
Melihat interaksi Aldira dan pasangannya, juga Adrian pada Calista. Agas menghela napas berat kemudian dia pergi menenangkan pikirannya
"Gas mau kemana lo?" tanya Axel yang dilanda kejenuhan. Agas hanya diam saja dan lantas pergi diikuti oleh Axel. Namun, Agas sudah lelah dengan Axel dan pada akhirnya hanya membiarkannya saja
Ditangga darurat..
Flashback ON
Pertemuan kita yang tidak di sengaja membawaku jauh mengenal dirimu. Masa orientasi siswa yang menjadi titik awal cerita kita terangkai. Ada binar ceria ketika aku bersamamu, membicarakan hal yang konyol seperti kapan film Mr. Bean pensiun atau kenapa lukisan monalisa memiliki kening yang lebar? Tanpa sadar kita terjebak dalam rasa nyaman yang tidak bisa dihindari.
Aku selalu ada di sisinya dari usia kami 16 tahun sampai saat ini. Merayakan ulang tahun bersama, tumbuh dewasa bersama, melukis kisah kita pada lembaran yang sama. Hal yang selalu ingin ku ulang adalah pertemuan kita yang tanpa disengaja.
Setelah dirinya, adakah seseorang yang seperti rumah untukku nanti? Haruskah aku mengutuk takdir yang mempertemukan kita? Entahlah. Mungkin setelah dirinya aku akan menutup rapat hatiku, berusaha menyibukkan diri dengan hal-hal apapun.
Rencana kami kedepannya hanyalah sebuah rencana dimana mimpi-mimpi yang telah kami rangkai takkan pernah terjadi. Biarlah aku menemaninya disaat dia belum menjadi apa-apa. Kelak suatu hari nanti yang entah kapan, aku berharap orang yang akan menemani sisa usianya tidak akan pernah mengecewakannya seperti diriku.
Aku bertanya pada seseorang tentang dia yang beberapa hari ini aku hindari, hanya karena aku takut terluka.
Agas Cokrodinoto : Calista udah punya pacar ya dir?
Aldira Respati : Lah. Lo kan deket sama dia masa ga tau?
Agas Cokrodinoto : Hmmm.. Gue sengaja ngejauh, karena gue denger gosip dia udah ga jomblo lagi.
Marah? Ada hak apa aku marah? Kecewa? Iya kenapa Lista tidak memberitahuku. Sedih? Ah entahlah hanya saja ada rasa kosong dan hampa yang tidak bisa dijelaskan.
Aldira Respati : Lo sih Gas, salah lo gantungin dia. Lo tau Gas? Sesabar apa dia nahan semuanya Gas? Nahan sakit saat lo masih deket sama matan lo. Bahkan dia nahan perasaannya buat lo Gas, dia ga mau lo jauh setelah lo tau semuanya. Dia rela nunggu lo buat peka Gas.
Aku tercekat saat membaca pesan dari Dira, seperti tertampar kenyataan bahwa ada hati yang tersakiti oleh ku. Seketika hatiku terasa teremas saat ku tau aku telah menyakiti dia. Ada sakit yang tak bisa diungkapkan. Ada pedih yang menyiksa dirinya. Dan itu karena Aku.
"Bego banget si lo Gas!!!"
Cibirku kesal sembari mengacak-acak rambut frustasi. Aku yang tidak pernah peka pada perasaan Calista. Semua yang dia lakuin tulus dan aku? Hanya cowok bodoh yang baru menyadari perasaan ku saat dia sudah lama berhenti dan kemudian pergi.
Agas Cokrodinoto : Sorry Dir, gue emang bego. Gue ga peka sama semua yang dia lakuin.
__ADS_1
Aldira Respati : Dan lo baru sadar Gas saat lo kehilangan dia? Mungkin itu karma Gas buat lo. Ada saatnya seseorang lelah menunggu apalagi dia tau bahwa lo itu kemustahilan yang selalu Calista semogakan.
***
"Aku gak tau di waktu mana aku akan bertemu kamu lagi, atau di waktu mana rindu tak lagi kembali bertamu. Bagaimana bisa waktu mempercepat putarannya untuk me-"
"Sssshhh. Ingat, gak akan ada seorang pun yang siap bila dihadapkan dengan perpisahan, Lis. Aku sadar waktu gak akan pernah mau menunggu kita"
"Jangan merasa kehilangan Lis, kamu pernah bilang kalau benteng kita tinggi. Aku sadar kita tidak bisa merubah takdir, jangan takut untuk melangkah kembali setelah kepergian nanti" tanpa di duga setetes cairan bening lolos dari pelupuk mataku.
Hidup tidak selalu tentang mengejar apa yang ingin di miliki. Tapi hidup lebih kepada belajar mencintai apa yang kita miliki dan mengikhlaskan apa yang tidak ditakdirkan menjadi milik kita. Tidak ada seorang pun yang siap dengan perpisahan, perpisahan selalu saja menyisakan rongga kecil yang hilang di dalam hati.
Sepoi angin menerpa kami. Sebentar saja aku ingin seperti ini, jangan cepat berlalu seakan kami tidak lagi mempunyai waktu dan alasan untuk tetap tinggal. Saat diriku ingin menguraikan pelukan ku, Calista mengeratkan kembali lengannya, menahanku.
"Gas? Sebentar aja" Aku pun menggangguk dan menciumi puncak kepalanya, sayang.
Yang ku takutkan dari pertemuan adalah mengikhlaskan sebuah perpisahan.
***
"Kamu senang di sini Lis?" tanyaku yang berbisik di telinganya, membuat jantungku berdegub kencang.
Beberapa menit berdiam menikmati suasana di sekitar pantai, Aku beranjak dari tempatku dan mengajak Calista berjalan menyusuri sepanjang bibir pantai. Beberapa teman-temanku sudah asik dengan dunia mereka sendiri, begitupun kami. Ada juga yang berjalan-jalan menyusuri bibir pantai seperti kami.
Tapak kaki yang tercetak di atas butiran pasir membuat jejak kami terlihat sebelum air laut datang untuk menghapusnya. Jemari kami yang saling terpaut entah sejak kapan membuat kami merasakan perasaan yang meluap. Seperti jatuh cinta kembali, masih dengan perasaan yang sama dan untuk orang yang sama.
Shall I stay? Would it be a sin?
"Aku harap di waktu ini waktu berhenti berputar, Gas" ucapnya seraya mengedarkan pandangan ke segala penjuru laut yang terbentang luas di depan mata.
Setelah lelah berjalan kami memilih berhenti dan duduk bersisian di hamparan pasir krem kecoklatan yang tersapu air laut
"Aku harap kita adalah kata selamanya untuk kamu dan aku, Lis" kata ku yang ikut menatap hamparan air berwarna biru di depan mata
*Calista menghembuskan napas berat sebelum mengatakan sesuatu
__ADS_1
"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan Gas, entah berpisah karena menikah, entah berpisah hanya untuk menjadi pelajaran hidup" ucapnya, sembari tersenyum tulus masih menatap hamparan laut*.
Aku pun menoleh pada Calista "Aku akan berhenti kalau kamu minta aku untuk berhenti" refleks Calista pun menoleh padaku, ucapanku membuatnya membeku
"Sesayang itu kamu sama aku?" tanyanya
"Seberharga itu kamu bagiku"
Senjapun mulai menyapa menghapus guratan mentari di angkasa. Menutup hari ini dengan sempurna. Menikmati senja bersama orang yang sangat berarti dalam hidupmu adalah sebentuk rasa syukur yang tak dapat ditukar dengan apapun.
***
Dari sini kami bisa melihat seluruh kota dalam ukuran miniatur. "Bintangnya bagus ya Gas?" Tanya Calista sembari menengadahkan kepalanya ke atas melihat langit yang bertabur bintang
"Iya, jarang banget ya kita bisa liat bintang yang hampir memenuhi langit. Biasanya cuma ada beberapa" ucapku ikut menengadahkan kepala
"Aku mau deh jadi salah satunya" refleks Aku menoleh pada Calista yang masih mengagumi taburan bintang di langit.
"Untuk apa?" Tanyanya ku penasaran, masih menatap Calista.
Calista pun menoleh padaku "Aku mau orang-orang selalu tersenyum bahagia ketika melihatku, seolah-olah beban mereka hilang begitu saja dan mendengarkan harapan-harapan mereka"
Aku pun tersenyum kemudian kembali memandangi langit "Gak harus jadi bintang untuk dapat di lihat dan di kagumi, Lis. Jadi diri kamu dan tunjukkan kelebihan kamu untuk bisa bersinar seperti bintang. Seharusnya begitu"
"Aku salah ya?"
"Enggak kok"
"Terus?"
"Kamu cuma gak tau aja kalau kamu itu bintang yang sedang berusaha bersinar. Aku yakin bintang-bintang disana akan iri saat sinar kamu lebih terang"
"Agas?" Calista menginterupsi ucapanku. Saat itu pun aku langsung menoleh padanya.
"Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk tetap bersamaku meskipun kamu tau aku jauh dari kata sempurna" Aku pun ingin bersuara namun Calista mencegahnya.
__ADS_1
Flashback Off
Happy Reading..