TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Di ikuti


__ADS_3

Gabriel duduk sebentar di dalam rumahnya, memikirkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya, dia tahu betul bahwa Alberto yang merupakan bos mafia ter'kejam di negara ini, tidak mudah untuk di taklukan dan terkenal tidak mudah memaafkan.


Sepertinya dia harus berhati-hati dalam menghadapi Alberto, demi keselamatannya, dan demi keselamatan dua orang yang sangat di cintai'nya, yaitu, Naura dan Jasmine, calon istrinya.


Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya dia pun bangkit dan berdiri, berjalan keluar dari dalam rumah'nya. Dia sudah bertekad untuk menemui Alberto di Apartemen yang merupakan tempat tinggal dari mantan bosnya tersebut.


Sebelum menuju apartemen dia pun mampir terlebih dahulu ke sebuah pasar tradisional yang selalu ramai 24 jam, dia memasuki sebuah toko yang biasa memperjual belikan senjata api yang biasa dia kunjungi dahulu.


Kreket...


Briel membuka pintu toko secara perlahan, penjaga toko yang sedang duduk di dalamnya pun tersenyum melihat kedatangan Gabriel yang merupakan pelanggan lamanya.


''Hei, kemana saja kau, baru datang lagi kemari?'' penjaga toko tersenyum menghampiri.


''Aku sedang mencari pistol, bisakah kau menyediakan'nya untukku?''


''Tentu saja bisa, mau yang seperti apa? kamu bisa memilih sendiri, di sini lengkap, pistol apapun yang kamu cari pasti ada di sini.'


Pelayan toko tersebut membuka sebuah koper besar, dan saat di buka isinya adalah puluhan bahkan terlihat ratusan pistol dari berbagai jenis dan ukuran.


Briel meraih satu-persatu pistol tersebut, memilih yang sesuai dengan apa yang dia inginkan, akhirnya setelah memilih sekian lama, diapun mendapatkan apa yang dia cari, sebuah pistol berukuran kecil, yang dapat di masukan dan di sembunyikan di antara tubuhnya.


''Berapa pistol yang ini?''


''Murah saja, hanya sekita 2jutaan.''


''Mahal sekali,'' Briel mengotak Atik dan memeriksa kondisi pistol tersebut.


''Sudah murah, bos. Di tempat lain tidak akan ada pistol yang memiliki kualitas sebagus ini, dan sertifikat nya di jamin aman,'' jawab pelayan tersebut meyakinkan.


''Baiklah, aku ambil yang ini,'' Briel memberikan kartu ATM-nya untuk membayar.


''Apa tidak ada uang cash?''


''Aku tidak punya cash, cepatlah aku sedang terburu-buru.''


''Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar ya.''


Briel menunggu dengan perasaan resah, dan fikiran yang melayang entah kemana, hatinya sungguh di rundung gelisah, ingin segera menyelesaikan masalah yang sedang dia hadapi.


Akhirnya proses jual beli pun selesai, Briel segera keluar dari dalam toko, di pun menyembunyikan senjata api yang di belinya di balik pinggang, untuk berjaga-jaga apabila ada kejadian yang tidak terduga.

__ADS_1


Gabriel perlahan berjalan menuju mobil yang di parkir tidak jauh dari toko yang baru saja di kunjungi'nya, dia berjalan menunduk dengan mata yang terlihat sedikit menatap ke sekitar.


Dan sepertinya, terlihat dari kejauhan, ada seorang Laki-laki berdiri seperti sedang memperhatikan dirinya, matanya tampak tidak luput dalam memandangi setiap gerakan yang sedari tadi di lakukan oleh Gabriel.


Briel pun menyadari hal tersebut, dia yang semula hendak masuk ke dalam mobil, mengurungkan niat seketika, memutar arah dan berbalik badan, berjalan menjauh memancing orang yang mengikutinya.


Dan benar saja, orang tersebut terus mengikuti Briel, hingga dirinya berhenti dan berdiri di depan sebuah toko yang terlihat sudah tutup dengan keadaan sekitar yang terlihat sangat sepi, tidak ada orang satupun di sana.


Briel pun berbalik, dan berdiri dengan menatap wajah orang tersebut.


''Hey, siapa kamu?'' Briel berjalan menghampiri.


Orang tersebut tampak berdiri dengan memasang kuda-kuda siap untuk menyerang.


Lalu beberapa detik kemudian...


Buk


Bak


plak


Terjadi sebuah perkelahian, pria itu melayangkan sebuah pukulan dengan tangan yang di kepalkan, untung saja Briel dapat menangkis pukulan tersebut dengan tangan kanannya lalu kepalan tangan kirinya memukul tepat di wajah pria tersebut.


Buk


Kini kaki kirinya menendang perut Briel dan membuat Briel meringis kesakitan, namun Briel pun tidak mau kalah, kakinya melayang dan menendang wajah pria tersebut dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, sampai akhirnya pria tersebut tersungkur di atas tanah.


Pria itu pun mencoba berdiri, namun dengan segera Briel kembali menendang wajahnya hingga dia pun kembali tersungkur, dengan darah segar membasahi pelipis wajahnya.


''Siapa yang mengirim'mu kemari? brengsek...'' Briel berjongkok menatap wajah pria itu dengan tatapan tajam.


Tidak mau menyerah dan merasa masih memiliki kekuatan yang masih tersisa di tubuhnya, pria itu menyundul kepala Briel dengan kepala dirinya, hingga Briel pun kesakitan seketika merasakan pusing di kepalanya.


''Kurang ajar,'' Briel murka.


Dia pun berdiri dan meraih tubuh pria tersebut yang telah berdiri dan hendak melarikan diri. Briel mencengkram kerah baju lalu meletakan siku tangannya tepat di leher dan menguncinya, kemudian dia pun mendorong tubuh pria tersebut hingga tepat bersandar di tembok sebuah toko yang sudah terlihat tutup.


''Argh...'' pria tersebut meringis merasa tercekik.


''Cepat katakan, siapa yang menyuruh'mu bajingan? apa Alberto?'' Briel membulatkan bola matanya.

__ADS_1


''Berapa kali pun kau bertanya aku tidak akan pernah bicara?'' jawabnya dengan suara yang sedikit tertahan.


Merasa di permainkan, Briel mengeluarkan pistol yang baru saja di beli'nya yang tadi dia sembunyikan.


Ceklek


Briel menarik pelatuk dan meletakan pistol tepat di kening pria tersebut, yang sontak saja membuat wajahnya pucat pasi dengan bibir yang terlihat gemetar.


''Kalau kamu masih tidak mau bicara, aku tidak akan segan membunuh'mu sekarang juga, kau pasti tahu siapa aku, aku adalah pembunuh berdarah dingin,'' ancam Briel.


''Baik, aku akan bicara sekarang.''


''Cepat katakan, brengsek...''


''Aku di utus oleh bos Alberto untuk mengikuti'mu, setelah itu aku di perintahkan untuk membawa'mu kepadanya hidup atau mati,'' jawabnya dengan bibir yang Terlihat gemetar.


''Baiklah, lakukan tugas'mu, bawa aku kepada'nya sekarang juga, kebetulan aku juga ingin bertemu dengan dia,'' Briel sedikit melonggarkan cengkraman tangannya.


''Apa maksud'mu?''


''Antar'kan aku ke tempat bos'mu sekarang juga.''


''Ba-baik...''


Briel membawa pria itu berjalan bersamanya menuju mobil yang tadi terparkir di depan toko, dengan pistol yang di tempelkan di punggungnya.


''Cepat masuk, kamu yang menyetir,'' Briel masuk ke dalam mobil berbarengan, dengan pistol yang masih di arahkan tepat di punggungnya.


Kemudian mobil pun mulai berjalan meninggalkan pasar, melesat kencang menuju Apartemen dimana tempat tinggal Alberto berada.


*****


Jangan Lupa


Like


Komen


Vote


Hadiah

__ADS_1


Terima kasih Reader ❤️💓💓


*****


__ADS_2