TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Kembali Mengingat Masa Lalu.


__ADS_3

"Assalamualaikum...'' Tania mengucap salam.


Gabriel dan Jasmine yang terlihat sedang tertawa dengan Naura yang berada di pelukannya, dengan reflek menjawab salam dan menengok ke arah sumber suara.


''Waalaikumsalam...'' jawab keduanya secara bersamaan.


Gabriel membulatkan bola matanya, menatap dengan rasa tidak percaya bahwa Tania akan menyusul dirinya, dia pun bangkit dan berdiri, berjalan menghampiri Tania yang berdiri tepat di depan bengkel kepunyaannya.


''Tania, ada apa lagi? bukankah urusan kita sudah selesai?'' tanya Briel menahan kesal.


''Kamu kenal dengan dia?'' Jasmine bertanya dengan perasaan heran.


''O iya, perkenalkan saya Tania, mantan pacar Gabriel, dulu si, sudah lama sekali,'' ucap Tania mengulurkan tangannya.


Jasmine menerima uluran tangan Tania, seraya menyebutkan nama dirinya.


''Jasmine...'' jawabnya singkat, lalu melepaskan kembali genggaman lengan Tania.


''Kamu istrinya?''


''Baru calon, bukan depan kita akan melangsungkan pernikahan,'' jawab Jasmine lirih menahan rasa cemburunya.


''Oh... baru calon...! aku kira istrinya... he...he..." jawab Tania sedikit cengengesan.


"Maaf Jasmine, bolehkah aku bicara sebentar dengan dia? aku harus menyelesaikan sesuatu dengan dia,'' Briel meminta izin.


Jasmine menganggukan kepalanya, menahan rasa cemburu yang kini telah memenuhi seluruh hatinya, dia pun masuk kedalam rumah dengan menggendong Naura, sementara Gabriel, berbicara dengan Tania di depan bengkel, tepat di samping mobil'nya yang di parkir di pinggir jalan.


''Ada apa lagi? kenapa tiba-tiba datang kesini?'' tanya Gabriel kesal.


''Kenapa? apakah kamu merasa terganggu dengan kedatangan aku?''

__ADS_1


''Tentu saja, Jasmine itu calon istriku, bukan depan kami akan menikah.''


''Aku hanya ingin bertanya tentang putrimu, sebenarnya dia anak siapa? dahulu aku tidak sempat bertanya padamu, karena kau langsung menghilang tanpa jejak keesokan harinya, setelah aku memutuskan hubungan.''


''Dia anak siapa, sama sekali bukan urusanmu, yang jelas dia sekarang adalah putriku, sekarang aku minta kamu pergi dari sini, aku tidak mau calon istri ku curiga nantinya,'' pintu Briel hendak melangkah.


''Aku hanya penasaran, sehari sebelum kau menghilang, ada berita yang menghebohkan, tentang meninggalnya sepasang suami-isteri, disertai dengan menghilangnya putri mereka yang masih bayi, bayi itu bukan anak kamu, kan?'' Tania berucap dengan penuh rasa penasaran.


Deg...


Jantung Gabriel serasa berhenti berdetak, dia menghentikan langkahnya seketika dengan kaki yang sedikit gemetar, keringat pun mendadak membasahi pelipis wajahnya dengan raut wajah yang terlihat pucat, dia pun kembali memutar badan dan menatap wajah Tania.


''Apa maksudmu? kamu berfikir bahwa aku yang membunuh mereka dan menculik putrinya, begitu... hah...?'' Gabriel sedikit menaikan suaranya.


''Bukan seperti itu maksudku, hanya saja waktu'nya sangat kebetulan, di saat berita itu keluar, di saat itu pula kau memiliki seorang bayi dan menghilang,'' jawab Tania.


''Sebaiknya kamu segera pulang, sebelum aku semakin marah dan melakukan hal yang tidak di inginkan kepada'mu,'' naluri'nya sebagai seorang mafia tiba-tiba saja datang.


''Waalaikumsalam...'' Gabriel menjawab salam.


Lalu dirinya terduduk lemas seketika, kakinya masih terasa bergetar karena kembali mengingat masa lalu yang sangat ingin dia lupakan, setelah berusaha dengan sekuat tenaga untuk melupakannya, kini bayangan-bayangan kejadian itu kembali menghantui pikirannya.


Dia pun memeluk kedua lututnya dengan kepala yang di tundukan, menahan kesedihan dan merasakan ketakutan yang luar biasa, takut jika putri kesayangannya itu sampai mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


''Gabriel... kamu kenapa?'' terdengar suara Jasmine lirih lalu berjalan ke arahnya.


Briel hanya terdiam.


''Briel...! jawab aku...''


Briel masih terdiam.

__ADS_1


Jasmine menatap tubuh calon suaminya dengan tatapan iba, ingin rasanya dia memeluk dan mengusap punggungnya, namun apalah daya, ikatan yang belum halal menjadi penghalang bagi dirinya, alhasil dia hanya bisa mengusap pelan pundak Gabriel dengan pelan dan penuh kasih sayang.


Gabriel pun mengangkat kepalanya, menatap wajah calon istrinya dengan tatapan sayu dan mata memerah, menahan kesedihan.


''Apakah kamu baik-baik saja?'' tanya Jasmine menghentikan gerakan tangannya, dan menatap wajah calon suaminya.


''Perasaanku sedang tidak enak sekarang, bisakah kau pulang dulu, nanti aku akan mengunjungimu, maaf, aku tidak bermaksud untuk mengusir'mu, hanya saja, saat ini aku sedang ingin sendiri dulu,'' lirih Gabriel memandang wajah calon istrinya.


''Baiklah... aku akan pulang sekarang, aku juga tidak akan banyak bertanya padamu tentang apa yang membuat'mu seperti ini, namun, pesanku, jika perasaan mu sedang gundah seperti ini, cobalah ambil air wudhu dan sholat dua rakaat, lalu berdoa kepadanya'NYA, mintalah ketenangan kepada Allah SWT, karena Allah maha pembolakbalikan hati, jika kamu bersungguh-sungguh dalam berdoa, maka aku yakin kegundahan di dalam hatimu akan hilang seketika itu juga,'' Jasmine berpesan sebelum dia benar-benar pergi.


''Terima kasih, aku akan melakukan seperti apa yang baru saja kamu katakan, insya Allah...'' jawab Briel, mulai sedikit tenang.


''Assalamualaikum...''


''Waalaikumsalam...'' jawab Briel, menatap punggung Jasmine yang berjalan meninggalkan dirinya.


Sepeninggal calon istrinya, Gabriel pun melaksanakan apa yang tadi di katakan oleh Jasmine, dia masuk kedalam rumah lalu mengambil wudhu. Setelah itu, diapun Sholat dua rakaat.


Sholat pun di laksanakan dengan sangat khusuk, setelah sholat selesai di laksanakan, Briel mengangkat kedua tangannya dan berdoa penuh harap dengan mata yang terpejam.


'Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah segala dosa yang tidak terhingga dari hamba'mu ini, berilah hamba ketenangan, serta bukakanlah pintu taubat'mu, hamba sungguh menyesali semua perbuatan hamba di masa lalu, berilah hamba kesempatan untuk memulai hidup baru bersama wanita Sholeha yang engkau kirimkan untukku, hanya pada'mu hamba meminta dan hanya padamu hamba memohon, kabulkan semua permintaan hamba, dan terimalah taubat hamba... Amin ya rabbalalamin...'


Doa yang khusuk pun di panjatkan, semua itu dia ucapkan dengan Tapan keraguan sedikitpun, pelan, lirih, dan penuh kesungguhan, matanya bahkan sampai berkaca saat dia tersebut dia panjatkan.


Namun tanpa di sangka, Naura yang berbaring di atas tempat tidur di samping tempatnya melaksanakan sholat, membuka matanya dan tidak tertidur sama sekali, dia bahkan mendengarkan semua yang di ucapkan oleh ayahnya tersebut.


Dia pun menatap wajah sang ayah, dengan tatapan tajam serta pandangan penuh dengan tanda tanya, dia pun bangkit dan membuat Gabriel terkejut seketika, dengan hati yang berdebar.


''Papa... memangnya apa yang telah papa lakukan di masa lalu? Dosa apa yang telah papa lakukan sehingga papa harus bertaubat dengan bersungguh-sungguh.''


*****

__ADS_1


__ADS_2