
"Lo yang menyebabkan ini semua, Adrian. Harusnya lo yang ada di tempat itu, bukan Calista" desisnya menahan kesedihan sekaligus emosi.
Kali ini Adrian menoleh kepada rekan bisnisnya tersebut, dengan tatapan sendu dan tetap diam. Ia juga tidak marah dengan luapan emosi yang di tumpahkan padanya, jujur saja hatinya juga hancur karena penyesalan terdalamnya, yang meninggalkan Calista tanpa kabar, justru malah membahayakannya.
Terdengar keributan dari luar kamar, Agas dan Adrian bersiap. Mereka was-was dan saling pandang, sama-sama berusaha untuk melindung wanita yang amat berarti dalam hidup mereka, sekalipun peran wanita tersebut berbeda untuk keduanya.
Adrian mengeluarkan pistol dari balik bajunya, mengekangnya dan bersiaga. Sedangkan Agas, menyiapkan pisau lipatnya yang dia bawa kemanapun ia pergi.
BRAKKK!!!
"Huuuuuaaaaa CALISTAAAAAAA!!!" isak tangis histeris terdengar dari sosok wanita yang tidak asing lagi bagi Agas dan Adrian.
Agas dan Adrian menghela napas lega kemudian bergerak membiarkan Aldira menjenguk keadaan Calista. Air mata bercucuran membanjiri wajah asia berdarah arab miliknya.
Aldira berjalan kearah Adrian, terlihat sekali emosi yang tertera dari sorot mata dan wajahnya yang mengeras
"Denger ya Bapak Adrian, yang terhormat. Jika terjadi sesuatu terhadap sahabat saya, saya tidak akan ragu untuk membunuh Anda" ancam Aldira dengan mencengkram kerah baju yang di kenakan Adrian.
Melihat Aldira dengan emosinya, Agas mendekati mereka dengan menyentuh pundak Aldira
"Dir, udah. Istigfar Dir" tutur Agas lembut. Namun, Aldira memberinya tatapan nyalang
"Jangan sentuh gue, ini juga salah lo" desis Aldira dengan mengacungkan jari telunjuk padanya.
Agas pun menarik tangannya kembali dan melirik Adrian "Lebih baik kita tinggalin mereka dulu Dri, kita bicara di luar"
Adrian pun mengangguk pada Agas dan mengekor dibelakangnya sembari menoleh sejenak kearah Calista, hatinya pilu, langkahnya pun berat.
Aldira menggenggam tangan Calista sambil terisak memandangi sahabatnya, rasa bersalah dan penyesalan menggelayuti perasaannya
"Lis, bangun Lis" tuturnya lemah disertai isak tangis yang masih terdengar dari dirinya.
Suara mesin monitor detak jantung memenuhi segala sudut ruangan dimana Calista terbaring, Aldira terus memantau monitor tersebut.
__ADS_1
Monitor Holter, adalah alat medis yang merekam ritme jantung secara terus-menerus. Monitor ini biasanya dipakai selama 24 hingga 48 jam selama aktivitas normal. Elektrode (tempelan pengonduksi kecil) ditempelkan ke dada Anda dan dipasang ke monitor perekam kecil
"Lis, maafin gue ya, gara-gara gue lo jadi begini" tutur Aldira masih terisak memandangi wajah sahabatnya. Namun yang diajak bicara hanya bisa diam membeku
Aldira menggenggam tangan Calista "Lis inget gak waktu pertama kali kita ketemu? Waktu itu kita masih kecil banget, masih duduk di taman kanak-kanak"
Aldira tersenyum sembari mengusap air matanya, berusaha keras mengajak Calista bicara. Berharap sahabatnya ini cepat merespon dan terbangun kembali
"Sebenernya gue lupa sih Lis, kapan dan dimananya but no matter how kita ketemu, its like a magic for me" Aldira masih berusaha untuk mengembalikan kesadaran Calista.
Aldira berhenti sejenak, air matanya kembali turun melihat sosok yang terbaring di hadapannya tidak juga merespon ucapannya. Ia mengusap airmatanya dan menarik napas dalam serta menghembuskannya secara perlahan
"Lis, gue kangen deh sama masa-masa putih abu-abu kita. Waktu dimana kita kembali ketemu" Aldira mengajak Calista memutar kembali memori tersebut.
Sementara itu diluar ruangan..
Agas dan Adrian nampak serius membicarakan sesuatu mengenai malam berdarah yang terjadi beberapa jam yang lalu
"Calista itu, apa dia punya musuh Gas?" Agas yang sedari tadi diam dengan pikiran melayang entah kemana, mengerutkan dahinya
Adrian menghela napas lelah, ia memijit pelipisnya nampak berpikir keras. Jika bukan musuh Calista secara alami, kemungkinan terbesarnya adalah musuh darinya dan juga Agas
"Terus lo sendiri? Apa lo pernah punya musuh?" tanya Adrian sarkas, kali ini ego nya tak mau kalah dengan Agas.
Adrian menatap Agas dengan wajah datar "Ya, eng -" Adrian nampak menghentikan ucapannya.
Memorinya seakan mengajaknya menerawang kembali masa lalunya..
Ting..
Adrian melangkahkan kakinya menuju suit room bernomorkan 111. Adrian mengetikan kode nomor yang hanya diketahui oleh mereka berdua dan tak lupa menempelkan jari telunjuknya pada sensor pintu.
Melepas alas kakinya dan menggantinya dengan sandal rumah, Adrian berjalan menuju kamarnya dan Michelle. Saat Adrian hampir mendekati pintu, ia mendengar suara ******* wanita dari balik pintu tersebut.
__ADS_1
Adrian mendekati suara tersebut dan mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit. Napas Adrian tercekat, lidahnya beku, dadanya bergemuruh hebat namun ia hanya membeku tanpa suara. Menatap pemandangan yang sangat menyakiti hatinya.
"Adriiiaann !! Woyyy!!" teriakkan Agas mampu menyadarkan dirinya kembali.
Adrian menggelengkan kepalnya dan membuat matanya tetap awas "Eh, Gas sorry. Kenapa tadi?"
"Nih" Agas menyodorkan secangkir expresso latte pada Adrian.
Yah, Agas akui dirinya masih mencintai Calista dan masih belum rela Calista mendapatkan pengganti dirinya dengan cepat. Namun, jika dilihat dari apa yang dilakukan oleh Adrian, sudah waktunya kah dia benar-benar mengakhiri semuanya? Haruskah dia melepaskan dan merelakan Calista bahagia bersama pria lain, yang tentu saja bukan dirinya.
Di tengah kekakuan Adrian dan Agas, nampak pria-pria gagah, berpenampilan rapi juga berwibawa
"Selamat pagi pak" seorang pria berwajah tegas memberi salam hormat pada Adrian, Agas sontak menoleh pada Adrian dengan heran
Adrian mengangguk "Kami ingin melaporkan hasil penyelidikan dari temuan kami" Agas menatap Adrian meminta penjelasan
"Kita bicarakan dimansion saya" Adrian memberi kalimat penegasan untuk semua orang yang menatapnya, tanpa terkecuali
"Tolong tambahkan penjagaan untuk Calista dan juga nona Aldira di dalam, jika ada kesalahan sekecil apapun, penjara seumur hidup saja tidak cukup" tegas Adrian sekali lagi, pada orang kepercayaannya.
Hal itu pun disanggupi oleh para bodyguardnya dengan menganggukkan kepala mereka dan salah satunya menelpon rekannya untuk menjaga wanita bosnya dan juga teman dari wanita bosnya tersebut.
Sebelum mereka meninggalkan rumah sakit, langkah mereka pun terhenti karena dua sosok yang ada dihadapan mereka
"Iqbal" cicit Adrian dan Agas hampir bersamaan. Agas menoleh pada Adrian dan Iqbal meminta penjelasan.
Tidak sampai di situ saja, Agas menatap tajam sosok laki-laki yang di bawa oleh Iqbal "Axel Atmaja, ngapain lo di sini?" tanya Agas sarkas
Axel menegang melihat sosok yang dulu hanya ia dengar dari namanya saja. Agas Cokrodinoto. Axel menelan salivanya, namun buru-buru ia menutupi mimik wajahnya dan menyembunyikan rasa gentarnya
Agas melirik temannya semasa kuliah "Lo siapanya, laki tua ini Bal?" tanya Agas sembari mengacungkan teluncuk ke Adrian.
Adrian mendengus "Ck. Gue masih muda, Agas Cokrodinoto" Adrian menepis jari telunjuk Agas.
__ADS_1
Happy Reading..