
Di kantin..
"Ada apaan sih? Lo tau? Gara-gara lo gue kena semprot nih cewek Arab-lombok" oceh Calista seraya memasukkan makanan kedalam mulutnya
"Iyaaa nih, ada apaan sih Xel? Ada masalah?" Tanya Aldira penasaran, dengan raut wajah penasaran
" Janji ya kalo masalah ini jangan sampai nyebar?" Kata Ku serius.
Mereka menatap mataku lekat berharap menemukan kebohongan disana, tapi sayang mereka tidak menemukan apa pun. Kemudian mereka merapatkan tempat duduk seraya menurunkan volume suara
"Lo bisa pegang kata-kata kita" jawab mereka dengan penuh keyakinan. Aku pun menghela napas lelah sebelum mengatakan sesuatu
"Hmmm.. Sebelumnya kalian udah tau kan kalo gue sama cewek gue itu pacaran udah lama banget. Bahkan dari smp?" Kata Ku memulai percakapan
" Iyaaa, terus terus?" Kata Aldira penasaran
"Dan.. seminggu yang lalu gue tuh hampir tunangan" kataku dengan nada yang agak berat. Calista dan Aldira hanya diam dan saling pandang
"Maksudnya hampir?" Tanya Aldira tidak sabaran
" Xel. Lo kalo cerita jangan setengah-setengah kenapa" kata Calista gregetan
"Nanti aja gue lanjut kalo gue udah siap dan perasaan gue udah tenang pasti gue bakal cerita ke kalian. Jadi gue mohon banget jangan sampai kesebar ya? Sebelum gue sendiri yang cerita ke kalian" kata Ku mengakhiri percakapan dengan satu tarikan napas.
Kemudian aku mengambil tas seraya bangkit dari tempat duduk dan pergi meninggalkan mereka yang dipenuhi tanda tanya serta penasaran, kentara dari wajah mereka berdua
Di kelas..
"Xel?" Panggil Calista, sembari menepuk pundakku.
Aku hanya tersenyum dan menyumbatkan earphone ke telinga, lalu memejamkan kedua mata seraya bersandar pada tembok
"Kadang hati itu perlu patah Xel, agar lo tau bahwa apa yang lo miliki bukan sepenuhnya milik lo. Mungkin Tuhan tau yang terbaik buat lo, dia gak kasih apa yang lo inginkan tapi dia tau apa yang lo butuhkan" katanya sembari berlalu.
Sejujurnya aku tidak mendengarkan musik apapun, aku hanya memejamkan mata dan tanpa di duga mendengarkan apa yang Calista ucapkan.
Hal itu sedikit membuatku tenang "Calista? Gue duduk disamping lo ya gue mau curhat" kata ku yang menarik kursi kearahnya
"Iyaaa" jawabku yang iba melihat wajahnya yang kuyu.
"Minta tips move on instant dong" pintanya membuka obrolan kami. Sangat disayangkan dosen sudah tiba dikelas dan Calista hanya menuliskan sesuatu diselembar kertas kosong;
__ADS_1
Kadang kita dihadapkan dengan kondisi-kondisi yang instan. Tapi tidak dengan melupakan
"Maksudnya?" Balasku pada secarik kertas yang Calista tulis
"Xel? Move on itu bukan hal yang instan. Lo tau gak? Pada hakekatnya manusia itu bukan makhluk yang gampang melupakan sesuatu Xel. Misalnya; mau lo pergi ke ujung dunia pun, lo pasti akan pulang lagi kerumah lo karena sebuah ingatan. Meskipun lo pergi bertahun-tahun, lo akan tetap Teringat sesuatu dan sekeras apapun kita melupakan, atau menolak sesuatu itu terputar kembali, kita gak akan pernah sanggup. Justru dengan melupakan begitu keras, sekeras itu juga kita hanya akan menyakiti diri sendiri" ungkap Calista, menjabarkan isi kepalanya
"Jadi gue harus bagaimana?" Kata Ku yang merasa kurang puas dengan penjabarannya
"Manusia itu punya caranya sendiri mengatasi masalah yang ada di bumi ini. Apalagi urusan perasaan. Jatuh dan Cinta hingga Patah, yang tau caranya buat sembuh ya diri kita sendiri Xel." tuturnya lagi
"Kenapa diri kita sendiri?" Tanyaku yang masih berusaha mencerna kata-katanya, sembari memperhatikan dosen menjelaskan materi hari ini
"Karena setiap kita, punya sudut pandang berbeda mengenai suatu masalah" jawabnya, yang diakhiri dengan tiba giliran kelomponya maju untuk presentasi.
Selesai presentasi aku kembali ketempat dudukku semula bersama Axel. Tapi ternyata kursi disebelah kiriku ada yang menempati jadi kami bertiga sekarang
"Ngapain sih lo duduk deket Calista Xel? Wah lo temen makan temen Xel." Makhluk gaib yang baru saja menempati kursi sebelahku berbicara
"Lo yang ngapain duduk disebelah gue? Udah gitu berisik lagi. Pindah sana, balik ke asal lo tadi" ketus Calista yang kesal karena ulahnya.
"Nah loh jadi marah kan Calista lo sih Luke" kesal Ku karena ulah Luke Wijaya.
***
"Kenapa?" Tanyanya, saat sedang menstalker salah satu akun sosmed seseorang diponselnya
"Ini siapa Lis? Cantik" tanyaku yang menunjuk ke salah satu sosok yang ada di postingan sosial media Calista
"Oh. Itu temen sd gue namanya Anggia" jawabnya.
"Kenalin dong Lis? Ya?" Pintaku seraya mengikutinya menuju ruang kelas. Beruntung koridor tidak terlalu ramai, jadi tidak akan ada suara-suara ledekkan yang norak sekali
"Ah elah kenalan sendiri kek. Add aja itu instagramnya" cibirnya
"Terus abis itu gue musti ngapain?" Tanyaku lagi
"Ck. Anak tahun berapa sih lo Xel? Pedekate aja segala lupa caranya. Dengerin ya syamsuddin, lo tuh laki, masa masih nanya caranya pedekate ke cewek?" Cibirnya lagi kali ini diikuti tawa meledek
"Yaaaah elo mah ga asik nih. Kan lo temennya doi jadi yang lebih tau doi ya lo" jawabku tak terima
"Tapi kan yang mau kenalan lo bukan gue" katanya sewot, sembari berlalu meninggalkan Ku dikelas dan pergi ke kantin menyusul Aldira.
__ADS_1
***
Calista berjalan menghampiri ku dan menyuruhku untuk mengikutinya ke taman sebrang perpustakaan kampus.
"Whooaa. Jangan buru-buru Witch. Tidak ada yang akan kerumah sakit" kata ku yang membuat Calista berhenti bergerak dan menoleh kearahku
"Wah, liat ini. Apa tadi? Witch? Rumah sakit..? Hebat" katanya tertawa sembari bertepuk tangan terkejut dengan kemampuan ku membaca pikiran
"Gue bukan peramal, dukun apalagi Witch seperti yang lo bilang barusan. Harusnya itu julukan buat lo karena kemampuan lo yang mengesankan" ucapnya sarkastik
"Bukannya kita sama? Mengejutkan bukan? Bisa peka sama hal tak kasatmata, pintar membaca aura seseorang, memberi nasehat seakan-akan lo hidup udah lama. Ah satu lagi, bau lo itu menarik dan itu membuat mereka atau siapapun nyaman dekat sama lo" Balas ku seraya berjalan mengelilinginya dan berhenti tepat di hadapannya
"Sakit jiwa ya lo? Gue gak mau basa-basi lagi. Gue ngajak lo ke sini mau menuntut sesuatu dari lo; 1. Berhenti bicara yang aneh-aneh karena gue manusia bukan mahkluk aneh 2. Jelasin sama gue kenapa lo menjauh bahkan menghilang gitu aja dari Anggia
Jangan menguji kesabaran gue 4. Semua yang lo sebutkan tadi gue akui emang benar 5. Dan seperti yang gue bilang kalo gue B. U. K. A. N W. I. T. C. H jadi stop. Gue manusia bukan mahkluk mitologi" gerutunya kesal sembari mengacungkan telunjuknya ke wajahku
"Wow oke oke gue cuma bercanda tadi. Jadi lo mau tau sesuatu dari gue? Kenapa?" Jawabku seraya mengangkat kedua telapak tanganku di depan dada berusaha menenangkannya dan menyuruhnya mundur sedikit
"Gue gak suka dibercandain saat gue lagi serius. Ya iyalah. Karena lo hubungan gue sama Anggia renggang" ocehnya lagi yang membuatku membeku dengan kerutan dalam di dahiku
"Jangan berusaha mencari alasan dalam diam, Axel!! Atau ingin menghindari topik pembicaraan? Setelah mata lo beralih ke arah lain, padahal beberapa detik sebelumnya bertatapan sama gue" tutur Calista to the point
"Dasar Witch. Oke fine gue bakalan jujur sama lo apa yang gue rasain sama temen lo itu" jawabku setelah terdiam beberapa menit
"Yaudah cepet kasih tau. Semuanya" ucap Calista, memberikan penekanan pada kata 'Semuanya'
"Gue tau Anggia cewek baik-baik. Sangat baik. Mungkin kalau gue orang yang tepat untuk dia, yang mencintai dia seutuhnya, jujur gue akan jadi orang terbahagia di dunia ini. Karena dari cari dia chat, cara dia perhatian, sampai gue denger suaranya di telpon gue tau dia cewek yang harus butuh imam seperti cerminan dirinya sendiri.
Gue bukan cowok baik Lis, dan gue bukan seseorang yang tepat buat Anggia. Karena cowok yang baik gak akan pernah buat cewek ngeluarin airmata. Kecewa." seketika Calista terperangah mendengarkan ucapan yang keluar dari bibirku
"Tapi lo udah buat airmata itu jatuh dari Anggia. Kenapa Xel?" Katanya lemah, mungkin reaksinya sedikit shock dengan penjelasan ku beberapa saat lalu
"Gak semua masa depan itu pasti List. Beberapa diantaranya bisa berubah. Kadang yang kita pilih juga belum tentu tepat" jawabku yang mulai beranjak dari tempat kami berdebat
"Jangan berpikir terlalu keras. Lo sendiri yang tau kapasitas seseorang itu lebih baik dari orang lain Lis, bahkan orang itu sendiri. Kemampuan lo itu hebat harusnya lo cukup pintar untuk tetap membiarkan gue menjauh dari teman lo itu" kataku lagi sebelum benar-benar meninggalkannya sendiri.
Happy Reading..
__ADS_1