
Calista merogoh tas kecilnya dan menatap layar ponselnya, Calista yang tak siap hampir saja menjatuhkan ponselnya, saat benda pipih tersebut berdering. Matanya melotot saat melihat nama yang tertera disana
"Adrian" gumamnya.
Keterkejutan Calista dipatahkan oleh kedatangan sosok laki-laki yang tidak asing lagi baginya "Apa?" tanyanya datar, pada sosok tersebut
Sosok itu tersenyum lebar "Belum juga pantat gue nempel ke bangku, Lis" jawabnya
Calista masih memasang wajah datarnya, ia meneguk minumannya secara perlahan, sesekali matanya beralih pada benda pipih dihadapannya dan hal itu tak luput dari pandangan sosok tersebut
"Kenapa lo?" tanya sosok tersebut.
Calista menoleh "Gapapa, cuma ngerasa sepi aja handphone gue" dalihnya.
Axel mengerutkan dahinya "Masa sih? Lo kan udah jadi influencer Lis, masa gak ada yang deketin lo sih?"
"Denger ya Axel Atmaja. Gue itu maunya cari suami, bukan pacar jadi gue gak mau habisin waktu gue lagi untuk pacaran lama-lama, kayak dulu" jelas Calista panjang kali lebar.
Axel yang mendengar penjelasan seperti itu, langsung menyemburkan minuman yang ada di mulutnya
"Lo lagi gak sakit kan Lis?" Axel menempelkan punggung tanggannya ke dahi Calista untuk mengukur suhu tubuh Calista.
Refleks Calista menyingkirkan punggung tangan Axel "Iisshh, apaan sih lo, lo pikir gue sakit apa!!" kesalnya.
Axel menyemburkan tawanya, melihat Calista yang kesal karena dirinya "Lis, Lis. Makanya jangan jutek banget jadi cewek, cowok juga takut kali mau deketin" tutur Axel mencoba meredakan tawanya
"Jadi kapan nyusul Aldiranya?" cibir Axel
Calista menempelkan bendah pipih di telinganya "Hallo pak, bisa kirimkan saya bubuk sianida? Teman saya sangat membutuhkan bubuk tersebut karena hidupnya terlalu berisik" tutur Rain, pura-pura menelpon seseorang.
Mendengar hal itu membuat Axel melempar tatapan tajam kearahnya "Ck, bercanda Lis"
Calista menarik sebelah sudut bibirnya dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja bar. Aldira membuka banyak meja untuk teman-temannya duduk dan minum
__ADS_1
"Kocok, Kocok, Kocok" seruan heboh terdengar saat Aldira mengangkat botol champagne dan membuka penutupnya
Gemuruh suara membuat malam semakin ramai, suasana disekitar semakin seru dan Calista sangat menikmati waktunya kali ini, tanpa mempedulikan dering ponselnya yang sedari tadi mencoba merebut perhatiannya.
Di tengah riuhnya suasana, Aldira menarik Calista dan yang lainnya ke lantai dansa, meninggalkan beberapa tamu undangan yang masih menggila di meja, yang di penuhi minuman beralkohol.
Calista meliuk-liukan badannya sembari membawa gelas yang berisikan champagne di tangannya
"Huuuuhh!!" teriak Calista dengan bebasnya dan terus meliuk-liukkan tubuhnya dengan liar.
Aldira dan yang lainnya menggelengkan kepala melihat tingkah Calista yang semakin menggila, mereka semua tertawa dan menari dengan luwesnya seakan meninggalkan beban yang selama ini mereka bawa kemana-mana.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka terutama Calista, dari sudut lain ruangan dimana mereka berada, tatapan mata yang tidak dapat diartikan
"Hallo bos, saya sudah menemukan target, selanjutnya apa yang harus saya lakukan?" Tanya sosok tersebut pada seseorang di sebrang sana
" ... "
"Siap bos, sudah saya siapkan, tinggal tunggu perintah selanjutnya dari bos" jawabnya lagi
" ... "
Sosok tersebut terus memperhatikan gerak-gerik Calista, kini tatapan matanya terlihat sangat tertarik pada target yang di tujunya. Entah, apa yang sebenarnya direncanakan oleh bos nya itu, ia dilema karena tidak menemukan hal-hal ganjil dari sosok targetnya tersebut
JLEB!!
"Aaaaaaa!!" teriakkan panik dan ricuh terjadi di sekitar ruangan yang gelap gulita, para tamu undangan saling merapatkan diri pada siapapun dan sama-sama merogoh ponsel mereka untuk menerangi Ballroom.
Belum lama berselang, lampu kembali nyala dan para tamu pun bisa bernapas dengan lega
"Aaaaaaa!!" teriakan histeris dari arah Aldira mampu menyedot perhatian tamu undangan, buru-buru mereka berbondong-bondong mendatanginya.
Aldira menangis histeris melihat sahabatnya tergeletak bersimbah darah di kakinya, ia pun pingsan tak kuasa melihat apa yang ada di depan mata, tidak hanya dirinya bahkan semua orang di sana pun berteriak histeris dan panik.
__ADS_1
Axel, buru-buru menelpon ambulan, Jihan dan Ivanna dengan cepat memberikan pertolongan pertama di sela tangis histeris mereka dan yang lainnya menelpon pihak berwajib, serta calon suami Aldira.
"Lis bertahan Lis, lo bisa!!" ucap mereka di sela tangisnya
Ambulans dan pihak berwajib pun datang bersamaan dengan seseorang yang terlihat tidak asing lagi bagi mereka tapi kenapa agak berantakan penampilannya. Laki-laki tersebut berlari dengan tergesa dan dengan sigap buru-buru membawa Calista menuju ambulans, akan tetapi sebelum itu, ia sempat berbicara kepada pihak berwajib tersebut
Dipandangi wajah Calista yang memucat "Sayang bertahan, aku gak mau kehilangan kamu lagi untuk selamanya" tuturnya disela isak tangisnya menuju ambulans.
Acara pun terpaksa dibubarkan dan semua orang di tempat kejadian menjalani pemeriksaan dari pihak kepolisian, untuk mencari bukti serta petunjuk dari pelaku.
***
Adrian tidak henti-hentinya membasuh wajah Calista dengan air hangat, berharap wanita tersebut terbangun dan mengumpatinya seperti biasanya. Ia tak menyangka dengan apa yang telah terjadi, ia pikir dirinya telah berkorban dan menyelamatkan semua orang serta perusahaan keluarganya.
Nyatanya dia hampir saja kehilangan wanita yang telah menjungkir-balikkan dunianya
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya sesosok yang sedari malam ikut membantu Adrian sampai menemaninya di rumah sakit ini.
Tanpa menoleh, Adrian berkata "Thanks ya, selama ini lo udah jaga dia dengan baik" tuturnya dengan tulus
Agas mengusap wajah frustasi "Gue ngelakuin ini untuk Calista, bukan lo. Sorry, ini di luar jam kantor dan profesionalisme tidak berlaku"
Adrian hanya mengangguk tetap tidak menoleh pada sosok tersebut. Sosok tersebut mendekat dan ikut menatap wanita yang terbaring seperti mayat hidup, dihidungnya terpasang selang oksigen, tangan yang dipasang selang infus serta perban dikepalanya yang masih terlihat rembesan cairan berwarna merah
"Lo yang menyebabkan ini semua, Adrian. Harusnya lo yang ada di tempat itu, bukan Calista" desisnya menahan kesedihan sekaligus emosi
Kali ini Adrian menoleh kepada rekan bisnisnya tersebut, dengan tatapan sendu dan tetap diam. Ia juga tidak marah dengan luapan emosi yang di tumpahkan padanya, jujur saja hatinya juga hancur karena penyesalan terdalamnya, yang meninggalkan Calista tanpa kabar, justru malah membahayakannya
Terdengar keributan dari luar kamar, Agas dan Adrian bersiap. Mereka was-was dan saling pandang, sama-sama berusaha untuk melindung wanita yang amat berarti dalam hidup mereka, sekalipun peran wanita tersebut berbeda untuk keduanya.
Adrian mengeluarkan pistol dari balik bajunya, mengekangnya dan bersiaga. Sedangkan Agas, menyiapkan pisau lipatnya yang dia bawa kemanapun ia pergi
BRAKKK!!!
__ADS_1
Happy Reading..