TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Tersipu Malu


__ADS_3

Jasmine tersipu malu, wajahnya memerah dengan jantung yang berdetak kencang, tatapan yang di layangkan oleh calon suaminya serasa bagai busur panah yang menancap tepat di hatinya.


Dirinya pun menutup separuh wajah dengan hijab berwarna hitam yang di kenakan'nya, menutupi wajah yang mungkin terlihat merah merona.


Gabriel tersenyum melihat tingkah calon istrinya tersebut, ada rasa bahagia yang tidak terkira menyusup ke dalam relung hatinya, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, sewaktu dia masih berpacaran dengan mantan pacarku terdahulu.


''Sudah malam, aku pulang dulu, tidak baik berlama-lama di sini, takutnya menimbulkan fitnah,'' pamit Gabriel.


''Ya sudah, hati-hati ya,'' jawab Jasmine masih dengan menutup separuh wajah cantiknya.


''Eu... bisakah kamu bangunkan Naura?''


''Naura biar tidur saja di sini, kasihan kalau harus di bangunkan.''


''Apa tidak apa-apa dia tidur di sini? takut'nya merepotkan kamu, ibu dan bapak.''


''Iya, tidak apa-apa ko, lagipula jarak dari sini ke rumah kamu tidak terlalu jauh, aku bisa mengantarkannya jika dia terbangun malam-malam dan meminta pulang,'' jawab Jasmine.


''Baiklah kalau kamu tidak keberatan, aku titip Naura ya, aku pulang dulu,'' bangkit lalu berjalan keluar.


''Assalamualiakum...'' Briel mengucap salam sesaat sebelum kakinya benar-benar keluar dari dalam rumah calon istrinya, seraya tersenyum dan menatap wajah Jasmine yang masih aja terlihat anggun di matanya, meski separuh wajahnya tertutup layaknya memakai cadar.


Jasmine diam-diam tersenyum di balik cadarnya, jantungnya masih saja berdetak dengan sangat kencang, rasanya, perasaan cintanya kepada pria bernama Gabriel itu sudah tidak dapat lagi kendalikan, semakin hari, perasaan itu semakin memenuhi seluruh hatinya, hingga tidak ada tempat lagi untuk pria lain.


Jasmine menatap punggung Gabriel sampai pria itu benar-benar berjalan semakin menjauh hingga menghilang di kegelapan malam.


Dirinya pun masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu dengan perlahan.

__ADS_1


Jasmine merapikan meja ruang tamu dan menyimpan gelas yang tadi di pakai oleh Gabriel dan Naura, setelah itu barulah dia masuk ke dalam kamarnya, membuka pintu secara perlahan karena tidak ingin membangunkan Naura yang sedang terlelap di dalam kamarnya.


Ceklek


Pintu pun di buka dan Jasmine masuk ke dalam kamar, tanpa di sangka Naura yang tadi sudah terlelap, kini terlihat membuka mata dan menatap ke arah dirinya dengan tatapan sendu dan seperti menahan kesedihan.


''Sayang...! kamu sudah bangun?'' tanya Jasmine membuka kerudungnya lalu berbaring tepat di samping gadis cantik bernama Naura tersebut, dia menatap wajah Naura dengan tatapan tanda tanya, karena Naura tidak terlihat ceria seperti biasanya.


''Ada apa sayang? mengapa wajahmu terlihat murung seperti ini?'' tanya Jasmine mengusap lembut rambut panjang Naura.


''Ibu...! aku ingin menceritakan sesuatu sama ibu, tapi ibu harus janji, jangan mengatakannya lagi kepada papa...!'' ucap Naura lembut, memandang wajah sang ibu masih dengan tatapan sayu.


''Iya, sayang. Ibu janji tidak akan mengatakannya lagi kepada papa'mu,'' jawan Jasmine, memandang lekat wajah cantik Naura.


''Hari ini, aku telah membuat papa menangis, menangis sesenggukan, dan aku tidak pernah melihat papa menangis sampai seperti itu,'' jelas Naura sedikit terisak.


''Lho? kenapa memangnya? kamu melakukan apa sampai papa menangis seperti itu?'' tanya Jasmine merasa heran.


Jasmine terkesima seketika mendengar penjelasan dari Naura, dirinya tahu betul jika calon suaminya tersebut pernah bercerita kepada dirinya bahwa, Naura sebenarnya bukanlah Putri kandungnya, melainkan putri dari pamannya yang meninggal 5 tahun yang lalu.


Namun, Jasmine tidak kuasa untuk menjelaskan hal itu kepada Naura, lebih baik jika hal yang sebenarnya, diceritakan oleh Gabriel sendiri.


''Sayang, mungkin papa, merasa sedih karena harus mengingat kembali tentang ibu kandung'mu itu, dia tidak bercerita, karena papa menunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya, menunggu kamu dewasa terlebih dahulu, kamu jangan sedih lagi ya, meski tidak ada ibu kandung'mu, kan masih ada ibu, yang akan merawat dan membesarkan mu seperti anak kandung ibu sendiri,'' Jasmine menenangkan Naura, memeluk tubuh mungilnya.


''Tapi aku sungguh menyesal karena telah membuat papa menangis seperti itu, hati Naura sakit rasanya melihat papa yang sangat Naura sayangi, menangis sampai sesenggukan begitu,'' ucap Naura lirih, di dalam pelukan sang ibu.


''Sudah, tidak usah terlalu di pikirkanlah, Ibu yakin papa kamu tidak apa-apa. Sekarang kamu tidur ya, besok ibu bangunkan kamu pagi-pagi sekali.''

__ADS_1


Naura tersenyum, lalu mulai memejamkan mata.


Sebenarnya, hati Jasmine bagai tersayat dengan semua yang di katakan oleh Naura, hatinya sungguh merasa sedih mendengar setiap perkataan yang di ucapakan dari mulut kecil Naura, apa yang akan terjadi, jika gadis kecil itu sampai mengetahui bahwa ayah'nya bukanlah ayah kandungnya.


Dia pun menatap wajah gadis kecil yang saat ini sudah mulai terlelap di dalam pelukannya, dirinya mengusap pelupuk mata Naura, yang terlihat masih terdapat sisa air mata.


***


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali, Naura sudah bangun dan sholat subuh bersama dengan Jasmine, dia tampak cantik mengenakan mukena yang terlihat kebesaran, selesai sholat Naura pun menyalami punggung lengan calon ibunya tersebut, seraya tersenyum senang.


''Hari ini kamu sekolah kan?'' tanya Jasmine.


''Tidak dong, Bu. Sekarang kan hari Minggu.''


''Oh iya, ibu lupa. Kalau kamu mau tidur lagi, tidur saja, tidak apa-apa ko, nanti jika hari sudah mulai terang, ibu bangunkan kamu lagi,'' Jasmine menawarkan.


Naura mengangguk lalu membuka mukena yang di kenakan'nya, kemudian naik ke atas ranjang, dan tidak lama kemudian, gadis cantik itu sudah tertidur dengan begitu lelapnya, hingga terdengar suara dengkuran kecil dari bibir mungilnya.


Matahari pun mulai naik kepermukaan, Kokok ayam jantan mengiringi dengan suaranya yang terdengar di setiap sudut kota kecil tersebut, udara segar mulai terasa, dengan di temani hangatnya matahari yang perlahan menunjukan sinarnya.


Pukul 7 pagi, suara ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar, Jasmine yang sedang berbenah rumah merasa heran, siapakah gerangan yang bertamu ke rumahnya sepagi ini? dia pun berjalan ke arah pintu, membuka pintu yang terlihat masih terkunci dengan rapat.


Ceklek...


Dirinya pun membuka pintu dengan pelan, dan terkejut seketika, setelah melihat siapa yang datang.

__ADS_1


''Ilham...?''


*****


__ADS_2