TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Kartu Merah


__ADS_3

Gabriel menoleh ke arah sumber suara, dia merasa terkejut seketika, saat melihat wajah seorang gadis yang sangat dia kenal, dia adalah Tania, entah mimpi apa yang dia dapatkan semalam sehingga dirinya harus bertemu dengan mantan kekasihnya yang sudah benar-benar dia lupakan.


''Gabriel...? benar ini kamu?''


Tania menatap wajah mantan kekasihnya, menatap dengan penuh rasa tidak percaya, dia bahkan tersenyum menatap wajah tampan dengan tatapan mata yang terlihat semakin teduh, dan aura semakin bersinar.


''Tania...? sedang apa kamu disini?''


''Seharusnya aku yang bertanya? sedang apa kamu jauh-jauh berada di sini? apakah kamu sakit? atau, calon istri'mu?'' tanya Tania yang sekarang sudah berada di dekat Briel, berdiri di sampingnya masih dengan menatap penuh rasa tidak percaya.


''Putri'ku yang sakit, dia baru saja mendapatkan operasi usus buntu,'' jawab Briel datar.


''O ya? kasian sekali, bagaimana keadaannya sekarang?''


''Sudah sedikit membaik, Alhamdulillah operasinya lancar, sekarang dia sedang dalam masa pemulihan.''


''Syukurlah, aku senang mendengarnya.''


''Permisi, aku harus segera kembali ke kamar,'' Briel berbalik dan hendak melangkah.


''Tunggu, Briel. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,'' Tania seketika ingat perkataan Alberto, yang saat ini sedang mencari mantan kekasihnya tersebut.


''Maaf tapi aku tidak punya waktu,'' Briel berhenti dan berbalik sebentar lalu kembali hendak melangkah ke depan.


''Alberto...! apakah kamu kenal dia?''


Briel kembali menghentikan langkah'nya, termenung sejenak, dan sedikit terkejut, namun tetap berusaha bersikap tenang.


''Dia sedang mencari kamu, dan putrimu, sepertinya kamu harus lebih berhati-hati,'' tanya berbicara langsung ke intinya.


''Apa...?'' Briel akhirnya berbalik dan kembali berdiri tepat di samping Tania.


''Sebaiknya kita tidak bicara di sini, kita cari tempat yang tenang, aku akan menceritakan semuanya padamu, sungguh, aku tidak mempunyai niat apapun, aku hanya ingin memperingatkan'mu, karena walau bagaimanapun kau adalah orang spesial yang pernah singgah di hati'ku, aku tidak ingin kau sampai terluka,'' lirih Tania lembut.


''Baiklah, mari kita bicara, kita ke sana saja,'' Briel menunjuk tempat yang tadi dia singgahi sewaktu selesai menunaikan Sholat.

__ADS_1


Mereka pun berjalan beriringan namun agak berjauhan, Briel sedikit menjaga jarak, karena tidak ingin sampai bersentuhan dengan Tania, meskipun dahulu dia sering melakukan hal yang lebih dari sekedar bersentuhan, hal yang biasanya di lakukan oleh sepasang kekasih.


Namun saat ini dia menyadari bahwa hal itu adalah sesuatu yang salah, dan di larang oleh agama, dia pun berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut, apalagi kepada calon istrinya, dia tidak berani meski hanya sekedar menyentuh apalagi bercumbu, semua itu akan dia lakukan nanti, ketika Jasmine sudah benar-benar menjadi istrinya.


Gabriel dan Tania pun duduk di taman, dengan Briel yang masih mencoba menjaga jarak, keduanya duduk sedikit berjauhan namun masih bisa saling mendengar apa yang sedang di bicarakan.


''Dari mana kamu kenal dengan Alberto? bukankah dia adalah bos mafia?'' Briel memulai percakapan.


''Mantan bos'mu, kan?''


Briel terdiam menunduk.


''Sekarang dia adalah kekasih'ku, aku pikir dia adalah orang yang baik, aku terpaksa menerima dia karena dia kaya dan banyak uang, dan aku membutuhkan uangnya, dia juga royal terhadap'ku, selalu memberikan apapun yang aku mau,'' ucap Tania.


''Langsung saja ke intinya, aku tidak tertarik mendengarkan cerita hidup'mu,'' Briel memotong ucapan Tania.


''Baiklah, aku akan menceritakan intinya saja,'' Tania menunduk dan sedikit kesal.


''Hal pertama yang ingin aku tanyakan adalah, dari mana kamu tahu bahwa aku adalah anak buah dari Alberto?''


''Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Alberto dengan anak buahnya, bahwa dia sedang mencari diri'mu, dan putri'mu, dia bilang padaku bahwa dia akan membunuhmu jika sampai dia menemukanmu, apakah kau menyimpan sesuatu rahasia besar tentang Alberto?''


''Gabriel...?'' Tania membuyarkan lamunan Briel.


''Maaf, aku melamun tadi,'' Briel mengusap wajahnya secara kasar, lalu menghembuskan'nya perlahan.


''Terima kasih karena telah memberitahukan hal ini padaku, Tania.''


''Sama-sama, sepertinya kamu harus segera kembali ke kota dimana tempat'mu bersembunyi, sebelum Alberto atau anak buah'nya menemukan dirimu,'' Tania mengingatkan.


''Tapi Naura baru saja selesai Operasi, mana mungkin aku membawanya pulang, sementara keadaannya belum pulih benar? apa yang harus aku lakukan?'' Briel menunduk merasa khawatir.


''Hmmm...'' Tania menarik napas panjang.


''Sekarang aku harus kembali ke kamar, Naura pasti mencari'ku karena aku sudah pergi terlalu lama,'' Briel bangkit dan berdiri hendak pergi.

__ADS_1


''Aku juga sudah tahu siapa Naura sebenarnya.''


Gabriel mengurungkan niatnya, dan kembali menatap Tania.


''Apa maksud'mu?''


''Aku tahu, kalau dia sebenarnya adalah putri dari orang yang kamu bunuh, kan?''


Tubuh Briel bergetar seketika, pikirannya kembali melayang, membayangkan kejadian lima tahun yang lalu, saat bayi Naura merangkak di atas jasad ibu kandungnya yang baru saja dia bunuh.


''Maaf karena waktu itu aku tidak tahu dan mengira bahwa Naura adalah anakmu dari hasil hubungan gelap'mu dengan selingkuhan'mu itu.''


''Tidak penting membahas hal itu sekarang,'' jawab Briel datar.


''Bagaimana reaksi Naura, jika suatu saat nanti dia sampai tahu bahwa, sebenarnya kau adalah pembunuh kedua orangtuanya? dan sekarang bertingkah seolah kamu adalah ayah kandung yang baik, padahal sebenarnya kamu adalah pembunuh... pembunuh...'' Tania menatap wajah Briel dengan tatapan tajam.


''Cukup...'' Briel melangkah meninggalkan Tania.


Tania bangkit dan berdiri, menatap kepergian Gabriel yang perlahan berjalan menjauh darinya, dia sendiri sungguh tidak menyangka bahwa mantan kekasihnya tersebut adalah mantan seorang mafia yang bertugas menghabisi nyawa.


Dan pekerjaan itu di lakukan saat Gabriel masih menjadi kekasihnya, sungguh hati Tania di selimuti rasa tidak percaya, karena selama mereka berpacaran dulu, Briel sama sekali tidak menunjukan ataupun bersikap layaknya seorang yang terbiasa membunuh.


Ada rasa sakit yang menyusup di hatinya, sakit karena telah di bohongi oleh Gabriel, meski kejadian'nya sudah lama berlalu, namun tetap saja, rasa sakit itu masih terasa.


*****


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Hadiah

__ADS_1


Agar Author semangat dalam berkarya.


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2