
''Apa kamu serius?'' Jasmine bertanya dengan mata berbinar.
Gabriel mengangguk.
''Melamar itu apa, Pah?'' tanya Naura menatap ayahnya dan juga Jasmine secara bergantian.
''Sayang, melamar itu artinya, Ayah akan segera menikahi tante Jasmine,'' jawab Briel menatap wajah Naura.
''Benarkah...?'' Naura tersenyum senang.
Gabriel kembali mengangguk.
''Asiiikkk... itu berarti Ibu Jasmine akan segera resmi jadi ibu aku,'' Naura bersorak bahagia lalu memeluk sang ayah.
''Ibu...?'' tanya Briel yang terkejut mendengar Naura memanggil Jasmine dengan sebutan ibu.
''Iya, Ibu. Mulai hari ini, aku akan memanggil Tante Jasmine dengan sebutan ibu,'' Naura tersenyum dan melepaskan pelukan sang ayah.
''Apa tidak apa-apa Naura memanggil kamu dengan sebutan itu?'' Briel menatap wajah calon istrinya.
''Iya, tidak apa-apa ko. Lagipula kita akan segera menikah, jadi aku harus mulai membiasakan diri dengan sebutan itu,'' jawab Jasmine tersenyum.
''Ya sudah, kalau kamu tidak keberatan, aku juga merasa senang mendengarnya, serasa kita sudah menjadi keluarga sungguhan,'' jawab Briel dengan tersipu malu.
Jasmine menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang sudah terlihat memerah.
''Kalau begitu aku pamit dulu, salam buat Bapak dan Ibu...'' pamit Briel lalu berdiri.
''Baiklah, nanti aku sampaikan salamnya.''
''Assalammualaikum...'' Briel mengucap salam dan melangkah keluar dari dalam rumah.
''Waalaikumsalam...'' jawab Jasmine menatap kepergian Gabriel dan juga Naura.
Tidak lama kemudian Bapak pun keluar dari dalam kamar, dia meminta Jasmine duduk karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan.
__ADS_1
''Ada apa bapak menyuruhku duduk, apa ada sesuatu yang ingin di bicarakan?'' tanya Jasmine duduk berhadapan dengan sang ayah.
''Jasmine...! Apa kamu serius dan sudah memantapkan hatimu untuk benar-benar menjadikan Gabriel suami'mu? imam'mu? apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu itu?'' tanya Bapak menatap lekat wajah putrinya.
''Iya, pak. Aku sungguh serius dengan pilihanku, dan aku juga yakin tidak akan salah dalam memilih suami,'' jawab Jasmine dengan bersungguh-sungguh.
''Lalu bagaimana dengan anak dari juragan sapi itu? bukankah dia sudah lama menunggumu?'' tanya Bapak.
''Si Ilham itu? mohon maaf, pak. Tapi Jasmine sungguh tidak punya perasaan apapun kepada pria itu, bukankah pernikahan yang tidak dilandasi dengan rasa cinta dari kedua belah pihak, tidak akan bertahan lama?'' Jasmine menjelaskan.
''Memang benar, tapi tetap saja bapak merasa tidak enak dengan juragan sapi itu, beliau sudah banyak membantu kita.''
''Terus apa yang harus Jasmine lakukan? apa Jasmine harus menikahi Ilham karena rasa tidak enak, Bapak?'' Jasmin menunduk merasa sedih.
''Bukan seperti itu maksud bapak,'' Bapak Ismail pun termenung sejenak.
''Pak, Jasmine tidak bermaksud untuk membantah bapak, Jasmine juga tidak bermaksud untuk mengecewakan pilihan bapak, tapi Jasmine mencintai Gabriel,'' ucap Jasmine lembut.
''Kamu mencintai'nya?''
''Hmmm....'' Bapak menghela nafas.
''Jasmine mohon maaf, Pak.''
''Kenapa kamu harus meminta maaf? bapak tidak bisa memaksakan perasaan kamu, jika kamu mencintainya dan sudah yakin dengan pilihan'mu itu, maka bapak juga tidak bisa berbuat apa-apa,'' ucap Bapak menyerah.
''Bapak merestui kami?'' Jasmine mengangkat kepalanya, menatap sang ayah dengan wajah yang tersenyum senang.
''Iya, asalkan kamu bahagia, bapak akan merestui pernikahan'mu dengan Gabriel, dari yang bapak lihat, sekarang pemuda itu sudah menunjukan kemajuan yang signifikan, dia juga sudah rajin Sholat berjamaah di mushola, sering menyapa warga sekitar juga, sangat berbeda dengan waktu pertama kali dia datang kemari, lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan jarang bertemu apalagi menyapa warga,'' jelas bapak.
Jasmine tersenyum gembira, sampai sang ayah merasa heran dan mengernyitkan keningnya.
''Apa kamu sebahagia itu?'' tanya bapak menatap wajah Jasmine dengan tatapan heran.
Jasmine pun bangkit lalu memeluk ayahnya.
__ADS_1
''Iya, Pak. Aku bahagia sekali, do'akan aku ya, Pak. Agar rumah tanggaku bahagia,'' ucap Jasmine di dalam pelukan sang ayah.
''Iya, sayang. Bapak selalu mendoakan yang terbaik untuk'mu. O iya tadi bapak dengar, Gabriel bilang mau segera melamar'mu minggu depan? Apakah betul? bapak tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian, hanya saja bapak tidak sengaja mendengar'nya.''
''Iya, pak. Briel bilang, dia akan melamar'ku secara resmi Minggu depan,'' jawab Jasmine dengan tersipu malu.
''Kalau bertemu dengan dia, sampai'kan padanya, bapak tunggu kedatangan dia minggu depan rumah,'' pinta sang ayah.
''Baik, pak. Jasmine akan sampai'kan pesan bapak sama dia, terima kasih ya, Pak. Sudah mau menghargai dan merestui pilihan aku,'' ucap Jasmine memandang wajah sang ayah dengan tatapan sayu.
***
Satu Minggu kemudian.
Gabriel benar-benar menunjukan keseriusannya, dia datang hanya berdua bersama putrinya untuk melamar Jasmine sebagai istrinya, tidak seperti pada umumnya, dimana biasanya acara lamaran di hadiri dan di antar oleh keluarga besar dari pihak Laki-laki.
Lain halnya dengan acara lamaran yang sedang di lakukan oleh Gabriel, dirinya hanya di temani oleh sang putri. Tekad yang bulat dan keyakinan bahwa Jasmine adalah pelabuhan terakhirnya dan wanita Sholeha yang selama ini di idam-idamkan oleh dirinya, serta wanita yang pantas untuk menjadi ibu sambung untuk putrinya.
Briel memberanikan diri untuk benar-benar meminta kepada kedua orang tua Jasmine untuk menjadikan putrinya sebagai calon istrinya dan calon ibu bagi putrinya, di saksikan oleh beberapa warga dan tetangga yang sengaja diundang untuk menjadi saksi atas lamaran yang di selenggarakan di kediaman Bapak Ismail orang tua dari Jasmine.
Jasmine tampak cantik memakai kerudung berwarna merah di pasangkan dengan gaun dengan warna yang senada, dia duduk di samping bapak dan ibu, menunduk merasa haru, karena dirinya akan segera di lamar oleh pria yang di cintai'nya.
Dan acara pun di mulai dengan pembukaan, dan sambutan dari ayahanda Jasmine, Setelah acara pembukaan selesai, kini tiba saatnya Gabriel maju ke depan, di temani oleh Naura di sampingnya.
''Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatu...'' Gabriel memulai dengan salam.
''Waalaikumsalam...'' semua yang berada di sana menjawab salam secara serentak.
''Bapak dan ibu, izinkan saya mengutarakan niat saya datang kemari, dengan hanya di temani oleh Putri saya satu-satunya, dan dengan hanya berbekal kan cincin yang harganya tidak seberapa, mohon perkenankan saya melamar putri bapak yang bernama Jasmine Salsabila sebagai istri saya.''
''Saya menyadari bahwa saya bukanlah Laki-laki yang sempurna, saya juga bukan manusia yang bersih yang seolah tanpa Dosa, namun saya akan berusaha menjadi suami dan imam yang baik untuk Jasmine, menyayangi dan mencintai dia dengan sepenuh hati, menjadikan dia satu-satunya Ratu di dalam hati, maka dengan itu izinkan saya untuk mempersunting Jasmine dalam waktu dekat ini.''
''Wahai Jasmine Salsabila, gadis Sholeha berkerudung merah, apakah kamu menerima lamaran'ku?''
*****
__ADS_1