
Calista terbangun dan terduduk dengan rambut yang berantakan, matanya masih terpejam. Ia bangkit dari ranjang dengan rambut panjangnya yang awut-awutan hingga menutupi setengah wajahnya, mencoba berjalan menuju kamar mandi.
Memasuki kamar mandi Calista berhenti kemudian menghadap ke cermin "Aaaaa" dirinya terkejut dengan pantulannya sendiri
"Siaaaal" cicitnya.
Adrian yang melihat tampilan Calista seperti itu, menahan lututnya yang lemas. Ia akui Calista seperti hantu jika di lihat dari cermin.
"Aaaaaaaaaaa" teriak Calista melihat Adrian tanpa sehelai kain pun, Adrian pun juga ikut berteriak dan berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya
"Kamu ngapain di kamar aku?!" tanya Calista panik sembari menutupi matanya dengan kedua tangannya.
Adrian segera berpakaian "Ini kamar aku, kita tidur bareng disini semalem" tutur Adrian di sela-sela dirinya berpakaian.
Dan hal itu membuat ekspresi Calista berubah "Gak mungkin" mata Calista melotot kemudian melirik bagian tubuhnya yang terbungkus 'Piama'
Calista nampak berpikir keras "Sejak kapan gue pake piama?" tanyanya pada Adrian yang selesai berpakaian
"Kamu gak inget semalam?" tutur Adrian dengan senyum menggoda dan menaik-turunkan kedua alisnya.
Calista mengerutkan dahinya "Semalam? Di taman sama Iqbal terus- " Calista memberi jeda pada ucapannya lalu menatap Adrian dengan tajam.
"Semalem kita ngapain?" tanya Calista dengan hati-hati.
Adrian menghampiri Calista, mendekatkan wajahnya "Olahraga" jawab Adrian enteng dan hal itu benar-benar membuat Calista kesal
"Aawww" dengan sengaja Calista menginjak kaki Adrian dan membuang mukanya kemudian berjalan dengan cepat keluar dari kamar Adrian. Sebelum benar-benar keluar Calista mengacungkan jari tengahnya lalu menutup pintu kamar dengan kencang.
Adrian mendengus namun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kalau di pikir-pikir sudah lama ia tak merasakan momen-momen lucu bersama Calista, dan kira-kira kapan terakhir kali momen seperti ini datang?
Sementara itu di kamar Calista..
Calista berjalan gontai setelah menutup pintu kamarnya "Ck. Sial" dirinya berhenti di depan kaca seraya memandangi pantulannya dengan perasaan tak terbaca.
Matanya melotot seketika melihat bercak merah kebiruan di bawah telinganya "Astagaaa Nagaaaa. Aaaaaaaaaa" teriaknya panik. Jari-jari tangannya menggosok kulit lehernya tersebut dengan kasar, berharap tanda yang ada disana menghilang dengan cepat.
BRAAAKK!!
__ADS_1
Adrian yang sedang fokus dengan layar laptopnya untuk mengecek kerjaan yang dilimpahkan pada asistennya pun, terkejut. Ia melepaskan kacamatanya saat melihat penampilan Calista yang masih berantakan
"Adriiiaaannn huuuaaaaa" Adrian panik saat Calista menangis histeris.
Dengan cepat ia mendekati Calista dan menyuruhnya untuk tenang. Namun, percuma saja "Lo jahat tau gak!!" tutur Calista masih dengan tangisan.
Adrian mengkerutkan dahi dan Alisnya, ia masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Calista. Jahat? Kejahatan apa yang telah ia lakukan?
"Huuuaaaaaaa" tangis Calista makin keras dan membuat kening Adrian berkedut.
Kepala Adrian mendadak pening "kamu kenapa sih?"
Seketika tangis Calista berhenti "Kenapa? Kamu tanya kenapa?" tawa Calista mengisi atmosfer ruang diantara mereka berdua
"Iya kenapa?" tanya Adrian gemas.
Calista mengendurkan bahunya dan menghela napas lelah, wajahnya berubah menjadi cemberut "Nih, makasih tatonya" ketus Calista sembari menunjukan bagian lehernya yang terdapat bercak merah kebiruan.
Adrian mendadak salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Iya sama-sama" entah apakah jawaban itu pantas atau tidak, otak Adrian seperti mati rasa.
Calista terdiam seribu bahasa kemudian melangkah keluar kamar tanpa impresi apapun dan hal itu membuat Adrian merasa bersalah dan dirinya tidak jauh berbeda dengan pria brengsek di luar sana.
***
Semua orang di buat heran dengan tingkah dua sejoli ini, yah. Siapa lagi kalau bukan Adrian dan Calista. Bagaimana tidak, tumbenan sekali mereka terlihat tidak bersama. Seperti saat ini, dimana Calista memilih duduk diantara Iqbal dan Agas. Sedangkan Adrian di ujung kursi kosong berhadapan dengan sahabat Ayahnya.
"Hm, om.. Karena dirasa urusan kami sudah selesai disini, mohon ijinkan kami untuk kembali" tutur Bima, memecah keheningan yang terjadi di ruangan ini.
Aryo tampak menimbang-nimbang kemudian mengangguk setuju. Pasalnya, ia juga tidak bisa berlama-lama di Indonesia. Ia hanya ingin bertemu dengan anak sahabat karibnya ini, memastikan bahwa dirinya baik-baik saja dan terawat. Di tambah ada urusan yang harus ia bereskan dengan anak kandungnya
Aldira memberi kartu undangan ke Aryo "Sebagai tanda terimakasih, saya berharap om bisa datang ke pernikahan kami" tambah Aldira yang di sambut hangat orang-orang di meja makan tersebut.
Calista ikut menghangat, tersenyum bahagia dan sedikit berkaca melihat Aldira mentap Bima dengan penuh cinta. Ia berharap dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang Aldira rasakan saat ini dan hal tersebut tidak luput dari pandangan Adrian.
"Jadi kapan kalian akan kembali ke jakarta?" pertanyaan Aryo membuat semua pasang mata menatap Adrian, kecuali Calista.
Adrian menghela napas "Besok" dengusnya karena kesal ditatap seperti itu dan hal itu membuat tawa semua orang pecah, sekali lagi kecuali Calista dan Adrian menyadarinya.
__ADS_1
Pagi yang indah dengan suasana hati yang mendung begitulah yang terjadi antara Adrian dan Calista.
***
Malam hari pun tiba, semua orang nampak berkemas walaupun barang-barang yang mereka bawa tidak banyak, mengingat mereka ke sini bukan untuk berlibur.
Adrian menghampiri Agas dan yang lainnya di ruang tengah, disana Aryo sedang menceritakan pengalaman masa mudanya bersama Ayah Adrian. Walaupun sempat terjadi cekcok diantara keduanya beberapa hari lalu, Adrian mulai nampak biasa dan berusaha menunjukan kedewasaannya, meskipun itu harus bertarung dengan egonya sendiri
"Jadi bagaimana denganmu, nak?" tanya Aryo menatap Adrian.
Adrian yang mengerutkan dahinya nampak berpikir, kemana arah pembicaraan lawan bicaranya ini "Soal apa?"
"Pernikahan?" tanya Aryo dengan hati-hati.
"Tidak tahu" jawaban tersebut membuat semua orang disana menjadi diam seribu bahasa. Mereka nampak tidak percaya dengan jawaban yang Adrian lontarkan barusan.
Axel yang baru saja ingin melontarkan kata-kata, dibuat diam dengan makanan yang dimasukan paksa oleh Iqbal dan Agas dan hal itu membuat Axel kesal namun mengurungkan niatnya untuk berbicara.
Sementara itu dikamar Calista..
"Leher lo kenapa tuh?" tanya Aldira meledek. Muka Calista berubah menjadi cemberut
"Ck. Gapapa" jawab Calista cemberut.
Tawa Aldira meledak melihat tingkah Calista seperti anak kecil yang baru saja disukai oleh teman sebayanya
"Yee, malah ketawa sih"
"Eh, sorry beb. Abisnya lucu sih, bukannya lo udah pernah ya sama Agas dulu?" tutur Aldira mengingatkan.
Calista menunduk dengan muka memerah "Tapi kali ini beda rasanya, lo tau sendiri setelah Agas gue gak pernah deket sama cowok lain apa lagi sentuhan yang lebih jauh"
Aldira menyeringai mendengar perkataan Calista "Tapi lo menikmatinya kan? Hebatan mana Agas atau Adrian?"
Calista mengangkat wajahnya dan menyipitkan matanya kearah Aldira "Diiiirrraaaaaa, udah ah geli tau!!"
"Ih, Lis jawab dong penasaran, siapa yang jago"
__ADS_1
Tanpa disadari oleh mereka, seseorang berada di balik pintu mendengarkan percakapan mereka sedari tadi.
Happy Reading..