TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Gagal lagi


__ADS_3

Semenjak pertemuan pertamanya itu, Ilham jadi sering mengunjungi Toko Jasmine, dengan berbagai alasan, meski hanya sekedar membeli satu barang.


Mereka pun sering menghabiskan waktu bersama, bahkan Ilham sering menemani Jasmine berbelanja barang dagangan untuk toko yang di kelola'nya.


Bagi Ilham, Jasmine adalah penyemangat hidupnya dan wanita pertama yang membuat hatinya bergetar.


Namun bagi wanita yang bernama Jasmine, sosok Ilham tidak lebih dari sekedar Kaka laki-laki baginya, karena Jasmine sama sekali tidak tertarik padanya. Ilham bukanlah Laki-laki idaman yang selama ini dia cari.


Sampai suatu hari, Ilham pun memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya kepada wanita pujaan hatinya tersebut.


Ilham berkunjung pada malam Minggu yang cerah, dan mereka berdua duduk di teras rumahnya, menatap langit malam yang bertaburan bintang tak lupa pula di temani oleh sang rembulan.


''Jasmine...! bolehkan aku mengatakan sesuatu padamu?'' Ilham dengan sedikit terbata-bata.


''Apa yang ingin kamu katakan, tidak biasa nya mengatakan sesuatu izin dulu, biasanya juga langsung bicara,'' jawab Jasmine merasa heran.


''Sebenarnya aku...'' Ilham menghentikan ucapannya.


''Sebenarnya apa?'' Jasmine semakin di buat heran.


''Sebenarnya aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu,'' akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Ilham.


Jasmine terkejut bukan kepalang, karena dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepada laki-laki yang bernama Ilham tersebut.


''Maksud kamu apa? aku sungguh tidak mengerti,'' Jasmine mengerutkan keningnya.


''Aku menyukaimu dan aku mencintaimu, sungguh... aku tidak berbohong, maukah kau menjadi pacarku Jasmine?''


Jasmine pun terdiam lalu menunduk, tidak tahu harus berkata apa, ia tidak ingin menyakiti perasaan Ilham, namun, dia pun tidak mau kalau dia sampai berbohong bahwa dia tidak punya perasaan ataupun kepadanya.


''Aku mohon maaf, Ilham?''


''Lho kenapa kamu malah minta maaf?''


''Aku tidak ingin menyakiti perasaanmu, tapi aku tidak mau berpura-pura menyukaimu?''


''Apa itu artinya kamu menolakku?'' Ilham sedikit kecewa.


Jasmine mengangguk penuh penyesalan.


''Apakah waktu yang telah kita habiskan bersama sama sekali tidak ada artinya di hati kamu? Apakah kamu sungguh tidak punya perasaan sedikitpun kepadaku, Jasmine?''


Jasmine pun kembali mengangguk masih dengan keadaan menunduk.


''Maafkan Aku, aku hanya menganggapmu seperti kakakku sendiri tidak lebih,'' Jasmine mengangkat kepalanya lalu menoleh menatap wajah Ilham.


''Baiklah, jika sekarang kamu tidak memiliki perasaan apapun kepadaku, tapi aku tidak akan pernah menyerah, aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyukaiku, dan aku akan menunggu sampai saat itu tiba,'' Ilham menatap wajah wanita yang di cintainya dengan tatapan penuh keyakinan.

__ADS_1


''Jangan terlalu berharap kepada aku, aku takut kamu kembali kecewa, dan itu akan mempengaruhi hubungan baik yang selama ini kita jalin,'' ucap Jasmine.


''Tapi tetap saja, aku tidak bisa mengubur perasaanku kepadamu begitu saja, aku sangat mencintaimu, dan aku akan menunggu sampai kamu pun merasakan hal yang sama, maaf jika aku sedikit memaksa, tapi bukankah Allah itu maha pembolakbalikan hati hambanya?'' Ilham tidak menyerah.


Mendengar hal itu pun Jasmine kembali terdiam.


''Kalau begitu aku permisi sekarang kamu harus ingat kalau aku tidak akan pernah menyerah sampai kamu benar-benar menerima cintaku,'' Ilham bangkit lalu berdiri dan berjalan menjauh, meninggalkan Jasmine sendiri mematung.


Flash back and


Ilham pun kembali memejamkan mata, mengingat masa lalunya hanya membuat hatinya kembali merasa terluka, karena kenyataan bahwa wanita yang bernama Jasmine Salsabila telah dipersunting oleh pria lain.


***


Di kediaman orang tua Jasmine.


Hari ini Gabriel membantu kedua mertuanya bebenah rumah, setelah selesai melakukan hajatan besar, dari pagi sampai sore dia belum beristirahat sama sekali, pekerjaannya baru di hentikan saat sudah memasuki waktu sholat saja, setelahnya dia kembali membantu merapikan rumah.


Sampai waktu Maghrib tiba, pekerjaan pun baru selesai di kerjakan, Briel pun duduk di teras rumah, sementara kedua mertua'nya masuk kedalam untuk membersihkan diri.


Dia pun duduk dengan mengibaskan lengannya ke arah wajah, seraya napas yang terlihat tidak beraturan, dengan dadanya naik turun merasa kelelahan.


Sampai akhirnya sang istri datang membawa satu gelas teh manis hangat lengkap dengan cemilan yang telah dia buat sendiri.


''Apakah kamu lelah?'' tanya sang istri duduk di sampai Gabriel.


''Tidak, ko.''


Briel menerima dan menyeruput'nya perlahan.


''Wah, manis sekali, semanis wajahmu, istri'ku,'' lirih Briel tersenyum memandang wajah istrinya.


''Gombal banget si,'' Jasmine tersipu malu.


''Sungguh, kali ini aku tidak bohong.''


''Berarti yang tadi kamu berbohong, ya?'' Jasmine mengerutkan keningnya.


''He... he... he... sedikit,'' jawab Briel sedikit cengengesan.


''Ikh, dasar...'' Jasmine mencubit pelan pinggang sang suami.


''Sayang, nanti malam, aku mau minta izin untuk bermalam di rumah'ku, boleh?''


''Sendiri...?''


''Ya, tentu dengan kamu, kamu kan istri'ku.''

__ADS_1


Jasmine kembali tersipu malu, bahkan kali ini wajahnya terlihat memerah.


''Lalu Naura bagaimana?''


''Tentu saja dia ikut, di rumah kan ada beberapa kamar yang tidak di pakai, kita bisa---''


Briel tidak meneruskan ucapannya.


''Bisa apa?'' Jasmine sedikit tersenyum, dan pura-pura bersikap polos.


''Itu... sesuatu yang sempat tertunda, he... he... he...!''


Jasmine tidak menjawab, dan malah menunduk seperti merasa menyesal.


''Maaf, suami'ku... tapi seperti'nya hal itu belum bisa kita lakukan sekarang.''


''Lho, kenapa? apa kamu belum siap?'' Briel membulatkan matanya, merasa terkejut.


''Tidak, bukan karena itu.''


''Apa kamu tidak enak dengan Naura?''


''Tidak, mas. Bukan karena itu juga.''


''Lalu...?'' Gabriel merasa heran.


''Eu... itu kerena, karena... aku dapat tamu bulanan...''


''Hah...? maksudnya apa?'' Briel mengerutkan keningnya.


''Itu, tamu khusus yang biasa datang pada setiap wanita.''


''Maksudnya, datang bulan...?''


Jasmine mengangguk.


Sementara Briel menepuk jidatnya dengan sedikit kasar, lalu menyandarkan punggungnya di tembok.


''Apa kamu kecewa?''


''Tidak...! aku bisa menunggu sampai tamu tidak di undang dan datang di waktu yang tidak tepat ini pergi, aku orangnya sabar ko,'' Briel sedikit tersenyum.


''Benarkah? tapi sayangnya sorot matamu tidak mengatakan begitu.''


''O ya...? kelihatan ya... he... he... he...! maaf, tidak bermaksud untuk kecewa,'' Briel menatap wajah sang istri.


''Iya, aku mengerti perasaan'mu...! O ya, sudah sore, sebaiknya mas cepat mandi, setelah itu ke mushola, sebentar lagi adzan Maghrib,'' pinta Jasmine.

__ADS_1


''Baiklah, aku mandi dulu, ya.''


*****


__ADS_2