THE SOUND OF LOVE

THE SOUND OF LOVE
Menikah Itu Apa Sih Pah?


__ADS_3

Semburat lembayung senja terlihat saat Calista menatap kaca mobil didepannya. Kali ini dirinya terpaksa harus bersedia diantarkan oleh Agas, perkara Chilla, yang nyaman tertidur dipelukan Calista


"Maaf" Agas mencoba memulai percakapan.


Calista menatap sosok yang sedang serius mengemudi "Untuk?" tanya Calista.


Agas menepikan mobil dpinggiran taman kota, kebetulan sekali masih ramai "Mau dekat dengan Chilla"


Calista beralih menatap Chilla yang masih terlelap dipangkuannya, tanpa sadar Calista tersenyum sembari mengelus sayang rambut Chilla


"Aku ngelakuin ini bukan untuk kamu, jadi jangan ge-er, Bapak Agas Cokrodinoto" tegas Calista.


"Eh, maaf" ucap Agas sekali lagi.


Sebelum Agas melajukan kembali kendaraannya, dirinya kembali tersenyum hangat, dadanya berdesir melihat pemandangan yang manis di depan matanya.


Calista menempelkan jari telunjuk pada bibirnya "Sssttt !! Nanti Chilla bangun"


Bisakah waktu berhenti tepat saat dirinya melihat pemandangan ini, momen yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya bahkan dirinya tidak pernah berharap lebih, seperti sebelumnya. Hanya mengetahui keadaan wanita dihadapannya saja, itu sudah lebih dari cukup baginya.


"Gas, kamu kenapa?" Agas yang ketahuan sedang memperhatikan Calista, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Agas menatap Calista "Enggak, gapapa. Cuma ke inget masa lalu aja" ucap Agas jujur, tanpa sekali pun kebohongan terlintas di matanya.


Mendengar kalimat kejujuran dari Agas, Calista hanya bisa diam. Ia bingung harus merespon apa. Agas pun memaklumi keadaan mereka saat ini yang kembali kaku dan kikuk, hanya keheningan yang menguar di dalam mobil.


Tidak ingin berlama-lama dalam situasi ini, Agas pun kembali melajukan mobilnya menembus kemacetan ibu kota.


Sesampainya di apartemen Calista..


"Chilla sayang, bangun nak, tante Calista mau pulang" Agas berusaha membangunkan putri kecilnya dengan lembut.


Tanpa sadar, lagi lagi Calista tersenyum melihat perlakuan Agas.


Chilla mengucek matanya sembari menguap "Pah, udah sampe ya?" cicitnya.


Agas tersenyum dan menganggukkan kepalanya "Loh, Pah ini bukan rumah kita" ucapnya kesal.


"Ini rumahnya tante Calista sayang, kita anterin tante pulang dulu" Chilla menoleh kearah Calista


"Tante tinggal sendirian atau sama Chilla yang lain?" Calista berusaha mencerna kata-kata gadis berusia empat tahunan.


Agas membantu Calista menjawab pertanyaan gadis kecilnya "Sayang, tante Calista masih sendirian, belum menikah jadi belum punya Chilla yang lain"

__ADS_1


Chilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Menikah itu apa sih Pah?" pertanyaan Chilla membuat Agas kikuk sekaligus bingung bagaimana menjelaskannya dengan tepat.


Calista menahan tawa gelinya "Seperti ini sayang" Calista menunjukan video pernikahan orang lain.


Agas ikut melirik ponsel Calista, lalu mengerutkan kedua alisnya menatap Calista, Calista melepaskan tawanya melihat ekspresi Agas.


"Pah, Chilla juga mau kayak gini pah" kata-kata polos yang keluar dari Chilla membuat orang-orang dewasa dihadapannya, menatap dengan tatapan peringatan.


Agas berlutut mensejajarkan dirinya dengan anak semata wayangnya


"Kalau Chilla mau seperti ini, Chilla harus pinter dulu sekolahnya terus tumbuh tinggi seperti tante Calista"


Calista mengulurkan tangannya dan Chilla mengembalikan ponsel Calista


"Tante, tante kalo takut cendirian tinggal sama Chilla aja, ada Papah juga disana, pasti Papah bisa jagain kita"


Mendengar hal itu, Agas menjadi salting karena tingkah anaknya sendiri dan refleks menutup mulut kecil Chilla dengan tangannya lalu buru-buru menggendong anak semata wayangnya ini dan tak lupa berpamitan pada Calista, ia kelabakan bagaimana bisa kata-kata seperti itu keluar dari mulut gadis yang masih berusia empat tahunan.


Chilla memang gadis yang ajaib dan unik, mungkin, jika dia keluar dari rahim Calista, maka Agas tidak heran lagi dari mana celetukan-celetukannya yang tiba-tiba menguar begitu saja tanpa filter.


Sepeninggalan Agas dan Chilla..


Calista berniat ke kantor untuk mengambil mobil yang ia tinggalkan dari kemarin, sejujurnya tidak masalah tapi Calista memikirkan gajinya yang mungkin akan terpotong sedikit hanya untuk biaya inap mobilnya.


Membuka pintu unitnya, Calista melepas sepatunya asal, berjalan dengan cepat untuk mencharger ponselnya. Sembari menunggu baterai ponselnya terisi setengah untuk bisa di charger tanpa harus mematikan ponselnya, Calista bergerak kembali menuju dapur. Perutnya bergemuruh kembali, padahal dirinya belum lama mengisinya.


"Beginilah rasanya jadi orang kurus, selalu lapar tapi tetap tidak beegerak jarum pada timbangan" gerutunya pada udara.


Calista membuka kulkas dan melihat apa saja isi kulkasnya yang bisa di olah menjadi masakan yang layak, jujur saja Calista bukan tipe cewek cantik, pintar secara akademik, pintar masak, pintar mengelola keuangan, pintar berdandan dan lain sebagainya. Dia hanya wanita biasa saja dan tidak sesempurna gadis majalah sampul atau chef-chef cantik seperti di tv.


Oke, sepertinya Calista akan membuat pasta dengan daging cincang dan saos barbeque, membayangkannya saja liurnya ingin menetes. Langsung saja ia mengeluarkan bahan-bahan yang akan di masak, lalu menyiapkan peralatan masaknya. Calista menyalakan lagu dari bluethoot sound yang sudah terhubung pada laptopnya.


NIKI - HIGH SCHOOL IN JAKARTA


Didn't you hear Amanda's moving back to Colorado?


(Tidakkah kamu mendengar Amanda pindah kembali ke Colorado?)


It's 2013 & the end of my life


(Ini tahun 2013 dan akhir dari hidupku)


Freshman year's about to plummet just a little harder

__ADS_1


(Tahun-tahun pertama akan sedikit lebih sulit)


But it didn't cause we kissed on that Halloween night


(Tapi itu bukanlah penyebab kita berciuman pada malam Halloween)


I bleached half my hair when I saw Zoe on your Vespa


(Aku memutihkan setengah rambutku ketika aku melihat Zoey di Vespamu (diselingkuhin))


It was orange from 3% peroxide, thanks to you


(Warnanya oranye dari tiga persen peroksida, makasih ya)


I needed a good cry, I headed right to Kendra's


(Aku butuh menumpahkan tangisku, melintas di otak ku si Kendra)


I hated you and I hoped to God that you knew


(Aku membencimu dan aku berharap bahwa kamu tahu itu)


Now there's drama (drama), Found a club for that


(Sekarang ada drama (drama), bahkan ada klub nya)


Where I met ya (met ya), Had a heart attack


(Di mana saya bertemu kamu (bertemu kamu), mendadak panik)


Yadda yadda, At the end, yeah we burned


(Singkat cerita, akhirnya kita semakin dekat)


Made a couple U-turns, you were it til you weren't


(Membuat hal itu semakin special, sampai kamu bukan siapa-siapa lagi)


Calista mengencangan Volume suara laptopnya hingga tidak bisa mendengar apapun bahkan bel pintu apartemennya. Ditengah kesenangannya berjoget dan bernyanyi dengan spatulanya


"Aaaaaaaa !!!"


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2