
"Wow oke oke gue cuma bercanda tadi. Jadi lo mau tau sesuatu dari gue? Kenapa?" Jawabku seraya mengangkat kedua telapak tanganku di depan dada berusaha menenangkannya dan menyuruhnya mundur sedikit
"Gue gak suka dibercandain saat gue lagi serius. Ya iyalah. Karena lo hubungan gue sama Anggia renggang" ocehnya lagi yang membuatku membeku dengan kerutan dalam di dahiku
"Jangan berusaha mencari alasan dalam diam, Axel!! Atau ingin menghindari topik pembicaraan? Setelah mata lo beralih ke arah lain, padahal beberapa detik sebelumnya bertatapan sama gue" tutur Calista to the point
"Dasar Witch. Oke fine gue bakalan jujur sama lo apa yang gue rasain sama temen lo itu" jawabku setelah terdiam beberapa menit
"Yaudah cepet kasih tau. Semuanya" ucap Calista, memberikan penekanan pada kata 'Semuanya'
"Gue tau Anggia cewek baik-baik. Sangat baik. Mungkin kalau gue orang yang tepat untuk dia, yang mencintai dia seutuhnya, jujur gue akan jadi orang terbahagia di dunia ini. Karena dari cari dia chat, cara dia perhatian, sampai gue denger suaranya di telpon gue tau dia cewek yang harus butuh imam seperti cerminan dirinya sendiri.
Gue bukan cowok baik Lis, dan gue bukan seseorang yang tepat buat Anggia. Karena cowok yang baik gak akan pernah buat cewek ngeluarin airmata. Kecewa." seketika Calista terperangah mendengarkan ucapan yang keluar dari bibirku
"Tapi lo udah buat airmata itu jatuh dari Anggia. Kenapa Xel?" Katanya lemah, mungkin reaksinya sedikit shock dengan penjelasan ku beberapa saat lalu
"Gak semua masa depan itu pasti List. Beberapa diantaranya bisa berubah. Kadang yang kita pilih juga belum tentu tepat" jawabku yang mulai beranjak dari tempat kami berdebat
"Jangan berpikir terlalu keras. Lo sendiri yang tau kapasitas seseorang itu lebih baik dari orang lain Lis, bahkan orang itu sendiri. Kemampuan lo itu hebat harusnya lo cukup pintar untuk tetap membiarkan gue menjauh dari teman lo itu" kataku lagi sebelum benar-benar meninggalkannya sendiri.
***
Awan kelabu menggantung di langit-langit ibukota. Hiruk pikuk kota selalu menjadi hiburan tersendiri bagi penikmatnya. Bisa dilihat, dari orang-orang yang menjajakan koran, juga tak lupa orang-orang yang menjajakan dagangannya, ditengah-tengah kemacetan setiap paginya. Bunyi-bunyi klakson yang bersahutan dan makian orang-orang yang tidak sabar menunggu.
Puas dengan hiburan yang sedang terpampang di depan mata aku pun tak luput juga menikmati alunan musik ringan bergenre jazz di dalam mobilku. Tau tidak? Kadang kita perlu sedikit menikmati hidup, bisa juga dibilang bersantai sedikit mengendurkan otot-otot yang tegang akibat terlalu serius dalam menjalaninya.
Pagi ini aku mendapat telpon mendadak dari grup wa dimana bisa di bilang circle kecil dari kelas dan para anggotanya tentu sudah kalian tau. Sudah beberapa hari Calista mengurung dirinya setelah perpisahan dia dan laki-laki itu.
Jujur ada rasa kesal bercampur kasihan. Kesal karena ulah gilanya yang menyiksa diri dan kasihan pada hubungannya yang terpaksa berakhir begitu saja oleh sebab. Omong-omong saat ini aku sedang menjemput Bang ami dan calon tunangannya, dan dua teman kami yang lain
Tok tok tok
"Calista. Buka pintunya dong, ibu bawain makanan nih dari kemarin kamu belum makan loh" terdengar seruan suara wanita paruh baya, dengan nada sarat akan kesedihan
"Lis? Buka pintunya dong, ini gue Dira. Lo tega biarin gue sendirian kemana-mana? Gue kangen sama Calista, sahabat gue yang selalu bikin gue kesel" Suara Aldira yang menahan sesuatu menyusul ucapan Sonya.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya Aldira mendobrak pintu ini tapi diurungkannya niat itu mengingat sahabatnya sedang sekarat. Hatinya
"Calista, baik-baik aja di sini. Tolong kasih waktu aku buat sendiri" seru suara parau dari dalam kamar, selain itu suaranya terdengar lemas dan juga menyedihkan
"Sampai kapan? Kita semua butuh lo, Calista. Keluarga lo, sahabat-sahabat lo, teman-teman lo. Semuanya" celetuk suara bass yang membuatku mengumpat karena terkejut Bang Ami
"Astagfiiirrr, Bang kuping gue!!!"
Bang Ami hanya nyengir kuda "Sorry Xel, gregetan gue" tuturnya
Aku hanya memutar mata malas "Kita semua pernah patah hati, Lis. Kita semua. Jangan sia-siain masa muda lo dengan kayak gini, masih banyak orang-orang di luar sana menunggu lo. Calista Hartawan, yang baru" teriakku pada orang yang ada dibalik pintu ini.
Bang Ami mencoba mengotok-ngotok pintu kamar Calista, berusaha
"Lis? Lo gak mau ketemu sama kita lagi?" Ucap Jihan sembari terisak. Membuatku yang mendengarnya dari balik pintu diam-diam ikut terisak.
***
Waktu tidak pernah menunggu siapapun dan disaat seperti apapun. Ia tetap berjalan maju tanpa pernah menoleh kebelakang apalagi berhenti. Ketika semuanya kembali seperti yang seharusnya, aku percaya bahwa ini semua adalah rancangannya.
Setiap kesalahan pasti akan bertemu pada kata penyesalan di akhirnya. Menunggu tanpa pernah mau berusaha memperbaikinya takkan pernah bertemu pada kata baik-baik saja di akhirnya.
Belajar dari setiap kesalahan yang orang lain lakukan itu harus, sebab manusia tidak di lahirkan untuk menjadi sempurna. Menjadi tangguh dari masa lalu adalah hasil dari proses-proses yang telah dilalui, menjadi hebat di masa depan adalah hasil dari bekal di masa lalu.
Melihat para wanita barbar ini berpelukan, iseng aku mendekati mereka dengan Bang Ami dan Ahdan "Kita gak di peluk juga?" Celetukku dengan raut wajah sedih yang seperti di buat-buat.
"BUKAN MUHRIM" Celetuk kami serempak dengan suara nyaring.
Membuat suasana di bandara menjadi hening karena tingkah kami yang membuat mereka menoleh kearah kami dengan tatapan intimidasi. Kemudian tawa kami pun pecah mengiringi kepergian Jihan yang sebentar lagi membawa segalanya bersama dirinya.
Datang akan pergi
Lewat 'kan berlalu
Ada 'kan tiada
__ADS_1
Bertemu akan berpisah
Awal 'kan berakhir
Terbit 'kan tenggelam
Pasang akan surut
Bertemu akan berpisah
Hey, sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Kurelakan dirimu pergi
Meskipun ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Kuharap terbaik untukmu
***
Tepukan pada pundak Axel membawanya kembali ke masa kini "Are you ok?" ternyata sosok itu adalah Agas Cokrodinoto.
Axel tersenyum lemah dan berkata "Cuma memori yang numpang lewat aja kok, sorry Gas" tutur Axel berusaha menyembunyikan apa yang baru saja ia pikirkan, hanya untuk menghargai seorang Agas.
Hari itu adalah hari dimana semua hal terjadi diluar kendali mereka. Sesuatu yang telah menimpa Calista, bukanlah kejadian yang biasa, Calista juga tidak memiliki musuh sejauh ini.
"Ternyata kalian disini" ucap seseorang yang mengejutkan keduanya dengan wajah lelah dan khawatir.
"Ada apa?" ucap keduanya serempak, Agas dan Axel.
"Calista.. " kata sosok itu lagi. Membuat Afas dan Axel saling tatap.
__ADS_1
Happy Reading..