TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Tuan Mafia


__ADS_3

Gabriel berbalik memutarkan badan secara perlahan, dengan jantung yang berdetak dengan sangat kencang, matanya memerah seketika panik dan merasakan kegelisahan.


Tuk


Tuk


Tuk


Terdengar suara langkah sepatu yang perlahan berjalan mendekati dirinya, ingin rasanya dia berlari kencang, namun terlambat, sosok pria yang tadi memanggilnya sudah berjalan semakin dekat, lari pun percuma, pria itu yang dia kira adalah salah satu anak buah Alberto tersebut pasti dapat dengan mudah mengejar.


Akhirnya, mau tidak mau, dia pun berniat akan berusaha melawan, menyerahkan hidup matinya kepada Allah SWT.


Briel pun benar-benar berbalik, namun dia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang memanggil dirinya adalah Ilham, kakak dari mantan kekasihnya, Tania.


Rupanya, Tania terpaksa menceritakan tentang hubungannya dengan Gabriel karena terus di desak oleh kakaknya tersebut, dan sekarang Ilham mengetahui bahwa Laki-laki yang akan menikah dengan Jasmine adalah seorang mantan Mafia.


''Ilham...?'' Briel memanggil namanya dengan nada suara yang sedikit lega.


''Sedang apa kamu disini, tuan Mafia?'' Ilham tersenyum sinis menatap wajah Gabriel, berdiri saling berhadapan.


''Kamu? darimana kamu tahu bahwa aku adalah seorang Mafia?'' Briel membulatkan bola matanya.


''Tidak penting aku tahu dari siapa, aku hanya tidak menyangka bahwa sainganku dalam mendapatkan Jasmine adalah seorang penjahat, Heuh...''


''Aku tidak ada waktu untuk meladeni'mu, aku harus segera pulang, karena Jasmine sedang menunggu'ku,'' Briel kembali berbalik dan hendak meneruskan langkahnya.


''Apakah kamu pikir Jasmine akan Sudi menerima diri'mu, jika dia sampai tahu siapa kamu sebenarnya?''


Briel mengentikan gerak langkah'nya, berbalik lalu menatap wajah Ilham dengan tatapan tajam, rahangnya terlihat mengeras dengan mata yang memerah menahan rasa amarah.


''Memangnya kenapa? apa yang ingin kau lakukan sebenarnya? kamu pikir aku takut dengan ancaman'mu itu? setelah kau tahu jati diriku yang sebenarnya, seharusnya kau takut, karena kau pasti tahu seperti apa pekerjaan seorang Mafia?'' Briel melangkah maju ke depan di iringi dengan gerakan langkah mundur dari Ilham.

__ADS_1


''A-apa ya-ng ingin kau la-kukan kepada'ku?'' Ilham yang semula berbicara dengan nada penuh percaya diri, kini terlihat gemetar.


''Kamu fikirkan saja sendiri? biasanya apa yang terjadi di Film-film saat identitas penjahat di ketahui oleh orang lain?'' Briel meletakan jari telunjuknya di lehernya sendiri lalu di geser'kan, dengan mata yang di bulatkan.


Ilham pun semakin bergetar, dalam hatinya dia berucap bahwa, apa mungkin Gabriel akan membunuh dirinya? wajah nya pun terlihat pucat pasi, kesombongan dan keangkuhan yang biasa di tunjukan oleh wajah songong Ilham, seperti mendadak hilang.


Dia pun semakin memundurkan langkahnya, lalu berbalik dan kemudian lari terbirit-birit meninggalkan Gabriel yang berdiri mematung dengan wajah yang menahan tawa.


'Dasar lemah, baru di ancam begitu saja sudah kabur?' (Batin Briel, seraya menggelengkan kepalanya).


Kemudian dia pun kembali melangkahkan kakinya, berjalan secara perlahan keluar dari area parkiran.


***


Sementara itu, di kediaman Jasmine, Bapak dan ibu sedang berbicara berdua di dalam kamarnya, ibu menunjukan wajah khawatir karena calon menantunya belum juga datang, padahal waktu pernikahan tinggal beberapa hari lagi saja, Ibu duduk di tepi ranjang.


''Pak, bagaimana ini? kenapa nak Gabriel belum juga kembali? kalau dia sampai tidak datang bagaimana nasib putri kita? dia pasti akan sangat kecewa,'' tanya Ibu menatap wajah suaminya yang saat ini sedang dalam keadaan berdiri di samping jendela dengan pandangan yang mengarah keluar jendela.


''Apa yang akan kita lakukan kalau sampai hal itu terjadi, pak? kasian putri kita,'' ibu sedikit terisak.


Bapak mengalihkan pandangannya kepada ibu, dia menatap wajah istrinya yang terlihat memendam ke khawatiran yang mendalam, bapak pun melangkah lalu berjalan menghampiri dan duduk di samping sang istri.


''Kita berdoa saja, semoga hal itu tidak terjadi, serahkan semua'nya kepada yang maha kuasa, karena semua ini terjadi pasti atas kehendaknya, ya...'' bapak mengusap punggung ibu, mencoba menenangkan.


Ibu pun mengangguk, seraya menatap wajah suaminya, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.


Trok


Trok


Trok

__ADS_1


Pintu kamar pun di ketuk dan terdengar suara Putrinya kemudian.


''Pak, Bu... Boleh Jasmine masuk?''


''Boleh, nak. Masuklah?'' jawab bapak.


Jasmine pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, menatap ke arah kedua orangtuanya, yang terlihat memendam ke khawatiran.


''Ibu kenapa? mengapa wajah ibu murung seperti itu?'' tanya Jasmine duduk di samping sang ibu di tepi ranjang.


''Ibu sungguh khawatir, nak. Bagaimana kalau sampai calon suami'mu itu tidak datang? apa yang akan kau lakukan?''


''Tidak mungkin, bu. Mas Gabriel pasti datang, percaya kepada'ku, tidak usah cemas dan doakan saja putrimu ini, agar apa yang sedang di niatkan, di beri kelancaran oleh Allah,'' jawab Jasmine menenangkan, menyembunyikan ke khawatiran yang sebenarnya menyelimuti hatinya saat ini.


Tidak ingin membuat kedua orang tuannya semakin cemas, dia pun tersenyum lalu memeluk sang ibu, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.


''Bu, sebelum Jasmine melakukan hal ini, Jasmine telah melakukan sholat istikharah terlebih dahulu, meminta petunjuk kepada yang di atas, dan akhirnya Allah memberikan petunjuk lewat mimpi dan memberikan keyakinan kepada hati Jasmine untuk meneruskan niatan dalam melangsungkan pernikahan, itu sebabnya dengan mantap hati, Jasmine tetap akan melangsungkan pernikahan meski mas Briel belum juga datang, karena Jasmine yakin, dia akan datang, tidak akan lama lagi.'' Jawab Jasmine dengan nada ucapan yang penuh rasa percaya diri.


''Iya, bu. Tidak usah terlalu di pikirkan, yakin saja bahwa, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-nya,'' bapak pun menenangkan ibu.


Ibu melepaskan pelukan sang putri, lalu menatap wajahnya, merapikan kerudung berwarna merah yang di kenakan oleh putrinya tersebut.


''Baiklah, ibu tidak akan merasa cemas lagi, kita serahkan segala urusan kita kepada Allah Subhana wataalla, karena ibu juga yakin, Allah akan menjawab semua doa'mu, doa ibu dan bapak yang akan selalu senantiasa menyertai setiap gerak langkah'mu, wanita Sholeha seperti kamu pasti di sayang Allah,'' wajah ibu sudah mulai terlihat tenang.


''Iya, Bu. Amin...''


Tidak lama kemudian, terdengar suara Naura yang berteriak senang memanggil ayahnya, yang sontak saja, membuat Jasmine dan kedua orang tuanya saling melayangkan tatapan merasa heran, apakah Gabriel sudah benar-benar pulang.


Dengan tergesa-gesa Jasmine, ibu dan bapak pun keluar dari dalam kamar, dan benar saja, di halaman, Gabriel, pria yang di tunggu kehadiran'nya kini sudah datang, dia tampak sedang berdiri di bawah janur kuning dengan Naura di dalam gendongannya, serta memeluknya erat meluapkan kerinduan kepada putri'nya tersebut.


*****

__ADS_1


__ADS_2