TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Operasi


__ADS_3

''Kenapa kamu berbicara seperti itu? kamu pasti sembuh, sayang. Ibu yakin itu, operasi usus buntu hanya operasi kecil, jadi kamu pasti kuat, ya...?'' ucap Jasmine menenangkan.


''Benarkah?'' Naura menatap wajah ibunya.


''Tentu saja, kamu tidak usah khawatir, papa sama ibu, akan selalu menemani kamu di sini,'' jawab Jasmine dengan suara lembutnya.


''Iya, sayang. Jangan pernah berbicara seperti itu lagi, papa sangat sedih mendengar'nya,'' Briel menahan air mata, merasa sedih mendengar ucapan Naura.


''Maafkan Naura Pah, aku janji tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi, papa jangan sedih lagi, ya...''


''Iya, sayang. Papa tidak akan sedih lagi, sekarang kamu istirahat.''


Naura menganggukan kepalanya, lalu mencoba terpejam, namun wajahnya sedikit meringis kesakitan, dengan mata yang mulai terpejam, dia tidak mengeluh atau pun menangis, gadis kecil ini seolah tidak ingin membuat ayah serta ibunya khawatir.


''Mas, sebaiknya mas makan dulu, dari kemarin kamu belum makan sama sekali.''


''Bagaimana aku bisa makan? di saat melihat dia seperti ini?''


''Kamu harus makan, kalau kamu sampai sakit bagaimana? kamu juga harus menjaga kondisi kesehatan kamu.''


''Baiklah, aku akan makan. Kamu jaga Naura di sini, aku akan membeli makanan ke depan, kita makan bersama di sini, ya.''


Jasmine menganggukan kepalanya.


Briel pun bangkit dan berdiri, lalu berjalan keluar dari ruangan untuk membeli makanan.


Setelah Gabriel keluar, Naura pun membuka matanya, dia menatap wajah ibu dengan mata yang terlihat berkaca-kaca menahan kesakitan.


''Sayang...! ibu kira kamu tidur? ada apa sayang? apakah ada yang sakit?'' tanya Jasmine lirih sambil mengusap rambut Naura.


''Iya, Bu. Perut aku sakit sekali, hiks... hiks... hiks...'' jawab Naura seolah menumpahkan kesakitan'nya yang sudah sedari tadi dia tahan.


''Kenapa dari tadi kamu diam saja, seharusnya kamu bilang kalau sakit?''


''Aku hanya tidak ingin membuat papa khawatir, Bu. Aku tidak ingin membuat dia merasa cemas,'' jawab Naura dengan linangan air mata.


''Sebentar ya, sayang. Ibu panggilkan Dokter dulu,'' Jasmine segera bangkit dan keluar dari dalam ruangan.


Tidak lama kemudian, Dokter pun datang, dia memberikan obat penahan rasa sakit, dan tidak lama kemudian Naura pun segera tenang, sakit yang tadi dia rasakan berangsur hilang.

__ADS_1


''Bagaimana, Dok? usus buntu'nya tidak semakin parah kan?'' tanya Jasmine cemas.


''Tidak ko, Bu. Setelah di operasi besok, kondisi putri ibu akan pulih, karena setelah usus buntu'nya di angkat, rasa sakit itu pun akan segera hilang, disarankan agar Naura jangan memakan apapun atau meminum apapun, dia harus berpuasa terlebih dahulu, karena besok pagi-pagi sekali akan segera di lakukan operasi.''


''Baik, Dokter. Terima kasih.''


''Kalau begitu saya permisi.''


Dokter segera berjalan keluar, dan bersamaan dengan keluarnya sang Dokter, Gabriel pun kembali dengan membawa dua kotak makanan, beserta camilan lainnya, yang sengaja dia beli.


''Ada apa Dokter kemari?'' tanya Briel merasa heran.


''Oh, tadi Dokter hanya memeriksa kondisi Naura, sekaligus memberitahukan bahwa mulai saat ini dia harus sudah mulai berpuasa.''


Jawab Jasmine yang tidak ingin membuat calon suaminya merasa khawatir apabila dia sampai mengetahui bahwa Naura baru saja merasakan kesakitan.


''Oh, begitu.''


Gabriel, menatap wajah Naura yang sudah mulai kembali terpejam, karena selain di beri obat penahan rasa sakit, Dokter pun memberi Naura obat penenang, agar gadis kecil itu tertidur dan beristirahat.


''Kita makan dulu ya, dari kemarin kamu juga belum makan, kan?'' ajak Briel.


***


''Kamu kenapa, mah?'' tanya Tuan Richard yang mendapati sang istri, Nyonya Maurin, terlihat kesakitan dengan tangan yang memegang perutnya.


''Aku juga tidak tahu, mas. Dari kemarin perutku rasanya sakit sekali, aku pikir hanya sakit perut biasa, tapi sekarang rasa sakit ini semakin terasa, perutku bagai di sayat-sayat,'' jawab Nyonya Maurin dengan masih memegangi perut dengan kedua tangannya.


''Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang,'' Tuan Richard membantu istrinya berdiri, lalu memangku'nya tubuhnya.


Dirinya segera membawa sang istri ke dalam mobil, untuk di bawa ke Rumah Sakit terdekat.


''Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit,'' ucap Tuan Richard, menatap wajah sang istri.


Nyonya Maurin hanya mengangguk seraya terus meringis.


''Mang Diman, bisa lebih di percepat lagi tidak? kasian istri saya sudah sangat kesakitan,'' pinta Tuan Richard kepada Supir pribadi'nya.


''Baik, Tuan.'' Jawab mang Diman, langsung menancap gas, dan melajukan mobilnya memecah jalan'nan ibu kota.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Sakit, Tuan Richard segera membawa sang istri ke Ruang Unit Gawat Darurat, dan di sana mereka pun langsung di sambut oleh dua orang perawat yang langsung membawa Nyonya Maurin masuk ke ruangan untuk mendapatkan pemeriksaan.


''Bagaiman keadaan istri saya, Dokter?'' Tuan Richard bertanya kepada Dokter yang baru saja keluar setelah memeriksa keadaan istrinya.


''Nyonya harus segera di operasi, ada usus buntu yang sudah melebar di dalam ususnya, sehingga harus segera di angkat,'' jawab Dokter tersebut.


''Kapan operasi'nya bisa di lakukan Dokter?''


''Sepertinya besok pagi, karena ada pasien lainnya yang harus menjalani operasi yang sama, maka Nyonya harus menunggu giliran terlebih dahulu.''


''Tidak bisa sekarang juga?''


''Mohon maaf, sepertinya tidak bisa, karena Nyonya harus menjalani puasa terlebih dahulu.''


''Baiklah, Dok. Tapi saya minta agar istri saya di beri obat pereda nyeri terlebih dahulu, agar dia tidak terlalu merasa kesakitan.''


''Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi, Nyonya Maurin akan segera di bawa ke Ruang Rawat inap,'' Dokter pun berjalan meninggalkan Tuan Richard.


***


Entah kebetulan atau pun memang sudah Takdirnya, Naura yang merupakan keponakan dari Nyonya Maurin menderita penyakit yang sama dengan Tante'nya, dan keduanya akan menjalani operasi secara bergantian.


Pagi ini, Nyonya Maurin sudah berada di ruang Tunggu, untuk menunggu giliran di operasi, dan Naura pun berada di ranjang sebelah dirinya, siap untuk mendapatkan operasi.


Nyonya Maurin nampak menatap wajah Naura yang terlihat sedikit tegang, matanya menatap ke arah langit-langit ruangan.


''Kamu sakit apa, nak?'' tanya Nyonya Maurin, menoleh ke arah Naura.


''Kata Dokter, aku harus di operasi karena usus buntu,'' jawab Naura pelan.


''O ya...? kasihan sekali kamu, nak. Kebetulan Tante juga akan dioperasi karena penyakit yang sama seperti kamu.''


Naura hanya terdiam, merasakan ketegangan yang saat ini menyelimuti hatinya. Melihat raut wajah gadis kecil yang saat ini berada di sebelahnya dalam keadaan pucat dan tubuh yang sedikit gemetar, Nyonya Maurin pun mencoba untuk menenangkan.


''Jangan tegang begitu, sayang. Operasi usus buntu itu hanya operasi kecil, tidak akan sakit sama sekali, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit juga sudah selesai, setelah itu kamu akan sembuh dan bisa bermain kembali dengan kedua orang tua'mu,'' lirih Nyonya Maurin menatap wajah cantik Naura.


Ada rasa getaran yang berbeda saat dia menatap wajah Naura, entah mengapa wajah gadis kecil ini seperti mengingatkannya kepada kakak'nya yang telah tiada, selama beberapa detik dia terus menatap wajah Naura, sampai akhirnya dua orang perawat membawa tubuh mungil gadis kecil itu ke ruang operasi.


*****

__ADS_1


__ADS_2