
Axel bersiul ketika sampai pada bagian Aldira menarik Calista ke dance floor "Gila Calista sexy banget" gumamnya tanpa sadar, melihat gerakan tari nyeleneh Calista.
Adrian mengarahkan pistol kearah mata Axel dan Agas tak mau kalah dengan menarik kerah baju Axel "Diam atau gue gampar"
"Bro-bro. Gila lo ya" tutur Axel ketakutan melihat Adrian mengarahkan pistol kearahnya.
Iqbal yang sedari tadi mengambil mode serius dan bijak, menumpahkan tawanya dengan keras, karena menurutnya hal ini sangat menghibur sekali dan menarik perhatian dari ketiganya
"Sumpah selera humor lo psycho, Bal" ucap mereka kompak.
Setelah puas tertawa Iqbal pun meminta maaf lalu menyuruh mereka untuk kembali fokus pada rekaman cctv dan mereka pun kembali melanjutkan menonton.
Beberapa menit pun berlalu, pandangan mata mereka tak lepas dari rekaman cctv tersebut.
Adrian yang semula serius memperhatikan, berubah menjadi tegang dan merasa tidak nyaman, begitu pun dengan Agas, raut wajahnya mengeras dan Axel terlihat memendam kekesalan. Hanya Iqbal yang terlihat tenang memperhatikan
"Bisa kita ulang waktu Calista duduk sendiri di Bar dan tiba-tiba buaya ini datang" tutur Agas sembari menunjukkan jarinya kearah Axel.
Axel hanya memutar bola matanya keatas, ia lelah sekali berhadapan dengam masa lalu sahabatnya ini
"Jangan mulai lagi deh Gas" dengus Iqbal
"Agas benar, kita ulangi dari menit itu dan pasang mata kalian dengan awas" tutur Adrian memberi perintah pada Iqbal seraya mengusap dagunya.
Iqbal, Agas dan juga Axel saling pandang dan menganggukkan kepalanya, ikut menyetujui apa yang dikatakan oleh Adrian
"Peringatan buat lo Axel Atmaja, sekali lagi lo godain Calista, hidup lo gak akan tenang" cibir Adrian.
Axel menyemburkan wine dari mulutnya karena cibiran Adrian "Ya, Allah, ya Tuhanku. Gue terdzolimi terus ya disini"
Agas yang memperhatikan interaksi keduanya tersenyum culas. Agas akui, Adrian lebih to the point dan tanpa basa-basi seperti dirinya.
Benar-benar keluarga Saseno
Batin Agas memperhatikan Adrian dan sesekali melirik teman dekatnya semasa kuliah. Iqbal Dwi Saseno.
Tanpa di duga Axel menghentikan rekaman cctv tersebut "Sorry nih, jangan marah dulu ya"
"Bal, tahan gue bal" tutur Agas, yang kembali geregetan dengan tingkah laku laki-laki tersebut
__ADS_1
Iqbal tak merespon ucapan Agas, malah sekali lagi ia menikmatinya. Sangat.
"Lanjut Xel" tutur Adrian.
Axel memperbesar gambar rekaman cctv tersebut "Dari seluruh tamunya Aldira, dia yang paling mencolok" tutur Axel berusaha mengingatnya.
Mereka semua merapat untuk memperhatikannya lebih seksama.
"Lo yakin Xel? Mungkin saudaranya Aldira kali" tutur Agas memberi sugesti positif, takut-takut mereka salah target dan mengacaukan semuanya
"Tapi dari cara dia berpakaian dan gerak-geriknya, agak mencurigakan sih" timpal Iqbal yang sangat serius memperhatikan detail sosok pria misterius yang ada dalam rekaman cctv.
Dering ponsel Adrian mengagetkan mereka semua..
"Astagfiirrr!!" keluh Axel.
"Aaiisshhh" kesal Agas.
Iqbal hanya menghela napas cukup keras, setidaknya dia masih punya emosi untuk merasakan banyak hal.
Adrian memeriksa ponselnya, tertera panggilan dari nomor pribadi. Namun, Adrian sengaja untuk membiarkannya
Semua orang disana meliriknya dengan penuh kebingungan dan heran. Bingung karena ucapan Adrian dan heran, mengapa mimik wajah Adrian kentara menahan emosi dan kata-katanya seperti mengisyaratkan untuk maju ke medan perang?
Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?
"Kita kerumah sakit sekarang, ada orang yang berusaha membunuh Calista dan dia sudah melukai Aldira" mendengar hal tersebut tanpa ba bi bu, buru-buru lah mereka kembali kerumah sakit.
*****
Sepanjang perjalanan, Adrian sangat gelisah tak menentu. Lagi ia hampir kehilangan Calista, ia semakin merasa bersalah karena terus saja membiarkan Calista tanpa pengawasannya
"Bro, tenang! Calista ada yang jagain. Ada calonnya Aldira dan pengawalnya yang ikut menjaga Calista" tutur Agas menepuk bahu Adrian berusaha menenangkannya, walaupun ia sendiri juga merasa gelisah.
Axel dan Iqbal hanya terdiam namun nampak sekali wajah khawatir mereka dan juga jantung mereka yang tak karuan karena dampak dari apa yang terjadi seharian ini.
Sesampainya dirumah sakit..
Mereka pun terburu-buru masuk dan berlari kearah ruangan, dimana Calista dirawat. Terlihat dari kejauhan Aldira dan calon suaminya juga beberapa orang berseragam menjaga ruangan Aldira
__ADS_1
"Bal, ini kita kayak lagi syuting film mafia-mafia yak" bisik Axel pada Iqbal yang entah sejak kapan mereka akrab
"Anggap aja begitu, biar lo seneng dan lo bisa diam" tutur Iqbal tenang tapi masih dengan kata-kata sarkasnya.
Axel mendengus "Gak heran sih kenapa lo cocok temenan sama Agas" tuturnya kembali.
Iqbal pun mengangkat bahunya acuh "Gue emang kayak gini xel, karena lo cowok. Kalau lo cewek, ya sikap gue gak beginilah"
Mendengar hal nyeleneh dari Iqbal, Axel pun terperangah tak percaya. Ternyata, Iqbal memang tipe orang yang sangat to the point dan sulit dipahami, layaknya wanita
"Gimana keadaan Calista? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Adrian to the point pada kedua sejoli tersebut
"Adriiiaaaannn" panggil Aldira senang bercampur haru.
Adrian menaikkan kedua alisnya. Namun, melihat luka baru yang Aldira dapat, Adrian menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak beres disini
"Tadi ada insiden tapi udah ditangani sama anak buah gue" tutur calon suami Aldira.
Adrian mengedarkan pandangannya, tidak ada yang ganjil tapi tunggu dulu. Salah satu bodyguard kepercayaannya tidak ada ditempat. Adrian harus tetap tenang, jika ingin menjebak serigala kita harus punya umpan yang layak dan berharga.
Adrian menganggung dan mengulurkan tangannya "Thanks ya bro, tanpa lo mungkin gue akan kehilangan dia lagi" ucap Adrian tulus, arah pandangannya melirik Calista yang masih terbaring lemah
"Sama-sama, itu juga karena gue takut kehilangan Aldira" tutur laki-laki tersebut pada Adrian dengan senyum tulus, kemudian mengusap lembut pundak Aldira yang masih memandangi Calista dari jendela.
Melihat interaksi Aldira dan pasangannya, juga Adrian pada Calista. Agas menghela napas berat kemudian dia pergi menenangkan pikirannya
"Gas mau kemana lo?" tanya Axel yang dilanda kejenuhan. Agas hanya diam saja dan lantas pergi diikuti oleh Axel. Namun, Agas sudah lelah dengan Axel dan pada akhirnya hanya membiarkannya saja
Ditangga darurat..
Flashback ON
Pertemuan kita yang tidak di sengaja membawaku jauh mengenal dirimu. Masa orientasi siswa yang menjadi titik awal cerita kita terangkai. Ada binar ceria ketika aku bersamamu, membicarakan hal yang konyol seperti kapan film Mr. Bean pensiun atau kenapa lukisan monalisa memiliki kening yang lebar? Tanpa sadar kita terjebak dalam rasa nyaman yang tidak bisa dihindari.
Aku selalu ada di sisinya dari usia kami 16 tahun sampai saat ini. Merayakan ulang tahun bersama, tumbuh dewasa bersama, melukis kisah kita pada lembaran yang sama. Hal yang selalu ingin ku ulang adalah pertemuan kita yang tanpa disengaja.
Setelah dirinya, adakah seseorang yang seperti rumah untukku nanti? Haruskah aku mengutuk takdir yang mempertemukan kita? Entahlah. Mungkin setelah dirinya aku akan menutup rapat hatiku, berusaha menyibukkan diri dengan hal-hal apapun.
Rencana kami kedepannya hanyalah sebuah rencana dimana mimpi-mimpi yang telah kami rangkai takkan pernah terjadi. Biarlah aku menemaninya disaat dia belum menjadi apa-apa. Kelak suatu hari nanti yang entah kapan, aku berharap orang yang akan menemani sisa usianya tidak akan pernah mengecewakannya seperti diriku.
__ADS_1
Happy Reading..