
''Bang, bangun sudah siang,'' Tania menggoyangkan tubuh Ilham.
''Apaan, sih. Sebentar lagi, akh...'' Ilham menggerutu kesal.
''Kamu sudah bangun?''
''Iya, dari tadi juga aku sudah bangun,'' Ilham merapatkan selimut tebal yang sempat terbuka.
''Ya sudah buruan bangun, mau sampai kapan kamu mau seperti ini, bang?'' Tania membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh kakaknya.
''Apaan sih?''
''Abang...! Jangan bilang kamu masih memikirkan Jasmine? iya kan...?''
Ilham terdiam dan pura-pura terpejam.
''Memangnya wanita di dunia hanya dia seorang? dia sudah menikah dengan orang lain, ingat itu bang.''
''Gampang kalau cuma ngomong, kamu pikir gampang melupakan wanita yang sudah Abang kejar cintai'nya selama lebih dari lima tahun? hah?'' Ilham kembali menggerutu kesal.
''Ya sudah mau gimana lagi? dia sudah jadi istri orang.''
''Bodo amat, biarpun sudah menjadi istri orang juga, siapa tahu suatu saat nanti dia bercerai dan Abang akan senang hati menerima dia kembali, meskipun dia sudah menjadi janda nanti.''
''Abang benar-benar sudah di buta'kan oleh cinta, ya? baru juga menikah kemarin, masa sudah di doakan cerai?''
''Siapa tahu...? jika suatu saat nanti dia tahu bahwa suaminya sebenarnya adalah seorang mafia, Jasmine akan meninggalkan si Gabriel dan membuka hatinya untuk aku, iya kan?''
''Abang...!'' Tania merengek kesal.
''Sudah-sudah... jangan ganggu Abang, Abang sedang malas melakukan apapun, cepat keluar...'' Ilham sedikit menaikan suaranya dan kembali menarik selimut lalu menutup tubuhnya.
''Ikh... dasar, tiap hari juga Abang malas, pantas saja Jasmine tidak mau sama Abang, mana ada wanita yang mau di pacari sama pria pemalas seperti dirimu ini.''
Buk...
Satu buah bantal pun melayang tepat mengenai wajah Tania.
''Keluar nggak kamu,'' Ilham mengambil bantal lainnya dan siap untuk di lemparkan.
''Iya... iya... aku keluar,'' Tania melemparkan kembali bantal yang tadi mengenai wajahnya.
__ADS_1
''Dasar pemalas...'' Tania meledek dengan nada suara yang sedikit diliuk'kan lalu keluar dari dalam kamar dan menutup pintu dengan sedikit kasar.
Blug...
Suara pintu yang di tutup.
''Dasar adik tidak punya perasaan, tau kakaknya lagi patah hati, malah di ledek seperti itu,'' ucap Ilham pelan.
Dia pun menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, bahkan kali ini kepalanya pun ikut masuk kedalam, alhasil dia meringkuk di dalam selimut, kembali membayangkan pertemuan pertamanya dengan wanita yang bernama Jasmine beberapa tahun yang lalu.
Flash back...
Ilham mendorong motor'nya, hari ini dia baru saja bertengkar dengan sang ayah, dia memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan ayah'nya sendiri, karena perbedaan prinsip di antara keduanya.
Pipinya bahkan terlihat memerah dan terdapat luka sobekan di ujung bibirnya, bekas tamparan sang ayah saat dirinya bertengkar dengan ayahnya tersebut.
Ilham melintas di toko milik Jasmine, dan waktu itu usia Jasmine masih remaja, duduk sendiri di dalam toko dengan tangan yang memegang sebuah Al-Qur'an berukuran kecil.
dia pun hendak masuk ke dalam toko terdekat, dirinya berencana untuk membeli obat untuk mengobati luka di ujung bibirnya yang sudah mulai terasa sangat perih. Namun langkahnya terhenti seketika, saat melihat wajah anggun dan teduh Jasmine, menunduk dengan hijab panjang berwarna hitam, seraya melantunkan ayat suci Alquran.
Sungguh hati Ilham merasa sangat berdebar waktu itu, melihat seorang gadis remaja yang masih menyempatkan diri untuk mengaji di sela-sela kesibukannya menjaga toko milik orang tuanya.
Matanya tak henti-hentinya dalam menatap wajah cantik wanita berhijab tersenyum, bibirnya pun terlihat sedikit mengembang, terkesima dengan kecantikan dan keanggunan gadis yang bahkan belum dia ketahui namanya itu.
Ilham berdiri cukup lama, di depan etalase dimana Jasmine berada, Jasmine yang dengan khusuknya melantunkan ayat suci itu masih belum menyadari bahwa, ada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya dan menatap dirinya.
Tak ingin menggangu, Ilham akhirnya hanya berdiri di sana, dengan mata yang sedikit'pun tidak luput dalam memandangi wajah gadis cantik berkerudung hitam tersebut.
''Sodakallahhuladzim...'' Jasmine menutup Alquran dan terkejut seketika saat dia mengangkat wajahnya, dan mendapati seorang pria berdiri di hadapannya.
''Assalamualaikum...'' Ilham mengucap salam.
''Wa-waalaikumsalam...! maaf saya tidak tahu anda ada di sini? mengapa tidak memanggil saya?'' tanya Jasmine tersipu malu.
''Tidak apa-apa, saya justru senang mendengar kamu melantunkan ayat suci Alquran, hati saya serasa tenang dan damai,'' jawab Ilham dengan tersenyum.
''Anda mau membeli apa? maaf sudah menunggu lama.''
''O iya... saya mencari obat untuk mengobati luka, apakah ada?''
''Luka bekas apa ya? luka bakar kah? atau luka bekas senjata tajam? ada berbagai macam jenis obat luka?''
__ADS_1
''Luka untuk ini...'' Ilham menunjuk ujung bibirnya dengan satu jari.
''Oh... sebentar saya carikan terlebih dahulu,'' Jasmine beranjak dan berjalan untuk mencari obat yang di pesan oleh pelanggan'nya.
Tidak lama kemudian dia pun kembali dengan membawa satu buah obat luka yang berukuran kecil, lalu menunjukkannya kepada Ilham.
''Sepertinya salep ini cocok untuk mengobati luka di bibir anda.''
''Benarkah...?'' Ilham meraih dan membaca petunjuk penggunaan obat tersebut.
''Baiklah, aku kan membeli yang ini.''
''Harga nya 15.000''
''Baiklah...'' Ilham menyerahkan uang lembaran 20.000, dan masih berdiri di sana, untuk menunggu kembalian.
''Ini kembaliannya, mas.''
''Terima kasih...'' Ilham pun menerima uang kembalian, namun masih tetap berdiri di sana.
''Apakah masih ada yang ingin anda beli?'' tanya Jasmine yang merasa heran karena pria tersebut tidak kunjung pergi.
''Maaf, bolehkan saya tahu nama'mu?'' Ilham memberanikan diri bertanya.
''Untuk apa anda tahu nama saya?''
''Saya hanya ingin berkenalan dengan anda, Nona...! saya yakin Nona bukan gadis sombong yang memiliki sifat pelit terhadap seseorang yang hanya ingin sekedar mengetahui namamu.''
''Nama saya Jasmine,'' jawab Jasmani sedikit kesal, karena cara berkenalan Ilham terkesan memaksa dan sedikit tidak sopan, karena menggunakan kata 'sombong' dan juga 'pelit' agar dirinya mau memberitahukan namanya.
''Jasmine...? nama yang bagus, dan sangat cocok dengan wajah cantik'mu,'' Ilham sedikit menggoda, dan jujur saja membuat Jasmine semakin tidak suka.
Akhirnya Ilham pun beranjak pergi keluar dari dalam toko, setelah gadis yang bernama Jasmine itu tidak menghiraukan diri'nya lagi.
''Assalammualaikum...''
Ilham menyempatkan mengucap salam terlebih dahulu sebelum dia benar-benar keluar dari dalam toko.
''Waalaikumsalam...'' Jasmine menjawab salam dan menatap punggung Ilham yang perlahan berjalan keluar dari dalam toko milik orangtuanya.
*****
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️💓