
''Bu... Papa mana? kenapa dia tidak datang-datang? apakah dia baik-baik saja? aku takut dia kenapa-napa, hiks hiks hiks ...''
Tiba-tiba terdengar suara Naura menangis dan mencari ayah'nya, Jasmine dan Tania pun segera menghampiri dan berdiri di samping tempat tidur.
''Naura, sayang...'' Jasmine mengusap kepala Naura.
''Bu...! papa mana? apa papa baik-baik saja?'' tanya Naura dengan masih terisak.
''Sayang...! papa sedang ada urusan sebentar, nanti juga pulang, Naura dengan ibu dulu, ya," jawab Jasmine lembut.
Tania hanya bisa menatap wajah Naura dengan tatapan penuh rasa iba, dia tahu betul bahwa tidak ada ikatan darah sedikit pun antara Naura dengan Gabriel, namun, apa yang sedang dia saksikan sekarang seolah sedang melihat sebuah ikatan batin dari seorang putri kepada ayah kandungnya yang saat ini memang sedang terluka.
"Naura, Tante temannya papa Briel, dia bilang sama Tante, bahwa, dia harus pergi sebentar, nanti juga kembali lagi, kamu yang sabar ya, sayang," Tania ikut mencoba menenangkan.
"Benarkah? tapi kenapa papa tidak pamitan dulu sama Naura, hiks hiks hiks...''
Keduanya hanya terdiam.
''Kenapa diam saja? Naura ingin bertemu papa, Bu.''
''Iya, sayang, sekarang kamu sama ibu dulu ya, besok juga papa datang, beneran deh...'' Jasmine terpaksa berbohong untuk menenangkan Naura.
''Beneran ya, Bu.''
Jasmine mengangguk, seraya menahan kesedihan.
__ADS_1
Naura pun sudah sedikit tenang, Jasmine mengusap air mata yang membasahi pipi mungil Naura, lalu mengecup keningnya, dia tersenyum menatap wajahnya, meski senyum yang menahan kesedihan.
''Sayang, ibu keluar dulu ya, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan dengan Tante Tania.''
Naura mengangguk lesu.
Jasmine pun menatap ke arah Tania, seolah memberi isyarat untuk ikut keluar bersama diri'nya. Tania pun mengerti lalu berjalan mengikuti dari belakang. Keduanya pun berdiri di luar kamar.
''Sebenarnya kemana perginya mas Gabriel? kenapa dia tega sekali meninggalkan Naura dalam keadaan seperti ini?'' Jasmine sedikit berkaca-kaca.
''Maaf, aku tidak bisa memberitahukan apapun, karena aku sendiri tidak tahu,'' jawab Tania menunduk penuh dengan perasaan menyesal.
''Bohong...! Aku yakin kamu tahu sesuatu, iya kan?''
Tania hanya terdiam masih dalam keadaan menunduk.
''Keadaan? memangnya dia sedang dalam keadaan bagaimana?'' Jasmine mengerutkan keningnya.
''Eu... maksudku, dalam keadaan yang tidak memungkinkan, seperti itu, he... he...''
'Duh, hampir saja keceplosan.'
(Batin Tania)
''Eu... aku permisi pulang dulu, ya. Nanti aku akan balik lagi ke sini,'' Tania pun berpamitan, sebelum dia semakin keceplosan.
__ADS_1
''Jika kamu bertemu dengan dia, tolong sampaikan, aku dan Naura akan selalu menunggu dia pulang,'' ucap Jasmine masih dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
''Baiklah, nanti jika aku bertemu dengan dia, akan aku sampai'kan pesan'mu padanya.''
Jasmine mengangguk.
''Assalamualaikum...'' Tania mengucap salam sebelum dia mulai berjalan.
''Waalaikumsalam...'' Jasmine menjawab salam, menatap punggung Tania, yang perlahan berjalan menjauh meninggalkan dirinya.
Kemudian dia pun mengusap wajah dengan kedua tangannya, merasakan kepedihan yang mendalam, Gabriel, calon suaminya, harus pergi meninggalkan dirinya dan Naura begitu saja.
Dia pun kembali masuk ke dalam kamar, untuk menemani Naura, namun, sebelumnya dia pun merapikan jilbab yang dikenakannya, serta mengusap air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya.
*****
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Hadiah
__ADS_1
Terima kasih... ❤️❤️
***