TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Gabriel membukakan pintu mobil untuk Naura dan juga calon istrinya, dengan tersenyum senang dan perasaan bahagia, bibirnya tidak sedikitpun berhenti mengembang dengan mata yang berbinar.


Dirinya pun segera masuk ke dalam mobil, duduk di kursi supir dan siap untuk menyetir. Mereka bertiga benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, bahkan Naura yang duduk di pangkuan calon ibu sambungnya pun terlihat menatap wajah ayah dan juga calon ibunya secara bergantian.


Naura sungguh merasa sangat bahagia, hatinya diliputi perasaan yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata, gadis kecil ini akhirnya tidak perlu lagi merasa iri kepada kawan-kawannya, karena dirinya telah sama seperti mereka, yaitu, mempunyai ayah dan ibu.


''Kamu senang?'' tanya Jasmine menatap wajah Naura.


Gadis kecil itu mengangguk dengan tersenyum.


''Papah, senang melihat kamu tersenyum seperti itu, wajah mu jadi terlihat cantik sekali,'' ucap Gabriel menatap ke depan.


''Emang wajah aku dari dulu juga sudah cantik. Iya kan bu?'' celoteh Naura.


''Iya, sayang. Wajah kamu cantik, cantik'nya pake banget lagi,'' jawab Jasmine tersenyum lalu mengecup pipi mungil Naura.


''Iya... iya... dari bayi wajahmu memang sudah cantik ko,'' ujar Gabriel, dia terdiam seketika setelah mengucapkan hal tersebut, bayangan masa lalu tiba-tiba saja singgah di dalam memorinya, menyebut kata 'bayi' membuatnya kembali mengingat saat Naura merangkak di tubuh ibu kandungnya yang baru saja dia bunuh kala itu.


Gabriel menginjak rem secara mendadak, dia menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat muram, membuat Jasmine dan Naura terkejut seketika.


''Kamu kenapa?'' Jasmine menatap wajah Briel dengan tatapan heran.


''Iya, papah kenapa? apa papah sakit?''


''Tidak, ko. Papah hanya tiba-tiba pusing saja,'' jawab Gabriel berbohong.


''Sebentar lagi kita sampai, bagaimana kalau kita berdua jalan kaki saja?'' ucap Jasmine merasa khawatir.


''Nggak usah, aku sudah baik-baik saja sekarang,'' jawab Briel kembali menyalakan mobilnya.


''Kamu serius?'' tanya Jasmine.

__ADS_1


Gabriel mengangguk lalu tersenyum, meski dengan senyum yang terlihat sedikit di paksakan.


Akhirnya mereka pun sampai di gerbang sekolah, ketiganya keluar dari dalam mobil secara bersamaan, Naura menyalami ayah dan juga calon ibunya dengan tersenyum dan berpamitan.


''Naura sekolah dulu ya Pah, ibu. Ingat nanti jemput'nya jangan sampai terlambat seperti kemarin,'' Naura mengingatkan.


''Iya, sayang. Papa janji bakal tepat waktu.''


''Janji ya...?''


Sang ayah mengangguk.


Anak-anak yang melintas di sana pun nampak menatap Naura dengan tatapan heran, dia yang biasanya hanya di antar oleh sang ayah, kini terlihat ada seorang ibu juga yang ikut menemani, mereka tampak saling berbisik menatap kedua orang tua Naura.


Naura tidak menghiraukan mereka, dirinya berjalan memasuki gerbang sekolah dengan melambaikan tangan kepada kedua orang yang kini paling di sayangi'nya, ayah dan calon ibu, dua orang yang paling berharga bagi gadis cantik berambut panjang tersebut.


Setelah menatap kepergian Naura, Gabriel dan Jasmine pun kembali masuk ke dalam mobil, dan mobil segera melaju ke depan setelah keduanya memasang sabuk pengaman terlebih dahulu.


Untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka, Jasmine pun berinisiatif untuk memulai percakapan terlebih dahulu, karena dia sendiri tahu bahwa calon suaminya ini mempunyai sifat yang pendiam.


''Bolehkan aku bertanya?'' tanya Jasmine memecah keheningan.


''Tentu saja boleh, apa yang ingin kamu tanyakan?''


''Sebenarnya, aku hanya ingin mengetahui, apakah kamu mencintai'ku?''


Gabriel terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba, dia menepikan mobilnya, dan berbicara dengan menatap wajah calon istrinya.


''Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?''


''Aku hanya ingin memastikan,'' jawab Jasmine menatap wajah Gabriel, membuat pria tampan itu menunduk merasa salah tingkah.

__ADS_1


''Bisakah kita berbicara di luar? pemandangan'nya bagus dan sepertinya udaranya juga masih segar,'' ajak Briel.


Jasmine mengangguk tanda setuju.


Keduanya membuka pintu mobil secara bersamaan, berdiri di tepi jalan, memandang pemandangan sawah yang hijau membentang dengan udaranya yang segar.


''Mohon di jawab pertanyaan'ku tadi?'' Jasmine kembali bertanya dengan nada suara yang terdengar lembut di telinga.


''Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku sudah melamar'mu dan kita sudah menetapkan tanggal pernikahan, mana mungkin aku tidak mencintaimu?'' jawab Gabriel menatap wajah calon istrinya, yang terlihat tersenyum sembari menunduk seperti menahan rasa malu.


''Tapi kamu tidak pernah mengatakan apapun.''


''Aku pikir kata-kata itu tidak penting, cukup dengan melamar'mu di depan kedua orang tua'mu, sudah cukup membuktikan rasa cinta'ku,'' ujar Briel sedikit tersenyum dengan hati yang terasa berbunga-bunga.


''Tidak, kata-kata juga penting bagi seorang perempuan, meski sebuah pembuktian lebih di utamakan, tapi bagi kami kaum wanita, ucapan dan kata-kata lebih menenangkan, karena aku tidak ingin di pandang seperti aku yang terkesan mengejar-ngejar kamu terlebih dahulu, meski memang kenyataannya seperti itu.''


''Baiklah, aku akan memperjelas'nya sekarang. Jasmine, aku mencintaimu, aku menyayangimu dengan segenap jiwa ragaku, sejak pertama kali kita bertemu sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu, namun aku tak kuasa mengatakan'nya, apalagi mencoba mendekati'mu, aku hanya memendamnya selama lima tahun, sampai akhirnya kamu yang harus mengatakannya terlebih dahulu, maafkan aku.''


''Karena kepengecutan ku itu, kamu harus mengorbankan harga diri'mu untuk menyatakan cintamu terlebih dahulu padaku, aku menyesal karena tidak mengatakan ini lebih awal,'' jawab Briel menatap wajah Jasmine penuh dengan rasa cinta setelah itu menunduk, merasa menyesal.


Jasmine terkesima seketika, wajahnya tersenyum bahagia, akhirnya kata-kata yang selama ini ingin di dengarnya di ucapkan juga, oleh dia, Laki-laki yang menjadi pilihan hatinya.


''Terima kasih karena telah mengucapkannya, hatiku sungguh senang mendengarnya, dan sekarang aku tidak perlu bertanya-tanya lagi tentang perasaan'mu padaku,'' Jasmine tersenyum, keduanya saling bertatap mata sekejap lalu kemudian saling melemparkan senyuman.


''Tidak...! seharusnya aku yang berterima kasih padamu, berkat keberanian'mu aku bisa benar-benar berubah, berkat'mu juga aku jadi bisa belajar dan memperdalam ilmu agama, terutama, berkat'mu juga, aku bisa berobat dengan sungguh-sungguh dan memulai kembali dari awal kehidupan baru'ku, aku sungguh bersyukur di pertemukan dengan wanita Sholeha seperti kamu.''


''Kamu seperti bidadari surga yang di kirim Allah kepada'ku, meluruskan jalan yang salah yang selama ini aku tempuh, dan tentunya membuka kebahagiaan bagi'ku dan Naura,'' tambahnya lagi dengan suara lirih dan penuh rasa syukur.


Di tempat itu, di temani pemandangan indah hijau membentang, dan disertai angin pagi yang segar, dua insan sedang merasakan kebahagiaan sebagai calon pasangan, tanpa sentuhan, tanpa pelukan, apalagi ciuman, keduanya merasakan ketenangan jiwa dan rasa cinta yang mendalam.


*****

__ADS_1


__ADS_2