TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Tidak becus


__ADS_3

Setelah kepergian Richard, Alberto pun segera menelepon satu-persatu anak buahnya, untuk segera berkumpul untuk membicarakan hal tersebut.


Mulai hari ini dia akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa menemukan anak yang bernama lili tersebut, dan yang lebih penting lagi, dirinya harus bisa menemukan Gabriel terlebih dahulu, karena yakin bahwa pria itu tahu dimana keberadaan anak tersebut.


***


Setalah keluar dari Apartemen Alberto, Richard pun segera meluncur ke rumahnya, mengendarai mobil mewah kepunyaan dirinya.


''Dasar, ngaku saja mafia, tapi mencari satu anak saja tidak bisa, dasar bodoh,'' gerutu Alberto, seraya memutar stir dan menginjak pedal gas, melaju kencang di jalanan.


Richard yang merupakan dalang dari pembunuhan yang dilakukan oleh Gabriel, sudah tidak sabar untuk segera mengambil alih harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua kandung Naura.


Dan Istrinya yang bernama Maurin, sama sekali tidak tahu bahwa suaminya adalah otak di balik tragedi yang menimpa Kaka kandungnya.


Richard pun sampai kediamannya, rumah berlantai tiga bercat coklat muda dengan pagar besi tinggi menjulang di bagian depannya, satpam pun segera membuka pagar setelah majikannya tersebut membunyikan klakson mobilnya secara berkali-kali, dia pun membungkuk memberi hormat saat mobil tersebut melaju perlahan memasuki halaman.


Maurin menatap mobil suami'nya dari balkon kamarnya yang terletak di lantai dua, suaminya tersebut terlihat melambaikan tangan ke arah dirinya dengan kepala yang mendongak menatap ke atas dimana Maurin berada, seraya tersenyum begitu lebarnya.

__ADS_1


Wanita berusia 35 tahun itupun membalas lambaian tangan suaminya, dengan tersenyum pula. Richard masuk kedalam rumah besarnya dan segera menghampiri istrinya yang berada di kamar, di lantai dua.


Ceklek


Richard membuka pintu, lalu berjalan masuk kedalam kamar.


''Bagaimana? apa sudah ada kabar dari teman mafia'mu itu, tentang keberadaan lili?'' tanya Maurin berharap mendapatkan kabar baik.


''Tidak, mereka belum menemukan petunjuk apa-apa,'' jawab Richard memeluk tubuh istrinya.


''Sudah lebih dari lima tahun, kita mencari dia, apa mungkin dia masih hidup?'' Maurin sedikit terisak, mengeratkan pelukan suaminya.


Richard melepaskan pelukan istrinya, lalu mengusap buliran air mata yang perlahan berjatuhan dari mata indah istrinya.


''Tapi, mas. Aku masih teringat dengan gadis kecil yang sempat aku temui di Rumah Sakit, entah mengapa ada getaran yang berbeda saat aku menatap wajahnya, sungguh, wajah'nya itu sangat mirip dengan Almarhumah kakakku, di tambah lagi, usia Lili pasti sebaya dia sekarang.''


Richard termenung, dan mencoba berfikir, apa mungkin yang dimaksud oleh istrinya tersebut benar-benar anak yang selama ini sedang dia cari?

__ADS_1


Akh, rasanya mustahil anak itu muncul begitu saja, tapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa anak itu benar-benar dia, apa sebaiknya dirinya mencari tahu tentang keberadaan anak yang ditemui oleh istrinya di Rumah Sakit, itu.


Batin Richard bergejolak.


''Mas...!'' Maurin menggoyangkan tubuh suaminya.


''Oh iya, sayang,'' Richard menyudahi lamunannya.


''Ada apa? sepertinya kamu melamun?'' tanya Maurin heran.


''Tidak, ko. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu, bagaimana jika kita tanyakan ke pihak Rumah sakit, alamat dari anak yang kamu temui waktu itu? apa kamu tahu namanya?''


''Iya, aku ingat sekali namanya, nama anak itu Naura, tapi aku yakin, sangat yakin, bahwa anak itu adalah Lili, keponakan kita, sorot matanya, senyuman'nya, bahkan bentuk wajahnya pun sangat mirip dengan Almarhumah kakakku.''


Maurin menjelaskan dengan penuh keyakinan, membuat Richard merasa yakin bahwa dia harus benar-benar mencari anak yang bernama Naura tersebut, dan langkah pertama yang akan dia ambil adalah dengan meminta informasi dari pihak Rumah Sakit.


''Baiklah, sayang. Besok kita sama-sama ke Rumah Sakit ya, siapa tahu kita bisa mendapatkan petunjuk dari sana,'' ucap Richard, memeluk kembali tubuh istrinya, lalu mengusap punggung istrinya tersebut, dengan lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


*****


__ADS_2