
Calista terkejut seraya memegangi dadanya yang naik turun, jantungnya sempat memacu iramanya dengan cepat melihat sosok dihadapannya saat ini. Mengapa tiba-tiba Adrian sudah ada di apartemennya, se-ingatnya ia merasa tidak memberitahukan kode keamanan atau semacamnya pada laki-laki tersebut
"Bapak !!" pekiknya, akibat reaksi syok yang masih melanda.
Adrian bersidekap dan menaikkan kedua alisnya "Apa?" ketusnya.
Calista mengambil spatulanya kembali "Bapak kok bisa di apartemen saya, ngapain?!! Mau macam-macam ya?! Jawab !!" tegas Calista seraya mengacungkan spatula panas ke arah Adrian.
"Ck. Aku lebih suka wanita-" Adrian menggantung ucapannya dengan matanya membingkai tubuh Calista yang mungil.
Melihat itu Calista sontak menutupi bagian atas tubuhnya "Adrian Brengsek !!!" teriak Calista siap melempar apapun yang ada di depannya.
"Sexy" lanjut Adrian di sela makian Calista padanya.
Adrian sangat menikmati saat-saat Calista mengumpat atau memaki padanya dengan lepas. Membuat dirinya merasa tenang, tenang karena ia tidak perlu menerka-nerka atau berekspektasi lebih seperti dulu dan mungkin lebih bisa menilai seseorang dengan sedikit lebih akurat saat membiarkan mereka menjadi dirinya sendiri.
Dan untuk itu pula lah, Adrian tau harus bersikap bagaimana jika menghadapi berbagai macam orang terutama orang seperti Calista Hartawan. Wanita unik pertama yang belum pernah Adrian temui selama ini, jangan lupakan kewarasan Calista yang melebihi kewarasaan orang-orang pada umumnya.
Di sela kegiatan mereka yang absurd, asap halus merebak memenuhi hampir seluruh ruangan, Adrian mengerutkan hidungnya dan hal itu di sadari oleh Calista.
"Astaga !!!"
Lagi-lagi Calista berteriak dan buru-buru mematikan kompor lalu mengangkat teflonnya ke wastafel tapi sebelum itu, Calista terpaksa membuang pastanya ke tempat sampah, tanpa sadar dirinya menghela napas sembari mencebikkan bibirnya, gerak-gerik Calista tak luput sedikit pun dari mata Adrian.
"Beresin gih terus siap-siap, kita makan di luar" tutur Adrian yang masih berdiri di tempatnya, namun kini telah bersandar pada tembok.
Calista menoleh ke arah Adrian dengan mengedipkan matanya. Kini, Adrian dapat melihat dengan jelas mata bulat Calista dilengkapi dengan bulu mata lentik yang tidak terlalu lebat. Adrian baru benar-benar terpukau akan kecantikan alami yang dimiliki oleh seorang Calista Hartawan.
Calista mengerutkan kedua alisnya "Pesan makanan aja ya, udah gak mood keluar" pintanya, yang disetujui oleh Adrian.
__ADS_1
Adrian merogoh saku celananya dan segera memesan makanan melalui aplikasi, sementara itu Calista membereskan masakannya yang gagal akibat kelakuan Adrian malam ini.
Sembari menunggu, Calista menyuruh Adrian duduk di ruang tv, karena ia kasihan melihat Adrian berdiri sejak tadi dengan pakaian yang masih lumayan lengkap. Setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, Calista menghampiri Adrian dan duduk di sofa yang sama, meski jarak mereka agak berjauhan
"Sebenarnya apa yang membuat Bapak kemari?" Calista mengawali pembicaraan di antara mereka.
Adrian terusik dengan kata 'Bapak' yang diucapkan oleh Calista "Adrian. Panggil aku Adrian" tegas Adrian.
Calista yang melihat hal itu pun, lantas meminta maaf dan mengulanginya meski pun agak terasa aneh di lidahnya saat ini
"Eh, iya Adrian"
TIIINGGGG
Bel pintu berdenting menginterupsi keduanya, Adrian buru-buru menghampiri pintu, tanpa di cegah oleh Calista, jujur Calista masih berusaha menormalkan detak jantungnya. Entah karena kejadian beberapa menit yang lalu atau kejadian beberapa detik yang lalu.
Adrian memesan begitu banyak makanan cepat saji "Gila ya lo, banyak banget di kata gue jin makan sebanyak ini" celotehan Calista mampu mencairkan suasana yang sedang terjadi begitu lama di antara mereka.
Malam pun semakin larut, Adrian mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumahnya sendiri. Lantas ia pun menatap Calista yang tertidur pulas dengan wajah yang menempel pada meja. Melihat hal itu, Adrian sebagai laki-laki sejati dengan sigap menggendong Calista ke kamarnya dan meletakkannya dengan sangat hati-hati agar Calista tidak terbangun.
Namun, tanpa di duga, Calista menarik Adrian ke atas kasur dan menjadikannya bantal yang nyaman. Untuk sesaat Adrian tidak bisa apa-apa karena gerakan Calista yang tiba-tiba dan apa yang di lakukan Calista barusan mampu memacu Adrenalinnya dan membuatnya gerah, ia berusaha bernapas dengan normal tapi sialnya kerongkongannya kering. Alhasil ia pun pasrah dan berusaha menyamankan diri dipelukkan asisten pribadinya itu.
****
Semburat fajar menyapa Calista yang mulai terusik dari tidurnya, membuka matanya secara perlahan dan terkejut, kenapa dirinya berada di kamar, seingatnya dia sedang menghabiskan waktu bersama atasannya dengan makan dan menonton film.
Di tengah kebingungannya, jam weker berbunyi dengan tidak manusiawi. Calista mengecek handphonenya yang masih tersambung dengan kabel charger, ia memukul kepalanya pelan karena lupa mencabut kabel tersebut.
Banyak pesan notifikasi yang masuk dan email-email dari para penerbit buku. Calista menghela napasnya seraya meregangkan tubuhnya. Satu lagi hari yang sibuk.
__ADS_1
"Eh !!" tiba-tiba Calista teringat sesuatu, segera ia buru-buru keluar dari kamarnya, mengecek bagaimana keadaan apartemen dan apakah sosok tersebut masih disini.
Calista mengucek matanya dan menggeleng takjub, apartemennya bersih dan rapi, di tambah bau harum dari dapurnya. Adrian, laki-laki itu juga membuatkan sarapan untuknya, sepiring pasta dan segelas matcha telah tersedia di atas meja.
Tanpa sadar Calista bertepuk tangan "Daebak !!"
Adrian, laki-laki yang selalu memancing emosinya, ternyata dapat melakukan hal-hal manis juga dan itu di luar ekspektasi Calista. Bau harum dari pasta dan matchalatte, mampu mengedor lambung dan menjebol liurnya, tanpa ba bi bu, Calista melahap pasta buatan Adrian. Harus di akui Adrian sangat tahu bagaimana caranya menghormati dan memperlakukan wanita dengan sangat baik.
"Beruntung banget ya istri masa depan si pangeran es itu" gumamnya di tengah menyantap sarapannya.
Selesai sarapan, Calista buru-buru membereskannya lalu mandi dan bersiap untuk ke kantor. Hari ini dirinya sudah ada jadwal pemotretan setelah sempat tertunda, sekaligus ia ingin berterimakasih kepada atasannya dan meminta maaf karena selalu memaki serta mengomeli atasannya dengan spontan.
Calista melupakan fakta bahwa mobilnya masih menginap di kantornya, alhasil ia pun akan ke kantornya dengan memesan taksi online
"Bisa gak sih penyakit pikunan gue ilang, gregetan sendiri deh jadinya gue" Calista meracau pada udara seraya bersiap berangkat dan memesan taksi online.
Setelah taksinya tiba, calista buru-buru menuju lobi dan berangkat ke kantornya. Ia sempat mengirimkan pesan pada atasannya, namun anehnya hanya ceklis satu saja dan itu bukan lah hal biasa untuk seorang Adrian.
"Cacaaaa!!" sambutan pagi yang biasa terdengar saat Calista baru memasuki lobi kantor.
Calista sudah hafal sekali suara siapa itu "Masih pagi, tolong jangan racuni gue dengan gosip-gosip lu, okey"
"Ish, galak banget sih Ca, eh tapi btw ya, lu udah tau belum sih kalo pak Adrian hari ini gak masuk?"
Calista menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba "Tau dari mana lo?"
Sosok itu memberitahu Calista panjang lebar semua gosip hari ini, alasan kenapa Adrian tidak masuk sampai beredar rumor Adrian kabur ke luar negeri karena patah hati.
Calista merogoh tasnya dan melihat pesan yang ia kirimkan pada Adrian, namun pesan itu masih sama, belum ada tanda-tanda terbaca atau akan di baca. Benarkah kabar burung yang beredar?
__ADS_1
Patah Hati? tanyanya dalam hati.
Bersambung..