terjebak dalam rasa nyaman yang tidak bisa dihindari.


Aku selalu ada di sisinya dari usia kami 16 tahun sampai saat ini. Merayakan ulang tahun bersama, tumbuh dewasa bersama, melukis kisah kita pada lembaran yang sama. Hal yang selalu ingin ku ulang adalah pertemuan kita yang tanpa disengaja.


Setelah dirinya, adakah seseorang yang seperti rumah untukku nanti? Haruskah aku mengutuk takdir yang mempertemukan kita? Entahlah. Mungkin setelah dirinya aku akan menutup rapat hatiku, berusaha menyibukkan diri dengan hal-hal apapun.


Rencana kami kedepannya hanyalah sebuah rencana dimana mimpi-mimpi yang telah kami rangkai takkan pernah terjadi. Biarlah aku menemaninya disaat dia belum menjadi apa-apa. Kelak suatu hari nanti yang entah kapan, aku berharap orang yang akan menemani sisa usianya tidak akan pernah mengecewakannya seperti diriku.


"Aaarrrghh. Sial" umpatku pada udara.


"Lo kenapa sih?" Tanya Aldira heran melihatku seperti orang gila. Kami berjalan bersisian menjauh dari toilet umum.


"Gue nyerah, Dir. Gue kalah" kataku sembari menyisir surai hitamku ke belakang. Mendengar ucapanku Aldira menaikkan sebelah alisnya.


"Sebenarnya yang galau itu gue-karena-gue-baru-putus. Kok yang kayak orang sinting lo sih?" Cibirnya menatapku sinis.


Kami sedang menghabiskan waktu bersama di sebuah tempat rekreasi. Menunggu Jihan, Ivanna, Bang Ami dan pasangannya, Axel, Luke dan pasangannya, Ardhan dan pasangannya, juga Ayla dan Sisy.


Bicara soal Ardhan dan pasangannya, mereka adalah junior kami yang memang akrab dan sering kumpul bersama kami. Dan Ayla, dia adalah teman sekelas ku yang sedang dekat dengan mas Mario. Ku ulangi sekali lagi mas Mario. Mario Xaverius Erlangga.


Flashback On.


"Aldira, boleh pinjam ponsel kamu gak? Aku mau promote ig aku yang baru" Seru Ayla Gatari.


"Oh iya aku juga pinjam ponsel kamu ya, List?" Pintanya padaku dengan pupy eyes andalannya.


Aku dan Aldira pun hanya menganggukkan kepala mengiyakan. Hal itu lantas membuatnya menjerit senang kami pun terkekeh karena tingkahnya itu. Selang beberapa menit sesuatu itu terjadi. Aku merutuki ucapannya yang seperti sebuah lonceng kematian.


"Eh, Mario Xaverius Erlangga siapa? Kalian kenal gak? Dia juga berteman sama kalian loh di ig" tanyanya penasaran pada kami.


Hell

__ADS_1


Aku tergugu, terpaku dan cukup shock mendengar hal tersebut. Kenapa? Kenapa harus nama itu? Rasanya seperti sesuatu menghimpit jantungmu mengurangi pasokan oksigen dalam paru-paru mu. Sesak.


Menyadari hal itu Aldira menjawab pertanyaan Ayla membantu menyembunyikan keterkejutanku.


"Dia senior kami dulu waktu di SMA, satu gereja sama Calista" Aldira pun menoleh serta memberikan tatapan bersikap lah seolah biasa saja padaku.


"I..Iya benar. Aku dan mas Mario satu sekolah dan satu gereja" kataku sembari tersenyum kaku.


Flashback off


Satu tarikan napas berat lolos dari bibir ranumku, membuat gadis disampingku yang telah beranjak dewasa menoleh. Ia benar, harusnya dirinya yang seperti orang sinting mengingat beberapa hari yang lalu hubungannya kandas ditengah jalan akibat seorang wanita penggoda yang mencuri Mahendra Rizaldi.


"Pria bodoh" ucapku yang mengundang rasa ingin tahunya.


"Cowok itu ada dua, Dir. Kalau gak 'bangsat' ya 'brengsek' Dir" tambahku sambil terkekeh berusaha menghibur dirinya.


"Gue baik-baik aja kok sekarang Lis" katanya sambil tersenyum kaku.


"Gak ada yang baik-baik aja setelah berpisah Dir. Enggak fisik lo bahkan hati lo. Apalagi lo pisah bukan dengan cara baik-baik"


"Gue udah ikhlasin semuanya Lis, bagi gue bahagia itu perihal mengikhlaskan, Lis" katanya menatap nanar pandangan didepannya sembari tersenyum miris.


Aku pun menghela napas menyetujuinya ikut menikmati pemandangan di depan kami. Hilir mudik pengunjung membuat kami mau tidak mau memperhatikan mereka. Kebersamaan yang terlihat disana. Entah itu bersama sahabat dan teman-teman mereka, pasangan muda-mudi atau bahkan yang sudah berkeluarga. Mereka terlihat.. Aku benci mengakuinya.


Lirihku sembari tersenyum miris. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca menatap nanar mereka. Ingin sekali rasanya seperti mereka. Bukannya aku tidak bersyukur tapi.. ada kerinduan mendalam melihat hal semacam itu.


"Kadang kita harus berkorban dulu untuk bisa bahagia Dir, dunia itu kejam ya Dir?" Tanpa sadar airmataku lolos satu persatu tak bersuara.


"Kata orang kalau kita mau bahagia, kita harus belajar mengikhlaskan Lis, termasuk masa lalu" Aldira pun menyenderkan bahunya padaku airmata pun luruh semakin deras melewati pipi sampai ke rahangnya.


Sekarang bukan diriku saja yang merasa terluka tapi orang yang sedang menyandarkan kepalanya pada bahuku. Lukanya masih baru entah sedalam apa tergoresnya. Rizaldi tidak pernah tahu bahwa Aldira selalu ada untuknya bahkan disaat dirinya menjadi pecundang. Aldira mengorbankan segalanya untuk Rizaldi, tidak semuanya tapi pengorbanan yang Aldira lakukan apa belum cukup?


Sampai kapan pun aku tidak pernah bisa mengerti seorang laki-laki.


"Lo cengeng juga ternyata. Gue kira lo kayak cowok gak bisa nangis" cibirnya sembari terkekeh kemudian menegakkan kembali dirinya ke posisi semula sembari mengusap jejak basah dari pipinya.


Mendengar gurauannya aku hanya memutar bola mataku malas "Hanya karena gue gak suka pake rok bukan berarti gue Laki. Gue cewek paten tau" kataku mengusap jejak basah pada pipiku sembari mencebikan bibirku.


Setelah itu mereka pun datang dengan tingkah mereka yang heboh, membuat kami menggelengkan kepala takjub. Ini baru yang namanya solid, hal yang sangat langka dalam persahabatan. Satu hari ini kami habiskan bersama, kami mencoba semua wahana yang ada di tempat ini. Aku dan Aldira memilih menepi saat mereka menaiki roller coaster. Kami phobia ketinggian. Mengetahui hal itu mereka pun menertawakan kami dan terus-terusan mengejek. Menyebalkan.


****


Hari demi hari kami lewati bersama, tak terasa Agas sedang menghadapi sidang proposalnya sebelum skripsi. Sedangkan diriku akan menghadapi PBL (Praktek Belajar Langsung) atau biasa di sebut 'Dinas' di puskesmas-puskesmas dekat daerah kampus.

__ADS_1


Begitu cepat waktu membawa kami kedalam pusarannya. Membuat kami sibuk dan tidak memikirkan apapun, semakin jauh waktu membawaku dengannya. Beberapa bulan lagi dan semuanya akan berakhir. Oh, betapa aku benar-benar ingin mengutuk sebuah pertemuan.


Sejauh apapun aku, hatiku akan selalu ada untukmu. Kita lebih beruntung. Di lain kisah, banyak orang yang saling memiliki tetapi tak saling mencintai.


"Lis? Sebelum aku wisuda nanti kita liburan bareng ya? Kita ke pantai, mau kan?" Celoteh laki-laki yang berada dibalik kemudi samping tempat dudukku.


Akupun menoleh tak percaya padanya "Pantai?" Tanyaku dengan wajah berbinar. Berusaha mencari kebohongan dalam pendengaranku dan ternyata tidak ada.


Ia pun tersenyum mempesona bak malaikat "Iya, katanya kamu mau liat sunset? Kamu suka banget senja kan?"


Refleks aku mencium pipi kirinya "Terimakasih, Gas" ia sedikit terkejut dengan tindakanku sebelumnya kemudian tersenyum kembali, kali ini lebih mempesona.


Sial. Ingin sekali aku menggigit bibirnya.


Rutukku dalam hati lalu mengalihkan pandanganku pada pemandangan diluar jendela.


Agak berembun karena diluar sedang hujan dan saat ini kami sedang mencari tempat makan, hari ini Agas menjemputku di kampus karena semester ini jadwalnya sangat amat berkurang membuatnya memiliki waktu luang yang tak terhingga. Hal itu membuatnya frustasi mau melakukan apa di waktu senggang.


"Gas? Aku mau soto" kataku sembari memasang pupy eyes andalanku. Agak menjijikkan sih tapi suatu hari nanti aku tak lagi bisa merasakan momen seperti ini.


Agas pun menahan diri untuk tidak menyemburkan tawanya melihatku "Ck. Sejak kapan kamu menjadi gadis manja Lis?" Tanyanya masih menahan tawanya.


"Aku sudah kepala dua Agas, aku bukan gadis lagi tapi seorang wanita" Cibirku sembari bersidekap dan mencebikan bibirku.


Kemudian tawanya pun meledak tak bisa ia tahan "Aku gak setuju dengan pendapatmu karena wajah, cara berpakaian kamu dan tingkah laku kamu tidak seperti seorang wanita dewasa"


Satu tarikan napas keluar dariku "Memangnya menjadi seorang wanita dewasa harus menjadi semembosankan itu? Aku gak mau merubah diriku" kataku sembari melihat tetesan embun pada kaca jendela mobil.


Agas pun meredakan tawanya, tangannya menggenggam erat salah satu tanganku dan membawanya ke pipinya "Jangan berubah Lis, aku gak mau. Tetaplah seperti ini menjadi Calista Hartawan yang bisa membuatku jatuh cinta"


Ucapannya sontak membuat pipiku memerah. Aku yakin degub jantungku tidak normal, darahku berdesir hebat bila menyentuhnya. Rasanya aku ingin menggetok kepalanya agar jangan membuatku seperti ini.


Aku tak ingin kamu pergi, sungguh.


Karena aku belum siap melepaskanmu.


Setiap kita akan selalu menjaga orang yang paling kita cintai. Termasuk aku yang ingin kamu selalu ada untukku. Aku tak mengharapkan selamanya, aku hanya ingin seutuhnya. Itu sudah lebih dari sekedar cukup. Tak memiliki itu urusan takdir, tak memiliki secara utuh itu urusan hati.


...Happy Reading guys 😄...


...Gak kerasa nih T.E.A.R.S mau TAMAT 🎉...


...Tapi kok sedih ya, udah mau End aja 😭...

__ADS_1


...Terimakasih yang masih setia sama karya aku yang nyeleneh ini. Sebelum berpisah Author minta maaf kalo-kalo ada kata-kata yang kurang pantas, kasar dsb. Karena Author gak sempurna dan kesempurnaan hanya milik-Nya 😂...


__ADS_2